Tulisan ini membahas tentang kesaksian rohani para sufi tentang kehebatan kitab Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn karya Ḥujjah al-Islām Imam al-Gazālī yang disebutkan dalam kitab Ta‘rīf al-Aḥyā’ bi Faḍā’il al-Iḥyā’ (2011: 376-380) karya al-Imām al-‘Allāmah al-Kabīr Muḥyiddīn ‘Abd al-Qādir bin Syaykh bin ‘Abdullāh al-‘Aydarūs (beliau menukil kesaksian rohani para sufi tentang kehebatan kitab Iḥyā’ tersebut dari kitab Mir’āh al-Jinān wa ‘Ibrah al-Yaqẓān fī Ma‘rifah mā Yu‘tabaru min Ḥawādiś az-Zamān karya Syekh ‘Abdullāh al-Yāfi‘ī). Kitab Ta‘rīf al-Aḥyā’ ini disertakan di bagian pinggir kitab Iḥyā’ versi cetakan Indonesia (seperti Taha Putra, Semarang, dan Nūr al-‘Ilm, Surabaya) juz ke-1. Berbeda dengan versi cetakan luar negeri (Dār al-Minhāj, Beirut, Lebanon, 2011) di mana ia diletakkan di bagian mukadimah.
Pertama, al-Faqīh al-‘Allāmah Quṭb al-Yaman Syekh Ismā‘īl bin Muhammad al-Ḥaḍramī pernah ditanya mengenai karya-karyanya Imam al-Gazālī. Maka, salah satu jawaban beliau adalah “Muhammad bin ‘Abdullāh saw. adalah pemimpinnya para nabi, Muhammad bin Idrīs asy-Syāfi‘ī adalah pemimpinnya para imam, dan Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Gazālī adalah pemimpinnya para pengarang.”
Kedua, Syekh Abū al-Ḥasan ‘Alī bin Ḥarzihim adalah seorang imam besar dan fakih yang terkenal asal Maroko. Beliau sangat dihormati dan ditaati, dan fatwa-fatwanya diikuti oleh jemaatnya. Dalam hal ini, beliau sangat ingkar terhadap kitab Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn karena dianggap bertentangan dengan sunah rasul (baca juga Nasrullah Ainul Yaqin, “Validitas Hadis-Hadis dalam Iḥyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn Perspektif Tasawuf”, dalam https://baca.nuralwala.id/validitas-hadis-hadis-dalam-i%E1%B8%A5ya-ulum-ad-din-perspektif-tasawuf/). Oleh karena itu, beliau memerintahkan jemaatnya untuk mengumpulkan semua salinan kitab Iḥyā’ yang ditemui. Dalam hal ini, beliau bermaksud untuk membakar semua salinan kitab Iḥyā’ tersebut di masjid jamik pada hari Jumat. Namun, pada malam Jumatnya beliau bermimpi memasuki masjid jamik dan bertemu dengan Nabi Muhammad saw. yang ditemani oleh Sayyidina Abū Bakar aṣ-Ṣiddīq ra. dan Sayyidina ‘Umar al-Fārūq ra. Lalu, Imam al-Gazālī berdiri di hadapan ketiga tokoh agung tersebut.
Ketika Syekh Ibnu Ḥarzihim menghadap, maka Imam al-Gazālī berkata, “Ini adalah musuhku, wahai Rasulullah. Jika karya saya salah sebagaimana dia sangkakan, maka saya bertobat kepada Allah. Namun, jika ia merupakan karya yang dihasilkan dari berkah Anda dan mengikuti sunah Anda, maka hukumlah dia.” Imam al-Gazālī kemudian memberikan kitab Iḥyā’ kepada Nabi Muhammad saw. Maka, beliau membuka kitab tersebut lembar demi lembar dari awal sampai akhir. Setelah itu, beliau bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya ini adalah karya yang bagus.” Imam al-Gazālī kemudian memberikan kitab tersebut kepada Sayyidina Abū Bakar ra. Maka, beliau memeriksanya dan menganggapnya baik seraya berkata, “Iya. Demi Tuhan yang mengutus Anda (Nabi Muhammad saw.) dengan kebenaran, sesungguhnya ini adalah karya yang bagus.” Imam al-Gazālī kemudian memberikan kitab tersebut kepada Sayyidina ‘Umar ra. Maka, beliau memeriksanya dan memujinya sebagaimana perkataan Sayyidina Abū Bakar ra. tersebut.
Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw. memutuskan untuk menghukum Syekh Ibnu Ḥarzihim dengan ḥad-nya orang yang membuat kebohongan (fitnah) berupa hukuman cambuk. Setelah bajunya dilepas, maka beliau dicambuk di bagian punggung. Ketika beliau dicambuk sebanyak 5 kali, maka Sayyidina Abū Bakar ra. memohon syafaat kepada Nabi Muhammad saw. untuk Syekh Ibnu Ḥarzihim seraya berkata, “Wahai Rasulullah, barangkali dia menganggap bahwa karya tersebut bertentangan dengan sunah Anda. Namun, ternyata anggapannya itu salah.” Imam al-Gazālī pun rida dengan permohonan syafaat Sayyidina Abū Bakar ra. tersebut dan Nabi Muhammad saw. pun menerimanya sehingga Syekh Ibnu Ḥarzihim tidak dicambuk lagi.
Lalu, Syekh Ibnu Ḥarzihim terbangun. Ajaibnya bekas pecutan itu masih terlihat jelas di punggungnya. Beliau kemudian menceritakan semua itu kepada jemaatnya. Setelah itu, beliau bertobat dan memohon ampun kepada Allah atas keingkarannya terhadap Imam al-Gazālī. Akan tetapi, beliau masih merasakan sakit yang cukup lama di bagian punggungnya akibat pecutan tersebut. Beliau kemudian berdoa dengan sepenuh hati kepada Allah dan memohon syafaat Rasulullah saw. Akhirnya beliau bermimpi Nabi Muhammad saw. datang mengunjunginya dan mengusap punggugngnya dengan telapak tangan beliau yang mulia. Maka, Syekh Ibnu Ḥarzihim pun sembuh dengan izin Allah dan tidak merasakan sakit lagi. Namun, bekas pecutan itu masih ada di punggungnya (dalam hal ini, Syekh Abū al-Ḥasan ‘Alī asy-Syāżilī―wali terkemuka asal Maroko dan pendiri Tarekat Syāżiliyyah―pernah melihat bekas pecutan itu di punggung Syekh Ibnu Ḥarzihim pada hari wafatnya). Setelah itu, Syekh Ibnu Ḥarzihim terus-menerus mutalaah kitab Iḥyā’. Berkat keistikamahannya ini beliau mendapatkan futūḥ (terbukanya pemahaman melalui hati) dari Allah mengenai kitab Iḥyā’ dan mencapai makrifatullah serta menjadi salah satu ulama besar yang menguasai ilmu lahir dan ilmu batin.
Ketiga, Syekh Abū al-Fatḥ as-Sāwī mengisahkan pengalaman spiritualnya di Makkah. Dalam hal ini, suatu ketika beliau memasuki Masjidilharam. Tiba-tiba terjadi suatu keadaan yang menimpa dan menguasai beliau. Oleh karena itu, beliau tidak bisa berdiri dan juga tidak bisa duduk saking kerasnya keadaan yang menimpa beliau tersebut. Beliau kemudian terjatuh ke samping kanan di depan Ka’bah dalam keadaan suci. Beliau berusaha agar tidak tertidur. Namun, beliau tidak bisa menahan kantuk antara tidur dan terjaga. Dalam keadaan antara tidur dan terjaga ini, beliau melihat Rasulullah saw. dalam bentuk yang paling sempurna dan mengenakan pakaian yang paling bagus berupa gamis dan serban. Beliau juga melihat para imam mazhab―seperti Imam Abū Ḥanīfah, Imam Mālik, Imam asy-Syāfi‘ī, dan Imam Aḥmad―menyampaikan mazhab mereka masing-masing satu persatu kepada Nabi Muhammad saw. Dalam hal ini, beliau mengakui dan menetapkan mazhab keempat imam tersebut. Lalu, ada seorang laki-laki―yang merupakan salah satu pemimpin ahli bid‘ah―ingin bergabung ke halakah agung itu. Namun, Nabi Muhammad saw. menyuruh para imam yang ada di halakah itu untuk mengusir dan merendahkan laki-laki tersebut.
Lalu, Syekh as-Sāwī maju ke hadapan Nabi Muhammad saw. seraya berkata, “Kitab ini (Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn) adalah akidah saya dan akidahnya ahlusunah wal jamaah. Jika Anda mengizinkan, maka saya akan membacakan kitab ini untuk Anda.” Setelah Nabi Muhammad saw. mengizinkannya, maka Syekh as-Sāwī membacakan kitab Iḥyā’ pada bagian “Kitāb Qawā‘id al-‘Aqā’id” mulai dari kalimat,
“بسم الله الرحمن الرحيم. كتاب قواعد العقائد، وفيه أربعة فصول: الفصل الأول في ترجمة عقيدة أهل السنة…”
sampai kalimat,
“وأنه تعالى بعث النبي الأمي القرشي محمدا صلى الله عليه وسلم إلى كافة العرب والعجم والجن والإنس.”
Dalam hal ini, Syekh as-Sāwī melihat rona wajah Nabi Muhammad saw. berseri-seri karena bahagia. Menurutnya, Nabi saw. sangat bahagia ketika mendengarkan bacaan kitab Iḥyā’ tersebut melebihi bahagianya hati beliau ketika mendengarkan bacaan kitab-kitab lain. Setelah itu, Nabi Muhammad saw. melihat sekeliling seraya bersabda, “Di mana al-Gazālī?” Tiba-tiba Imam al-Gazālī berada di hadapan beliau seraya berkata, “Ini saya, wahai Rasulullah.” Beliau kemudian maju dan memanggil salam. Nabi saw. menjawab salamnya dan memberikan tangan beliau yang mulia kepada Imam al-Gazālī. Beliau pun langsung menelungkupkan tangan Nabi saw. seraya menciumnnya dan bertabaruk dengannya. Lalu, Syekh as-Sāwī terbangun dalam keadaan berlinang air mata setelah menyaksikan peristiwa agung dan kemuliaan tersebut. Wallāhu A‘lam wa A‘lā wa Aḥkam…