ARTIKEL

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumiddin: Pidato Imam Haris Al-Muhasibi

Penulis

Salman
Maret 4, 2026
5 menit membaca

Suatu waktu Imam Haris Al-Muhasibi (salah satu pembesar ulama sufi yang hidup di abad 3 Hijriah, dan karyanya kitab Al-Ri’ayah li Huquqillah Ta’ala yang telah mempengaruhi pemikiran Al-Ghazali) pernah ditanya tentang mana yang lebih utama antara orang kaya yang bersyukur dan orang fakir-miskin yang sabar. Imam Haris Al-Muhasibi menjawab, “Lebih utama dan baik orang fakir-miskin yang sabar.”

Kenapa lebih utama fakir-miskin yang bersyukur daripada orang kaya yang bersyukur? Karena ia tidak akan pernah tergoda dan dekat dengan harta. Berbeda dengan orang kaya yang bersyukur yang kemungkinan besar pada suatu waktu bisa tergoda dengan kegemilangan hartanya, sehingga bisa melupakan Allah SWT.

Imam Haris Al-Muhasibi kemudian mengutip perkataan (pidato) dari Nabi Isa as. terhadap kaumnya. Bunyinya, “Nabi Isa as. pernah berkata kepada kaumnya yang munafik, “Wahai ulama su’! Kalian berpuasa, bayar zakat, akan tetapi kalian tidak mengerjakan apa yang telah diperintahkan. Kalian belajar-mengajar kitab suci di madrasah-madrasah, tetapi tidak mengamalkannya. Sungguh! Betapa buruknya kalian.”

“Bukankah kalian sudah menyuruh orang-orang untuk bertobat, tetapi kalian masih melakukan dosa-dosa. Kalian jangan hanya pandai berbicara, sementara kalian tidak melakukannya, sebab jika demikian maka sifat dengki itu akan timbul dari kalian. Kalian sudah menjadikan dunia berada di bawah mulut, dan amal-amal kebaikan berada di bawah telapak kakinya. Kenapa kalian menukar agama dan akhiratnya dengan urusan dunia.”

“Wahai budak-budak dunia! Kalian ini dikatakan sudah bertakwa kepada Allah tidak bisa, dikatakan termasuk orang-orang yang sudah merdeka juga tidak bisa, bahkan disebut budak pun juga sangat tidak pantas karena kalian ini sangat alim. Kalian sudah disungkurkan oleh gemerlapnya dunia. Kelak diakhirat kalian akan menjadi telanjang bulat. Dan Allah SWT. akan membalas perbuatan buruk kalian semalam di dunia.”

Secara tidak langsung, kata Gus Ulil, Imam Haris Al-Muhasibi ingin mengatakan bahwa, dunia bisa membuat orang terlena bahkan memperbudak siapapun, tak terkecuali para ulama yang sangat alim.

Setelah mengutip pidatonya Nabi Isa as., Imam Haris Al-Muhasibi berkata, “Wahai teman-temanku, mereka semuanya adalah ulama yang jahat. Mereka adalah orang-orang yang sangat alim, akan tetapi suka mendahulukan dunia daripada akhirat. Mereka bahkan menukar agamanya demi dunia. Mereka diakhirat kelak akan termasuk orang-orang yang rugi, kecuali Allah akan mengampuninya.”

Tak hanya itu, Imam Haris Al-Muhasibi juga mengatakan, “Menurutku, orang yang hancur karena mencintai dunia, mendahulukan dunia daripada akhirat, mereka ini mempunyai kesenangan lebih kepada dunia. Mereka tak sadar bahwa di balik gemerlapnya dunia, akan ada cegukan yang membuatnya tidak merasa nyaman. Akibat cegukan, pada akhirnya ia akan muntah-muntah.”

“Betapapun, dunia itu adalah kecacatan-kecacatan yang sangat dahsyat. Maka waspadalah (minta tolonglah) kalian kepada Allah SWT. agar tidak berada dalam kecacatan-kecacatan. Kalian ini jangan sampai tertipu kepada godaan setan karena kenikmatan dunia. Andai kalian tahu, mereka-mereka itu (ulama su’) adalah ulama yang saling berebutan dan berlomba-berlomba dalam kekayaan, bahkan mereka membuat hujjah untuk berlomba-berlomba dalam kekayaan. Mereka itu tidak merasakan bahwa dirinya sudah jatuh pada lobang kesesatan, dan musibah sudah di depannya.”

“Wahai ulama-ulama yang gemar berfatwa! Celakalah kalian. Sesungguhnya argumentasi kalian tentang harta sahabat Abdur Rahmah bin Auf yang sangat banyak itu bukanlah argumentasi yang jujur, melainkan dari setan. Jika kalian menyangka bahwa sahabat-sahabat yang kaya raya itu bertujuan untuk menumpuk-numpuk harta, maka kalian sudah ber-ghibah. Dan tanpa sadar kalian sudah menuduh sahabat cinta terhadap dunia. Bahkan, secara tidak langsung kalian sudah menghina kanjeng Nabi Muhammad SAW.”

“Kalau kalian mengatakan bahwa menumpuk harta itu bagus, sementara Al-Qur’an sendiri dalam surat “At-Takatsur” melarangnya, maka berarti kalian beranggapan Allah tidak mengerti bahwa menumpuk-numpuk harta itu adalah kejelekan. Seolah-olah kalian ini lebih tahu tempatnya kebaikan dari Allah SWT. Lalu apakah kalian lebih baik dari Allah SWT.?

Kata Gus Ulil, segembira-gembiranya orang yang mempunyai kekayaan, mereka akan tetap merasakan cegukan. Ibarat seperti orang makan nasi rendang-padang, tiba-tiba di tengah asiknya menikmati rasa lezatnya, ia keselek dan batuk-batuk. Begitulah dunia.

Dari kritik ini, sebetulnya kita bisa membaca bahwa pada saat itu sudah mulai muncul sejumlah ulama yang bergaya hidup hedonisme, dan berteman dengan para penguasa dan bangsawan. Inilah yang meresahkan rakyat saat itu, termasuk Imam Haris Al-Muhasibi.

Dia adalah ulama su’. Salah satu ulama yang menjadikan ilmunya sebagai sarana dan panjatan sosial untuk memperoleh, jabatan, popularitas, dan kekayaan dunia. Dalam Al-Qur’an pada surat Al-A’raf ayat 175-177 Allah SWT. berfirman: “Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka (tentang) berita orang yang telah Kami anugerahkan ayat-ayat Kami kepadanya. Kemudian, dia melepaskan diri dari (ayat-ayat) itu, lalu setan mengikutinya (dan terus menggodanya) sehingga dia termasuk orang yang sesat.” “Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan (derajat)-nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung pada dunia dan mengikuti hawa nafsunya. Maka, perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya, ia menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya, dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikian itu adalah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka, ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” “Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami. Mereka hanya menzalimi diri mereka sendiri.” (QS. Al-A’raf [7]: 175-177).

Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis adalah alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Mahasiswa dan Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan