Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  TASAWUF SELAYANG PANDANG

Berjumpa Allah Saat Bermaksiat: Apa Mungkin?

Sebagai manusia biasa tentu kita sering melakukan kealpaan dalam hidup—berbuat dosa, maksiat yang berulang dan sebagainya. Sampai-sampai ada ungkapan, “Manusia itu tempatnya salah dan lupa.” Ungkapan ini sama sekali tidak merendahkan martabat manusia, tetapi sebagai pengingat bahwa sedigdayanya manusia itu tetap saja berpotensi bisa salah dan lupa. Karena itu, jangan jumawa, merasa paling benar sendiri, dan jangan merasa paling suci dari yang lain. “Janganlah engkau merasa paling suci: Dia Maha Mengetahui siapa yang paling bertakwa.” (QS. An-Najm [53]: 32)

Saya sempat merenung dalam kesendirian, setelah berbuat dosa dan kesalahan—sebagaimana manusia pada umumnya—lalu bertobat dan baru sadar kenapa ya Allah itu sebegitu baik banget kepada kita semua, padahal kita sering membangkang perintah-Nya. Kalau saja Allah itu membuka aib-aib kita semua, tentu malu rasanya untuk bertebaran di muka bumi, bermasyarakat, apa lagi menyampaikan kalimat bijak dan hikmah dibalut dengan sarung dan peci serta atribut kesalehan sosial yang bertengger di kepala dan jasad kita. Untung Allah yang kita puja dan sembah itu Maha Menutupi Aib (Sattar al-‘Uyub), kalau saja Allah tak menutupi itu semua nelangsalah kita semua. Karena Allah itu telah menutup aib-aib kita, maka wujud syukur kita ialah harus menutup rapat-rapat aib saudara dan manusia lain.

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat [49]: 12)

Baca Juga:  Konsep Kematian Menurut Ibnu Sina dan Mulla Sadra

Lebih tegas lagi terkait perintah untuk menutup aib sesama, Nabi bersabda: “Barang siapa menutupi aib seorang, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.”

Makna hidup yang saya temukan ini semakin mengkristal dan matang setelah ngaji kitab Manazil al-Sa’irin karya sufi besar Syekh Abdullah al-Anshari bareng teman-teman Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf yang sudah berlangsung dua tahun lamanya—itu pun belum selesai, baru 50%, sehingga untuk mengkhatamkannya butuh waktu empat tahun lamanya, bahkan lebih. Kitab ini memandu kita untuk berjalan step by step menempuh stasiun-stasiun spiritual (maqamat) menuju Allah yang jumlahnya ada 100 maqam.

Tepatnya di pembahasan bab dua yaitu maqam al-taubah (tobat) ada penjelasan menarik yang menyedot alam pikiran saya. Disebutkan jika Allah membiarkan seorang hamba melakukan dosa atau kemaksiatan ada beberapa pesan rahasia yang ingin Allah perkenalkan/ajarkan kepada orang tersebut, di antaranya:

Pertama, agar pelaku kemaksiatan itu mengetahui bahwa Allah itu Maha Perkasa (al-‘Aziz) dalam ketentuan-Nya. Jadi, kalau Allah membiarkan kita berada dalam lubang kemaksiatan, maka kita tidak bisa menghindarnya—la haula walakuata illa billah, tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah.

Kedua, Allah ingin memperkenalkan diri-Nya kepada para pendosa, bahwa Allah itu ialah Dzat Yang Maha Menutupi Aib (Sattar al-‘Uyub). Allah selalu mencurahkan rahmat kepada mereka, berupa ditutupnya aib-aibnya di mata publik, sehingga Allah berharap mereka itu segera bertobat dengan hati bahagia, tanpa ada gangguan psikologis karena aib-aibnya tersebar luas.

Ketiga, Allah ingin memperkenalkan diri-Nya kepada para pendosa bahwa Allah itu Dzat Yang Maha Penderma (Al-Barru). Artinya sebejat-bejatnya seorang hamba, Allah selalu memberikan karunia kebaikan, bahkan ada sebagian dari mereka popularitasnya makin memuncak dan rezekinya makin berlimpah, padahal mereka masih berbuat dosa. Ini merupakan jenis rahmat Allah yang tiada batas, Allah Yang Maha Sabar (al-Shabur) menunggu hamba-Nya kembali di pangkuan-Nya.

Baca Juga:  Polemik di Balik Nama Filsafat Islam

Keempat, Allah ingin memperkenalkan diri-Nya kepada para pendosa bahwa Allah itu Maha Menunda Hukuman/Maha Penghibah/Maha Penyantun (al-Halim). Artinya Allah sangat merindukan hamba-Nya untuk kembali ke jalan fitrah atau selalu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada hamba-Nya untuk berubah. Sehingga Dia tidak bergegas menurunkan azab saat mereka bermaksiat.

Kelima, Allah ingin memperkenalkan diri-Nya kepada para pendosa bahwa Allah Maha Dermawan (al-Karim). Allah selalu menerima maaf ketika seorang hamba mau bertobat dari kesalahannya.

Keenam, Allah Maha Pengampun (al-Ghafur) dan sebagainya.

Walhasil, nama-nama Allah al-‘Aziz, Sattar al-‘Uyub, al-Barru, al-Halim, al-Karim, al-Ghafur dsb itu akan semakin tampak jika manusia berbuat dosa dan maksiat. Mustahil Allah disebut sebagai Dzat Yang Maha Menutupi Aib (Sattar al-‘Uyub) kalau tidak ada manusia yang tidak memiliki aib (tidak berdosa). Dari sini kita bisa tarik kesimpulan, pada hakikatnya saat kita bermaksiat pun (kalau disadari dengan kesadaran penuh) kita sedang berjumpa dengan Allah lewat asma’-asma’-Nya yang indah.

Kesadaran semacam ini hanya muncul bagi seorang yang telah bertobat. Tetapi, jika kita masih terselimuti dengan kemaksiatan dan dosa, maka mata batin kita tidak akan mampu melihat (terhijab) keindahan nama-nama Allah yang muncul saat melakukan dosa. Sampai di sini, maka jelaslah firman Allah:

“…Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah…” (QS. Al-Baqarah [2]: 115)

“…Dia (Allah) bersamamu di mana saja kamu berada…” (QS. Al-Hadid [57]: 4)

Wallahu a’lam bishawab

Previous Article

Keutamaan Republik dalam Gagasan Politik Cicero

Next Article

Belajar Puasa via Puisi Salman Aristo, Bikin Jiwa Menyala

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *