It's of a different class altogether! Top notch! Film Sore: Istri dari Masa Depan besutan Yandri Laurens—yang juga adalah penulis skripnya—adalah satu yang terbaik di antara hanya beberapa film Indonesia terbaik, yang pernah saya tonton. Bahkan saya berani bilang, film ini layak disandingkan dengan film-film terbaik yang pernah dibuat orang di mana pun.
Banyak sekali kelebihan film ini. Akting kedua tokoh utamanya excellent, editingnya nyaris tanpa cacat, set-nya yang bertebar pemandangan indah negeri Kroasia memanjakan mata dari awal sampai akhir film, dialog-dialognya cerdas dan penuh makna. Tak terkecuali musiknya, yang modern tapi sekaligus menambah kekuatan dramatis film ini.
Benar mungkin cerita atau plotnya terasa tidak segera terpahamkan. Tapi, jalinan romannya, yang matang namun tetap manis, saja sebetulnya sudah cukup menjelaskan alasan kenapa film ini ditonton banyak orang di bioskop—konon jumlahnya mencapai lebih dari 3 juta orang.
Begitu selesai menonton film ini, di kepala saya pun berseliweran banyak lintasan pikiran terkait isu filosofis nan cukup rumit, yang menyulam cerita dan plot film ini. Tentu sudah banyak review terkait berbagai aspek menarik film ini. Maka tulisan ini hanya akan berfokus pada persoalan takdir dan kebebasan manusia dalam menentukan nasibnya. Menurut tangkapan saya, dan pemahaman saya tentang filsafat (Islam) tentang soal-soal ini.
Memang Roland Barthes—dari aliran yang biasa disebut (post)-strukturalisme—menyatakan bahwa pengarang mati begitu karyanya dilepas ke publik. “La naissance du lecteur doit se payer de la mort de l’Auteur.” Dengan kata lain, siapa saja, termasuk saya, lalu berhak untuk menafsirkan dengan suatu cara yang merupakan hasil interaksi subyektif saya dengan karya si pengarang. Setiap karya memiliki tafsir yang tidak tunggal.
Sebab bahasalah yang “berbicara”, bukan pengarang. Sedang bahasa selalu memiliki surplus makna. Makna lahir saat dibaca, oleh pembaca yang tak pelak punya tafsir beragam, bukan saat ditulis. Dan, karenanya, setiap pembacaan sah sejauh bertumpu pada teks.
Tapi tetap saja saya ingin tahu apa yang ada di kepala penulis skripnya sekaligus sutradaranya ketika ia mengarang film ini. Bukan tak ada kegamangan, jadinya. Tapi, someway somehow, saya percaya bahwa pemahaman saya pada intinya nanti akan ternyata sejalan belaka dengan apa yang ada di benak pengarang film ini. Mari kita mulai...
Pertama sekali, film ini tidak dapat dipahami secara memadai jika dilihat sebagai fiksi perjalanan dengan mesin waktu. Sejak awal, film ini justru tampak tidak tertarik menjelaskan bagaimana seseorang bisa datang dari masa depan. Tidak ada mesin waktu, tidak ada logika ilmiah, tidak ada usaha merapikan paradoks kronologis. Ketidaktertarikan ini adalah petunjuk penting: Sore tidak berbicara tentang waktu sebagai urutan peristiwa, melainkan tentang waktu sebagai sesuatu yang (sudah) utuh sejak awalnya.
Kalau boleh saya kaitkan ini dengan salah satu perbincangan dalam filsafat Islam, cara pandang ini paling dekat dengan gagasan tentang waktu yang disebut dahr (waktu perpetual atau siklikal). Dahr bukan waktu harian yang mengalir dari sebelum, ke sekarang, ke sesudah, melainkan level lebih luhur darinya, yang menampung keseluruhan lintasan hidup yang hadir sekaligus. Masa depan, dalam horizon dahr, bukan sesuatu yang “belum ada”, tetapi sesuatu yang sudah terjadi dalam keutuhan transendental, meski belum terjadi sebagai peristiwa di lintasan waktu linier. Dengan kacamata ini, kehadiran Sore perlu dipahami sebagai penyingkapan lintasan hidup sebelum ia terinci dan mengeras menjadi nasib.
Jonathan—atau Jo—si tokoh utama, hidup tanpa tragedi besar, tetapi juga tidak terlalu jelas arahnya. Ia tidak berada di ambang kehancuran, namun hidup dalam penundaan yang panjang: pola tidur berantakan, perawatan tubuh diabaikan, relasi emosional tak benar-benar mendapatkan cukup perhatian. Sore, yang amat mencintai Jo, datang untuk membantu Jo mengalihkan masa depannya yang diancam mati muda karena kesemboronannya. Apalagi, masa lalu yang bagi Jo adalah sesuatu yang di dalamnya ia tak kunjung bisa berdamai dengan trauma-traumanya—padahal kesemuanya itu terus menyisakan luka batin yang menahannya dari benar-benar bisa move on.
Kenyataannya, Jo hidup sepenuhnya di dalam waktu yang mengalir begitu saja, tanpa kendali. Nyaris diwarnai keputusasaan. Sore hadir sebagai istri Jo dari masa depan. Namun sejak awal, gagasan ini justru menolak fantasi populer tentang dunia paralel dan kebebasan tanpa hukum. Ketika Jo mencoba berlindung pada gagasan bahwa selalu ada dunia lain tempat segalanya bisa diperbaiki, Sore memotong khayalan Jo dengan menukas:
“Keyakinan kepada dunia paralel itu cuma kesombongan manusia.” Hanya di dunia ini nasib bisa dibentuk, kira-kira inilah yang hendak disampaikan Sore.
Pernyataan ini menentukan posisi filosofis film. Tidak ada “dunia cadangan” untuk membatalkan konsekuensi tindakan kita di masa lampau. Yang ada hanyalah satu lintasan hidup, yang dibentuk oleh sebab-sebab nyata.
Namun, film ini juga tidak mengambil posisi determinisme radikal. Sore tidak pernah berkata bahwa masa depan yang fixed pasti terjadi, apa pun yang Jo lakukan. Ia tidak membawa rincian peristiwa, tanggal, atau tragedi spesifik. Yang ia bawa hanyalah pengetahuan tentang arah: ke mana hidup Jo sedang menuju jika sebab-sebab yang sama dibiarkan bekerja. Hal ini ditunjukkan oleh kembalinya secara berkali-kali ke massa sebelumnya ketika dia menghadapi kegagalan dalam berusaha mengubah Jo menjadi lebih baik. Setiap kali Sore merasa gagal, sore seperti “mati” (yang didahului dengan gejala kambuhnya penyakit mimisan ya) hanya untuk kemudian hidup lagi dan mengulang dari awal. (O, iya. Meski menggunakan gagasan tentang dahr, pengarang bercerita dengan mengambil fokus pada peran aktif Sore, sementara Jo diandaikan tetap berada di waktu linier sehingga dia tak pernah ingat bahwa Sore sudah datang dari masa depan berkali-kali dalam hidupnya. Baginya, setiap kedatangan Sore adalah kedatangan pertama).
Inilah, lagi-lagi dalam filsafat Islam, yang ditunjuk sebagai pengetahuan keilahian: Tuhan mengetahui ujung keseluruhan jaringan peristiwa, tapi tanpa memaksakan kejadian-kejadian penyusunnya.
Di titik inilah posisi film Sore menjadi lebih jelas. Gagasan takdir yang bekerja di sini bukan jabr (determinisme mutlak), tetapi juga bukan tafwidh (kebebasan mutlak tanpa batas). Film ini berdiri di posisi pertengahan.
Dalam kerangka Ibn ‘Arabi, Tuhan mengetahui hasil akhir karena Ia mengetahui segala sesuatu, termasuk kesiapan (isti‘dad) makhluk dan jaringan sebab yang bekerja dalam kehidupan siapa pun dan apa pun. Tapi pengetahuan ini bukan sebab pemaksaan yang menjadikan semuanya sepenuhnya deterministik, melainkan “Cuma” semacam penyingkapan lintasan atau jalan kehidupan sebagaimana seharusnya.
Persis inilah yang dilakukan Sore. Ia mengetahui hidup Jo secara menyeluruh: kebiasaan-kebiasan kecil tapi mengganggu, dalam cara Jo memperlakukan tubuh dan waktu, serta sikap tidak realistisnya dalam menghadapi luka batinnya.
Sore sesungguhnya mengetahui masa depan kehidupan Jo karena pada hakikatnya masa depan sudah “terjadi”, dan ia sudah (pernah) berada di sana.
Dalam teologi Islam, posisi ini juga sejalan dengan pandangan tentang masalah ini dalam pandangan kelompok pemikiran para middle roaders dalam wacana yang tentang takdir dan ikhtiar ini. Kehadiran Sore adalah wujud tawfiq—kesempatan dan pembukaan ruang kemungkinan dari Allah—untuk manusia bisa mengambil peran dalam jaringan takdir lewat pilihan bebas, bukan untuk menentukan akhir, tapi menjadi pelaku yang memilih jalur nasib. Perubahan pada nasib Jo tidak otomatis. Ia harus diambil melalui ikhtiar, meski kemampuan berikhtiar itu juga berikan Tuhan.
Pemikiran Islam, ini dirumuskan paling jernih sebagai al-amr bayna al-amrayn: suatu urusan yang berada di antara dua ekstrem. Termasuk di dalamnya posisi Asy’ariyah, Syi’ah, dan para ‘urafa (gnostics) seperti ibn ‘Arabi.
Tuntutan Sore kepada Jo terasa remeh: tidur teratur, makan yang benar, dan berhenti merokok. Padahal sebetulnya penentuan ajal Jo terletak di situ.
Film Sore secara konsisten sekaligus menunjukkan bahwa takdir tidak harus dibentuk oleh peristiwa besar, melainkan oleh akumulasi kebiasaan kecil yang diremehkan. Masa depan tidak datang tiba-tiba, melainkan dari keteraturan—atau, ketidakteraturan—yang lebih sering disusun tidak secara benar-benar disadari.
Di satu momen yang sangat penting, Sore berkata: “Jangan biarkan aku ditelan waktu.”
Kalimat ini bukan sekadar jeritan emosional. Ia adalah pernyataan metafisis: jangan kesalahan Jo sebagai suaminya di masa depan menjadikan Sore kehilangan kehidupannya. Karena, sebagai istri yang datang dari masa depan, ia tahu bahwa–jika Jo tidak berikhtiar ujtuk menjaga dirinya–maka kehidupannya akan hilang tertelan waktu bersama hilangnya hidup kekasihnya itu. Ya, jaringan sebab nasib Sore berkelindan dengan jaringan nasib Jo, yang kelak menjadi suaminya
Ada juga kisah naik-turun relasi Jo dengan ayahnya. Jo menyimpan luka lama: ayah yang pergi dan meninggalkan ibu dan diri serta kakaknya saat masih kecil, untuk kawin dengan wanita lain, Menariknya, Sore tidak pernah berhasil menemani Jo untuk bertemu dengan ayahnya. Berkali-kali ia mencoba, tetapi selalu gagal.
Ini bukan tanpa makna khusus. Film seolah ingin mengatakan: ikhtiar menyisakan ruang probabilitas. Di dalamnya ada berbagai kemungkinan jaringan sebab meski akhirnya sebab tertentulah yang mengarahkan hasil.
Dalam satu rumusan: Film Sore adalah cerita tentang masa depan yang sudah terbaca, tetapi tidak dipaksakan—agar manusia masih sempat memilih, memperbaiki, memaafkan, dan dengan demikian—mengubah jaringan sebab-sebab yang, otherwise, akan membentuk hidupnya.
Yang menyenangkan saya, setidaknya dalam soal waktu dan takdir ini, tampaknya pesan inilah yang kurang-lebih mau disampaikan oleh pengarang–ketika ia mengatakan bahwa struktur plot film ini diilhami teori relativitas, dan quantum entanglement. Kenyataannya, gagasan-gagasan sains modern tentang waktu dalam teori-teori ini bukannya tidak sejalan dengan gagasan tentang adanya kategori waktu yang melampaui waktu linear seperti diungkapkan filsafat (Islam).
Akhirnya, pesan saya bagi yang belum menonton: segera tontonlah. Bagi yang sudah menonton dan belum merasakan keistimewaan film ini, tontonlah sekali lagi. Anda tak akan kecewa. Suwer!