Anda tahu bahwa kepelitan dan kedermawanan (kepedulian sosial) berbeda dalam tingkat. Tidak ada kedermawanan yang lebih besar daripada memberikan uang Anda kepada mereka yang kurang beruntung. Ini adalah hakikat kedermawanan.
Gus Ulil menyatakan bahwa memberikan sesuatu kepada orang yang lebih membutuhkan daripada Anda sendiri akan sangat sulit. Memberikan sesuatu kepada orang lain tidak sama dengan memberikan sesuatu kepada diri sendiri. Karena kesulitan, seseorang tidak mau memberikan uang mereka kepada orang yang membutuhkan, bahkan jika mereka meninggal.
Selain itu, orang yang sangat pelit kadang-kadang hanya pelit terhadap diri mereka sendiri daripada orang lain. Misalnya, dia sakit tetapi tidak mau pergi ke dokter meskipun dia memiliki banyak uang.
Gus Ulil menyatakan bahwa “gas pol” termasuk dalam kategori pelit, dan pelit sudah termasuk gas pol. Mereka yang pelit biasanya menyukai sesuatu, tetapi mereka tidak mau membeli karena eman pada uang mereka. Ia lebih suka hal-hal yang gratis, seperti makan bersama teman-temannya.
Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa Allah SWT. memuji mereka yang berderma, yang merupakan bagian dari sahabat nabi. Dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 9 Allah SWT. berfirman:
“Orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr [59]: 9).
Nabi Muhammad SAW. juga pernah bersabda, “Siapa saja yang menyukai sesuatu, kemudian ia menahan keinginannya itu dan mengutamakan orang lain atas dirinya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.”
Demikian juga Sayyidatina Aisyah pernah berkata, “Rasulullah Saw. tidak makan sampai kenyang selama tiga hari berturut-turut. Kalau kami mau, kami bisa makan sampai kenyang, tetapi kami lebih mengutamakan beliau daripada kami.”
Suatu malam Nabi menerima sowanan dari seorang tamu, tetapi dia tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepada mereka. Salah satu sahabat Anshar tiba-tiba datang dan mengetahui bahwa nabi tidak memiliki apa-apa. Dia segera pergi dan mengajak tamu itu ke rumahnya.
Setelah tiba di rumahnya, ia meminta istrinya untuk mematikan lampu dan memberikan hadiah nabi kepada tamunya. Yang menarik, sahabat Anshar itu mengikuti gerakan tangannya untuk memberikan makanan kepada tamunya, meskipun sebenarnya ia tidak makan (pura-pura makan), karena hadiah atau makanannya hanya satu.
Keesokan harinya, nabi memanggil sang sahabat dan berkata, “Sungguh heran Allah terhadap tindakan (perlakuan) kamu kepada tamu itu tadi malem.” Atas kejadian ini, maka akhirnya turunlah surat Al-Hasyr ayat 9.
Syahdan Sahl Al-Tustari, salah seorang wali yang hidup pada abad ke 3 hijriyah bercerita, suatu waktu Nabi Musa berdoa, “Wahai Tuhanku! Tunjukkanlah sebagian tingkatan-tingkatan derajat Nabi Muhammad Saw. dan umatanya.”
Allah SWT. kemudian menjawab, “Wahai Musa! Sesungguhnya engkau tidak akan mampu mendengarkan kemulian Muhammad, akan tetapi Aku akan menunjukkan sebagian tingkatan-tingkatan derajatnya yang agung dan mulia itu.”
Menurut Sahl Al-Tustari, “Akhirnya Allah SWT. menyingkapkan kerajaan langit untuk membuka kemuliaan derajat Nabi Muhammad SAW. dan Nabi Musa As. melihat akan tingkatan-tingkatannya hingga tubuhnya mati saking kuatnya cahaya derajat Nabi Muhammad SAW.” Kemudian Nabi Musa As. bertanya, “Kemuliaan apa yang Engkau bisa menyampaikan Muhammad kepada derajat ini?”
“Wahai Musa! Jika ada seorang hamba mempunyai sifat dermawan, maka Aku malu mau menghisab dia di akhirat kelak,” Allah SWT. menjawab, “Aku memberikan khusus kepada Muhammad karena akhlaknya di antara nabi-nabi yang lain. Dan di antara akhlak itu adalah sifat kedermawanan.” Umat Muhammad lebih unggul dari umat sebelumnya dalam derajat ini.
Sebuah cerita mengatakan bahwa ketika Abdullah bin Ja’far pergi ke kebun, dia menghentikan di kebun kurmanya seseorang. Setelah itu, dia melihat budak anak kecil berkulit hitam bekerja di kebun. Anak itu tiba-tiba bertemu dengan anjing yang memberinya makanan berulang kali meskipun dia benar-benar membutuhkannya.
Akhirnya, Abdullah menghampiri anak itu dan bertanya, “Berapa makanan kamu setiap hari?” Dia menjawab, “Ya sepeti kamu lihat, satu roti ini.” Kemudian dia bertanya lagi, “Kenapa engkau memberi makan anjing itu, padahal makanan kamu hanya satu?” Dia menjawab, “Di sini bukan tempat untuk anjing, lalu siapa yang mau mengurus anjing itu?” Anjing itu kelaparan dan datang dari jauh.
“Aku ini sering dikritik orang lain karena dermawan, ternyata ada orang yang lebih dermawan dari saya,” kata Abdullah, menambahkan, “Lalu kamu makan apa hari ini?” Akhirnya, Abdullah membeli kebunnya bersama peralatannya dan memerdekan budak anak kecil itu. Setelah Umar membeli kebun itu, dia memberikannya kembali kepada anak itu sebagai modal.
Menurut Sayyidina Umar, seorang pria menerima kepala kambing dan berkata, “Saudaraku lebih butuh dari aku.” Akhirnya, pria itu memberikan kepala kambing kepada saudaranya. Namun, ia berkata, “Tetanggaku lebih membutuhkan kepala kambing ini,” saat tiba di rumah saudaranya. Begitu seterusnya sampai mencapai tujuh rumah. Rumah ke-8, penerima pertama kepala kambing, baru diterima. Wallahu a’lam bisshawab.
Penulis adalah Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.