Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Hulul dan Ittihad: Sebuah Catatan

Gerbang Perjalanan

Manusia adalah pengembara yang langkahnya tak selalu lurus; terkadang tergelincir, terkadang tersesat. Namun di balik itu semua, sebenarnya Allah sedang membuka pintu kembali untuknya, yaitu istigfar yang mengundang hati untuk pulang. Maka setiap hari, dalam shalat maupun di luar shalat, kita diajak  beristigfar, agar dosa luruh seperti debu yang disapu, dan jiwa kembali jernih di hadapan-Nya.

Jangan pernah lelah beristigfar, sebab setiap istigfar adalah langkah kecil yang mendekatkan kita kepada ampunan Allah. Tidak peduli seberapa sering kita jatuh, yang terpenting adalah seberapa sering kita kembali. Istigfar adalah napas jiwa, penyejuk hati, dan kunci untuk membuka lembaran baru yang lebih baik setiap hari.

Wahai jiwa yang letih, jangan tenggelam dalam rasa bersalahmu. Sebesar apa pun dosamu, ampunan Allah selalu lebih luas. Jangan biarkan penyesalan berubah menjadi putus asa, sebab itu hanyalah bisikan kesombongan yang halus. Bangkitlah, ketuk pintu-Nya lagi dan lagi. Setiap dosa adalah panggilan lembut dari Tuhanmu, “Kembalilah kepada-Ku.” Maka kembalilah, sesering engkau jatuh, bahkan lebih sering dari itu. Karena Allah tidak pernah bosan menerima tobatmu, hingga engkau sendiri yang berhenti meminta.

Ada seorang lelaki yang hidupnya gelap oleh darah, tangannya menanggung sembilan puluh sembilan nyawa. Bayangan masa lalunya menghantui, tetapi di dasar hatinya masih ada secercah cahaya, keinginan untuk pulang. Ia pun mencari seorang alim, seorang yang bisa memberinya harapan. Tetapi orang pertama yang ia temui justru berkata, “Tak ada ampunan bagimu.” Kata-kata itu menusuk, membuat amarahnya meledak, dan orang itu pun menjadi korban keseratus.

Namun rasa penyesalan itu tak padam. Dengan hati yang koyak, ia mencari lagi, hingga bertemu seorang yang arif dan bijaksana. “Masih adakah ampunan untukku?” tanyanya, hampir berbisik. Orang arif itu tersenyum, seolah mendengar rintihan hatinya. “Siapa yang berani menutup pintu ampunan Allah untukmu”? Pergilah ke negeri yang baik, di sana ada orang-orang saleh. Hiduplah bersama mereka, sembahlah Allah bersama mereka, dan jangan kembali ke tempat lamamu.

Baca Juga:  Demokrasi Islam Perspektif Khaled Abou El Fadl dan Relevansinya dalam Konteks Indonesia

Lelaki itu pun berangkat, langkahnya berat tapi hatinya penuh harapan. Namun takdir berkata lain, ia meninggal di tengah perjalanan. Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab berselisih: yang satu berkata ia pantas diazab, yang lain berkata ia pantas dirahmati. Lalu Allah memerintahkan bumi untuk mendekatkan jasadnya ke arah negeri tujuan, sehingga jaraknya lebih dekat sejengkal. Dan Allah pun menerima tobatnya.

Kisah ini sarat pesan bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar bagi rahmat Allah, dan bahwa langkah kecil menuju kebaikan sudah cukup untuk membuka jalan pulang.

Kisah lelaki itu adalah cermin bagi kita semua. Ia telah menumpahkan seratus nyawa, namun satu langkah kecil menuju Allah lebih berat timbangannya daripada semua dosanya. Maka jangan pernah merasa terlambat untuk pulang. Selama napas masih ada, pintu tobat masih terbuka. Allah tidak melihat seberapa kelam masa lalu kita, tetapi seberapa tulus kita melangkah kembali kepada-Nya. Bahkan satu langkah kecil ke arah kebaikan, meski terhenti di tengah jalan, cukup untuk mengubah takdir seorang hamba.

Previous Article

Insān Kāmil dan Walāyah menurut Ibn ‘Arabī dan Ibn Taymiyyah

Next Article

Precognition, Waktu, dan Kesadaran: Menimbang Fenomena Anomali dalam Kerangka Ilmiah

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *