Ramadhan ialah bulan yang selalu diimpikan oleh umat Islam di mana banyak literatur mengungkapkan bahwa di bulan Ramadhan banyak keberkahan yang melimpah. Keberkahan yang sering dinantikan ialah datangnya Lailatul Qadar. Selain itu, banyak amalan ibadah yang dapat memperkuat hubungan vertikal kepada Allah, juga memupuk kesalehan sosial, yaitu hubungan horizontal sesama manusia. Melalui ibadah seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan zakat.
Namun, di tengah nilai-nilai keberkahan yang ditawarkan, fenomena yang terlihat dari media sosial akhir-akhir ini justru memperlihatkan banyak problematika yang terjadi di negeri ini. yang tentunya berpengaruh kepada aktifitas mental manusia. Kasus korupsi, pembunuhan, pemerkosaan dan masih banyak lagi kasus yang terungkap di bulan Ramadhan. Adanya kasus tersebut menunjukan bahwa puasa masih memiliki kesenjangan antara tujuan dan pengaplikasian. Maka dari itu kita sejatinya harus menyusun beberapa pencapaian guna menambah ghirah dalam diri agar senantiasa mempunyai harapan untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah.
Mengapa Harus Berpuasa?
Banyak tokoh agama yang mengutip surah Al-Baqarah ayat 183 di bulan Ramadhan. Ayat ini selalu disampaikan di berbagai acara ceramah, khutbah Jumat, maupun kultum-kultum, baik sebelum maupun di waktu bulan Ramadhan.
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah ayat 183)
Ayat di atas mengandung makna yaitu diwajibkan untuk berpuasa agar manusia bertakwa. Puasa sendiri, dari pendapat ulama artinya ialah menahan. Menahan yang dimaksud adalah menahan makan, minum, dan hubungan suami istri dari mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Jika tujuan berpuasa hanya menahan makan, minum, dan hubungan suami istri, munculah pertanyaan: apakah dengan tirakat itu seseorang dapat mencapai tingkat takwa? Walaupun pendapat itu sejatinya tidaklah salah, tetapi sebagai manusia yang diperitahkan oleh Allah untuk senantiasa afala tatafakkarun, afala yatadabbarun, maka alangkah baiknya mendalami lebih jauh pengertian dari puasa itu sendiri. Kalau kata Gus Ulil, agar bisa mengarungi lautan hikmah.
Hamka mengatakan bahwa dengan berpuasa mampu membuat jiwa lebih stabil, jika dilaksanakan dengan iman dan kesadaran. Jiwa stabil ialah di mana seseorang mampu mengimani perintah Allah dalam berpuasa dengan penuh kesadaran. Harapan yang terlalu berlebihan terkadang membuat manusia lupa akan niat awalnya. Ketika kita mempunyai harapan untuk meraih kekuasaan tertentu dan tidak berniat dengan bijak, maka akan bisa mengarah pada perbuatan yang tidak berlandaskan agama. Banyak faktor penyebab seseorang mempunyai harapan, baik dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sampai sistem pemerintahan, yang dipandangnya masih ada kekurangan. Maka dari itu, alangkah baiknya sebagai orang yang beragama Islam, harapan itu sealalu diniatkan untuk menegakkan apa yang diperintah Allah.
Puasa di bulan Ramadhan ialah momen di mana seseorang ditempa baik dari fisik, psikis, dan batin. Fisik ialah di mana seseorang harus menahan makan, minum, pendengaran, penglihatan, penciuman, dan berbicara yang mengarah pada hal yang sifatnya negatif. Karena aktifitas indrawi yang dilakukan ketika berpuasa akan berdampak pada aktifitas psikisnya dalam mengelola emosi. Maka, selain menahan aktifitas fisik, seseorang berpuasa juga menahan sekaligus mengelola aktifitas psikis agar memiliki mental yang tangguh. Mental tangguh diperlukan untuk mencapai batin yang yang selalu tenang dan siap menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapi. Jika Individu mampu merasakan ketenangan dalam hidupnya, akan mampu mengelola harapanya dengan baik. Sehingga, dalam menjalankan puasa, tidak hanya seperti air yang menggenang yang tidak bergerak, bahkan memicu timbulnya penyakit, tidak berdampak pada kehidupan selanjutnya. Batin yang tenang akan membawa seseorang dapat berjalan dengan persiapan dan pertimbangan, berperilaku bukan hanya saja berdasarkan kebenaran menurut kebanyakan orang, tetapi berdasarkan hikmah atas perenungan yang dilakukan.
Harapan itu adalah Taqwa
Harapan orang berpuasa di bulan Ramadhan ialah mampu berpuasa penuh sebulan, menjalankan tarawih, khatam al-Qur’an, zakat, perayaan hari raya idul fitri, dan maksimalnya amalan ibadah yang dilakukan dengan mengaharap ridha Allah. Sebelum jauh itu semua, mari kita sama-sama mengejewantahkan pengertian dari takwa.
Menurut Al-Ghazali dalam buku Quantum Taqwa, takwa adalah upaya membersihkan diri dari dosa yang belum pernah dilakukan, sehingga terdorong untuk meninggalkannya. Jika dipandang dari keilmuan lain, psikologi misalnya, takwa memiliki persamaan dengan self-regulation yang melibatkan aspek kognitif, afektif, dan konatif dalam diri individu, yang tentunya dipengaruhi oleh sesuatu yang diyakini. Sehingga, takwa tidak cukup hanya sebatas pemahaman secara definitif saja, tetapi perlu adanya penghayatan rasa yang mendalam sehingga dapat diaplikasikan dalam perilaku. Selain itu, takwa identik dengan self-control, yaitu adanya dorongan dari diri individu untuk mengontrol diri agar tidak terjebak pada perilaku yang menyalahi nilai-nilai moral atau spiritual yang diyakini. Selain itu, ada harapan jangka panjang (surga) yang ingin dicapai, sehingga individu mengerahkan segala kemampuannya untuk menghindari perbuatan tercela yang diyakininya selama ini.
Ibadah puasa bagi orang Islam memiliki aturan yang ketat, terutama menyangkut proses kognitif. Teramati banyak program-program yang digelar pada bulan Ramadhan, terutama thalabul ilmi, gencarnya kultum-kultum sehabis shalat, sebelum buka, sesudah subuh, dan terbukanya program dari pesantren untuk masyarakat umum untuk menginap atau yang disebut pesantren kilat.
Pada aspek afektif, orang Islam dianjurkan untuk mengolah rasa dengan menganjurkan untuk mentransformasikan emosi dan nafsu ke arah yang lebih baik. Sehingga, sering kali puasa menjadi pemicu individu untuk menahan segala amarah. Walaupun hal ini berkelindan dengan keimanan seseorang, tetapi sudah sepantasnya dan selayaknya hal ini dilakukan. Selain itu, larangan yang memicu dorongan hawa nafsu juga perlu untuk diteliti selama berpuasa. Penahanan makan, minum, dan bersenggama adalah sarana untuk proses transformasi nafsu. Meskipun begitu, dalam puasa masih ada pembebasan ketika berbuka. Hal ini dilakukan karena Islam sendiri sangat mengerti betul bahwa ada kebutuhan libido dalam diri manusia, jika meminjam bahasa Freud. Maka, dalam puasa, walaupun ada aturan-aturan yang harus dipenuhi, tetapi juga ada aturan yang sifatnya membebaskan selama di bulan Ramadhan.
Untuk mencapai perilaku yang baik, maka dalam berpuasa ada larangan tidak melakukan aktivitas yang melanggar perintah Tuhan, misal menggunjing, mencuri, mencemooh, ghibah, tidur berlebihan, dan menunda aktivitas beribadah. Untuk mencapai harapan takwa, tidak ada perbuatan seorang hamba selain mengikuti dengan patuh dan tunduk terhadap perintah Tuhannya.
Selain itu, puasa juga meningkatkan spiritualitas. Puasa adalah bentuk kepatuhan dan ketaatan hamba terhadap perintah Tuhan. Adanya kepatuhan secara ikhlas untuk membersihkan hati dari bujuk rayu setan yang mendorong pada keinginan dan nafsu terhadap duniawi. Proses penghambaan melibatkan proses pengenalan diri karena ada sebuah kalam mengatakan, “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu”. Spiritualitas menurut Hamka berkaitan dengan kepedulian terhadap sekitar, baik alam maupun manusia. Hal ini juga dilakukan oleh masyarakat muslim, terutama dalam berbagi di bulan puasa yang sering disebut dengan zakat. Sehingga, puasa juga memupuk rasa empati dan peduli sosial.
Rangkuman dari pemaparan yang sudah dijelaskan di atas adalah bahwa untuk mencapai derajat takwa dengan metode berpuasa, tidak cukup hanya menahan makan, minum, dan berhubungan seks saja. Tetapi, bagaimana memperdalam pengetahuan tentang puasa guna menambah keyakinan terhadap perintah Allah dan kesadaran penuh atas diri sendiri. Kesadaran akan aktivitas fisik, psikis, dan batin. Puasa sebagai metode untuk introspeksi diri total selama 30 hari lamanya. Mari sama-sama merenungi apa harapan yang sebenarnya terbesit dalam benak dan hati kita di bulan Ramadhan ini. Mungkin dengan pertanyaan itulah kita mengerti apa sebab dan musababnya kita melakukan puasa di bulan Ramadhan. Apakah puasa kita hanya sekadar rutinitas menunggu buka, atau hanya FOMO, atau ada hal lain.
Manusia hidup menapaki tangga satu demi satu untuk mencapai puncak. Bekal yang harus dipersiapkan adalah pengetahuan akan agama serta akhlak yang baik kepada Allah, alam, dan sesama manusia. Puasa adalah salah satu jalan yang harus dilewati. Harapan adalah semangat dalam memupuk rasa optimisme serta selalu berprasangka baik pada intervensi Allah. Takwa adalah pagar yang mengantarkan manusia ke jalan yang benar. Karena takwa adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Manusia, jika mempunyai ketakwaan kepada Allah, maka sejatinya ialah mempunyai harapan untuk berubah menjadi lebih baik.