Ziarah ke Sebalik Sungai Amu Darya (Bagian 3)

Sebetulnya banyak hal yang seharusnya saya tulis sebelum judul yang satu ini. Khususnya terkait ziarah makam para sufi dan tokoh ulama di Uzbekistan ini. Bukankah ziarah saya ini adalah ziarah sufi? Tapi, saya tiba-tiba merasa terdorong untuk menuliskan tentang panorama negeri Uzbekistan, termasuk kota-kotanya. Lebih dari itu, saya amat terkesan dengan pemandangan kota tua di Bukhara. Memang kota tua ini sarat dengan warisan peradaban yang tinggi.

Dan, seperti disiratkan dalam ayat Al-Qur’an yang saya tulis di awal judul tulisan kedua sebelum ini, perjalanan ke Uzbekistan ini sekali lagi telah membuktikan bahwa menjelajahi negeri-negeri lain sesungguhnya adalah ziarah spiritual. Bahkan saat kita hanya sedang mengunjungi artefak-artefak sejarah yang bersifat fisik. Karena, sejatinya, kita tidak hanya sedang memandang dengan mata fisik, melainkan dengan imajinasi kita, bahkan dengan hati kita.

Perasaan seperti itulah yang menggelayuti diri saya saat, misalnya, menaiki bus trayek Termez-Samarkand. Melihat bebukitan besar yang bertumpuk-tumpuk di kanan kiri bus, saya membayangkan debu-debu yang diterbangkan  gerombolan pasukan berkuda Mongol yang bergerak merangsek ke dalam negeri Uzbekistan, dengan keberangasan dan tubuh-tubuh perkasa mereka. Apalagi ketika berada di Museum Arkeologi Termez, dan mengamati benda-benda arkeologis yang dipamerkan di sana. Lalu ketika duduk-duduk sambil minum kopi di bangunan khas model arsitektur Islam di berbagai wilayah Tranxoxiana, termasuk petilasan Madrasah Ulughbek yang didirikan di abad 13, sambil menikmati pemandangan tetamaman hijau luar ruang di lantai bawah. Lalu, sekali lagi mampir melihat pameran batu-batu dan keramik lama yang merupakan reruntuhan bangunan sebelum direstorasi. Ada pecahan ubin-ubin yang menampakkan tanah liat bercampur kuarsa, ada juga bebatuan, juga potongan-potongan kayu tiang kuno. Kunjungan ke Mausoleum Timurid di Samarkand juga memesonakan.

Baca Juga:  PERTAMA KALI TERJAGA TENTANG KESATUAN TRANSENDENTAL AGAMA-AGAMA (BAGIAN 3)

Di mana pun di tempat-tempat itu saya berada, imajinasi saya selalu terbang kesana kemari, menciptakan film tentang kehidupan dan kesibukan manusia di masa-masa lampau yang jauh itu. Para mahasiswa dan santri yang berlalu-lalang dengan pakaian khasnya, para guru dan ulama dengan kitab-kitab tebal yang mereka sangga, para pejabat dengan pakaian-pakaian kemegahannya, dan kerumunan rakyat biasa dengan segala kesederhanaannya.

Tapi, tak ada yang melebihi hangatnya perasaan saya ketika berada di jalanan berbatu dan gang-gang kecil kota tua Bukhara… (bersambung)

0 Shares:
You May Also Like