Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Kenapa Pengetahuan tentang Tuhan Disebut Iman (Kepercayaan)?

Hakikat Relasi Laki-Laki dan Perempuan dalam Tafsir Sufistik: Perjalanan Bertemu Sang Maha Cinta

Kajian tentang perempuan, bentuk tubuh, sifat dan konstruk sosial yang melekat pada mereka merupakan kajian yang tidak lekang oleh waktu. Pengkaji ilmu agama, sosial dan budaya selalu mendapatkan perspektif-perspektif baru yang menjadi sumber pengetahuan; bersama dengan ragam pro dan kontranya. Termasuk dalam ranah keilmuan Tasawuf yang menjadi ruang kajian agama, isu perempuan di sini justru memiliki ruang aman dengan porsi yang cukup besar dibanding ruang kajian hukum. Dalam Tasawuf, perempuan tidak terbelenggu oleh tafsir dan hukum, melainkan merdeka dengan paripurna sebagaimana laki-laki di hadapan Tuhannya.

Pada kelas Isu-isu Feminin dalam Tradisi Spritual Islam yang diadakan oleh Nuralwala, Bu Nyai Afifah Ahmad merupakan pemateri pertama yang memberikan paparan sub tema dengan judul Perempuan Suci dalam Alquran Menurut Rumi. Beliau memulai kelas dengan berbagi kisah atas pertemuannya dengan perempuan-perempuan dari berbagai negara yang sama-sama sedang berada di Iran. Seorang perempuan Afghanistan berkisah padanya, bahwasanya perempuan di negaranya masih ada yang mendapatkan akses pendidikan hanya sampai kelas 6 SD saja. Jikalau para perempuan dapat bekerja seperti menjadi dosen, gaji mereka akan dipotong; tidak sebesar yang diperoleh oleh laki-laki. Fenomena ini juga terjadi di negara-negara lainnya di dunia yang masih memandang perempuan sebelah mata, termasuk dalam sebagian masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, bagaimana cara manusia memandang perempuan sangatlah penting. Menjadi penting di sini, dalam Islam mensyaratkan spiritualitas sebagai sesuatu yang utama, dengan alasan: karena Nabi saw. ingin para perempuan memiliki pandangan yang tajam dan dalam tentang dunia yang tak terbatas; karena hanya bersandar kepada-Nya, tabir akan terbuka, dan gati akan benderang; spiritualitas adalah jantung yang memompa segala pergerakan dan cita-cita manusia.

Spiritualitas harus direlisasikan, salah satunya dengan melihat lebih jauh kepada penafsiran figur-figur perempuan dari aspek sufistik. Hal ini merupakan sebuah komponen yang sangat penting dalam memahami isu perempuan dalam Tasawuf, guna memperkaya cara pandang dan menggali makna terdalam dari pesan yang ingin disampaikan sebuah teks dengan cara mengungkap simbol-simbol; sebagaimana dalam layer-layer dalam puisi Rumi, dari lapisan terluar secara berurutan: cerita, pesan, karakter dan interaksi antar tokoh difungsikan sebagai simbol metafora.

Bu Nyai Afifah menyebutkan nama-nama figur perempuan Qurani, antara lain: Hawa, Khadijah, Maryam, Fathimah, Aisyah, Zulaikah, Yukabad, Asiyah, Balqis, dan Shafura. Mereka adalah figur dari perempuan yang mempunyai peran besar dalam sejarah sesuai masa hidupnya.

Adapun nama-nama yang tidak disebutkan Rumi dalam puisinya, bukan berarti nama-nama tersebut tidak sebesar nama perempuan yang disebutkannya; melainkan dimasukkannya nama-nama tokoh tertentu dalam puisinya disinyalir untuk melengkapi konteks dari puisi yang dirangkai olehnya.

Tentang Hawa, yang kerap dijadikan sebagai sosok perempuan yang tersalahkan, namun Rumi dapat melihatnya dalam perspektif yang berbeda. Seperti yang tertulis dalam Ghazal 236, “Selamat atas tibanya malam Qadar, dan hari Raya; Selamat atas perjumpaan Adam dan Hawa.” Rumi menyatukan frasa pertemuan Adam dan Hawa sebagaimana malam lailatul qadar dan malam hari raya. Hal ini karena Rumi memaknai, bahwa peristiwa-peristiwa tersebut merupakan peristiwa bertemunya sang pecinta bersama kekasihnya. Perjumpaan Adam dan Hawa tidak lagi dimaknai secara fisik, melainkan metafisik, yakni hamba kepada Tuhannya. Ghazal selanjutnya, yakni Ghazal 3130, Rumi melantukan syair yang berisikan transformasi, dari tingkatan rasionalitas kepada tingkatan intuitif. Pemaknaan ini menunjukkan esensi ruh dan penciptaan itu satu, Adam dan Hawa itu satu. Rumi memegang prinsip: pada tahapan awal, manusia harus memiliki cermin, pasangan, sahabat, dan keluarga. Cermin diperlukan untuk menaiki tahapan spiritualitas.

Baca Juga:  Menuju Manusia Rohani

Cerita Rumi ini bergerak dari yang zahir kepada yang batin, dari yang tampak fisik kepada metafisik, dari yang konkret menuju yang abstrak. Sebagaimana diceritakan Rumi tentang sosok Zulaikha dalam Ghazal 60, “Apakah Yusuf mengerti kepedihan dan duka yang dirasakan Zulaikha saat terjerat cinta, sebagaimana burung yang terjerat dalam perangkap.’ Ghazal ini berisikan simbol yang mengisahkan fase pertama yang dialami oleh Zulaikha. Pada Ghazal 27, “Selama bertahun-tahun, pada awalnya cinta Zulaikha menepi pada sosok Yusuf; namun pada akhirnya, cinta itu berlabuh pada Tuhan dan mampu menenggelamkan cintanya pada Yusuf.” Ghazal ini mengisahkan tentang fase kedua yang dialamai Zulaikha. Di mana dua fase ini menggambarkan, bahwasanya Zulaikha yang awalnya terobesesi pada sosok Yusuf, kemudian ia mampu menangkap esensi dari cintanya sendiri. Ia bisa mengalihkan dari cinta fisik kepada cinta yang lebih dalam lagi dalam batinnya. Dalam Matsnawi, Rumi juga mengisahkan, ketika Yusuf sudah berusia senja dan bertemu kembali dengan Zulaikha yang sudah tidak mampu melihat lagi.  Atas doa Yusuf, Zulaikha dapat melihat lagi dan tampak muda. Yusuf menyatakan cintanya, namun Zulaikha menolak, karena Zulaikha tidak lagi cinta kepada Yusuf, melainkan pada cinta itu sendiri, yaitu Tuhannya. Hal ini sebagaimana Majnun yang juga mengalami transisi cinta dalam dirinya.

Relasi tokoh-tokoh yang dibangun oleh Rumi dalam ceritanya menekankan pada hubungan spiritual, melampaui status sosial yang menjadi latar belakang kisahnya. Termasuk dalam kisah Balqis, Rumi mengisahkan bagaimana Balqis bertransformasi menjadi seorang pecinta; dari ia menyesali perbuatan terdahulu, merelakan segala harta benda yang ia miliki, hingga sampai pada tahapan akhir, yakni melepaskan kekuasaan. Kisah bagaimana Sulaiman memindahkan singasana Balqis dalam sekejap, dalam penafsiran Rumi adalah tentang bagaimana Sulaiman melepaskan kemelakatan Balqis terhadap singasana dan harta yang dimilikinya. Selama ini kita menyimak kisah Balqis hanya sebagai pertemuan ratu dan raja, namun Rumi dapat melihat, bahwasanya Balqis adalah seorang murid yang cepat merespon ajakan sang guru, sehingga ia dijuluki orang yang memiliki 100 akal budi. Rumi dapat melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh penafsir maupun penyair lainnya. Hubungan antara Balqis dan Sulaiman adalah relasi spiritual, tidak sekedar hubungan antara dua kekasih.

Hubungan spiritual lainnya adalah antara Safura dan Musa. Mereka adalah sepasang suami-istri. Shafura adalah seseorang yang memiliki kematangan intelektual dan spiritual. Seperti kisah, saat ia mampu menganalisa dan membuat keputusan yang tepat setelah bertemu singkat dengan Musa, yang membuat terjadinya pertemuan selanjutnya yang lebih serius antara Musa dan ayah Shafura. Dalam Matsnawi, jilid 6, bait 3083, “Karena kecintaan mendalam Shafura pada cahaya kenabian, hingga mata zahirnya tidak lagi dapat melihat.” Pada bait ini, relasi antara mereka berdua bukan karena Shafura sebagai istri Musa, namun sebagai pejalan yang melihat cahaya kenabian. Pada saat hal ini terjadi, ada seseorang yang bertanya pada Shafura, “Apakah kamu tidak menyesal telah kehilangan penglihatanmu?” Rumi melanjutkan pada bait 3088 sebagai jawaban Shafura, “Yang membuatku menyesal, seandainya saja aku punya seribu mata hingga dapat ku hadiahkan seluruhnya untuk cahaya kenabian.” Sangat jelas, relasi antara mereka berdua melampaui relasi suami-istri, melainkan relasi guru-murid sebagaimana cahaya kenabian tersebut. Sebagai pejalan, ia harus melakukan totalitas kepada gurunya sebagai wasilah kepada Tuhan-Nya.

Baca Juga:  Telaah Sosiologis Rasionalisme di Awal Islam (4): Rasionalisme Religius

Syair Rumi juga menyingkap makna, bahwa kecerdasarsan intuisi seorang perempuan mampu membuka pintu-pintu pertolongan dari langit. Rumi menghadirkan kisah Ibu Musa untuk menjelakan hal ini. Diketahui bersama, Firaun mendapat tafsir mimpinya dan kemudian ingin membunuh semua bayi laki-laki. Ibu-ibu yang melahirkan anak laki-laki disuruh datang ke lapangan dan akan dibunuh anak-anaknya itu. Ibu Musa dengan arahan wahyu (wahyu pertama), yang sempat keluar dari rumah kemudian kembali ke rumah. Dan berdasarkan wahyu ini, ia menyimpan bayinya (Musa) di tungku api. Ibu Musa memiliki keyakinan bahwa Musa, anaknya, akan selamat; karena Musa adalah keturunan dari Ibrahim yang tidak dapat disentuh oleh api. Kemudian turun wahyu kedua kepada ibu Musa, tepatnya saat perempuan-perempuan lainnya mulai menggeledah perempuan yang baru saja melahirkan. Perempuan-perempuan ini diperintahkan untuk menjadi mata-mata kepada ibu-ibu yang baru melahirkan tersebut. Setelah itu turun wahyu kedua yang berisikan perintah kepada ibu Musa untuk menghanyutkan bayinya di sungai nil, dan Tuhan meyakinkan bahwa anaknya akan selamat tanpa kekurangan apapun (Matsnawi, 948-955).

Bagi Rumi, puncak spiritualitas akan menuntun seseorang pada pencaian diri yang sejati. Selayaknya kisah Maryam yang disebut oleh Rumi sebanyak lebih dari 90 kali dalam 4 karyanya. Rumi juga memandang kedudukan spiritual Maryam setingkat dengan para nabi, sebagaimana dalam Ghazal 106, “Kurma yang dimakan oleh Sayidah Maryam adalah hidangan yang sama seperti yang diberikan Tuhan kepada Nabi Muhammad saw.” Kisah Maryam ini adalah simbol dari: guru spiritual (perantara cahaya Tuhan). Seorang murid apabila tergerak, saat seorang guru memberikan kepada muridnya berbagai ajaran dan akhirnya menuntun muridnya untuk melewati kelahiran kedua; Maryam sebagai simbol cinta hakiki, yang dengan keajaibannya mampu melahirkan sosok Isa. Persamaan cinta sejati dan Maryam adalah keduanya dapat melahirkan keajaiban dan mukjizat; Maryam sebagai simbol pejalan sejati, Rumi menggambarkan, Maryam tidak saja sebagai sosok perempuan, tetapi juga kurma-Nya, atau karunia-Nya; Maryam sebagai simbol hati yang jernih, Maryam adalah tempat berlabuhnya cahaya Allah, Isa.

Benang merah seluruh figure tersebut adalah adanya penderitaan yang harus dilalui; ada keputusan besar yang harus diambil; seluruh figure bergerak untuk mencapai kematangan spiritual. Semua cerita figure ini menginspirasi Rumi untuk menemukan hakikat dalam dirinya (terutama dalam ghazal ke 631). Rumi terinspirasi figure-figur perempuan dalam Alquran untuk menemukan cahaya Tuhan dalam dirinya.

Sebagai penutup, Bu Nyai Afifah membacakan ghazal 3130 dalam bahasa Persia. Ghazal ini Rumi tulis setelah melampaui masa-masa sulitnya sebagai sesuatu yang akhirnya ia temukan dalam dirinya. Sebagian dari terjemahan ghazal 3130 yang diterjemahkan Bu Nyai Afifah dan penulis bold antara lain: “Kemanapun kau menghadap, arah asli ada padamu; Jangan kau takutkan perjumpaan dan perpisahan, karena kemarin, hari ini dan esok adalah tentang dirimu sendiri; Kau awalnya adalah Adam, dan kini engkau menjadi Hawa; Jangan mencari sosok Layla dan Majnun di luar, tetapi carilah dalam dirimu; Jangan kau cari obat penawar kedukaanmu di luar, karena obat itu ada padamu; Ketika bulan terlihat menghitam, jangan bergetar! bukan bulan yang membahayakan, tapi kau yang penakut!; Ketika engkau berpisah dari lingkungan sosialmu, jangan khawatir, engkau tetap jadi dirimu; Lepaskan kemelakatan, jangan takut akan duri, bersamaku kau hebat.”

Merespon beberapa pertanyaan, Bu Nyai Afifah menegaskan, bahwasanya kitab syair Rumi bukanlah kitab Tafsir Alquran, melainkan tulisan yang berisikan pandangan Rumi yang dipengaruhi oleh Alquran; sehingga sampai dikatakan oleh orang Persia, bahwasanya syair-syair Rumi adalah Alquran Persia. Rumi adalah pembaca yang ulung, Matsnawi layaknya ensiklopedia dari kisah dan ajaran tokoh-tokoh sufi yang ada sebelumnya. Kadang cerita yang Rumi baca, ia masukkan dalam syairnya, tanpa memandang kesahihan riwayat kisah itu. Adapaun tentang kesahihan kisah-kisah dalam syair Rumi, ada kitab khususnya sendiri.

Baca Juga:  Resiliensi Diri ala Sufi

Selanjutnya, Bu Nyai Afifah juga menjelaskan, untuk memiliki ketajaman hati (dengan pendekatan konsep irfan dan Tasawuf) manusia dapat bersikap seperti sikap seorang sufi tanpa masuk dalam konteks tarekat. Pada konteks di luar terekat, semua bisa menjadi pejalan, makna guru akan menjadi sangat luas; bisa buku, novel, film dan lainnya. Rumi juga membahas tentang hal ini dengan menggunakan diksi nafahaat, yakni ilham yang masuk dalam diri seorang manusia. Ilham atau intuisi ini bisa didapatkan dalam banyak hal, seperti saat melihat orang yang papa dan kemudian terenyuh. Ini adalah cara menajamkan hati secara informal. Adapun dalam konteks tarekat, harus ada zikir, guru, murid dan aturan di dalamnya. Namun bagi Bu Nyai Afifah sendiri, ada satu amalam yang beliau rutinkan untuk melatih ketajaman lebih dalam lagi.

Kendati puisi-puisi Rumi bersifat stoik, namun bukan berarti pasrah pada keadaan sosial. Dalam perspektif Rumi, untuk dapat bergerak keluar, kita harus memperbaiki dalam terlebih dahulu; harus menemukan diri kita, baru kita bisa keluar dengan baik. Rumi, dalam gejolak sosial di masanya, bukan berarti ketika ada serangan Mongol dan ia memilih hijrah ke Turki merupakan sikap menghindari perlawanan. Perlawanan yang ia lakukan adalah melakukan pencerahan kepada circle-nya. Ini adalah amunisi yang bisa menggerakkan kita semua lebih dalam lagi. Sebagai tokoh sufi, Rumi tidak membentuk tarekat. Tarekat yang disandarkan pada Rumi dibentuk oleh generasi setelah Rumi, Mawlawiyah. Sehingga, dalam hal ini, Rumi tidak memberikan amalan-amalan sufistik secara langsung, dia lebih mengedepankan konsep, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Arabi. Di mana tokoh-tokoh ini adalah tokoh yang memiliki penafsiran tentang ayat-ayat dan hadis perempuan yang berbeda dengan tokoh-tokoh dalam dunia Islam lainnya.

Nyai Afifah, bagi penulis merupakan sosok perempuan yang memberikan materi tentang isu feminin dan figur perempuan dengan penuturan yang sangat feminine. Melalui kedalaman rasa, ia mampu menyihir isu yang sangat sensitif ini menjadi sangat hangat untuk didengarkan dan mencerahkan untuk direnungkan.

Previous Article

Fikih dan Tasawuf: Tazkiyatun Nafs Melalui Ibadah Shalat Menurut Imam Junaid Al-Baghdadi (Bagian II)

Next Article

Syekh Abu Sa’id bin Abu al-Khair: Kalau Berdoa Jangan Egois!

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *