Sudahkah Kita Memaksimalkan Fungsi Akal Diri???

Kepemilikan akal dan fungsinya merupakan hal yang menjadi pembeda manusia dengan makhluk lainnya; sehingga keberadaannya merupakan anugerah yang harus senantiasa disyukuri dalam berbagai cara. Lantas, apa sebenarnya akal tersebut? Bagaimana memfungsikannya agar sungguh menjadi sebuah berkah yang nyata dalam kehidupan yang serba instan saat ini? Masih perlukah fungsi akal dalam kehidupan beragama yang terkadang individu telah memiliki tokoh rujukannya? Guna memahamkan hal tersebut, Dr. Husain Heriyanto membimbing diskusi para santri Nuralwala dengan mengambil tema kajian “Peran Akal dalam Tasawuf.” Diskusi yang dilakukan selama hampir dua jam ini dilaksanakan pada malam Jumat, 06 Juni 2024, secara daring.

Dr. Husain membuka diskusi dengan mengatakan bahwa isu perihal akal merupakan isu yang penting di era kontemporer saat ini, khususnya dalam relevansinya dengan dunia Tasawuf. Dimana pada kondisinya, kecenderungan pada hal spiritual merupakan kebutuhan; namun di sisi lain, masih maraknya asumsi terhadap tidak maksimalnya fungsi akal ketika seseorang menempuh jalan spiritual, menjadi kondisi yang begitu mengkhawatirkan. Asumsi tersebut seperti contoh, ketika seseorang memutuskan menjadi sa>lik, ia akan meninggalkan kehidupan sosialnya; ketika seseorang mengalami kasyaf, ia dianggap mengeleminasi fungsi akal; dan lain sebagainya.

Akal secara bahasa Tasawuf memiliki padanan makna dengan diksi al-‘aql, fikr, nazhar, dzikr, nafs, naathiq, mantiq, qalb, fuad, lubb, sir, dan ruh. Pembahasan akal dalam Tasawuf ini kemudia melahirkan konsep takhalli, tahalli, tajalli, fana’, baqa, mitsaq, tawhid wujudi, ma’rifat, mujahadah, tazkiyah al-nafs, musyahadah, mukasyafah dan musyahadah.

Dalam kehidupan sehari-hari, akal adalah rasio instrument, atau alat untuk memilah sesuatu yang baik dan buruk. Ia dapat berkonotasi positif, juga negatif (akal bulus, akalin yang kerap digunakan manusia dalam melakukan kemaksiatan pada-Nya). Ia juga merupakan sumber pengetahuan yang sifatnya empiris, logis, matematis, dan metode burhani; termasuk menjadi sumber pengetahuan dalam ilmu agama, kalam, usul fiqih, dan fiqih. Sebagaimana Al-Ghazali sampaikan, tidak mungkin syariat tanpa akal, dan akal adalah hakim, syara’ adalah saksi. Sebagai alat untuk membedakan hal baik dan buruk, akal adalah manajer perilaku yang berkaitan dengan moralitas. Akal adalah fakultas dalam diri manusia yang mampu mengontrol dan mengelola diri dari syahwat. Akal adalah ha penting dalam melahirkan tindakan bermoral. Diksi ulin nuha pada QS. Thaha ayat 54 dimaknai sebagai kemampuan seseorang menggunakan akal; juga dapat dimaknai sebagai kapasitas jiwa untuk mencegah diri dari perbuatan buruk.

Baca Juga:  Mengkaji Tuhan Yang Maha Abadi

Secara filsafat, akal itu bertingkat-tingkat. Ibnu Sina membaginya menjadi 4 tingkatan: akal hayula, akal malakah, akal al-fi’l; akal mustafad. Dalam dunia pendidikan, tingkatan ini serupa dengan teori taksonomi Bloom. Pada level ontologis, terdapat akal aktif, level kenabian, dan ‘aql al-quds. Juga dalam dunia Tasawuf, akal memiliki pengertian yang menunjukkan tingkatannya: gharizah manusia yang membedakannya dengan hewan; prinsip aksiomatis; pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman; dan daya kehendak untuk mengontrol syahwat. Adapun dalam Alquran, akal memiliki tiga tingkatan: pertama, secara ontologi (realitas hakiki), akal adalah wujud; kedua, secara epistemologi, akal merupakan logika material (manthiq al-maddi); ketiga, prinsip-prinsip berpikir, akal adalah logika formal (manthiq al-shuwari).

Taklif agama dicabut atas tiga kondisi: orang gila, anak kecil, dan orang tidur; kondisi tersebut tidak memungkinkan mereka memfungsikan akal dengan baik, sehingga syariat tidak berlaku bagi mereka. Akal memiliki banyak kata turunan sesuai dengan modus kerja dan obyeknya. Setidaknya ada 49 kali Alquran menyebutkan derivasi dari akal untuk menjelaskan fungsinya sebagai daya yang serba meliputi. Demikian pula untuk diksi akal secara epistemologi dan aksiologi yang tersebar di berbagai tempat dalam ayat-ayat Alquran.

Akal dalam Alquran memiliki dua dimensi, yakni hikmah bahtsiyah (secara konsep pengetahuan yang bisa dibahasakan, seperti yang diungkap oleh para ilmuan secara pengetahuan dan filsafat) dan hikmah dzauqiyah (secara intuisi, rasa, kapasitas indra rohani). Adapun akal dalam Tasawuf, ia merupakan hikmah bahtsiyah, juga hikmah dzauqiyah. Dan khusus untuk segala sesuatu yang bersifat intuitif, maka ia tidak dapat dibahasakan. Dalam merenungi hal-hal di luar kemampuan indrawi, bahtsiyah terhenti di satu tempat, namun dzauqiyah akan terus berlanjut.

Baca Juga:  Menyelami Makna Pendidikan Bersama Paulo Freire

Pengalaman-pengalaman yang sifatnya dzauqiyah secara ilmu Tasawuf memang kerap dilarang untuk dibahasakan, karena akan menimbulkan problem bahasa penafsiran yang diterima orang awam. Namun, mereka yang mengalami pengalaman intuisi yang baik, umumnya dapat membahasakan pengalaman spiritualnya dengan baik pula, baik melalui puisi dan juga prosa; seperti yang dilakukan oleh Rumi, ia mampu membahasakan pengalaman spiritualnya dengan tetap berpegang pada kaidah-kaidah tauhid dan syariat yang dapat diterima orang lain tanpa pertentangan, juga menjadi titik pertemuan rasa oleh orang yang berbeda-beda dengan pengalaman yang berbeda-beda pula. Dengan kata lain, hanya para mistikus yang kompeten yang dapat membahasakan pengalaman dari fungsi hikmah dzauqiyahnya akal. Setiap manusia dianugerahi kemampuan akal bahtsiyah dan dzauqiyahnya, sehingga manusia dituntut untuk memaksimalkan keduanya dengan dua cara perolehan yang berbeda. Bahtsiyah yang dimiliki seseorang tidak masalah digunakan untuk mempertentang dzauqiyah liyan, asalkan tetap dalam kaidah-kaidah fungsi akal secara umum (tauhid dan syariat). Adapun perihal syatahat, itu merupakan fenomena yang sifatnya tidak sering terjadi, dan tidak semua orang memiliki kemampuan untuk mendefinisikan dan menghukuminya. Oleh karena itu, para sufi mengajarkan, bahwa dalam mendalami dunia Tasawuf, seseorang dituntut untuk pula mengimbangi dengan pengetahuan yang lain secara luas, ilmu syariat, tauhid, logika, dan juga ilmu kontemporer; sehingga mempelajari Tasawuf, tidak cukup hanya dengan melaksanakan ritus tertentu semata, melainkan juga memaksimalkan fungsi akal dengan segala wawasan agar keontetikannya dalam gairah pencarian pengetahuan dapat terjaga (kejernihan berpikir dan ketulusan mencari pengetahuan).

Akal adalah salah satu bagian dari diri yang Tuhan ciptakan untuk manusia. Mengenal dan memahami tentang akal saja sungguh menguras kemampuan akal untuk mampu menerimanya; lantas bagaimana manusia yang belum sepenuhnya memahami dan memaksimalkan fungsi akalnya ini sanggup untuk menganggap diri paling mengetahui segala sesuatu yang ada di semesta ini? Sungguh diri sangat kecil dan tiada bandingannya dibanding akal yang dilekatkan Tuhan pada setiap wujud tubuh manusia.

Baca Juga:  Rasionalitas Mistik, Relung Khudi Insan, dan Gerak Sentripetal

 

Oleh: Aspiyah Kasdini. R. A

0 Shares:
You May Also Like
Read More

Tentang Neraka

Haidar Bagir Pembina Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf Di antara salah satu masalah yang perlu dijelaskan berkaitan…