Luqmanul Hakim berwasiat kepada anaknya: “Wahai anakku takutlah kepada Allah sebatas tidak membuatmu berputus asa dari rahmat Allah, dan berharaplah (bersangka baiklah) kepada Allah sebatas tidak membuatmu kehilangan rasa takut kepada-Nya.”
Anaknya menjawab: “Wahai ayahku..bagaimana aku dapat menaruh perhatian kepada keduanya sedang aku hanya memiliki satu hati.”
Luqman berkata: “Demikianlah (seharusnya) sifat-sifat orang yang beriman, ia seolah-olah memiliki dua hati, yang satu berisi takut yang sempurna kepada Allah dan yang satu berisi harapan yang sempurna kepada Allah Swt.”
“Tidaklah berkumpul dua perasaan di dalam hati seorang hamba, melainkan Allah berikan apa yang ia harapkan dan memberikan ketentraman dari hal yang khawatirkan (berupa pengampunan atas dosa-dosanya).”
Dalam wasiatnya kepada murid setianya, Imam Ja’far menasihatinya:
“Wahai putra Jundub, celakalah orang yang sepenuhnya mengandalkan amalnya, dan tidak akan selamat orang yang berani menerjang larangan Allah, yang tentram (hanya dengan mengandalkan) rahmat Allah.”
Aku berkata: “Lalu siapakah yang akan selamat?”
Beliau as menjawab: “Yaitu orang-orang yang berada di antara raja’ dan khawf, seakan hati-hati mereka berada di cengkraman seekor burung, karena rindu kepada pahala dan takut kepada siksa.”
Imam Al-Ghazali berkata, “Jika ada yang bertanya, ‘manakah yang lebih utama di antara sikap khawf dan raja’? Pertanyaan ini sama seperti pertanyaan, ‘mana yang lebih enak, roti atau air?’
Jawabannya adalah, “Bagi orang yang lapar, roti lebih tepat. Bagi yang kehausan, air lebih pas. Jika rasa lapar dan haus hadir bersamaan dan kedua rasa ini sama-sama besar porsinya, maka roti dan air perlu dikonsumsi bersama-sama.”
Tapi, menurut umumnya kaum sufi, memang raja’ pada akhirnya lebih utama daripada khawf.
Rasulullah SAW bersabda, “Jangan sampai salah seorang dari kalian meninggal dunia kecuali berbaik sangka kepada Rabb-nya.” (HR. Ahmad dan Muslim).
Kenapa? Karena baik sangka adalah buah cinta, sedang ketakutan yang berlebihan berakar pada buruk sangka—yang tentu tidak sesuai dengan sifat Welas Asih-Nya yang mendominasi murka-Nya.
Dalam sebuah hadis Qudsi lain dikisahkan: Ketika dihisab, seseorang meminta agar pahalanya dihibahkan kepada para keluarganya. Maka, Allah bertanya kepada orang tersebut : “Lalu, dengan apa kau hendak selamat dari siksaku?” Orang itu menjawab: “Denganh Rahmat-Mu.” Maka Allah pun memasukkan orang itu dan seluruh keluarganya ke dalam surga.
Akhirnya, Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad diriwayatkan pernah menasihatkan: “Utamakan khawf bagi yang masih muda, dan raja’ bagi yang sudah tua.”