Sesi kedua kelas “Hidup Bersama Rumi” yang diadakan oleh Nuralwala diampu oleh Yai Muh. Nur Jabir, M.A (Yai Jabir). Beliau adalah founder Rumi Institute yang juga penerjemah Matsnawi-nya Rumi dari bahasa asalnya ke dalam Bahasa Indonesia. Beliau membawakan tema “Tuhan Perspektif Rumi” selama 1,5 jam pada Kamis, 04 Desember 2025 melalui media Zoom Meeting. Kelas terlebih dibuka oleh Kak Darmawan dengan menyampaikan alasan mengapa kelas ini diadakan pada bulan Desember; yakni karena untuk tabarukan atas bulan wafatnya Maulana Rumi yang dikenal dengan istilah Seb-I Arus (malam perjumpaan dua kekasih/pengantin). Atas dasar tersebut, mengangkat gagasan Rumi tentang konsep ketuhanan merupakan sesuatu yang penting. Mengingat dalam beragama itu yang pertama adalah bermakrifat kepada Allah, dan dalam konteks ini dapat melalui lensa Jalaludin Rumi. Pengantar Kak Darmawan ditutup dengan maqam doa untuk para nabi, awliya (khususnya Maulana Rumi), juga para saudara yang sedang terkena musibah agar diberi kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi ujian yang sedang menimpa kita semua.
Masuk pada sesi utama Yai Jabir, beliau telah memilihkan bait-bait syair Rumi yang jumlahnya ribuan tersebut (baik dalam Matsnawi maupun Al-Tabrizi) menjadi beberapa bait syair terpilih untuk disuguhkan kepada para santri. Baginya, Rumi adalah seorang sufi, dan tentunya beliau punya pandangan tersendiri ketika menjelaskan Tuhan. Jika kita masuk pada pembahasan tentang Tuhan, ada banyak pendekatan, ada bahasa fitrah, dan ada bahasa argumentasi atau dalil aql. Para sufi biasanya memilih pengalaman melalui hatinya dalam menjelaskan tentang Tuhan; karena, apabila berjalan dalam dalil-dalil argumentasi, itu seperti halnya berjalan dengan kayu, yakni akan berjalan tertatih-tatih, demikianlah apabila mendeskripsikan Tuhan melalui dalil menurut Rumi. Dalam Matsnawi, Rumi menuliskan tentang isyarat bahwa kitab Matsnawi adalah tulisan tentang syariat, hakitat, dan tarekat. Dan ini adalah yang menjadi ciri khas dalam tradisi tulis sufi. Hal ini juga dijelaskan Rumi dalam kitab Muqaddimah-nya. Kitab dengan komposisi demikian adalah arahan untuk orang yang berjalan/salik. Oleh karena itu, Rumi sebagai sufi, dia tentu akan mnjelaskan Tuhan dengan perspektif sufi pula.
Ciri khas dunia sufi adalah tentang ketunggalan realitas, wahdatul wujud, “Matsnawi kami adalah kedai ketunggalan, segala yang kau saksiskan selain ketunggalan adalah berhala.” Yai Jabir menjelaskan, meskipun banyak ragam hal dalam sebuah kedai, tapi semuanya terhubung dalam satu realitas. Bait syair tersebut menegaskan bahwa kita berhadapan dengan Rumi dan cara pandang sufistik, khususnya dalam melihat realitas yang tunggal. Karena itu, sebagai seorang sufi, tentu Rumi berlaku dari hati dalam pengalaman suluk dan tazkiyah nafs. Dan rumi selalu menegaskan tentang pengalaman, experience, dan beragama pun dia fokuskan pada pengalaman, dan bergantung dari apa yang manusia alami. Menurutnya, Tuhan bukan gagasan, tapi sesuatu yang bisa kita/manusia alami. Sehingga kita bisa merasakan betapa dekatnya Tuhan dengan kita. Pengalaman ini adalah pengalaman yang kita alami dalam diri.
Yai Jabir menyampaikan, “Mungkin jarang kita menyadari bahwa kita terhubung dengan realitas yang tidak terbatas. Dan yang menghubungkan itu ada di dalam batin kita. Jika kita melihat, bahwasanya kita tidak terhubung dengan realitas yang lain, padahal dalam Alquran dijelaskan, bahwa kita berhubungan dengan realitas yang lain. Seperti ayat membunuh satu orang, (diumpamakan) sebagaimana membunuh satu umat. Ini tandanya kita terhubung dengan realitas yg lain.” Rumi menyebutnya sebagai kanal Ilahi. Selanjutnya, Yai Jabir mengatakan bahwa ada satu hakikat yang tidak terbatas dalam diri kita yang terbatas; dan hati memiliki 2 posisi: posisi pertama bentuk keterbukaan dan dapat mengalami qabd, dan posisi kedua adalah posisi tertutup.
Pada Matsnawi kitab 1, bait 3503-3505 tertulis:
Ku lalui siang dan malam bagai mata tombak yang menembus perisai
Aku telah tiba di sana
Segala sesuatu adalah Satu
Ribuan tahun dan satu jam tak ada bedanya
Keabadian dan kekekalan telah menyatu
Akal tak punya jalan ke sana karena terguncang.
Pada bait tersebut tampak, Rumi sebenarnya tidak menafikan peran akal. Dalam beberapa tempat di Matsnawi, justru Rumi menonjolkan akal dalam melihat realitas. Namun, ketika masuk pada relaitas hakikat tak bertepi, di sana bukan ruangnya akal untuk memasukinya, melainkan ruang hati. Makanya Rumi dalam menjelaskan Tuhan, yang ia jelaskan adalah tentang hati untuk kita terhubung dengan realitas tidak bertepi tadi. Rumi kadang menggunakan perumpaamaan samudera atau ketiadaan sebagai realita tidak bertepi.
Pada bait Matsnawi kitab 1 bait 311-314, Rumi menjelaskan bahwa perbuatan Tuhan itu sebatas batasan pemikiran kita sebagai manusia; namun hakikatnya, kita tetap tidak mampu. Perbuatan Tuhan akan membuat kita keheranan, takjub. Kadang kita mendapat masalah dan tidak ada solusinya, namun akhirnya mendapat solusinya; Kadang kita mendapat kegagalan, namun akhirnya mendapat kesuksesan.
Pada Matsnawi bait 2757-2759, ucap Yai Jabir, bait-bait ini adalah teka-teki Rumi. Rumi menggunakan kata sangkaan, “Toh kalau kita terhubung dengan Tuhan, itu sebatas pikiran kita sendri.” Sebagaimana bunyi hadis, “Aku berdasarkn dzon hamba-Ku”. Dan Dzat tidak mungkin kita jangkau, yang bisa kita jangkau adalah asma dan sifat-Nya, dan itupun berdasarkan keterbatasan pemikiran kita. Apapun yang kita gambarkan tentang Tuhan dalam pikiran, pada akhirnya pkiran dan gagasan itu kita yang ciptakan, padahal dalam Alquran, “Lam yalid wa lam yulad.” Dan kalau kita pikirkan, berarti kita melahirkan Tuhan, oleh karna itu, itu hanya sangkaan. Dalam penjelasan ihsan juga dijelaskan, beribadahlah seolah-olaj kita dilihat oleh Tuhan. Tuhan tidak bisa dijangkau dengan dzahir, melainkan dengan batin, dan itupun sebatas batin kita sendiri.
Yai Jabir mempertegas penjelasan tersebut dengan mengutip Matsnawi bait 3008-3012, dan kalau kita lihat bersama, pengalaman itu sangatlah terang. Untuk masuk merasakan tentang ketunggalan, maka harus dengan fana. Jika tidak fana, maka kita terperangkap dalam dualitas, karena kita terjebak dalam persepsi kita. Adapun jika fana, fana akan merenggut persepsi yang kita miliki. Dalam Rubai 172, Rumi mengajak kita melampaui 2 realitas, yakni realitas kufur dan iman. Kalau mau bahagia, manusia harus melampaui 2 alam terlebih dahulu, yaitu alam dunia dan akhirat. Dan ada alam yang tidak lagi bicara tentang iman dan kufur, yakni dunia dimana mereka tenggelam di dalam relitas yang paling batin, ketika di hati hanya ada Dia.
Bagaimana menggambarkan Dzat Tuhan? Yai Jabir memaparkan, bahwasanya dalam dunia sufi, hampir semua membahaa tentang hal ini, yakni Tuhan itu tak terbatas, tak terhingga. Jika kita meyakini Dia tidak terbatas, maka Dia berada di dalam dan di luar dari segala realitas. Realitas sperti ini disebut dengan Dzat, shingga tidak ada satu realitas yang dapat menjangkau Dzat, karena cirinya seperti ini. yang bisa kita jangkau adalah wilayah asma dan sifat Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan mengajarkan asma dan sifat pada Tuhan (melalui para utusan-Nya), ini adalah kaidahnya, bukan tentang Dzat.
Guna menegaskan apa yang disampaikan oleh Rumi, Yai Jabir mengambil QS. Al-Hadid ayat 3, dalam surah ini, huwa merupakan representasi dari Dzat. Dia tidak punya simbol, bahkan huwa pun sebenarnya digunakan karena keterbatasan bahasa, karena tidak ada bahasa lagi yang bisa membahasakan, jadi menggunakan huwa. Dalam penjelasan Ibnu Arabi, huwa ghaybu ghayb. Kalau dalam terjemahan sufi, awalnya adalah akhirnya, awal yang tidak punya akhir bukan awal, akhir yang tidak punya awal bukan akhir, zahir yang tidak punya batin buka zahir, dan batin yang tidak punya zahir bukan batin. Mengapa? Karena Dia ada di awal, ada di akhir, ada di zahir dan ada di batin. Oleh karena itu, dalam dunia sufi, ilmu itu adalah kehadiran, yang tidak hadir itu bukan ilmu dan dia tidak tahu, kalaupun tahu itu dibahsakan orang lain, sehingga pengetahuannya adalah katanya. Jadi pengetahuannya didapatkan dari mendengar, sehingga Rumi lontarkan, “Kapankah melihat seperti mendengar?”
Yai Jabir juga mengutip QS. Al-Furqan ayat 45. Papar beliau, biasanya ayat ini berkaitan dengan masuknya waktu Dzuhur, “Tidakkah kau melihat Tuhan memanjangkan bayangan?” Dalam tafsir sufi, kapan bayangan itu panjang? Semakin panjang bayangan, Tuhan semakin turun ke bawah. Artinya, realitas ini ada karena kehadiran Ilahi. Demikian pula dalam QS. Al-Qasas ayat 88, semuanya binasa kecuali wajhah. Dalam tafsir, ayat ini berkaitan dengan kiamat. Kalau dalam pemahaman sufi, sekarang pun sudah terjadi, semuanya binasa, kecuali wajhah. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 115 dijelaskan, Tuhan tidak mengatakan ketika kau menghadapkan wajahmu, di situ Allah; melainkan dimanapun kau hadapakan wajahmu, di situ wajah Allah. Wajah Allah itu ingin menjelaskn tentang kehadiran di setiap entitas-entitas. Karena itulah Tuhan tidak menjelaskan tentang Allah, melainkan wajhullah. Allah itu meliputi semua asmaul husna, sehingga relitas yang kita saksikan adalah wajhullah.
Pada QS. Al-Anfal ayat 24 ditegaskan, kalau selama ini kita berfikir tidak ada yang lebih dekat di hati saya kecuali hati saya. Namun Alquran menjelaskan, di antara hati kita dan kita ada Allah.; sehingga Tuhan terbesit tentang apa-apa yang ada dalam hati. Yai Jabir mengutip QS. Al-Taubah ayat 104 dengan menegaskan, “Apakah Allah tidak tahu bahwa dia menerima tobat hamba-hambanya dan menerima sedekah, dan Dia yang menerima sedekah. Karena itu, adab Rasul, ketika memberikan sedekah pada orang fakir, seperti makanan atau uang, maka kita cium dulu baru diberikan, karena dia yang mmberi sedekah. Juga jika fakir itu mukmin, Rasulullah mencium tangannya, karena dia yang menerima sedekah.”
Sebagai penutup, Yai Jabir menyampaikan Ghazal 2406 yang konsentrasinya pada pengalaman tentang tauhid. Mencari dan dicari adalah dua hal yang terpisah. Tauhid dalam dunia sufi adalah sesuatu yang terus berproses, karena tauhid itu bukan gagasan, melainkan diraih dengan pengalaman, oleh karna itu, belajar tauhid dari sisi pengalaman tidak akan ada habisnya, sebelum dia fana. “You are not a drop in the ocean. You are the entire ocean in a drop (Maulana Rumi).
Merespon beberapa pertanyaan santri, Yai Jabir menjelaskan alasan mengapa konsep ketunggalan sering dianggap sesat dan membahayakan akidah. Menurut beliau, hal tesebut terjadi karena banyak orang menjelaskan tentang ketunggalan tanpa bisa mengaitkannya dengan dimensi furuiyyah. Problemnya, mereka mengatakan semua ini Allah. Pilihan diksi itu tidak bisa mengurai penjelasan dengan baik, seperti tentang Allah dan wajhullah. Karakteristik sufia adalah kemampuan dalam memilih diksi. Rahasia diksi, inilah kehati-hatian yang dimiliki sufi. Sehingga, problemnya ada di dalam dunia sufi itu sendiri, yang masih kerap tidak tepat dalam memahami dan bahkan meninggalkan syariat. Oleh karena itu, Yai Jabir menekankan untuk kembali pada pemaknaan Alquran, karena Alquran sudah sangat detail menjelaskan ini, demikian pula dengan Hadis. Karena jika melalui akal, maka konsep tersebut tidak bisa dijelaskan. Dgn kesadaran sekarang, kita menyaksikan keragaman, bukan ketunggalan, dan hanya dalam fana ada ketunggalan. Oleh karena itu, kita harus pakai bahasa dzauq, bukan bahasa akal. Dunia sufi itu memang dunia yang eksklusif, walaupun mau dibicarakan di umum, itu harus pada tema akhlak. Apabila tidak demikian, akan bahaya, karena menyebabkan meninggalkan syariat, dia tidak bisa membedakan maqam wahdatul wujud dan penyembahan.
Lantas bagaimana cara menyikapi orang yang berbuat buruk yang jika disadari, itu adalah bagain dari takdir Allah? Yai Jabir menjelaskan, nama Allah ada dalam Asmaul husna, oleh karena itu penciptaannya adalah sebaik-baiknyanya ciptaan-Nya. Bangunan pikiran dalam sufi adalah dengan tajalli asam, oleh karena itu, dibahasakan dengan bahasa tajalli; kalau dalam teologi dari tidak ada mnjadi ada, kalau dalam dunia sufi, dari ada mnjadi tidak ada. Dalam asma Tuhan ada Al-hadi yang berarti Memberi Petunjuk, dan ada Al-Mudil, Yang Menyesatkan. Kendati demkian, Dia tetap nama yang indah, asmaul husna. Kenapa tetap disebut demkian? Karena merujuk pada Alquran, artinya selama asmaul husna masih dalam naungan Allah dan Al-Rahman, pasti seimbang dan harmoni. Artinya dalam nama-nama Tuhan itu tidak ada yang terpisah dengan satu dan lainnya, berbeda dengan realita di dunia ini. Misalnya kita dalam diri ada syahwat dan nafsu, nafsu dan syahwat adalah pemberian Tuhan. Semua yang dari Tuhan itu pasti baik, nafsu dan syahawat itu dari Tuhan, kapan baiknya? Ketika syahwat dan nafsu di bawah naungan sesuai syariat dan akal. Namun ketika dia berdiri sendiri, maka malaikat protes, dia akan menjadi keburukan ketika berdiri sendiri. Namun ketika dalam naungan Rahman dan Rahim, maka dia baik. Oleh karena itu, kita harus melihatnya dalam kaca mata asma; Karena dunia adalah ruang yang terbatas, dan nama-nama itu ketika bertajalli keluar, masing-masing mau berkuasa, sama dengan diri kita, masing-masing ada ego/akunya, persepsi indrawi bilang aku, akalnya bilang aku, naffsnya bilang aku, syahwatnya bilang aku, sehingga panduannya harusnya hati.
Mendalamai tasawuf harus punya guru mursyid, sebagaimana ungkap Rumi, “Jangan berjalan tanpa Khidir, jalan ini gelap dan berbahaya.” Dan terdapat satu kaidah sufi, “Siapapun yang meninggal, dia akan menjadi sufi.” Karena saat dia meninggal, semua hijab terbuka, persepsi batinnya akan tersingkap. Maka, matilah sebelum mati, dan sekarang manusa bisa melihat realita itu. Jalan fana itu adalah dengan kematian, di dunia ini susah untuk masuk ke sana, karena kita ini indrawiyah, dan harus suluk. Yai Jabir juga memberi persepsi berbeda dengan kisah Firaun yang beriman di akhir hayatnya. Dengan mengutip Rumi, Firaun menyebut keimanannya karena dia tenggelam di lautan makrifat. Dan di sanalah ia bertemu dengan Rabb al-Alamin. Firaun ini adalah sosok yang pintar.
Perihal syatahat, Yai Jabir menegaskan bahwa syarat syatahat adalah fana, kalau tidak fana berbeda. Al-Hallaj dan Firaun berbeda. Al-Hallaj itu fana, dia melihat dirinya dalam cermin Tuhan. Dia bingung, kalau begitu siapa saya dan siapa Tuhan, dan keluarlah syatahat. Abu Yazid juga demikian. Ia meminta muridnya untuk menebas lehernya kalau ia mengeluarkan syatahat. Yang tidak fana tidak berhak mengucap syatahat. Fana itu diaraih dari suluk, tazkiyah nafs, untuk melepas kemelekatan-kemelakatan dalam hati, sehingga hatinya jernih, tidk ada aku, ego dan lain-lain. Ktika nothing, pada saat itulah Tuhan hadir. Ktika wadahnya ksong, maka Tuhan bisa masuk. fana adalah ktika tuhan merenggut seluruh daya dan persepsinya.
Adapun tentang karomah, itu adalah khariqul adah, di luar kemampuan manusia biasa untuk menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah seorang pejalan/salik perjalanan batin. Dan karomah ini antar pejalan berbeda-beda macamnya, tergantung keluasan batinnya. Karomah adalah bonus perjalanan, seperti bisa menyembuhkan orang sakit, bisa mengetahui barang yang hilang, bisa bertemu malaikat, bisa mengetahui kejadian sebelum terjadi, dan lainnya. Karomah bukan menjadi cita-cita para sufi, karena itu hanyalah bonus perjalanan rohani. Yang dinantikan para sufi adalah karomah tertinggi, yakni makrifat. Dalam Fushus al-Hikam, Ibnu Arabi mengatakan, ada kasyf duniawi dan ukhrawi. Kasyf duniawi adalah seperti yang sudah disebutkan di atas, dan kasyf ukhrawi adalah diberikannya makrifat. Dan para sufi menantikan makrifat ini.
Tentang fenomena bencana, Yai Jabir menjelaskan bahwa Tuhan memiliki nama Al-Mukhtar dan bertajalli dalam setiap orang. Dunia ini sempit dibandingkan alam yang lain. Di dunia yang sempit, ada gerak dan otomatis ada cheos. Adapun alam ukhrawi itu luas, sehingga satu dan lainnya tidak akan saling mengganggu, dan otomatis tidak ada cheos. Terdapat dialog antara penduduk surga dan penduduk neraka, dimana penduduk neraka tidak bisa merasakan surga, dan sebaliknya. Bencana dalam perspektif Rumi, kalau dikaitkan dengan kehendak manusia, tidak lain terjadi karena adab; orang yang beradab tidak mungkin menzalimi dirinya dan menzalimi makhluk lainnya. “Kita kerap kali fokus beradab pada Tuhan, namun tidak pada sesama manusia dan juga alam,” demikian ungkap Yai Jabir. Dan bahasa Rumi adalah bahasa adab. Manusia diberi iradah, namun acap kali tidak ada adabnya.
Sebagai penutup, Yai Jabir meneguhkan bahwa hakikat agama adalah cinta. Cinta yang dimaksud oleh Rumi sangat luas, tidak melulu tentang Tuhan maupun agama, dan aplikasinya ada dalam keseharian kita semua. Dalam diksinya, cinta mmiliki tingkatan-tingkatannya. “Aku cinta untuk dikenal,” demikian yang terdapat dalam sebuah hadis qudsi. Semuanya, kalau ada cinta dalam diri, itu adalah percikan dari Ilahi. Maka tidak akan ada yang lain selain cinta. Syahwat adalah tingkatan cinta yang paling rendah dalam dunia sufi. Tidak ada orang yang bergerak tanpa cinta, baik dia sadari atau tidak. (AKIRA)