POPULER

Kedudukan Iḥyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn di Mata Para Sufi

September 1, 2021
4 menit membaca

Ketika Iḥyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn selesai ditulis, maka sebagian ulama melihat setan sedih dan menaburkan tanah ke kepalanya. Sang ulama itu bertanya kepada setan: “Ada apa denganmu?” Setan menjawab: “Telah ditulis dalam Islam sebuah kitab (Iḥyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn), yang aku takut orang-orang akan mengikutinya” (Habib Zein bin Smith, Al-Manhaj as-Sawiyy Syarḥ Uṣûl Ṭarîqah as-Sâdah Âli Bâ‘Alawiyy, 2005: 249).

Imam an-Nawawî (quṭub-nya para fakih/fuqahâ’) menyebutkan bahwa kitab Iḥyâ’ nyaris menjadi Al-Qur’an. Wali quṭub Imam Habib ‘Abdillah bin ‘Alawî al-Ḥaddâd menjelaskan bahwa Iḥyâ’ dianggap nyaris menjadi Al-Qur’an bisa jadi karena saking banyaknya ayat yang dikutip atau karena ia merupakan mukjizat sehingga menyerupai Al-Qur’an. Disebutkan bahwa sebab terakhir ini yang lebih memungkinkan Iḥyâ’ dianggap nyaris menjadi Al-Qur’an, yaitu sebagai mukjizat (ajaib dan menakjubkan). Iḥyâ’ dikatakan mukjizat karena dua hal: pertama, ia ditulis dengan metode baru yang belum pernah ada sebelumnya; kedua, penulis lain akan kesulitan untuk menulis karya seperti Iḥyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn (hlm. 256).

Imam Habib ‘Aidrûs bin ‘Umar al-Ḥabsyî menyebutkan bahwa ada enam kitab induk tasawuf yang penting dipelajari oleh para pencari kesejatian dan kebenaran: salah satunya adalah Iḥyâ’. Menurut wali quṭub Habib ‘Abdillâh bin Abî Bakr al-‘Aidrûs, Iḥyâ’ adalah syarah (penjelas) dari Al-Qur’an, hadis, ṭarîqah, dan ḥaqîqah. Orang-orang yang ingin berjalan di jalan Allah dan Rasul-Nya dan ingin mendapatkan rida keduanya harus mempelajari karya-karya Imam al-Ghazâlî terutama Iḥyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn (hlm. 255-256).

Para ulama yang makrifat sepakat bahwa perkara yang paling bermanfaat bagi jiwa dan paling dekat dengan rida Allah adalah mengikuti Imam al-Ghazâlî dan mencintai karya-karyanya. Sebab, karya-karya Imam al-Ghazâlî merupakan intisari Al-Qur’an, hadis, akal, dan naqal. Wali quṭub Imam Habib ‘Abdillah bin ‘Alawî al-Ḥaddâd menyebutkan bahwa karya-karya Imam al-Ghazâlî menggabungkan antara syariat, ṭarîqah, ḥaqîqah, dan warisan para ulama salaf. Oleh karena itu, siapapun yang mempelajari karya-karyanya tidak akan jemu dalam kondisi apapun. Artinya, mereka akan senantiasa butuh terhadap karya-karya Imam al-Ghazâlî tersebut (hlm. 413 & 248-249).

Dalam praktiknya, Âlu Bâ ‘Alawî menggabungkan ajaran Imam al-Ghazâlî dan Imam asy-Syâżîlî sebagai basis Ṭarîqah as-Sâdah Âli Ba‘alawî (Tarekat Alawiyyah). Menurut Imam Habib ‘Abdurraḥmân Balfaqîh, Ṭarîqah as-Sâdah Âli Bâ ‘Alawî secara lahir mengikuti Imam al-Ghazâlî, baik dalam hal pengetahuan/‘ilm maupun perbuatan/‘amal, dan secara batin mengikuti Imam Abû al-Ḥasan ‘Alî asy-Syâżîlî, baik dari segi taḥqîq al-ḥaqîqah maupun dari segi tajrîd at-tawḥîd (Gazâliyyah aḍ–ḍâhir Syâżiliyyah al-bâṭin) (lihat pengantar al-Manhaj as-Sawiyy, hlm. 31).

Disebutkan bahwa Âlu Bâ ‘Alawî di Yaman sempat bermusyawarah untuk mengarang sebuah kitab yang akan dijadikan rujukan (bagi mereka dan anak-cucunya) untuk menjaga sejarah hidup dan warisan para pendahulu mereka (baik dalam hal keilmuan, amal, maupun spritualitas). Namun, ketika mereka mengetahui Iḥyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, maka mereka merasa takjub dan sama-sama sepakat menjadikan Iḥyâ’ sebagai kitab rujukan mereka dan anak-cucunya (al-Manhaj as-Sawiyy, hlm. 249).

Di Indonesia, organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), mengikuti mazhab Imam al-Junaid al-Bagdâdî dan Imam al-Ghazâlî dalam bidang tasawuf (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Hasil-hasil Muktamar 32 Nahdlatul Ulama, 2010: 23). Selain itu, Iḥyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn menjadi salah satu kitab babon yang dikaji di pesantren-pesantren yang tersebar di bumi Nusantara. Kenyataan ini menunjukkan bahwa Imam al-Ghazâlî adalah samudra pengetahuan dan spiritual, di mana orang-orang dari pelbagai belahan dunia datang berduyun-duyun untuk memuaskan dahaga pengetahuan dan spiritual mereka. Wa Allâh A‘lam wa A‘lâ wa Aḥkam.

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Alumni Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Konsentrasi Kajian Maqasid dan Analisis Strategi dan Pengajar di Madrasah Diniyah Awwaliyah Nurul Jadid Pamekasan

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan