Di tengah derasnya arus teknologi, media sosial, dan perubahan gaya hidup yang serba cepat, ada satu pertanyaan yang diam-diam mengendap: masih pentingkah membicarakan kebudayaan?
Bagi sebagian orang, kebudayaan terasa seperti sesuatu yang jauh—sekadar tradisi lama, upacara adat, atau benda peninggalan masa lalu yang tak lagi bersentuhan dengan kehidupan modern.
Pertanyaan inilah yang dijawab Irfan Afifi dalam bukunya Daulat Kebudayaan: Jawa dan Islam dalam Sebuah Pertemuan (Yogyakarta: Tanda Baca) dengan berbeda dan mendalam.
Sebagai budayawan sekaligus pendiri Langgar.co, Afifi menulis bukan hanya dari ruang akademik, tetapi dari pengalaman hidup dan perenungan batin. Latar belakang filsafatnya memberi kedalaman argumen, sementara pendekatan kultural-spiritual membuat gagasannya terasa hidup dan dekat.
Kebudayaan sebagai Proses Menjadi Manusia
Hal paling menarik dari buku ini adalah cara Afifi memaknai kebudayaan. Ia tidak melihat budaya sebagai benda mati yang diwariskan begitu saja dari masa lalu.
Sebaliknya, kebudayaan dipahami sebagai proses hidup—ruang pertemuan nilai, pengetahuan, pengalaman, dan cara manusia memaknai dunia.
Budaya bukan hanya apa yang kita terima dari leluhur, tetapi juga bagaimana kita mengolahnya untuk menjawab tantangan zaman.
Afifi menunjukkan bahwa kebudayaan sesungguhnya adalah olah budi: perpaduan antara kehendak, empati, daya cipta, dan kesadaran spiritual. Karena itu, kebudayaan tidak bisa dipisahkan dari perjalanan batin manusia. Ia sejalan dengan struktur tasawuf—dari syariat hingga ma’rifat—sebagai jalan menuju kedewasaan kemanusiaan.
Pandangan ini membawa konsekuensi penting: agama dan kebudayaan bukan dua hal yang saling bertentangan. Agama justru menemukan daya hidupnya ketika berakar dalam konteks budaya tempat manusia menjalani keseharian. Tanpa itu, ajaran hanya menjadi konsep abstrak yang jauh dari realitas.
Jejak Tokoh, Jejak Kemanusiaan
Untuk menjelaskan gagasannya, Afifi menelusuri pemikiran tokoh-tokoh besar Nusantara seperti Hamzah Fansuri, Sunan Kalijaga, Ranggawarsita, hingga Gus Dur.
Melalui mereka, kebudayaan tampak bukan sekadar teori, melainkan perjalanan eksistensial menjadi manusia—proses memahami diri, Tuhan, dan sesama secara lebih utuh.
Pendekatan reflektif ini memang membuat buku terasa menantang. Bahasanya filosofis, alurnya mengajak pembaca berhenti sejenak untuk merenung. Namun justru di situlah kekuatannya: buku ini tidak menawarkan jawaban instan, melainkan ruang berpikir yang dalam.
Pada bagian akhir, Afifi mengarah pada strategi kebudayaan yang menyentuh pendidikan, spiritualitas, dan pematangan pribadi manusia Indonesia. Tradisi, agama, dan modernitas tidak diposisikan sebagai lawan, melainkan diajak berdialog untuk membangun fondasi nilai menghadapi dunia global.
Kelebihan dan Catatan
Secara gagasan, buku ini terasa segar dan kontekstual. Afifi berhasil menunjukkan bahwa kebudayaan adalah proses pemanusiaan yang spiritual, bukan sekadar romantisme masa lalu. Integrasi antara Islam dan budaya lokal ditampilkan harmonis, diperkuat rujukan tokoh-tokoh Nusantara yang membumi.
Namun, gaya bahasa yang cukup berat bisa menjadi tantangan bagi pembaca umum. Struktur kumpulan esai juga membuat alurnya tidak selalu sistematis. Selain itu, contoh konkret dari realitas sosial kekinian masih terbatas, dan fokus pada Jawa-Islam membuat perspektif budaya lain belum banyak disentuh.
Meski begitu, kekurangan tersebut tidak mengurangi nilai penting buku ini sebagai refleksi mendalam tentang identitas dan keberadaban.