ARTIKEL

Kenangan Bersama Prof. Naquib Alattas

Penulis

Haidar Bagir
Maret 11, 2026
9 menit membaca

Mendengar berita duka wafatnya Prof. Syed Naquib al-Attas meninggalkan rasa sesal dalam hati saya. Beberapa tahun lalu saya pergi ke Kuala Lumpur bersama seorang sahabat saya, seorang dokter jantung, untuk berkonsultasi tentang problem jantung saya. Saat itu saya pun bertekad untuk mengupayakan pertemuan dengan Prof. Naquib. Beliau tentu sudah sangat tua. Usianya waktu itu telah melampaui 90 tahun. Bahkan sejak jauh sebelumnya saya sudah mengetahui bahwa pendengaran beliau sudah sangat terganggu.

Konon problem ini bermula ketika beliau masih sangat muda dan tinggal di Inggris. Pendengarannya rusak akibat sebuah peluru yang mendesing sangat dekat dengan telinganya, saat beliau mengikuti sebuah latihan militer.

Sejauh yang saya tahu, pada masa itu Prof. Naquib sudah harus ditemani oleh salah seorang anaknya agar percakapan dapat berlangsung dengan baik, dengan sang anak menjadi perantara dalam percakapan tersebut. Kami sebenarnya beruntung karena, dengan bantuan seorang sahabat, dapat berkomunikasi dengan putra Prof. Naquib itu. Namun jawaban yang datang memupuskan harapan saya. Tepat pada hari saya berada di Kuala Lumpur—yang hanya semalam itu saja—putra beliau harus berada di Singapura dan tidak dapat menemani kami. Maka gagallah keinginan saya itu.

Penyesalan saya besar sekali, apalagi mengingat usia beliau yang sudah amat lanjut waktu itu. Dan benar saja, kabar duka yang kemudian saya terima membuktikan kekhawatiran saya itu. Innā lillāhi wa innā ilayhi rāji‘ūn.

Perkenalan saya dengan Prof. Naquib membawa ingatan saya kembali ke akhir tahun 1970-an atau awal 1980-an. Saat itu beliau sedang berada di Bandung, biasanya untuk menjenguk kakak perempuan beliau yang tinggal di sana, di daerah Dago. Rumah kakak beliau itu berdempetan dengan rumah kami—tepatnya di belakang rumah kami. Tentu saja hubungan kami cukup dekat dengan kakak beliau tersebut.

Bagi yang belum tahu, Prof. Naquib adalah cucu seorang ‘ārif terkemuka dari Bani ‘Alawi, Habib Abdullah Muhsin al-Attas, yang dimakamkan di Empang, Bogor. Itulah sebabnya beliau dikenal sebagai Keramat Empang. Habib Abdullah bukan hanya dikenal sebagai seorang wali, tetapi juga sebagai seorang pemikir tasawuf. Diriwayatkan bahwa beliau membaca bukan hanya karya-karya para tokoh dari kalangan nenek-moyang ‘Alawiyyin, tetapi juga karya-karya tasawuf filosofis (‘irfān) di garis Ibn ‘Arabi. Bahkan disebutkan bahwa beliau membaca bersama muridnya karya besar ‘Abd al-Karim al-Jīlī, al-Insān al-Kāmil. Tidak sulit diduga bahwa minat Prof. Naquib pada tasawuf filosofis adalah menurun dari tradisi intelektual kakeknya ini.

Pada suatu waktu kami mengundang beliau untuk berdiskusi dengan anak-anak muda sesama mahasiswa di sebuah rumah tinggal. Beliau, yang saat itu sudah dikenal luas sebagai seorang profesor dan pemikir Islam terkemuka, dengan amat baik hati memenuhi undangan kami. Sebelumnya saya juga sempat bertemu beliau dalam sebuah pertemuan di rumah seorang senior saya di Ciputat. Pertemuan itu sangat seru. Beliau menjawab dengan penuh semangat apa pun pertanyaan yang kami ajukan. Diskusi berlangsung hingga lewat tengah malam. Dalam pertemuan di Bandung itu pun beliau tetap bersemangat, meskipun yang mengundang hanyalah anak-anak muda tanggung yang sering kali sok tahu, padahal ilmunya masih sangat terbatas.

Kami juga pernah mengatur sebuah acara diskusi antara beliau dan almarhum Cak Nur, yang dihadiri cukup banyak orang, tentang Islam dan Sekularisme. Prof. Naquib dikenal sebagai salah seorang pengkritik sekularisme, sementara Cak Nur—meski saat itu pemikirannya tentang sekularisme sebenarnya sudah matang—pernah dikenal luas dengan gagasan tersebut.

Saya ingat diskusi itu tidak berjalan terlalu lancar, mengingat perbedaan perspektif di antara keduanya. Prof. Naquib meninjau persoalan itu dari sudut pandang filosofis, bahkan sering kali klasik, sementara Cak Nur lebih dari sudut pandang pemikiran modern dan sosiologis.

Namun pengalaman saya yang paling unik dengan Prof. Naquib terjadi ketika beliau meminta saya menemani beliau membeli tembakau untuk merokok cangklong di Pasar Simpang Dago. Saya agak terkejut bahwa seorang profesor kelas dunia bersedia membeli tembakau untuk cangklongnya di sebuah kios kecil di pasar tradisional. Tetapi beliau menjelaskan bahwa tembakau di toko itu rasanya sangat cocok bagi beliau.

Dengan polos saya menawarkan untuk membonceng beliau dengan motor Honda CB 125 cc saya yang sudah butut. Beliau tidak menolak—meskipun mungkin dengan sedikit kekhawatiran. Sepanjang perjalanan yang sebenarnya tidak jauh itu saya bisa merasakan kekhawatiran beliau. Saya masih ingat bagaimana dengan penuh gairah dan ketelitian beliau memilih tembakau yang paling pas bagi seleranya.

Kontak saya dengan Prof. Naquib setelah itu adalah saat saya mulai mempersiapkan pendirian Penerbit Mizan, di sekitar tahun 1982. Saat itu saya masih membantu Lembaga Pengkajian Islam (LPI) yang didirikan oleh para tokoh Masjid Salman ITB. Saya sendiri sejak mahasiswa tahun pertama ITB memang sudah aktif di Masjid Salman dalam berbagai kegiatannya. Di antara yang paling utama adalah membantu penerbitan Majalah Pustaka Salman, yang diterbitkan oleh sebuah unit kegiatan di bawah naungan Masjid Salman bernama Pustaka Salman. Kegiatan ini dimulai dalam bentuk pengembangan Perpustakaan Salman. Saat saya masih aktif  di Salman itulah buku Islam dan Sekularisme karya Prof. Naquib diterbitkan.

Tapi, kali ini saya sudah lulus dan membantu kegiatan Masjid Salman yang bukan kegiatan mahasiswa. Di sela-sela menjalankan tanggung jawab saya dalam LPI itu, saya menerjemahkan buku Prof. Naquib yang berjudul The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education.

Setelah selesai menerjemahkan saya kirimlah buku tersebut kepada beliau sebagai penulisnya untuk diperiksa. Melebihi harapan saya, karena saya tahu beliau amat teliti dan picky dalam hal akurasi, beliau langsung meng-approve seluruh terjemahan saya, dengan hanya memberikan satu koreksi—untuk satu ungkapan saja (saya bahkan sampai sekarang masih ingat koreksian beliau. Info tambahan: Buku itu belakangan menjadi salah satu dari sedikitnya 3 buku Prof. Naquib yang diterbitkan Mizan, selain  buku biografi ekstensif Prof. Naquib yang ditulis oleh salah seorang murid utama beliau, yakni Prof. Muhammad Nor Wan Daud, berjudul Knowledge, Faith, and Culture: The Life and Thought of Syed Muhammad Naquib al-Attas. (Btw, hari-hari ini, Mizan pun sedang merencanakan menerbitkan setidaknya satu judul lagi buku beliau, jika memang right-nya available).

Di luar itu saya juga suatu saat berupaya lagi untuk bertemu beliau dengan mengunjungi kampus IISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization) yang beliau dirikan. Sebelum bertemu, saya berjalan-jalan mengelilingi kampus yang indah dan megah, bernuansa universitas Islam Abad Pertengahan  yang, saya dengar, pembangunannya disupervisi dengan detil langsung oleh beliau sendiri. Saya dengar, beliau bahkan pergi ke Italia dan memilih sendiri batu granit yang dipakai. Bahkan juga handle-handle pintu dan sebagainya. Saya pun pada kesempatan itu, diajak masuk ke kelas untuk mendengar kuliah Prof. Naquib. Sayang sekali, pada saat itu sempat terjadi miskomunikasi. Saya sebelumnya memang sempat menyampaikan keinginan saya bertemu beliau. Dan ketika saya diajak masuk ke ruangan kuliah itu, saya pikir itulah satu-satunya kesempatan saya bertemu beliau. Ternyata, tanpa saya ketahui, beliau setelah itu menunggu saya di ruang kerjanya. Dan saya, dalam ketidaktahuan, sudah berjalan pulang meninggalkan kampus itu. Betapa ruginya saya!

Selain banyak mendengar tentang kiprah IISTAC dari adik saya, Zainal Abidin, yang sempat mengambil gelar Master di sana, saya masih dua kali lagi mengunjungi IISTAC. Yang sekali, adalah ketika saya bermaksud melakukan riset tentang kebahagiaan di mata para filosof Muslim. Saat itu saya sedang tidak ingin melakukan riset di AS (memang sebelumnya, sudah 3 kali saya mendapatkan kesempatan mengejar concern akademik di negeri ini. Kebetulan ketiga-tiganya dengan scholarship dari Fulbright Foundation. Sekali untuk meraih gelar Master di Harvard. Sekali lagi untuk riset disertasi saya di Indiana University. Dan yang terakhir sebagai Visiting scholar di University of Sciences, Philadelphia. Kali ini saya merasa perlu menghirup kebijaksanan Islam dari pemikir dan lembaga Islam yang didirikan untuk itu). Maka, IISTAC di Malaysia adalah pilihan utama. Karena saya tahu bahwa, selain kualitas kesarjanaannya yang tinggi, perpustakaan universitas ini punya koleksi kepustakaan yang amat besar, khususnya terkait filsafat Islam.

Tapi, waktu itu Prof. Naquib sudah tidak lagi menjabat sebagai Direkturnya. Saat saya berkunjung ke IISTAC untuk keperluan ini, saya ditemui oleh Prof. Hashim Kamali, dan beberapa staf dosennya, ketika mereka sedang makan siang di suatu ruangan di kampus ini. Saya ingat, di antara yang hadir adalah Doktor Megawati Moris yang kebetulan punya concern akademik dan tema disertasi yang sama dengan saya. Yaitu, tentang Mulla Sadra. Setelah sedikit berbicara tentang latar belakang akademik saya, dalam pertemuan itu, saya sampaikan minat saya untuk melakukan riset di kampus itu, Prof. Hashim, sebagai Direktur Institute ini malah langsung menawari saya untuk sekalian mengajar di sana. Tentu saja saya senang. Maka, beberapa bulan kemudian saya menjadi sarjana tamu di sana. Saya mendapatkan ruang kerja dan seluruh fasilitas sebagai pengajar. Malah lebih dari sekali saya diundang berbicara dalam kegiatan seminar mereka. Memang, saat itu saya datang ketika awal semester sudah mulai. Jadi saya harus menunggu beberapa bulan untuk bisa mengajar di semester setelahnya.

Namun, manusia cuma bisa berupaya. Pada saat saya mulai aktif di IISTAC itu, bangunan perpustakaan IISTAC ambles. Maka perpustakaan dikosongkan, dan buku-bukunya disimpan dalam kardus-kardus di tempat lain. Pupus sudah harapan saya untuk melakukan riset kepustakaan di tempat ini. Saya masih berusaha bertahan beberapa bulan, dengan mencoba memanfaatkan perpustakaan IIUM (International Islamic University of Malaysia). Tapi, perpustakaan ini tentu tak bisa dibandingkan dengan perpustakaan IISTAC, khususnya dalam kepustakaan karya para filosof Muslim. Ditambah persoalan visa penelitian yang tak kunjung keluar, saya pun setelah 6 bulan memutuskan untuk balik ke Indonesia.

Masih sekali lagi saya ke IISTAC setelah itu. Yakni, sebagai pembicara yang diundang untuk membahas pemikiran Prof. Fazlur Rahman. Saya ingat pada saat itu yang berbicara selain saya adalah Buya Syafii Maarif dan Prof. Osman Bakar—yang menjadi Direktur IISTAC waktu itu.

Hingga akhirnya, pada kesempatan tinggal di KL pada periode ini, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Prof. Naquib di kediamannya, di Bukit Damansara (kalau tidak salah). Saya lupa tahunnya. Seperti biasa beliau menerima saya dengan hangat. Mengobrol amat lama, tepatnya saya (berusaha) dengan telaten menyerap ilmu beliau, hingga tiba waktunya saya harus pamitan pulang. Beliau tampak kaget ketika saya pamitan, mungkin karena merasa heran kenapa saya tak memanfaatkan semaksimum mungkin pertemuan dengan beliau. Sekali lagi, untuk kerugian saya.

Itulah Prof. Syed Naquib al-Attas. Seorang ilmuwan menjulang, nyaris seperti para filosof Muslim zaman klasik. Melahirkan pemikiran-pemikiran baru, yang berakar pada tradisi Islam, tetap dengan memelihara kedalaman dan kesinambungan dengan para pemikir Islam sebelum beliau. Entah itu Imam al-Ghazali, Ibn ‘Arabi, bahkan Mulla Shadra.

Hidupnya beliau baktikan sepenuhnya pada pemikiran Islam, dan pada pembangkitan kembali tradisi Islam yang autentik, melalui kritik-kritik paradigmatik terhadap apa yang beliau lihat sebagai penyimpangan dari pemikiran Islam yang lurus di zaman sekularistik seperti sekarang ini. Pada saat yang sama, beliau menempatkan diri sebagai guru atau mursyid, yang tak pernah lelah membimbing para muridnya kepada keluasan, kedalaman, dan dasar-dasar pemikiran Islam yang autentik itu.

Kini jasad beliau telah meninggalkan kita. Tapi pemikiran beliau akan menjadi warisan hidup yang akan terus dikembangkan oleh para muridnya, dan oleh para pemikir Islam yang datang setelahnya, sehingga akan terus menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan tanpa henti pemikiran Islam dalam rangka mencapai peradaban (tamaddun) kemanusiaan yang lebih luhur. Allaahummarhamhu rahmatal abraar.

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Penulis belum menambahkan bio / deskripsi profil pada pengaturan akunnya.

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan