Dalam pemahaman umum, kalimat syahadat—lā ilāha illā Allāh, Muḥammad rasūl Allāh—dipahami sebagai deklarasi keimanan. Tentu saja hal ini tidak salah. Namun dalam horison tasawuf, khususnya dalam pemikiran Ibn ‘Arabi, kalimat syahadat adalah sebuah pernyataan ontologis sekaligus pengalaman eksistensial (wujud) yang mengubah cara manusia memahami realitas.
Tauhid, dalam rumusan Ibn ‘Arabi, adalah peniadaan (nafy) selain al-Ḥaqq dan penetapan (itsbat) al-Ḥaqq. Maka lā ilāha adalah pembongkaran seluruh klaim kemandirian wujud, sementara illā Allāh adalah penegasan bahwa hanya al-Ḥaqq yang memiliki realitas sejati. (Untuk pembahasan khusus tentang hal ini, baca salah satu judul dalam buku saya, Agama dan Imajinasi)
Lebih dari itu, syahadat bergerak dari ucapan menuju penyaksian. Tauhid sejati bukan hanya diucapkan, tetapi dilihat: manusia tidak lagi memandang realitas sebagai kumpulan entitas mandiri, melainkan sebagai tajallī al-Ḥaqq. Ungkapan Ibn ‘Arabi, fa-mā fī al-wujūd illā Allāh, mengungkapkan hal ini: bahwa syahadat bukan sekadar doktrin, melainkan hasil dari penyaksian ontologis.
Dengan demikian, melalui fanā’, manusia mengalami runtuhnya klaim diri sebagai pusat wujud. Dalam keadaan ini, lā ilāha menjadi pengalaman eksistensial, dan illā Allāh menjadi realitas yang tersingkap.
Bagian kedua syahadat membuka dimensi yang lebih dalam. “Rasūl”, dalam konteks ini, bukanlah hanya pembawa pesan, tetapi lokus penampakan (mazhhar) kehendak Ilahi. Wahyu sudah seharusnya turun kepada hati yang memiliki kesiapan ontologis untuk menampung tajallī secara sempurna.
Dalam konteks ini, Nabi Muhammad saw dipahami sebagai al-Insān al-Kāmil, manifestasi paling sempurna dari Nama-nama Ilahi. Dalam dirinya, realitas Ilahi tampil secara paling lengkap dalam bentuk manusia.
Dengan demikian, “Muḥammad rasūl Allāh” secara batin menunjukkan bukan hanya hubungan pengutusan, tetapi hubungan penampakan paling sempurna al-Ḥaqq dalam bentuk manusiawi—tentu tanpa pernah mengaburkan perbedaan antara al-Ḥaqq dan al-khalq.
Dalam ayat:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan sesuatu yang serupa dengan (mitsl)-Nya..” (QS. 42:11)
Allah Swt seperti hendak menegaskan hal ini. Meski sudah pasti Muhammad saw sama sekali bukan identik dengan Allah—bahkan inti ayat yang sama secara tegas menyatakan transendensi mutlak-Nya— ia menunjuk kenyataan Muhammad saw sebagai manifestasi paling sempurna dari sifat-sifat-Nya dalam tatanan makhluk.
Dalam kerangka ini, syahadat bukan lagi sekadar kredo (pernyataan keimanan), melainkan transformasi cara melihat: lā ilāha illā Allāh membongkar ilusi kemandirian wujud, sementara Muḥammad rasūl Allāh menunjukkan bentuk paling sempurna yang di dalamnya kebenaran itu termanifestasi dan dapat dikenali. Pada puncaknya, syahadat bukan lagi sesuatu yang sekadar diucapkan, tetapi realitas yang disaksikan. Tauhid menjadi cara berada (ketenggelaman) dalam realitas (hakikat wujud) , bukan sekadar keyakinan tentang realitas itu.