Hijrah (16) : Manusia, Kesalahan, dan Pertobatan

Manusia, meski dilengkapi Tuhan dengan pelbagai kesempurnaan fisik dan mental, juga melekat padanya kelemahan dan kekurangan. Kelemahan ini menyebabkan manusia banyak melakukan kesalahan selama hidupnya. Namun, inilah yang membuatnya disebut manusia, yakni makhluk kontradiktif yang dalam dirinya terkandung unsur-unsur berlawanan. Ia kadang berbuat baik, namun di lain waktu melakukan keburukan.

Oleh karena itu, berbuat keburukan dan kesalahan bukanlah hal yang jauh dari kehidupan manusia. Tak ada manusia yang luput dari kesalahan dan dosa. Kata pepatah, al-insan mahal al-khata’ wa an-nisyan, manusia itu tempatnya salah dan lupa. Namun, bukan berarti kita bersengaja dan menikmati kesalahan dan dosa. Kita justru diberi kesempatan agar merasakan bahwa kesalahan (dosa) itu pada akhirnya tidak baik dan menyebabkan penderitaan. Oleh karena itu, diusahakan agar dihindari. Bila tetap tak bisa, maka bertobat setelah kesalahan.

Karena menjadi potensi yang tak terpisahkan dari manusia, kesalahan dan dosa menjadi sangat sulit untuk ditinggalkan. Manusia menjadi tak berdaya bila dorongan itu muncul, bahkan tak jarang memilih menikmatinya saja. Akan tetapi, selalu ada penyesalan setelahnya sebab dosa dan kesalahan sesungguhnya hanya kehampaan yang tak bermakna apa-apa. Ia tak lain kenikmatan semu yang kosong. Manusia sepenuhnya sadar tentang ini, namun tetap saja terus mengulangi dikarenakan lupa dan lalai. Betapa sulitnya menghindari dosa.

Namun, meski terus-menerus melakukan kesalahan dan kemaksiatan, kita tidak boleh menyerah untuk memperbaiki diri. Sebab pintu tobat senantiasa terbuka, bahkan untuk orang paling paling buruk sekalipun. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :

“Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)” (QS. Az-Zumar [39]: 53- 54).

Dalam redaksi ayat di atas, jelas sekali bahwa andai pun kita adalah orang yang melampaui batas, namun harapan untuk kembali pada kebaikan tetap ada, maka tak boleh kita berputus asa dari kasih sayang Allah Yang Mahaluas. Seumpama bila kita hendak ke Surabaya, namun ternyata kendaraan kita berjalan ke arah Jakarta, maka yang perlu kita lakukan ialah memutar kendaraan. Andai tersesat pula, maka terus kita berjalan, bila perlu bertanya pada orang yang lebih mengetahui agar kita dapat kembali pada rute yang benar. Satu-satunya yang tidak boleh dilakukan ialah berhenti bergerak sebab putus asa. Karena jika demikian, maka kita tamat. Dan takkan pernah sampai ke tujuan.

Baca Juga:  Filsafat Ilmu: Asal Mula Pengetahuan Manusia

Dalam hadisnya, Rasulullah bersabda: “Seluruh Bani Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertobat.”. Nabi kita sadar betul, betapa beratnya bagi manusia untuk terlepas sepenuhnya dari dosa. Sebab dosa dihiasi dengan berbagai keindahan ‘bak taman penuh wewangian bunga yang jalannya mulus serta pemandangannya melenakan. Tak seperti ketaatan dan pahala yang perlu kekuatan untuk menempuhnya sebab ia bagai gunung terjal dengan jalan berbatu yang demikian sulit melaluinya.

Maka, senantiasa naluri hewaniah menarik manusia pada dosa-dosa dengan mudahnya. Sampai manusia menjadi putus asa untuk kembali pada jalan kebaikan, karena merasa lelah dan terlanjur berkubang dalam lumpur dosa. Merefleksikan hadis Nabi di atas, maka jadilah kita sebaik-baiknya manusia, yakni bukan manusia tanpa dosa dan kesalahan, melainkan manusia yang pantang menyerah dan mau terus-menerus bertobat meski banyak melakukan maksiat. Tentu, dengan diiringi harapan dan perjuangan tanpa lelah untuk sampai pada tahap benar-benar lepas dari dosa.

Tobat

Pada hakikatnya, tobat ialah perjalanan diri manusia dari diri yang kotor dan mengikuti hawa nafsu, menuju diri yang mengikuti panggilan akal dan hati yang suci. Ia merupakan penyesalan mendalam akan kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan, kemudian diikuti dengan tekad untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut. Lalu, mulai menjalankan kehidupan baru yang dihiasi ketaatan kepada Allah. Di sinilah terjadi pergantian nilai-nilai dalam diri manusia.

Namun, ini tidaklah mudah. Setiap pilihan dalam hidup memiliki konsekuensi, termasuk tobat. Menjalankan tobat artinya siap berdarah-darah menahan diri dari berbagai godaan dan kenikmatan dunia. Maka diri yang sebelumnya lama bergelimang dalam kenikmatan dosa akan diuji dengan sakitnya derita dalam ketaatan. Hingga muncul kenikmatan dan kelezatan dalam dimensi yang berbeda dan lebih tinggi, yakni nikmat dalam menghamba kepada Yang Hakiki, Allah Tuhan semesta alam. Suatu kenikmatan yang tidak menyisakan penyesalan dan kehampaan, melainkan kepenuhan yang segar dan mencerahkan.

Baca Juga:  Jadikan Allah sebagai Wakil

Tidak Ada ‘Setelah Tobat’

Tobat itu terjadi terus-menerus. Ia bukan semacam Ujian Nasional yang setelahnya kita mendapat ijazah lantas selamanya kita dinyatakan lulus. Banyak orang berpikir bahwa setelah bertobat, maka ia menjadi suci sekali dan tugasnya hanya tinggal menyadarkan para pendosa untuk mengikuti jalan hidupnya sesegera mungkin. Bila perlu dengan sedikit memaksa dan menghakimi, dibantu dengan dalil-dalil mengenai azab dan siksa akhirat. Yang tidak mengikuti, maka membangkang perintah Ilahi.

Tobat semacam ini, tak jarang memunculkan sikap sombong dan lupa diri. Sebuah sikap yang menyebabkan orang merasa ekslusif ‘bak manusia pilihan yang tidak sama dengan orang kebanyakan. Padahal, Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Minhajul Abidin menerangkan bahwa orang yang bertobat haruslah bertekad untuk tidak mengulangi dosa yang dilakukannya, atau pun dosa lain yang sama besarnya, apalagi lebih besar dari itu. Sehingga apa artinya tobat kita, bila ujungnya menyebabkan kita menjadi manusia sombong dan angkuh. Satu dosa menyebabkan iblis dikeluarkan dari surga, Fir’aun ditenggelamkan di laut merah, dan Qarun hancur tertimbun hartanya. Tidakkah kita berpikir dari peristiwa sejarah tersebut?

Padahal dosa yang lebih besar itu di dalam. Orang boleh jadi berpenampilan preman, namun hatinya setingkat wali, sebaliknya ada pula yang berpenampilan ulama, namun hatinya busuk seperti iblis. Lagi pula, apa gunanya kita dikisahkan mengenai tobatnya pembunuh seratus manusia atau kisah pelacur yang memberi minum anjing lewat sepatu? Ini semua memberikan secercah hikmah bahwa hanya Tuhan Hakim sesungguhnya yang paling tahu kualitas tobat hamba-Nya. Sedangkan, tugas kita hanyalah terus memperbaiki diri baik lahir maupun batin. Dan terus melangsungkan tobat sepanjang hayat. Sebab, bahkan Nabi Muhammad, makhluk Allah paling mulia sekalipun, mengucap istighfar seratus kali dalam sehari. Lalu, kita ini apa?

Baca Juga:  Mengenal Ibnu Thufail dan Risalah Hayy Ibn Yaqzan
1 Shares:
You May Also Like