Karena Syahwat, Manusia Lebih Baik daripada Malaikat?

Mendengar kata syahwat, yang ada dalam pikiran kita selalu mengarah ke keburukan. Itu benar. Jika manusia tempatkan syahwat sebagai raja, maka manusia akan menjadi hamba baginya. Syahwat memang menghadiahkan kenikmatan dan ia akan selalu menawarkan kepada manusia tanpa henti, tapi ingat, sifatnya sementara. Setelah itu syahwat memberikan kesengsaraan, kehinaan yang lebih lama hingga kekekalan dalam kesengsaraan. 

Lalu, mengapa manusia bisa lebih baik daripada malaikat karena syahwat? Imam al-Ghazali, Sang Hujjatul Islam dalam kitabnya, Mukasyafatul Qulub menjelaskan, Tuhan menciptakan tiga golongan makhluk. Pertama, Tuhan ciptakan malaikat dan memberinya akal, tapi tidak diberikan syahwat. Kedua, Tuhan ciptakan hewan dan memberinya syahwat, tapi tidak memberinya akal. Ketiga, Tuhan ciptakan manusia dan memberi kedua-duanya, akal dan syahwat. Manusia yang dikalahkan oleh syahwatnya, maka hewan lebih baik darinya. Manusia yang mampu kendalikan syahwatnya, maka dia lebih baik daripada malaikat. Sudah terjawab kan, mengapa manusia lebih baik daripada malaikat!

Ternyata, karena syahwat juga, derajat manusia bisa mengalahkan derajat malaikat di sisi Tuhan. Manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsunya akan mendapatkan kemuliaan itu. Syahwat sekecil apa pun dalam dirinya mampu ia kuasai dan kendalikan. Barangkali bisa menahan diri dari syahwat yang jelas-jelas dilarang, seperti berzina, mencuri, berjudi, minum miras, dan lain sebagainya. Tapi, menahan diri dari syahwat melakukan sesuatu, makan dan minum yang sudah halal bagi kita sepertinya akan sangat sulit. Paling gumamnya, ini kan bukan dosa, semau-mauku, lagian tidak merugikan orang lain.

Memang, segala sesuatu yang sudah halal bagi kita, tidak semuanya baik dilakukan. Memaksakannya berarti itu berasal dari dorongan syahwat. Misalnya, memaksa istri untuk melakukan hubungan suami-istri (bersebadan) sementara istri dalam keadaan capek karena seharian mengurusi anak dan pekerjaan rumah atau istri dalam keadaan sakit. Meskipun istri halal digauli, tapi tidak baik melakukannya dalam keadaan demikian. Misalnya juga, kita ingin sekali makan durian, tapi tekanan darah kita sementara naik, itu kan tidak baik. Kita ingin sekali menikmati buah durian tanpa peduli dengan kesehatan tubuh.

Baca Juga:  Menelisik Kembali Gagasan Said Nursi

Dan, sekalipun tidak punya riwayat penyakit, mengonsumsi makananan berlebihan membuat tubuh kita lemah, malas bergerak, mengantuk dan banyak tidur. Pada akhirnya semua itu membuat kita lalai kepada-Nya. Tidak mudah tentunya melawan syahwat, kebanyakan manusia tidak mampu mengalahkan syahwatnya. Banyak yang justru jadi budaknya. Selama hati masih terikat dengan berbagai kesenangan dunia dan berharap tujuan lain selain rida Tuhan, jangan harap kemuliaan di sisi-Nya, bahkan hewan yang hanya dibekali syahwat itu akan lebih rendah daripada manusia pemuja syahwat.

Dalam kitab Mukasyafatul Qulub juga, Imam al-Ghazali mengabadikan sebuah kisah, Ibrahim al-Khawwash bercerita, suatu hari, ketika aku sedang berada di puncak gunung, aku melihat pohon delima dan ingin sekali memakannya. Ternyata, rasanya kecut. Aku pun pergi meninggalkan delima itu. Beberapa saat kemudian, aku melihat seorang laki-laki yang terbuang dan dikerubungi banyak tawon.

Aku berkata kepadanya, “Semoga keselamatan tercurahkan kepadamu.” Kemudian, laki-laki itu menjawab, “Semoga keselamatan juga tercurahkan kepadamu, wahai Ibrahim.” Aku berkata, dari mana engkau mengenalku? Laki-laki itu menjawab, “Barangsiapa mengenal Allah, maka tiada sesuatu apa pun yang tidak diketahuinya.” Aku berkata, “Aku melihat engkau memiliki derajat spiritual (kedudukan khusus) di sisi Allah. Kenapa engkau tidak memohon kepada-Nya agar Dia menyelamatkanmu dari tawon-tawon itu?” Orang itu menjawab, “Sesungguhnya Aku pun melihat engkau memiliki derajat spiritual di sisi Allah. Kenapa engkau tidak memohon kepada-Nya agar Dia menyelamatkanmu dari syahwat delima? Seseorang akan merasakan pedihnya delima di akhirat, sedangkan sengatan tawon dirasakan, ia hanya merasakannya di dunia. Sengatan tawon dirasakan oleh badan, sedangkan sengatan syahwat dirasakan oleh hati.” Aku pun berlalu dan meninggalkan orang itu.

Baca Juga:  Krisis Kosmologi dan Tawaran Ecotheologi Islam

Marilah kita selalu berusaha melawan hawa nafsu pada diri yang selalu mendorong kita melakukan perbuatan yang menyebabkan kita lupa kepada Tuhan. Senantiasalah memohon pertolongan kepadaNya agar hati ini sedikitpun tak berpaling dari-Nya.

0 Shares:
You May Also Like
Read More

Jalan Tasawuf

Semakin hari kita semakin dihadapkan pada tantangan hidup yang semakin kompleks. Kita tidak hanya dituntut memenuhi kesiapan berkompetisi…