ARTIKEL

Tafsir Surah Al-A’la: Manusia Seperti Apakah Aku?

April 10, 2026
7 menit membaca

Kelas Tadarrus Al-Qur’an pada kamis ketiga bulan Ramadhan oleh Nuralwala mengambil tema “Tafsir Surah Al-A’la menurut Mulla Sadra” dengan pengampu Ammar Fauzi Heryadi, Ph.D (Yai Ammar). Moderator sampaikan, Mulla Sadra merupakan ulama dengan banyak keahlian dalam bidang ilmu keagamaan, termasuk dalam bidang ilmu tafsir yang memiliki corak khasnya. Setelah mengirim tawasul pada para terdahulu dan para ulama yang syahid dalam dinamika politik global, paparan utama kemudian disampaikan oleh Yai Ammar.

Yai Ammar membuka kelas dengan mengutip ayat Wa al-akhiratu khairu wa abqa. Yai Ammar mengapresiasi Nuralwala yang konsisten dalam membuka kelas filsafat, khususnya dalam bulan Ramadhan agar manusia sampai pada tujuan akhirnya. Ada satu surah yang oleh masyarakat Muslim Indonesia selalu dibacakan berjamaah, yakni surah Yasin. Surah yang lumayan panjang namun memiliki persamaan dengan ayat-ayat akhir surah Al-A’la. Dalam surah Yasin merupakan satu-satunya sumpahnya Allah dengan menggunakan Al-Qur’an. Allah melabelkan Al-Qur’an sebagai hakim, bijaksana, yang umumnya disematkan pada makhluk hidup. Penggunaan al-hakim pada Al-Qur’an menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan benda mati, melainkan benda hidup yang bisa menghidupkan kita; sebagaimana Allah menurunkan Al-Qur’an dengan falsafah utamanya adalah sebagai petunjuk semua umat manusia, hudan li al-naas. Namun, teks tidak mampu membuat kita sampai pada tujuan, sehingga kita memerlukan keteladanan yang merupakan perwujudan Al-Qur’an, innaka lamin al-mursaliin, melalui Nabi Muhammad saw yang memanifestasikan seluruh kandungan Al-Qur’an untuk berada di jalan yang lurus, ilaa shiraat al-mustaqiim.

Yai Ammar menghimbau, dalam dunia pendidikan, yang penting adalah buku ajarnya sebagaimana Al-Qur’an. Kedua adalah keteladanannya melalui pada guru, dosen, pejabat, dan seterusnya. Dan ketiga adalah adanya konsistensi yang terbangun melalui ketawakkalan dan kesabaran. Atas dasar ini, sangat penting mengkaji Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam. Al-Qur’an harus memiliki prioritas yang lebih baik daripada buku lainnya guna mencapai al-akhiratu khairu wa abqa.

Secara umum, Mulla Sadra dikenal sebagai filsuf dengan corak dirinya sendiri. Di sini, filsafat bukan monodisiplin ilmu, namun berkembang dengan filsafat dalam pengertian konvensional, juga mengimplementasikan ilmu Tasawuf dan Kalam, termasuk di dalamnya Al-Qur’an. Sehingga dalam memahami karya-karya beliau saat kita juga mendalami tiga ilmu utama lainnya, yakni metafisika (Aristoteles), Tasawuf (Ibn ‘Arabi), dan ilmu Kalam. Ini adalah tiga ilmu utama dalam mendalami karya Mulla Sadra. Dengan demikian, Mulla Sadra tidak saja filsuf, tetapi juga sufi. Sehingga bisa dipastikan, yang menolak Ibn ‘Arabi pasti menolak Mulla Sadra, dan sebaliknya.

Secara umum, perkembangan tafsir di kalangan para sufi, berbeda dengan yang berkembang oleh mutakallimin, teolog. Tidak semua filsuf menafsirkan Al-Qur’an, tidak semua faqih menafsirkan Al-Qur’an, namun para sufi seluruhnya menafsirkan Al-Qur’an. Karena pada dasarnya ajaran mereka dibangun oleh kalam/Al-Qur’an. Dan apabila kita masuk pada ajaran Mulla Sadra, maka kita akan naik pada filsafat, kemudian didorong masuk pada irfan/tasawuf teoritis. Oleh karena itu, buku-buku tasawuf hanya dipelajari oleh mereka yang telah menuntaskan ilmu filsafat. Jika telah demikian, pelajar boleh belajar Fushus al-Hikam-nya Ibn ‘Arabi.

Tafsir itu dibuat bukan di awal karir intelektualnya, namun diproduksi di akhir jenjang intelektualnya setelah mereka mendalami berbagai jenjang keilmuan. Ini merupakan prestasi tertinggi dari semua perjalanan dan intelektual relijius seseorang. Apa yang kita pelajari adalah karya-karya terbaik dari mereka. Surah yang paling dicintai para sufi adalah surah Al-Fatihah; yang kedua adalah surah Al-Ikhlas; ketiga adalah surah Al-Qadar; keempat adalah surah Al-A’la. Dan terdapat pula ayat-ayat yang dicintai para sufi, seperti ayat Kursi dan beberapa ayat dari surah Al-Hadid. Kendati banyak perhatian para sufi pada tafsir, namun tidak semuanya menuntaskan penafsiran Al-Qur’an secara keseluruhan, dan yang paling mutakhir adalah Tafsir Al-Mizan-nya At-Thabatthaba’i. Dan Mulla Sadra termasuk tokoh yang tidak menuntaskan tafsir secara keseluruhan karena faktor usia dan kondisi politik di masa hidupnya. Kendati demikian, tafsirnya mencapai 7 jilid. Dan untuk surah Al-A’la, Mulla Sadra menghabiskan 40 halaman dalam tafsirnya dengan bahasa dan istilah yang membutuhkan waktu 3 jam untuk memahaminya.

Secara umum, Mulla Sadra menyampaikan bahwa ada tiga inti dari surah ini: Ma’rifat ilahiyah, mengenal Tuhan; Mengenal kenabian; Mengenal kehidupan setelah kematian, waktu kita dikembalikan setelah kematian. Ini tidak jauh beda dengan kandungan surah Alfatihah yang mencakup tentang Ketuhahan (ayat ke-1 sampai 3), kehidupan setelah kematian (ayat ke-4), ibadah dengan jalan kenabian (ayat ke-5-7). 3 inti tersebut oleh Mulla Sadra dibagi menjadi 7 pembahasan. Mulla Sadra memberikan sanjungan pada surah Al-A’la ini dengan mengatakan bahwa surah ini memiliki banyak butir rahasia ilahi yang bisa diraih dengan cinta, mulai dari pencepapan para pesuluh hingga yang paling tinggi, dan kecintaan mereka yang bersungguh-sungguh sampai yang tertinggi dan terdapat dalam surah Al-A’la.

Bagaimana karakteristik orang yang layak memimpin kita? Dalam surah Alfatihah dijelaskan, yakni mereka yang bisa menjadi keteladanan yang dapat menunjukkan pada shiraat al-mustaqiim. Adapun dalam surah Al-A’la, yang demikian tidak dijelaskan sebagaimana dalam surah Al-Fatihah. Dengan kata lain, tidak hanya narasi atau teks yang harus kita perhatikan, tapi juga tentang siapa yang memberikan narasi tersebut. Ini adalah sesuatu yang penting, sebagaimana kita memiliki kajian penafsiran Mulla Sadra dari tafsir-tafsir yang ada lainnya. Kita harus memperhatikan dengan siapa kita menimba ilmu dan belajar, kita harus selektif dalam memilih. Saat di tengah perjalanan tokoh agama yang kita ikuti tidak memenuhi standar sebagai tokoh agama, maka seyogyanya kita segera beralih pada alternatif tokoh agama lainnya. Demikian tegas Yai Ammar.

Yai Ammar sampaikan, ulama meninggalkan inti dari karya adalah kalau tidak di pembukaan, ya di akhir. Maka dua bagian dari karya mereka harus sungguh-sungguh diperhatikan. Tiga inti dari surah Al-A’la dalam penafsiran Mulla Sadra dengan 7 penguraian. Sebagaimana yang disampaikan para sufi, perjalanan menuju Allah adalah sebuah perjalanan yang tidak terhingga. Ibnu Arabi menyederhanakan perjalanan ini kepada tiga perjalanan: dari Allah, pada Allah, dan menuju Allah. Dan muridnya, Al-Qunawi, membagi kembali menjadi empat perjalanan.

Yai Ammar menganjurkan santri memiliki Al-Qur’an dengan terjemah per kata untuk membantu kita membaca Al-Qur’an, agar sedikit banyak dapat memahami terjemahnya untuk dapat melaksanakan isinya. Penting pula bagi para pakar untuk membaca Al-Qur’an untuk menyoroti kata per kata untuk memahami konsepsi kalimat, ini adalah cara sufi dalam menafsirkan Al-Qur’an. Mulla Sadra memilih nomenklatur al-tasbih daripada al-bab karena mengambil kata pertama dari surah Al-A’la yang berisikan perintah untuk mensucikan diri untuk mengenal Allah taala. Sebelum men-tasbih, manusia perlu men-tanzih. Dia Swt. mencipta dan tertitiskan pada makhluk terbaiknya, yakni manusia. Men-tasbih tidak saja dengan zikir saja, namun juga memperoleh ilmu dan pengetahuan untuk me-tanzihkan Allah dari sifat-sifat kemakhlukan. Dengan demikian, akhirnya semua akan suci dan kita akan bismillah al-rahman al-rahim dan sabbihisma rabbika al-a’la.

Mulla Sadra menjelaskan hal-hal berikut dalam 7 tasbih: sifat Allah dalam menciptakan makhluk hidup; juga sifatnya dalam menciptakan selain makhluk hidup; makhluk-makhluk yang harus diamati untuk dapat melihat persamaan dan perbedaannya dengan Allah Swt. (dalam kemuliaan Nabi Muhammad saw., manusia juga dapat melihat Allah, dalam perspektif kualitas rohaninya Nabi saw.); kenabian, sebagai perantara menuju Tuhan; isyarah dalam perbedaan penciptaan makhluk; isyarah dalam perbedaan makhluk dalam hal kebahagiaan, dan orang yang berhasil kelak di akhirat; penetapan waktu setelah dibangkitkan dari kematian; penegasan bahwa ajaran ini sudah diajarkan sejak nabi-nabi sebelumnya.

Yai Ammar sampaikan, ayat ini sangat relevan dalam kondisi manusia saat ini untuk ingat akhirat, agar kehidupan semua lapisan masyarakat  dapat sejahtera dan menenangkan. Yai Ammar juga sampaikan, akhlak karimah itu bisa dibangun, sekedar kita menjadi manusia, kita bisa menjadi tuan di tanah sendiri tanpa agama, tanpa Nabi, bahkan tanpa Tuhan, asalkan memiliki ‘kemanusiaan yang adil dan beradab.’ Namun bagi seorang Muslim yang berakhla karimah, orang tidak hanya melihat dirinya, namun juga melihat Tuhannya.  Pengutusan Nabi Muhammad juga untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Sebelum kelahirannya, akhlak sudah karimah/mulai sudah ada, namun belum sempurna sampai tibanya Nabi Muhammad saw. beserta mukjizatnya, Al-Qur’an. Imam Khomaeni meningkatkan manusia pada 4 jenis: manusia setan, manusia hewan/binatang, manusia yang manusia, menjadi Tuhan/proses serupa dengan Tuhan sebagai proses akhir dari berfilsafat dan bertasawuf (manusia menjadi duplikat Allah dimuka bumi).

Pada akhirnya kita pada pilihan kita masing-masing, menjadi manusia yang bagaimanakah dari keempat jenis tersebut?

 

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Penikmat Kajian Filsafat dan Tasawuf

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan