Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  MERAYAKAN TANGAN TUHAN DALAM FILM-FILM BESUTAN MIZAN (Bagian 2)

Jeritan Alam dan Dosa Keserakahan Manusia: Telaah Pemikiran Sayyed Hosesein Nasr

Saat kita melihat gelombang air yang dipenuhi batang-batang pohon membanjiri Aceh, seakan-akan air itu hendak memberitahukan kepada kita, “Jangan salahkan kami bila rumah kalian, masa depan kalian, bahkan nyawa orang-orang yang paling kalian sayangi harus tandas; tapi salahkan mereka yang telah menebang pohon-pohon ini.”

Alam bukan benda mati. Ia hidup. Bahkan menghidupi kita, manusia. Tampaknya kita tidak ragu dengan hal ini. Air, udara, tanah, dan elemen-elemen lain adalah sumber kehidupan bagi kita manusia, yang lahir dari rahim alam; bukan dari tangan kotor kita.

Di masa kecil kita, orang-orang tua kita telah banyak mewariskan kearifan mahal tentang betapa agungnya alam. Dahulu, mereka sering “mendoktrin” kita bahwa hutan, gunung, dan laut adalah tempat sakral. Dengan sangat naif, sewaktu kecil, kita mengamini doktrin ini dan benar-benar melihat tempat-tempat itu sebagai rumah bukan hanya flora dan fauna, tapi juga makhluk-makhluk tak kasatmata.

Namun hari ini, kesakralan itu hilang. Hutan, gunung, dan laut menjadi pasar bebas bagi mereka yang tidak cukup puas hanya dengan makan tiga kali sehari. Dengan kata lain, alam dilihat sebagai sumber pemuas keserakahan yang tidak berujung.

Keserakahan: Sumber Utama Krisis

Dalam psikologi Islam, manusia diciptakan sebagai makhluk yang cukup unik. Karena mereka bukan hanya diberi akal pikiran, tapi juga nafsu dan syahwat. Posisi akal menjadi krusial karena manusia dituntut untuk memprioritaskan apa yang dikatakan akalnya, ketimbang menuruti apa yang diperintahkan nafsu dan syahwatnya.

Keserakahan biasa dipahami sebagai sebuah dorongan yang muncul dari nafsu dan syahwat. Keserakahan bisa dipahami sebagai ketidakpuasan atas apa yang sebenarnya sudah cukup bagi manusia.

Dalam konteks krisis lingkungan, proyek-proyek eksploitatif terhadap alam adalah wujud keserakahan manusia. Keserakahan ini termanifestasi dalam proyek-proyek yang diinisiasi oleh para kapitalis yang menggandeng otoritas pemerintahan agar mendapat legalitas. Seperti penggundulan hutan dan pengeboran perut bumi.

Baca Juga:  Insān Kāmil dan Walāyah menurut Ibn ‘Arabī dan Ibn Taymiyyah

Mereka yang tunduk pada nafsu keserakahan akan menutup mata dari ratusan nyawa yang mati karena ulah proyek mereka. Bagi mereka, ratusan nyawa itu hanya angka, tak lebih. Yang membuat mereka pusing bukan nyawa-nyawa itu; tapi bagaimana megaproyeknya tetap eksis demi memenuhi penyakit hati yang hanya bisa disembuhkan dengan terus-menerus menuruti apa yang diperintahkan nafsu.

Revolusi Industri, Teknologi, dan Krisis Lingkungan

Dalam Man and Nature (ABC International, 1997), Sayyed Hossein Nasr menjelaskan bahwa krisis lingkungan kontemporer yang telah menimbulkan banyak masalah kehidupan, tidak bisa kita pisahkan dari peristiwa Revolusi Industri pada abad ke-17 dan perkembangan teknologi sebagai perpanjangan dari revolusi itu.

Menurut Nasr, krisis lingkungan yang dialami manusia di abad ke-21 ini sebenarnya merupakan rentetan episode yang berawal dari Revolusi Industri pada abad ke-17 di Eropa—tepatnya di Inggris dan beberapa daerah di Jerman dan New England. Namun, karena industrialisasi pada saat itu hanya terjadi di beberapa wilayah dan dalam skala kecil, dampaknya terhadap lingkungan tidak begitu dirasakan.

Barulah ketika industrialisasi terjadi di berbagai negara pada dekade-dekade selanjutnya, wajah dunia mulai berubah. Udara tak sesegar sebelumnya, air sungai tak sejernih biasanya, dan hutan tak sehijau seperti ketika kita melihatnya di usia pra-baligh.

Nasr melihat perbedaan signifikan cara manusia memperlakukan alam pada masa sebelum dan sesudah Revolusi Industri. Ia menuturkan, “di dalam masyarakat tradisional, alam dipandang sebagai ‘ibu’, tetapi Barat Modern mengubahnya menjadi ‘pelacur’.”

Refleksi dan Harapan di Tengah Puing

Pernyataan tajam Nasr menyimpulkan inti dari permasalahan kita: Hilangnya rasa sakral dan beralihnya paradigma dari alam sebagai Ibu (Istri) menjadi sekadar sumber daya yang dieksploitasi (Pelacur). 

Baca Juga:  Mengulik Nasionalisme dalam Islam (2)

Bencana alam seperti air bah yang menerjang Aceh adalah surat peringatan paling brutal yang dikirimkan alam. Ini bukan sekadar masalah teknis atau ekonomi; ini adalah krisis moral, krisis spiritual, dan krisis kemanusiaan yang berakar pada penyakit hati yang kita sebut dengan istilah “keserakahan.” 

Dengan demikian, kita harus bertanya: Apakah keuntungan materi sesaat sebanding dengan lenyapnya masa depan generasi mendatang dan nyawa orang-orang yang kita cintai?

 

Previous Article

Makna “Ketunggalan” yang Dapat Membinasakan Keambiguan

Next Article

Kopi Sanger Gayo dan Kesengsaraan Rakyat Aceh

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *