ARTIKEL

Insān Kāmil dan Walāyah menurut Ibn ‘Arabī dan Ibn Taymiyyah

Januari 14, 2026
21 menit membaca

Prolog

Konsep manusia sempurna (al-insān al-kāmil) dan kewalian (walāyah, ’kedekatan’ dengan Tuhan) telah lama menjadi tema penting dalam tasawuf dan teologi Islam.[1] Gagasan insān kāmil merujuk pada manusia ideal yang mencapai puncak kesempurnaan rohani dan menjadi cermin bagi sifat-sifat Ilahi, sedangkan walāyah menunjuk pada kedekatan istimewa seorang hamba dengan Tuhan sebagai wali-Nya. Dua pemikir Muslim abad pertengahan, Muḥyiddīn Ibn ‘Arabī (1165–1240) dan Taqīyuddīn Aḥmad Ibn Taymiyyah (1263–1328), menawarkan pemahaman yang sangat kontras tentang kedua konsep ini. Alexander Knysh menyampaikan, perbedaan visi kedua tokoh ini digambarkan begitu tajam hingga dinilai mustahil didamaikan secara teologis. Knysh menunjukkan bahwa Ibn ‘Arabī; seorang sufi-filosof, mewakili pandangan mistikal yang elitis, sedangkan Ibn Taymiyyah; seorang ulama Salafi klasik, mengusung pandangan anti-elit yang lebih egaliter dalam memahami kesempurnaan manusia dan kewalian.[2] Tulisan sederhana ini akan meringkas-singkat pokok-pokok pemikiran kedua tokoh, perbedaan konseptual-filosofis di antara mereka, serta implikasinya bagi kehidupan beragama kontemporer.

 

Ibn ‘Arabī: Kesempurnaan Manusia dan Hierarki Wali dalam Kosmologi Mistik

Ibn ‘Arabī, dikenal dengan gelar al-Syaikh al-Akbar (Guru Agung), mengembangkan konsep al-insān al-kāmil sebagai puncak pencapaian spiritual manusia.[3] Manusia sempurna dalam pandangan Ibn ‘Arabī adalah individu langka yang sepenuhnya mewujudkan sifat-sifat Ilahi dalam dirinya dan menjadi cermin tempat Tuhan “mengenali” Diri-Nya sendiri. Dalam kosmologi mistiknya, figur insān kāmil ini menempati peran kosmis sentral, ia laksana jembatan penghubung antara alam ketuhanan dan alam manusiawi, sehingga eksistensinya memberi makna spiritual bagi jagat raya. Dengan kata lain, wali yang sempurna menurut Ibn ‘Arabī bukan sekadar manusia saleh biasa, melainkan mikrokosmos Ilahi, partisipan aktif dalam drama kosmis Tuhan dan penciptaan.[4]

Ibn ‘Arabī juga meyakini bahwa untuk mencapai derajat kenabian sekalipun, seseorang harus terlebih dahulu mencapai derajat kewalian. Walāyah dipandang sebagai fondasi spiritual yang memungkinkan kenabian; setiap nabi adalah wali terlebih dahulu, meskipun tidak setiap wali akan menjadi nabi. Menurut penjelasan Knysh, Ibn ‘Arabī kerap disalahpahami seolah-olah mengunggulkan derajat wali di atas nabi, padahal maksudnya adalah bahwa nabi merupakan wali yang memperoleh tambahan tugas kenabian. Seorang yang menghimpun kenabian dan kewalian (seperti Nabi Muhammad) menempati posisi tertinggi, disusul oleh wali-wali murni yang bukan nabi. Meski demikian, gagasan ini memang kontroversial pada masanya; Ibn ‘Arabī dan para pengikutnya pernah dituduh menomorsatukan wali di atas nabi.[5]

Dalam karya-karyanya (misalnya Fuṣūṣ al-Ḥikam dan al-Futūḥāt al-Makkiyyah), Ibn ‘Arabī menggambarkan adanya hierarki wali yang kompleks. Para wali dibagi dalam tingkatan-tingkatan spiritual; seperti awliyā’, quṭb (kutub atau poros semesta), dan rijāl al-ghayb (para orang gaib yang memimpin alam spiritual), yang masing-masing memiliki peran tersendiri dalam tatanan kosmis. Pemikiran semacam ini sebenarnya berakar dari tradisi sufi sebelumnya, misalnya karya al-Ḥakīm al-Tirmiżī tentang Khatm al-Awliyā’ yang kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh Ibn ‘Arabī. Bagi Ibn ‘Arabī, para wali; khususnya Insān Kāmil, adalah sumber pengetahuan esoteris yang terus-menerus menyegarkan pemahaman agama di setiap zaman. Mereka diyakini memperoleh ilmu langsung dari Tuhan melalui pengalaman batin, kasyf (penyingkapan spiritual), dan imajinasi kreatif. Imajinasi dipandang positif dan krusial dalam epistemologi sufi Ibn ‘Arabī: yakni sebagai daya kognitif halus yang memungkinkan wali menembus alam antara (‘alam miṡāl) guna menyaksikan ‘realitas-realitas hakiki’ yang tak tampak oleh indra biasa. Dengan kekuatan imajinatif ini, seorang wali menurut Ibn ‘Arabī dapat ‘mengunjungi’ ranah spiritual tersembunyi, memperoleh pengetahuan ilham tentang rencana Ilahi, dan kembali membimbing manusia dengan hikmah yang diperolehnya. Tak heran jika dalam pandangan ini para wali dihormati oleh komunitasnya; mereka dianggap kekasih Tuhan yang diberi pemahaman mendalam dan karāmah (keajaiban) yang tidak dimiliki orang awam. Kharisma wali-wali tersebut, disertai keteladanan moral dan ketiadaan egoisme, membuat banyak orang terdorong untuk menjadi murid atau pengikut spiritual mereka demi mendapatkan bimbingan menuju Tuhan.[6]

Secara ontologis dan epistemologis (dalam hal hakikat wujud dan sumber pengetahuan), Ibn ‘Arabī menempatkan wali di kedudukan yang sangat tinggi, jauh melampaui Muslim kebanyakan ataupun ulama fikih biasa. Knysh mencatat bahwa Ibn ‘Arabī tak bosan-bosannya menekankan keunikan wali sebagai individu manusia sempurna yang unggul baik pada tingkat realitas keberadaannya maupun kedalaman pengetahuannya. Para teolog atau ahli fikih konvensional oleh Ibn ‘Arabī disebutnya hanya ‘ulama lahiriah’ yang memahami kulit luar agama, sedangkan wali memahami inti batinnya. Untuk menggali hakikat-hakikat gaib, Ibn ‘Arabī kerap menafsirkan al-Qur’an, hadis, dan hukum-hukum Islam secara simbolik atau alegoris. Ia menggunakan istilah dan norma syariat secara kreatif sebagai etalase untuk ide-ide favoritnya tentang metafisika, misalnya gagasan kesatuan wujud (waḥdat al-wujūd) yang menjadi salah satu tema pokoknya. Singkatnya, Ibn ‘Arabī menawarkan corak tasawuf filosofis yang sarat makna batin dan kosmologi mistik; agama dipahami bukan sebatas aturan lahir, tetapi sebagai misteri Ilahi yang tersirat, yang dapat diungkap oleh para wali melalui isyarat dan makna mendalam.

 

Ibn Taymiyyah: Kesalehan Egaliter dan Kewalian Anti-Elitis

Beralih ke Ibn Taymiyyah, kita mendapati paradigma yang hampir berlawanan. Ibn Taymiyyah adalah seorang ulama dan pemikir Salafi yang menekankan kemurnian tauhid dan ketaatan ketat pada al-Qur’an dan Sunnah. Dalam pandangannya, kesempurnaan manusia diukur dengan sejauh mana seseorang mengikuti jejak Nabi Muhammad dan para sahabat secara tepat. Hanya Nabi lah yang mencapai kesempurnaan manusia seutuhnya; tak ada manusia biasa yang maksum atau sempurna selain beliau. Setelah Nabi, orang-orang terbaik (al-khiyar) adalah Khulafā’ al-Rāsyidūn (Abū Bakar, ‘Umar, ‘Uṡmān, ‘Alī) dan para sahabat Nabi lainnya, dengan urutan keutamaan sesuai kedekatan mereka secara waktu dan akhlak kepada Nabi. Semakin dekat generasi atau perilaku seseorang dengan Rasulullah, menurut Ibn Taymiyyah, semakin tinggi derajat kesalehan dan ‘kesempurnaan’ yang bisa diraihnya. Dengan demikian, tolok ukur manusia unggul bagi Ibn Taymiyyah bersifat historis dan normatif, yakni kembali kepada teladan salaf (generasi awal Islam) dan kepatuhan total pada wahyu.[7]

Konsep kewalian (walāyah) menurut Ibn Taymiyyah juga diinterpretasi secara luas dan egaliter, bukan sebagai status eksklusif segelintir elit spiritual. Ia menolak gagasan hierarki wali yang rumit ala sufi. Bagi Ibn Taymiyyah, setiap Muslim mukmin yang taat dan bertakwa dapat disebut Wali Allah tanpa memandang kelas sosial atau latar belakangnya. Dalam sebuah risalahnya, Ibn Taymiyyah menegaskan bahwa para wali Allah itu mencakup orang-orang beriman yang saleh; apakah dia miskin atau kaya, sufi, ulama, pedagang, prajurit, tukang, pemimpin, atau lainnya. Pernyataan ini menunjukkan sikap anti-elitisme Ibn Taymiyyah. Ia tidak nyaman dengan ide bahwa Tuhan memilih secara acak individu-individu tertentu sebagai wali istimewa yang lantas membentuk klub elit dengan hierarki spiritual tertutup. Konsep-konsep sufi seperti kutub (poros alam semesta), ghauṡ, atau berbagai tingkatan rijāl al-ghayb yang membentuk piramida kewalian, bagi Ibn Taymiyyah, tidak memiliki dasar yang jelas dalam ajaran Nabi. Bahkan, ia menganggap doktrin sufi tentang khatm al-awliyā’ (pemuka para wali di setiap zaman) atau ramalan akan munculnya wali akhir zaman sebagai khayalan yang berbahaya. Wacana sufi mengenai wali-wali tersembunyi dan ‘raja-raja rohani’ semacam itu oleh Ibn Taymiyyah dinilai mengada-ada dan bertentangan dengan akidah, sampai-sampai ia menyebutnya tidak masuk akal dan bid‘ah yang sesat. Menurutnya, klaim kaum sufi tentang wali dengan kemampuan khusus atau pengetahuan rahasia hanyalah benar jika sejalan dengan al-Qur’an dan Sunnah; selebihnya, itu hanyalah buah khayalan mereka belaka.[8]

Pendekatan Ibn Taymiyyah terhadap agama membumi dan tekstual. Ia ingin menegaskan bahwa Islam sudah sempurna dengan wahyu Ilahi, sehingga peran manusia hanyalah mengikuti petunjuk tersebut sebaik mungkin, bukan menambah-nambahinya dengan pengalaman metafisis. Bagi Ibn Taymiyyah, para wali tidak diberi peran kosmis apa pun dalam mengatur alam; kewalian sepenuhnya bersifat moral-spiritual dalam arti menjalankan ajaran agama secara ikhlas. Seorang wali, dalam definisi Ibn Taymiyyah, adalah Muslim biasa yang unggul dalam ketaatan syariat dan kesalehan personal, namun tidak mempunyai tugas mistis menggerakkan kosmos.[9] Hal ini berbeda drastis dari kosmologi sufi Ibn ‘Arabī yang mengaitkan kewalian dengan fungsi metafisik semesta. Knysh menunjukkan kontras ini secara tajam; pada Ibn ‘Arabī, wali/insān kāmil seolah menjadi bagian esensial dari alam semesta yang menghubungkan dunia manusia dengan Tuhan, sedangkan bagi Ibn Taymiyyah, wali adalah manusia taat yang membumi dan tidak ada sangkut-pautnya dengan mekanisme alam raya. Seorang wali versi Ibn Taymiyyah sibuk dengan penyelamatan jiwanya sendiri dan menolong sesama secara praktis, bukan mengklaim ikut campur dalam fungsi kosmis apapun.[10]

Perbedaan mendasar juga tampak dalam cara memperoleh pengetahuan spiritual. Ibn Taymiyyah sangat skeptis terhadap sumber pengetahuan selain wahyu yang sudah tertulis. Baginya, masa kenabian dan penurunan wahyu telah berakhir dengan wafatnya Nabi Muhammad, dan para sahabat telah mewariskan teks-teks suci yang jelas serta mencukupi untuk petunjuk hidup. Oleh sebab itu, ia mengecam praktik menggali makna batin tersembunyi dari teks agama sebagaimana lazim di kalangan sufi atau Syiah esoteris. Imajinasi kreatif atau visi rohani; yang diagung-agungkan Ibn ‘Arabī, justru dipandang curiga oleh Ibn Taymiyyah. Dalam retorikanya, ranah imajinasi itu adalah lahan permainan setan yang mudah menipu manusia. Ia secara tegas menyatakan bahwa setan dan bala tentaranya menunggangi imajinasi untuk membisikkan kesesatan, menampakkan gambaran-gambaran palsu yang memikat, dan menipu para pencari spiritual yang kurang waspada. Imajinasi, menurutnya, tak ada bedanya dengan tempat-tempat fisik angker yang dihuni jin dan setan; diumpamakannya seperti latrina gelap atau rumah kosong di mana godaan setan bersemayam. Dengan sikap ini, Ibn Taymiyyah menolak mentah-mentah tafsir alegoris atau isyarat mistik yang melampaui makna zahir al-Qur’an. Baginya, metode para sufi yang suka menakwil ayat secara esoteris merupakan perilaku ghuluw (berlebihan) yang menodai kemurnian agama, sehingga ia tak segan mengutuknya sebagai pikiran sesat atau ocehan orang gila. Literalitas dan ketaatan pada aturan tertulis adalah ciri pandangan Ibn Taymiyyah; karenanya ia kerap dicitrakan memiliki pola pikir buku aturan yang kaku berbanding lurus dengan keliaran imajinatif Ibn ‘Arabī.

Menariknya, meski kritis terhadap tasawuf filosofis Ibn ‘Arabī, Ibn Taymiyyah tidak menolak tasawuf secara keseluruhan. Ia sendiri menghargai nilai zuhud (asketisme) dan takwa yang diajarkan para sufi awal, asalkan tidak bertentangan dengan syariat.[11] Menurut Knysh, Ibn Taymiyyah bahkan mencoba merumuskan visi tasawuf versi dirinya; sebuah tasawuf sunni yang patuh syariat, tanpa doktrin kosmologi rumit atau klaim ilmu rahasia yang melampaui al-Qur’an. Dengan demikian, ia menerima aspek moral-etik tasawuf (seperti introspeksi, penyucian hati, dan kecintaan kepada Allah) selama masih sejalan dengan al-Qur’an dan Sunnah, tetapi tegas menolak aspek-aspek tasawuf yang dianggap berbau filsafat panteistik atau memberi otoritas spiritual di luar Nabi dan sahabat. Wali dalam kacamata Ibn Taymiyyah akhirnya tak lebih dan tak kurang adalah Muslim saleh. Jika pun seorang wali di zaman selepas Nabi memperoleh karāmah atau ilhām, hal itu dipandang sekadar efek samping dari kesalehannya, bukan tanda level eksistensi yang lebih tinggi. Semua kelebihan supranatural yang mungkin dimiliki wali versi Ibn Taymiyyah kembali diukur dengan standar syariat: harus tunduk pada Qur’an-Sunnah dan ditujukan untuk menegakkan agama, bukan untuk menunjukkan status spesial pribadi.[12]

 

Perbandingan Konseptual dan Filosofis

Dari pemaparan di atas, tampak jelas bahwa Ibn ‘Arabī dan Ibn Taymiyyah menawarkan kerangka konseptual dan filosofis yang kontras tentang kesempurnaan manusia (insān kāmil) dan kewalian. Berikut beberapa perbedaan utama yang dapat diringkas; Pertama, elitisme vs. egalitarianisme. Pemikiran Ibn ‘Arabī bernuansa mistikal-elitistis, di mana hanya segelintir manusia pilihan (para wali) yang mencapai derajat insān kāmil dan memiliki akses istimewa pada pengetahuan Ilahi terdalam. Sebaliknya, Ibn Taymiyyah sangat egaliter. Ia memperluas konsep wali kepada semua orang beriman yang taat. Knysh menyebut pandangan Ibn Taymiyyah ini anti-elit atau bahkan cenderung demokratik dibanding gagasan kewalian Ibn ‘Arabī yang eksklusif. Pada Ibn ‘Arabī, wali adalah kasta rohani tersendiri dengan hirarki jelas, sementara pada Ibn Taymiyyah, wali tidak dibedakan dari umat saleh kebanyakan; tidak ada klub elit spiritual tertutup yang acak dipilih Tuhan.

Kedua, sumber otoritas dan pengetahuan. Bagi Ibn ‘Arabī, selain otoritas lahiriyah (syariat), terdapat sumber otoritas batiniyah yang diemban para wali melalui ma‘rifah (gnosis) langsung dari Tuhan. Pengetahuan tertinggi diperoleh lewat jalan kasyf, ilhām, dan penjelajahan alam metafisis dengan imajinasi spiritual. Ibn Taymiyyah tidak mengakui sumber otoritas selain wahyu yang telah final. Ia menolak konsep ma‘rifah khusus para sufi; al-Qur’an dan Sunnah dianggap sudah cukup dan final sebagai petunjuk. Usaha menggali makna esoteris tambahan justru dipandangnya menyimpang. Dengan kata lain, Ibn ‘Arabī membuka pintu terhadap ta’wīl (penafsiran batin) dan pengalaman rohani personal, sedangkan Ibn Taymiyyah menutup pintu tersebut dan mengunggulkan teks sebagai satu-satunya rujukan kebenaran.

Ketiga, peran imaginasi dan kosmologi. Dalam epistemologi Ibn ‘Arabī, imajinasi (khayāl) adalah karunia Ilahi bagi wali untuk memahami realitas terdalam. Alam semesta memiliki dimensi ruhaniah/imaginal yang dapat diakses oleh manusia suci dalam keadaan spiritual tinggi, sehingga mereka dapat melihat “blueprint” Ilahi dari penciptaan. Sebaliknya, dalam pandangan Ibn Taymiyyah yang “miskin imajinasi”, tidak ada ruang legitim bagi pencarian pengetahuan melalui visi imajiner. Imajinasi justru disamakan dengan sumber ilusi yang harus dihindari. Filosofi kosmologis Ibn ‘Arabī sangat terbuka terhadap simbol dan metafor; alam raya dilihat penuh makna tersirat, sedangkan Ibn Taymiyyah menjalankan literalitas kaku, menganggap alam sebagaimana adanya tanpa struktur “gaib” yang melibatkan wali. Dalam terminologi Marshall Hodgson yang dikutip Knysh, sufisme Ibn ‘Arabī bisa disebut imaginative piety (kesalehan yang melibatkan daya imajinasi), sedangkan kesalehan Ibn Taymiyyah adalah sebaliknya, unimaginative piety yang kering dari metafora kosmis.

Keempat, interpretasi agama. Ibn ‘Arabī merasa bebas menggunakan metode hermeneutika esoteris; menafsirkan kisah-kisah nabi, ayat al-Qur’an, dan bahkan hukum fikih secara alegoris demi mengungkap hikmah metafisik di baliknya. Ia, misalnya, menafsirkan syariat dan kisah keagamaan sebagai lambang-lambang bagi kebenaran universal yang menjadi obsesi filosofisnya (seperti kesatuan wujud, hubungan Tuhan-makhluk, dsb.). Ibn Taymiyyah memandang praktik demikian sebagai penyelewengan. Ia secara tegas mencela tafsir batin dan takwil liar atas ayat sebagai pemikiran sesat yang berbahaya. Baginya, agama harus dipahami apa adanya secara tekstual, tanpa “mencari-cari” makna tersembunyi yang tidak diajarkan Nabi. Dalam hal ini, Ibn Taymiyyah melambangkan arus skripturalis-literalis, sementara Ibn ‘Arabī mewakili arus esoteris-simbolis dalam intelektual Islam.

Kelima, implikasi teologis. Perbedaan di atas melahirkan konsekuensi teologis yang signifikan. Pandangan Ibn ‘Arabī membuka ruang bagi keyakinan bahwa karāmah (kemenangan spiritual atau mukjizat kecil para wali) dan ilhām pribadi merupakan bagian sah dari pengalaman beragama. Wali bahkan dianggap memiliki otoritas moral untuk memandu umat di masa ketiadaan nabi, karena mereka dipandang sebagai penerus batin kenabian. Ibn Taymiyyah dengan tegas menolak implikasi semacam itu; menganggapnya dapat mengganggu akidah finalitas kenabian (khātam al-anbiyā’). Bagi Ibn Taymiyyah, kenabian telah ditutup, sehingga tidak boleh ada figur pasca-Nabi yang seolah menjadi sumber ajaran baru. Wibawa wali sepenuhnya diukur dari ketaatan mereka pada Nabi, bukan dari pengalaman pribadinya. Dengan demikian, Ibn ‘Arabī memberi peran dinamis pada tokoh suci di sepanjang sejarah (agar agama selalu segar secara spiritual), sedangkan Ibn Taymiyyah memberi peran statis (cukup menjaga tradisi sesuai teladan generasi pertama).

Meski berbeda tajam, kedua pandangan ini muncul dari kepedulian yang sama yaitu bagaimana manusia dapat mendekati kesempurnaan dan meraih hubungan sedekat mungkin dengan Tuhan. Ibn ‘Arabī menjawabnya dengan menekankan transformasi batin dan penyingkapan misteri Ilahi melalui wali-wali pilihan, sementara Ibn Taymiyyah menjawabnya dengan menekankan peneladanan total terhadap Nabi dan penegakan kemurnian tauhid bebas takhayul. Keduanya mencerminkan arus besar dalam sejarah intelektual Islam; tarik-menarik antara mistik esoteris dan puritan tekstualis, yang terus mewarnai diskursus keislaman hingga kini.

 

Implikasi terhadap Kehidupan Beragama Kontemporer

Gagasan Ibn ‘Arabī dan Ibn Taymiyyah tentang wali dan insān kāmil tidaklah mati dengan berakhirnya abad pertengahan, melainkan bergaung hingga era modern dalam berbagai bentuk. Kehidupan beragama kontemporer di dunia Islam masih menyaksikan perbedaan pendekatan yang sejalan dengan dua kutub pemikiran ini. Bagi sebagian kalangan Muslim masa kini, kewalian tetap menjadi konsep yang relevan dan menjadi tumpuan kerinduan spiritual. Orang-orang yang merasa haus bimbingan batin di luar dalil tekstual sering kali mencari figur wali hidup; biasanya dalam sosok kiai, syekh tarekat, atau pemimpin spiritual kharismatik, untuk dijadikan pembimbing ruhani mereka. Seperti diuraikan Knysh, masih banyak Muslim yang “tidak puas hanya dengan kitab hukum dan aturan formal”, sehingga mereka mendambakan bimbingan seorang manusia suci yang dianggap “memiliki status istimewa di mata Tuhan” dan seolah memiliki jalur langsung kepada-Nya. Fenomena pengikut tarekat di berbagai belahan dunia (termasuk Indonesia) menunjukkan bahwa warisan pemikiran ala Ibn ‘Arabī yang menjunjung wali sebagai sumber hidup spiritualitas tetap berpengaruh. Bagi para pengamal tasawuf ini, ajaran-ajaran sang wali (melalui majelis zikir, nasihat, barakah, dsb.) diyakini mampu menghidupkan jiwa agama yang mungkin terasa kering jika hanya bertumpu pada ibadah lahir semata.

Di sisi lain, pengaruh Ibn Taymiyyah juga nyata dalam kehidupan beragama modern, khususnya di kalangan gerakan reformis atau puritan Islam. Ide-idenya dihidupkan oleh gerakan Salafiyah dan sejenisnya yang memandang kritik Ibn Taymiyyah terhadap kultus wali sebagai legitimasi untuk “membersihkan” praktik-praktik yang dianggap bid‘ah. Misalnya, tradisi-tradisi seperti ziarah kubur wali, pemujaan di makam keramat, atau kepercayaan atas karamah keramat tertentu, sering dikritik keras oleh kelompok yang terinspirasi Ibn Taymiyyah. Mereka menekankan bahwa tak ada otoritas spiritual yang boleh melebihi al-Qur’an dan Sunnah, dan segala ritual yang tak punya landasan jelas dalam keduanya harus ditinggalkan. Di Asia Tenggara, sejarah mencatat benturan antara penganut tasawuf dan kaum puritan sejak masa lalu. Contohnya, di Kesultanan Aceh abad ke-17, ajaran tasawuf filsafat Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani pernah dikecam oleh ulama “Salafi” lokal Nuruddin ar-Raniri, bahkan kitab-kitab sufi tersebut dibakar atas perintah Sultan. Knysh menyebut kasus Aceh ini sebagai contoh bahwa kaum sufi tidak dibiarkan tanpa tantangan; suatu gema dari sikap kritis Ibn Taymiyyah berabad-abad sebelumnya. Hingga kini pun, di berbagai penjuru dunia Muslim, masih ada “kantong-kantong” masyarakat yang memperlihatkan sikap skeptis atau permusuhan terhadap tasawuf metafisik ala Ibn ‘Arabī. Kelompok-kelompok ini kerap menuduh praktek tarekat yang mengkultuskan syekh sebagai syirik atau khurafat, sejalan dengan semangat Ibn Taymiyyah yang anti-penyimpangan akidah.

Meskipun demikian, kedua pendekatan tersebut; spiritualisme sufi dan skripturalisme puritan, terus berdialog dan berinteraksi dalam ruang besar Islam kontemporer. Banyak kalangan tengah (moderat) berusaha mengambil jalan kompromi dengan menghargai kedalaman spiritual tasawuf sembari tetap menjaga kemurnian tauhid dan ketundukan pada syariat. Warisan al-Ghazālī, misalnya, menjadi jembatan penting antara tasawuf dan syariat; ia menunjukkan bahwa spiritualitas bisa diselaraskan dengan ortodoksi. Knysh menyinggung bahwa Abū Ḥāmid al-Ghazālī berhasil “menyuntikkan ruh” tasawuf ke dalam arus utama Sunni sehingga tasawuf diterima luas, tidak seperti Ibn ‘Arabī yang karyanya terlalu esoteris untuk dicerna orang awam. Al-Ghazālī memperlihatkan cara menginternalisasi ajaran agama melalui pendekatan sufi yang tetap berpegang pada syariat, sehingga diterima oleh hampir semua lapisan (kecuali segelintir ulama skeptis). Di era modern, banyak ulama dan cendekiawan Muslim berusaha meneladani strategi serupa dengan mengintegrasikan pengalaman spiritual sufi dengan penegakan syariat yang tekstual, agar tercapai keseimbangan antara aspek batin dan lahir agama.

Dari segi sosial-keagamaan, konsep kewalian ala Ibn ‘Arabī berimplikasi pada suburnya budaya menghormati para wali di berbagai komunitas Muslim. Situs-situs makam wali dan perayaan haul (peringatan kematian wali) masih menjadi bagian tradisi hidup di Nusantara, Afrika Utara, Asia Selatan, dan tempat lainnya; menunjukkan betapa akar pandangan yang memuliakan wali masih kuat. Sementara itu, pandangan Ibn Taymiyyah mewujud dalam meningkatnya kelompok Muslim yang mengusung pemurnian akidah dan antipati terhadap praktek kultus individu. Mereka lebih menekankan otoritas ulama formal dan lembaga fatwa, menggantikan peran karismatik wali. Dalam ranah pemikiran, debat soal spiritualitas vs literalitas juga tampak dalam wacana keislaman; misalnya perdebatan soal perlu tidaknya penafsiran kontekstual (yang kadang dianggap bāṭiniyyah) terhadap teks suci dalam menjawab problem modern, versus tuntutan kembali ke makna harfiah. Semua ini memperlihatkan bahwa dialektika Ibn ‘Arabī-Ibn Taymiyyah masih relevan; perbedaan mereka memberikan dua kecenderungan solusi yang masing-masing punya pengikut hingga kini.

 

Epilog

Perbandingan antara Ibn ‘Arabī dan Ibn Taymiyyah dalam konsep insān kāmil dan walāyah mengungkap dua pandangan dunia Islam yang berbeda arah namun sama-sama lahir dari keinginan mendekatkan diri pada Tuhan. Ibn ‘Arabī menawarkan visi agung tentang potensi rohani manusia; bahwa melalui perjalanan mistik dan penyucian batin, seorang insān bisa menjadi cermin sempurna bagi sifat-sifat Tuhan dan berperan sebagai penerus spiritual kenabian di alam semesta. Ibn Taymiyyah, di pihak lain, mengingatkan akan pentingnya kerendahan hati manusia di hadapan wahyu; bahwa kesempurnaan hanya milik Rasul, dan tugas manusia adalah setia meneladaninya tanpa mengklaim wangsit atau otoritas gaib apa pun di luar yang telah diajarkan. Perbedaan konseptual-filosofis di antara keduanya, antara mistisisme imajinatif dan ketaatan tekstual, telah membentuk lanskap pemikiran Islam dari zaman pra-modern hingga era modern.

Berkat pemikiran Ibn ‘Arabī, khazanah Islam kaya dengan metafora kosmis, sastra sufi yang mendalam, dan model manusia spiritual universal yang melintasi batas formal agama. Sementara berkat pemikiran Ibn Taymiyyah, Islam diingatkan untuk selalu bersandar pada kemurnian ajaran Nabi yang terjaga dan tidak ternodai unsur luar. Keduanya, meski berbeda pandangan, berkontribusi pada pertanyaan abadi; bagaimana manusia dapat menjadi baik dan dekat dengan Tuhan? Jawaban mereka yang berlainan justru memberikan spektrum pilihan bagi umat; mulai dari jalan kontemplatif esoteris hingga jalan pengabdian literal. Dalam kehidupan umat Islam sekarang, warisan kedua tokoh ini ibarat dua kutub yang menyeimbangkan; satu menarik ke kedalaman batin, satu lagi mengokohkan fondasi syariat. Memahami perbedaan Ibn ‘Arabī dan Ibn Taymiyyah bukan saja memperkaya apresiasi kita terhadap sejarah intelektual Islam, tetapi juga membantu kita melihat akar berbagai orientasi keberagamaan di dunia Muslim saat ini, dari spiritualisme tarekat hingga gerakan salafi, sebagai manifestasi dari dialektika panjang antara hakikat dan syariat, antara cinta mistik dan hukum Ilahi. Dengan demikian, kisah perdebatan insān kāmil dan wali ini tetap menjadi narasi hidup yang mengajak kita merenungkan posisi manusia di antara aspirasi menuju kesempurnaan spiritual dan keterbatasan untuk selalu tunduk pada Sang Maha Sempurna.

 

Daftar Bacaan

Ali, Mukhtar H. Philosophical Sufism. London: Routledge, 2021. https://doi.org/10.4324/9781003181040.

Anjum, Ovamir. “Sufism without Mysticism? Ibn Qayyim Al-Jawziyyah’s Objectives in Madārij Al-Sālikīn.” A Scholar in the Shadow: Essays in the Legal and Theological Thought of Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, 2010.

Chittick, William. Ibn ’Arabi: Heir to the Prophet. Oxford: Oneworld, 2007.

———. Imaginal Worlds: Ibn Al-‘Arabī and the Problem of Religious Diversity. New York: State University of New York Press, 1994.

Ibn Taimiyyah, Aḥmad ibn ’Abd al Ḥalīm. Al-Furqān Baina Auliyā’ Al-Raḥmān Wa Auliyā’ Al-Syaiṭān. Damaskus: Maktabah Dār al-Bayān, 1985.

Kaya, Emrah. “A Comparative Study: Epistemology and Theology of Ibn Al-ʿArabī and Ibn Taymiyya.” Cumhuriyet Üniversitesi İlahiyat Fakültesi Dergisi. University of Nottingham, 2016.

Knysh, Alexander. “Degrees of Human Perfection and Sainthood: Between Ibn Al-ʿArabī and Ibn Taymiyya.” In Sainteté et Héritage Prophétique En Islam, 291–312. De Gruyter, 2025. https://doi.org/10.1515/9783111703305-014.

Knysh, Alexander D. Ibn ʿArabi in the Later Islamic Tradition: The Making of a Polemical Image in Medieval Islam. Albany, NY: State University of New York Press, 1999.

Maghribi, Hamdan. Tasawuf Salafi: Rekonstruksi Tasawuf Ibn Taimiyyah. Malang: Madani, 2024.

Maghribi, Hamdan, Alfina Hidayah, and Arikhah. “Ibn Taimiyyah Dan Rancang Bangun Taṣawuf Salafi.” Esoterik: Jurnal Akhlak Dan Tasawuf 08, no. 02 (2022): 193–216. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.21043/esoterik.v8i2.16509.

Nair, Arjun. Interpreting Ibn ʿArabī. London: Routledge, 2025. https://doi.org/10.4324/9781003648628.

Sarrio, Diego. “Spiritual Anti-Elitism: Ibn Taymiyya’s Doctrine of Sainthood (Walāya).” Islam and Christian-Muslim Relations 22, no. 3 (2011): 275–91.

[1] Diego Sarrio, “Spiritual Anti-Elitism: Ibn Taymiyya’s Doctrine of Sainthood (Walāya),” Islam and Christian-Muslim Relations 22, no. 3 (2011): 275–91; Alexander D Knysh, Ibn ʿArabi in the Later Islamic Tradition: The Making of a Polemical Image in Medieval Islam (Albany, NY: State University of New York Press, 1999); Alexander Knysh, “Degrees of Human Perfection and Sainthood: Between Ibn Al-ʿArabī and Ibn Taymiyya,” in Sainteté et Héritage Prophétique En Islam (De Gruyter, 2025), 291–312, https://doi.org/10.1515/9783111703305-014.

[2] Knysh, “Degrees of Human Perfection and Sainthood: Between Ibn Al-ʿArabī and Ibn Taymiyya.”

[3] William Chittick, Ibn ’Arabi: Heir to the Prophet (Oxford: Oneworld, 2007).

[4] Mukhtar H. Ali, Philosophical Sufism (London: Routledge, 2021), https://doi.org/10.4324/9781003181040; Arjun Nair, Interpreting Ibn ʿArabī (London: Routledge, 2025), https://doi.org/10.4324/9781003648628.

[5] Knysh, “Degrees of Human Perfection and Sainthood: Between Ibn Al-ʿArabī and Ibn Taymiyya”; Knysh, Ibn ʿArabi in the Later Islamic Tradition: The Making of a Polemical Image in Medieval Islam.

[6] William Chittick, Imaginal Worlds: Ibn Al-‘Arabī and the Problem of Religious Diversity (New York: State University of New York Press, 1994); Nair, Interpreting Ibn ʿArabī; Emrah Kaya, “A Comparative Study: Epistemology and Theology of Ibn Al-ʿArabī and Ibn Taymiyya,” Cumhuriyet Üniversitesi İlahiyat Fakültesi Dergisi (University of Nottingham, 2016).

[7] Sarrio, “Spiritual Anti-Elitism: Ibn Taymiyya’s Doctrine of Sainthood (Walāya)”; Hamdan Maghribi, Tasawuf Salafi: Rekonstruksi Tasawuf Ibn Taimiyyah (Malang: Madani, 2024).

[8] Knysh, “Degrees of Human Perfection and Sainthood: Between Ibn Al-ʿArabī and Ibn Taymiyya”; Hamdan Maghribi, Alfina Hidayah, and Arikhah, “Ibn Taimiyyah Dan Rancang Bangun Taṣawuf Salafi,” Esoterik: Jurnal Akhlak Dan Tasawuf 08, no. 02 (2022): 193–216, https://doi.org/http://dx.doi.org/10.21043/esoterik.v8i2.16509; Ovamir Anjum, “Sufism without Mysticism? Ibn Qayyim Al-Jawziyyah’s Objectives in Madārij Al-Sālikīn,” A Scholar in the Shadow: Essays in the Legal and Theological Thought of Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, 2010.

[9] Aḥmad ibn ’Abd al Ḥalīm Ibn Taimiyyah, Al-Furqān Baina Auliyā’ Al-Raḥmān Wa Auliyā’ Al-Syaiṭān (Damaskus: Maktabah Dār al-Bayān, 1985).

[10] Knysh, “Degrees of Human Perfection and Sainthood: Between Ibn Al-ʿArabī and Ibn Taymiyya.”

[11] Kaya, “A Comparative Study: Epistemology and Theology of Ibn Al-ʿArabī and Ibn Taymiyya”; Maghribi, Tasawuf Salafi: Rekonstruksi Tasawuf Ibn Taimiyyah.

[12] Knysh, “Degrees of Human Perfection and Sainthood: Between Ibn Al-ʿArabī and Ibn Taymiyya.”

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Dosen Akhlak dan Tasawuf UIN Surakarta

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan