Kelas Tadarus Al-Qur’an oleh Nuralwala untuk sesi akhir bulan Ramadhan berlangsung pada 12 Maret 2026. Azam Bahtiar, M.S.I (Yai Azam) menjadi pemateri utama dengan membawakan kajian “Renungan Surah Al-Infithar: Reorientasi Diri di Tengah Kepalsuan” dengan dimoderatori oleh Kak Darmawan. Kak Darmawan membuka kelas dengan memberi penekanan perihal pentingnya pemahaman perihal Surah Al-Infithar yang isinya membacakan tentang langit yang terbelah, bintang-bintang yang jatuh berserakan, ayat yang membicarakan saat laut diluapkan, yang semuanya menjadi tanda dari bencana alam yang dialami manusia. Dalam konteks kehidupan dengan bencana yang terjadi saat ini, surah ini sungguh memotret semuanya. Lantas, kemudian bagaimana tafsir surah ini jika menggunakan pendekatan tafsir batin?
Yai Azam mengawali kelas dengan membaca Al-Fatihah dan doa majelis ilmu. Yai Azam menyampaikan bahwa setiap surah memiliki tujuannya masing-masing. Adapun narasi besar dari surah Al-Infithar adalah tentang hari kiamat (dan segala hal yang berkaitan dengannya), juga perihal akhir dari nasib manusia. Tujuan dari narasi surah ini adalah untuk menyadarkan manusia akan hakikat eksistensinya yang melampaui bentuk fisik; juga menekankan pentingnya pertanggungjawaban moral dan kemuliaan penciptaan. Manusia diajak bertransformasi dari makhluk biologis yang reaktif terhadap perubahan menjadi makhluk ruhani yang tenang karena memiliki jangkar pada Sang Pencipta.
Yai Azam membagi surah ini menjadi 5 klaster: infithaar, simbol runtuhnya stabilitas materi (ayat 1-5); ‘Itab, paradoks kemurahan dan kelalaian (ayat 6-9); kitabah, sistem pencatatan eksistensial (ayat 10-12); al-abrar vs al-fujjar dan muara masing-masing ayat 13-16); jaza’, hari akhir dan kedaulatan mutlak (ayat 17-19).
Masuk pada penafsiran klaster pertama (ayat 1-5) perihal hancurnya alam materi dan krisis kepastian yang digambarkan dengan rusaknya struktur langit, hilangnya daya tarik/orbit bintang-bintang hingga berjatuhan, jebolnya batas-batas lautan hingga air meluap tak karuan, dan mayat-mayat dituang paksa dari kuburnya; keseluruhan hal ini merupakan simbol keruntuhan sistem alam. Jatuhnya diri kita pada jiwa materi membuat kita terbatas, sehingga hidup yang nyata adalah kehidupan ini yang kita alami. Dan iman sering kali tidak sebanding lurus dengan stabilitas materi alam. Ayat ini menandakan apa yang kita alami itu tidak stabil, sehingga kita harus melepaskan apa-apa yang terikat dengan diri.
Sedangkan secara esoteris, kiamat fisik adalah metafora kiamat batin. Kiamat kecil adalah kematian individu. Langit layaknya ruh hayawani yang terlepas dari ruh insan; bintang layaknya panca indra yang padam; laut layaknya unsure jasmani yang kembali ke asalnya; dan kuburan adalah tubuh yang ditinggalkan oleh ruh. Yai Azam menegaskan, manusia meruapakan alam mikro dari alam yang makro, sehingga ada kemiripan yang presisi antara alam dan manusia. Oleh karena itu, kematian setara dengan kiamat. Karena saat kematian terjadi, maka semua amal yang kita lakukan akan ditampakkan pada kita, baik dan buruknya. Dalam penafsiran berbeda, yang ditampakkan adalah prioritas amal, atau juga aktualisasi diri berlandaskan potensi ilmu dan amal. Sehingga, pada akhirnya segala yang berubah-ubah dan bergejolak di luar sana adalah pengingat bahwa tidak ada sandaran yang kokoh kecuali Dia. Atas dasar ini, tidak bijak untuk berinvestasi secara emosional dan habis-habisan pada variabel dunia yang mudah berubah (melepas kemelekatan). Maka perlu untuk mengarahkan pada nilai-nilai yang melampaui fisik. Menukil Sayyidina Ali, zuhud bukanlah saat kita meninggalkan dunia (materi), tapi ia adalah saat dunia tidak menguasai diri.
Klaster kedua (ayat 6-9) perihal paradoks kemurahan dan kelalaian. Insan mengacu pada sifat uns (pelupa), namun pada ayat ini, uns bermakna kenyamanan/intim pada Tuhan. Fitrahnya manusia adalah makhluk relijius dan menyukai kebajikan, maka sesungguhnya kejahatan itu bersifat aksidental. Saat orang melakukan kejahatan, sejatinya dia melawan dirinya, dan ia tidak menyukai itu. Panggilan ayyuhal insan adalah panggilan yang menyentuh fitrah dasar manusia, yakni yanh nyaman terhadap Al-Haq dan kebajikan. Sayangnya, manusia dengan segala kondisinya juga merasa nyaman dengan selain-Nya saat menuruti hawa nafsunya. Sifat kemurahan Allah seharusnya mencegah seseorang dari rasa terlena dari selain-Nya tersebut, manusia harusnya memiliki rasa malu atas sifat itu; namun manusia menghianati Tuhan yang memberinya segalanya. Ini adalah ayat dengan sentuhan emosional yang menyakitkan. Inilah paradoks yang dialami oleh manusia atas sikapnya pada Tuhannya.
Yai Azam menukil Ibn Al-‘Arabi, bahwa penggunaan kata Al-Kariim adalah isyarat rahmat. Tuhan seolah mendiktekan jawaban pada hambanya saat kelak ditanya di hari akhir, “Yang memperdayaku adalah kemurahan-Mu sendiri wahai Tuhanku; Kau Maha Pemurah, Kau Maha Pengampun, sehingga aku terlena.” Ya, rahmat Allah sangat luas, maksiat pada-Nya terjadi karena skema Ilahi. Di dunia yang penuh ambiguitas ini, sikap dosa dan terlena sangat mungkin terjadi, dan manusia sering tersesat di dalam luasnya rahmat-Nya; oleh karena itu kita harus bergeser untuk berhenti. Karena harmoni penciptaan manusia semestinya mempertegas argument untuk kembali tunduk pada-Nya, bukan melakukan hal sebaliknya/mengingkarinya. Kemaksiatan itu berlawanan dengan asas penciptaan manusia sebagai makhluk yang memilki segala keseimbangan. Kemaksiatan/pembangkangan itu tidak terjadi sepanjang waktu, namun dalam batas-batas tertentu yang dimiliki manusia, dan khitab-nya sangatlah luas. Manusia akan jatuh-bangun dan berkali-kali, dan ini adalah sesuatu yang mungkin terjadi.
Tuhan menciptakan manusia dalam dua surah yang Ia kehendaki, yakni bentuk fisik dan spiritual. Bentuk spiritual dapat berupa sempurna (sebagai khalifah, atau sebaliknya), sebagai binatang dengan berbagai tingkatannya (keledai, babi, anjing, kuda, dan seterusnya sampai manusia). Dalam keseharian kita, kita sering menemukan orang-orang juga diri dalam sifat kedunguan layaknya keledai, dan kita kerap memuja pada kedunguan itu, yakni saat kita tidak memiliki kecenderungan untuk sempurna. Kegagalan dalam menempatkan kemurahan Ilahi dan mensyukuri struktur diri yang luar biasa menakjubkan, mendorong manusia untuk mengingkari hari pengadilan. Seolah-oleh kehidupan hanya hari ini saja. Bagi orang di level tinggi, ayat ini merupakan peringatan keras agar tidak tertipu oleh dunia, ia akan sangat malu; dan juga bagi orang yang berdosa, ayat ini memberikan rasa tenang dan pelipur lara di balik teguran tersebut. Dalam hermentika cinta, kasih mendorong cara pandang bahwa yang rahmat Ilahi sangat panjang dan luas. Yai Azam mengisahkan dialog antara Sayyidina Ali dan pembantunya yang tidak menyahut saat dipanggil, disebabkan sang pembantu percaya akan sifat kemurahan tuannya, dan ia merasa aman dari mendapat hukuman dari tuannya. Alasan tersebut diterima oleh Sayyidina Ali, sehingga dibebaskannyalah ia.
Klaster ketiga, dalam dunia yang penuh kompleksitas, hukum manusia seringkali luput dan pengawasan Ilahi bersifat absolut/tidak bisa dimanipulasi. Ya, setiap tindakan memiliki konsekuensi legal-spiritual. Keberadaan malaikat tidak mengerdilkan kekuasaan Allah dalam mencatat dan melihat amal hamba-Nya. Hal ini memiliki makna secara fungsional, karena catatan-catatan dalam konsep malaikat pencatat amal itu sangat efektif dalam menimbulkan efek jera, khususnya saat ditampakkan kelak di padang mahsyar. Pengawasan Tuhan tentu yang utama. Jika kita malu membangkang di depan manusia, seharusnya kita jauh lebih malu membangkan di hadapan Tuhan Yang Maha Mengawasi. Oleh karena itu, kita tidak boleh terjebak pada cangkang lahir, namun harus mampu menyelam pada value yang dalam. Dalam kosmologi sufistik layaknya dunia digital sekarang, semesta saling terhubung dan menjadi saksi bisu yang kelak akan bercerita, dan ini tidak akan musnah. Dalam perspektif Asad, yang mencatat bukanlah malaikat, namun hati nurani dan akal, sehingga hati nurani dan akal dapat menjadi control perilaku yang efektif dalam kehidupan.
Klaster keempat, klasifikasi akhir manusia berdasarkan orientasi hidup dan aktivitasnya itu ada dua: yang berbakti dan durhaka. Menukil Ibnu Sina, kondisi jiwa pasca kematian hanya mengenal dua keadaan, yakni bahagia dan menderita. Spektrum makna abrar adalah mereka yang beramal dengan sebaik-baiknya, yang mengikuti segala jenis kebajikan, jujur, berbakti, dan berbuat sebaik mungkin, taat, tidak bermaksiat, dan seterusnya. Sebaliknya, fujjar adalah yang merobek inti keberagaman. Abrar berada dalam keheningan zikir; dan fujjar berada dalam kegelapan, hidup kacau, ketidakpuasan pada takdir, dan sempitnya pilihan-pilihan. Di era post-truth saat ini, yang dapat kita percaya sebagai penasihat adalah hati nurani kita sendiri, istafti qalbak. Kekekalan kenikmatan yang terefleksikan dari kata nai’im adalah antithesis dari gejolak dunia yang sesaat. Bagi manusia moderen seperti kita, kebaikan yang dilakukan di tengah kekacauan tidak akan pernah hilang sia-sia. Buih akan menguap, tapi kebaikan akan selamanya bertahan. Yai Azam menukil syair Rumi, “Dimana pun Sang Raja berada, di sana hamparan permadani tersedia; Padang pasir pun terasa luas meskipun hanya seukuran lubang jarum. Dimana pun sosok Yusuf berada (yang rupawan seperti bulan), tempat itu adalah surga, meskipun ia berada di dasar sumur yang gelap.
Klaster kelima, tentang pengulangan pertanyaan dalam ayat adalah untuk menegaskan dan mengintimidasi. Imajinasi kita akan meleset karena kejadian kiamat sungguh dahsyat, dan tidak ada referensinya dalam kehidupan saat ini. hanya secuil yang kita ketahui. Oleh karena itu, hak prerogatif hanyalah milik Allah, manusia tidak miliki kuasa dan kendali apapun, bahkan untuk diri sendiri.hasil akhir kehidupan tidak dite ntukan oleh variabel dunia, melainkan oleh ketetapan-Nya. Ayat ini bukan informasi tentang masa depan, melainkan ajakan untuk memutus total ketergantungan pada apapun selain dari-Nya sejak sekarang; hanya ketauhidan pada-Nya. Peristiwa kiamat tidak lagi menambah iman, hanya menyingkap kebenaran.
Perihal narasi isu kiamat yang bertebaran di jagad maya dan menyebar ketakutan pada sebagaian orang, ujar Yai Azam, ketakutan pada narasi-narasi kiamat adalah hal yang manusiawi, ada sisi baiknya, namun juga ada ghururnya, ketakutan yang berlebihan akan menodai dan berlawanan dengan tauhid (saat kita kehilangan kepercayaan dari Ilahi). Yang membuat kita lemah adalah cinta dunia dan takut mati. Kalau dunia menjadi visi hidup, maka kita tidak percaya pada Tuhan (non duniawi/Ilahiyah); dan perjumpaan dengan Sang Kebahagiaan hanya dengan kematian. Hamba yang cinta pada-Nya, yang diharapkan adalah perjumpaan dengan-Nya. Kematian itu adalah hal yang menyakitkan, dan Tuhan tidak menginginkan kekasihnya dalam kondisi yang menyakitkan. Namun karena hanya kematian yang membuat keduanya bertemu, maka itu harus terjadi. Lantas, masihkah kita berdiam diri, atau menuju kesempurnaan dengan melepas kemelekatan dari selain-Nya?