Setelah meringkaskan masa hidup Ayatullah Khamenei yang penuh dengan spiritualitas dan amal-amal kebaikan, serta dedikasi dan pengorbananya kepada perjuangan kemanusiaan, kini secara serba sedikit saya akan sampaikan ungkapan-ungkapan perasaan beliau tentang syahadah yang beliau sampaikan di berbagai kesempatan.
Beliau tentu sering sekali bicara tentang falsafah syahadah, sebagai persaksian akan kepasrahan total kepada Allah Swt., tapi tidak pernah semuanya semengharu-biru ketika beliau mengungkapkan harapannya akan berakhir di haribaan syahadah .
“Syahadah adalah sesuatu yang selalu aku mohonkan kepada Tuhan, kata beliau.”
“Selama bertahun-tahun aku berdoa kepada Tuhan agar menganugerahkan kepadaku syahadah.”
“…agar aku dapat bergabung dengan para syuhada (yang telah mendahului).”
“Kehormatan terbesar (bagiku) adalah gugur sebagai syahid di jalan Tuhan,” kata beliau. “Aku tidak khawatir dibunuh; yang mengkhawatirkanku adalah meninggal di tempat tidur.”
Hingga, dalam sebuah acara publik, seorang anak berusia lima tahunan mendekati beliau dan berkata:
“Doakan saya agar menjadi syahid.” Khamenei dengan lembut menarik anak itu mendekat, lalu menjawab: “Pertama, kamu harus tumbuh dewasa. Belajarlah dengan tekun, jadilah ilmuwan agar berguna bagi Islam. Nah, ketika kamu berusia 80 atau 90 tahun, kamu bisa menjadi syahid.”
Ungkapannya ini meringkaskan seluruh kehidupan Ayatullah Khamenei dengan persis. Beliau belajar dengan tekun, menjadi sarjana keagamaan yang menyukai sastra, hingga syahid di usia 87 tahun.
Bagi beliau, syahadah sama sekali bukan akhir karier seseorang?. Bahkan itu adalah awal bagi kehidupannya. Bukan saja mereka akan bertemu Tuhan, Sang Kekasih dalam keabadian, bahkan untuk manusia-manusia yang masih hidup, syahadah adalah awal kehidupan yang sesungguhnya. “Para syuhada’ itu terus hidup, dan ingatan akan mereka memberi kehidupan dan menunjukkan jalan (bagi yang masih hidup),” pungkasnya.
Kiranya ini hanya mengungkapkan kembali firman Allah Swt:
”Jangan kau kira orang yang terbunuh di jalan Allaah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan dilimpahi rezeki…” (Ali Imran: 169).
Seperti para syuhada lain, Ayatullah Khamenei tak pernah mati. Seperti Nabi Muhammad saw. panutannya, serta Imam Ali dan Imam Husein kakek-kakek yang mengajarinya tentang hidup sebagai kesatria-kesatria Tuhan.