Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  ANTARA ISA AS DAN MUHAMMAD SAW

Nyatanya, yang Wajib Dicinta Tak Hanya Manusia

Serial Kelas Nuralwala dengan tema “Hidup Bersama Rumi” pada sesi pertama dipandu oleh Bu Nyai Afifah Ahmad (Nyai Fifah). Nyai Fifah memberikan materi selama hampir 1,5 jam dengan sangat syahdu dan mendalam. Beliau dapat menghadirkan jiwa Rumi dalam paparan yang berlangsung pada malam Jumat, 27 November 2025, tersebut; sehingga, nilai-nilai ngaji Rumi ini memberi atsar pada diri-diri yang hadir. Menjadi ciri khas pencinta adalah selalu menjadikan maqam du’a sebagai salah satu hal yang harus ada dalam kalam pembuka. Nyai Fifah tak luput mengajak para santri Nuralwala mendoakan saudara-saudara yang sedang mengalami musibah, khususnya dalam bencana banjir bandang yang menerjang sebagain daerah di Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Aceh. Dari tradisi para sufi ini, satu hal yang dapat kita pelajari, bahwasanya melangitkan doa kesalamatan dan kebahagiaan, adalah hal spiritual lintas identitas keimanan. Doa adalah tentang kemanusiaan yang harus dilantunkan kepada satu-satunya pencipta yang menjadi Khaliq seluruh alam. Inklusivitas dalam doa adalah tanda, bahwa dalam segala perbedaan yang menjadi identitas manusia, kemanusiaan adalah yang utama; karena kita sama-sama manusia yang meninggali dunia yang sama, itu adalah identitas tertinggi dalam mengaplikasikan Rahman dan Rahim-Nya.

Nyai Fifah memberikan latar belakang paparan dengan menyampaikan hasil diskusinya bersama rekannya yang merupakan guru besar di bidang lingkungan, yang berisikan bagaimana kondisi lingkungan global saat ini. Nyai Afifah juga merasakan, bagaimana kondisi di tempat tinggalnya saat ini (Teheran, Iran) yang terkadang mengamali kesulitan air. Beliau menegaskan, bahwasanya masalah lingkungan saat ini adalah masalah global yang dialami sebagian besar umat manusia dimana pun berada. Nyai Afifah mengungkap hasil penelitiannya semasa SMA, perihal relasi antara manusia dan sesama makhluk Tuhan lainnya, yang saling bergantung dan saling memberi kebaikan di antara keduanya. Beliau meneliti tentang bagaimana music kecapi dapat mempengaruhi tingkat produksi pada ayam boiler. Walaupun pada realitanya hal tersebut merupakan bagian proses untuk memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri (antroposentris), bukan untuk keberlangsungan hidup ayam-ayam tersebut.

Selanjutnya, Nyai Fifah menyampaikan bahwasanya pada horizon yang lebih luas, setiap makhluk hidup memiliki nilainya sendiri. Pandangan  ini berpijak pada norma etis. Setelah itu, baru ada yang dsiebut pandangan ekologi yang dalam, dimana nilai tersebut tidak terbatas pada norma saja, melainkan isu lingkungan ini berkaitan dengan kesadaran dalam diri. Tanpa kesadaran ini, maka isu lingkungan hanyalah tata nilai belaka. Kesadaran tersebut lahir dari kognitif dan reflektif. Akan tetapi, jika ditilik lebih jauh, hal tersebut belum cukup, karena belum memberi pengaruh yang berdampak besar. Oleh karena itu, kesadaran ekologi harus lahir dari pengalaman batin, sebagaimana yang ditekankan oleh Rumi.

Baca Juga:  CARA MELEMBUTKAN HATI

Ada tiga basis ekologi transpersonal menurut Nyai fifah, yakni identifikasi personal, identifikasi ontologis dan identifikasi kosmologis. Saat seseorang memiliki kedekatan dengan orang lain karena memiliki hubungan emosional pribadi terhadap orang atau makhluk lainnya, maka inilah yang disebut identifikasi personal. Adapun yang kedua (identifikasi ontologism), ini tidak ada hubungan emosional, melainkan adanya hubungan eksistensial sebagai sesama makhluk. Jika telah demikian, seseorang akan sampai pada identifikasi kosmologis. Dalam ruang ini, kita akan bersinggungan pada pandangan yang lebih besar.

Nyai Fifah masuk pada pembahasan inti, bahwasanya prinsip ajaran Rumi tentang ekologi terdapat dalam syair-syair yang diciptakannya dan terklasifikasi menjadi 5 prinsip, yakni: kesatuan Wujud (Tuhan sebagai sumber kekuatan), Tajalli (alam sebagai cermin keindahan Tuhan, kesadaran universal (alam hidup, peka dan berbicara), cinta sebagai penggerak kosmik, dan seluruh alam terus bergerak menuju kesempurnaannya. Menjadikan kesatuan Wujud sebagai prinsip dalam tema ekologi adalah menempatkan Tuhan sebagai pusat seluruh realitas. Prinsip ini adalah fondasi yang mengubah cara manusia memandang alam. Pada pandangan Rumi ini, seluruh alam memiliki satu asal, jawhar, yang sama. Secara tidak langsung, konsep ini menafikan konsep antroposentris. Rumi mengungkapkan dalam Matsnawi, jilid 1, bait 686-687:

Dulu kita merdeka, berasal dari entitas yang sama

Tanpa kepala dan kaki, di alam azali kita berjumpa

Kita adalah partikel bak matahari

Tanpa ikatan seperti air jernih.

Adapun dalam prinsip tajalli, alam adalah cermin keindahan Tuhan. Hampir seluruh penyair sufistik meyakini bahwa alam adalah cermin keindahan Tuhan; karena saat kita memiliki pandangan demikian, maka kita tidak akan mencemari dan melukai cerminan Tuhan ini, walaupun itu tampak buruk sekalipun. Ini adalah tanda yang dimiliki seorang pecinta, mampu melihat Rahman-Rahim Tuhan dalam segala fenomena. Bagi Rumi, alam memiliki kesadaran universal. Alam ini bicara, dan ala mini juga peka. Ini adalah kondisi yang telah melampaui pandangan ekologi transpersonal. Benda-benda yang ada di alam semesta ini saling berbicara dan mengungkapkan isi hatinya. Sebagaimana terjemahan Matsnawi, jilid 3, bait 1019-1020, yang disenandungkan oleh Nyai Fifah:

Baca Juga:  Hijrah (16) : Manusia, Kesalahan, dan Pertobatan

Benda-benda di alam berkata: Kami mendengar, melihat dan bersuka cita

Tapi sayang, kami bisu bagi mereka yang asing dari maknawiat

Karena engkau berhenti pada alam materi

Bagaimana mungkin kau faham bahasa kami…

Alam tidak saja bercakap dengan sejenisnya, mereka juga berbincang dengan manusia. Dalam ghazalnya pula, Rumi menyampaikan bagaimana cinta adalah penggerak kosmik yang menyatukan seluruh makhluk. Rumi katakan, bahwa cinta mengalir tergantung kondisi alam, dimana bumi masih berputar maka dunia ini tidak akan berhenti dan stagnan. Ini adalah armonisasi alam yang luar biasa, sehingga seluruh alam akan terus bergerak menuju kesempurnaannya. Rumi memandang alam mengalami perubahan yang terus menerus menuju kesempurnaanya masing-masing. Semua benda itu bergerak, sentuhan jari di air sungai yang mengalir itu tidak sama tiap detiknya, bahkan debu pun menjadi pecinta yang berusaha menyempurnakan dirinya untuk memberi pengaruh pada alam ini. Semua makhluk menuju perjalanan spiritual yang sama menuju Tuhan.

Jika dunia adalah cermin Tuhan, maka merawatnya adalah bentuk tertinggi dari ibadah,” demikian ungkap Nyai Fifah. Pernyataan ini menandakan, bahwa berelasi penuh kasih dan cinta dalam hal ibadah tidak saja melingkupi relasi antar sesama manusia, melainkan juga kepada makhluk Tuhan lainnya yang menjadi kesatuan dalam alam semesta ini dan saling bersentuhan dengan kehidupan manusia di setiap harinya. Nyai Fifah juga menyampaikan, perihal isu lingkungan adalah hal yang sangat kompleks, terlebih untuk sampai pada dimensi transpersonal. Namun dengan saling bekerja sama dan meningkatkan kesadaran diri, siapa pun dapat optimis bahwa yang nampak utopis pasti memiliki masa berhasilnya di suatu masa, asalkan kesadaran itu tetap terus diperjuangkan untuk tetap bercahaya.

Baca Juga:  Belajar Puasa via Puisi Salman Aristo, Bikin Jiwa Menyala

Merespon pertanyaan para peserta, Nyai Fifah juga berbagi tentang konsep sekolah lingkungan yang dapat kuta semua aplikasikan dalam menemani tumbuh kembang anak-anak di rumah, seperti merangsang responsibility mereka tentang isu lingkungan dengan: menggambar hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan, 1 anak berprestasi sama dengan 1 pohon, juga membangun kesadaran anak-anak tentang bagaimana bijak dengan sampah sendiri juga merawat alam di sekitar. Menurut Nyai Fifah, anak-anak memiliki daya cerap yang tinggi. Semakin dini ia berinteraksi dengan lingkungan, semakin peka pula mereka terhadap hal-hal yang berkaitan dengannya.

Sebagai penutup kelas, Nyai Fifah mengisahkan sirah Nabi saw. yang perlu kita semua ketahui untuk dapat lebih peka terhadap alam. Kisah ini adalah tentang dialog Nabi Muhammad saw. bersama dengan pohon kurma. Pada suatu hari, biasanya Rasulullah saw. berpidato itu bersandar pada satu batang pohon kurma; karena jamaah sudah banyak, sahabat membuatkan mimbar, sehingga beliau tidak lagi bersandar di pohon kurma tersebut. Siapa menyana, pohon kurma tersebut menangis, dan Rasulullah pun bertanya pada pohon kurma tersebut. Pada saat itulah terjadi dialog antara Rasulullah dan pohon kurma. Rumi sering me-nuqil kisah-kisah seperti ini, ya, alam bisa mengungkapkan bahasa mereka, mereka bisa berdialog. Sebagaimana yang ditanyakan Rasulullah pada sang pohon kurma, “Apakah engkau akan aku lahirkan kembali menjadi pohon kurma yang memiliki buah yang ranum, atau kau akan meilih hari akhirat dan di sana kau akan abad?” Dan pohon kurma memilih menjadi pohon abadi. Kemudian pohon itu mati, dan batang pohon itu dimakamkan oleh Rasulullah. Sang pohon kurma diberi penghormatan. Nasihat Nyai Fifah, Kita perlu belajar dari kearifan lokal di sekitar kita. Terkadang, dalam nasihat-nasihat yang tidak bisa kita fahami dan menganggapnya sebagai mitos, di sana terdapat pembahasan tentang bahasa langit melalui tradisi. Nyai Fifah merekomendasikan untuk menonton sinema yang berjudul Semesta. Di sana, alam dalam kearifan lokal, termasuk pada tradisi Hindu mampu menjawab isu lingkungan dalam konteks keagamaan. Nyepi bagi umat Hindu, puasa bagi umat Islam, dan lainnya, bukanlah ibadah semata, melainkan tentang bagaimana menjaga cinta kepada semesta sebagai tajalli-Nya.

Previous Article

Alam Imajinal, Jin, dan Cara Kerja Santet: Penjelasan Tasawuf

Next Article

Ibn Taimiyyah dan Tasawuf: Dari Tuduhan Anti-Sufi menuju Tasawuf Salafi

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *