Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Mencoba Meraba Makna Batin Ayat Kursi

Menggalih yang Autentik dari Pengalaman Beragama: Merefleksikan Pemikiran William James

William James merupakan seorang yang menekuni psikologi, yang juga mendalami filsafat. Ia dikenal sebagai salah satu pemikir besar dalam sejarah intelektual di Amerika Serikat. Salah satu fokus kajian James, yakni mengenai psikologi impuls religius. Dalam buku yang ditulisnya, yaitu The Variates of Religious Experience: Pengalaman-Pengalaman Religius (edisi bahasa Indonesia, 2015), James menunjukkan bagaimana ia mempelajari fenomena religius seperti orang suci, harapan akan ganjaran, dan ketakuan akan hukuman dan sebagainya, di mana ia menyajikan argumen-argumennya dengan berani, simpatik dan semacamnya.

Pengalaman Beragama

Bagi William James (2015), bahwa apa yang disebut sebagai agama, mempuyai definisi, karakter dan pemaknaan yang amat beragam dan luas. Akan tetapi, ia mendefinisikan agama dalam pengertiannya yang terbatas, yakni sebagai perasaan, tindakan, dan pengalaman setiap orang dalam kesendiriannya, seiring pemahamannya dalam bersikap yang berhubungan dengan apa yang disebut sebagai Tuhan. Agama apapun, merupakan reaksi total manusia terhadap kehidupan.

Dalam pemahaman James, kata Tuhan tidak hanya diartikan sebagai Dzat tertinggi, tetapi juga bermakna sebagai realitas tertinggi seperti yang dirasakan oleh semua orang yang terdorong “melihat” dengan serius. Bagi sebuah agama, lewat manifestasinya yang begitu mapan dan menonjol, pelayanan kepada Dzat yang tertinggi tidak akan pernah dianggap sebagai sebuah beban. Kepasrahan yang membosankan akan ditinggalkannya jauh-jauh dan digantikan oleh ketentraman yang diidamkan dan kebahagiaan yang penuh dengan antusias.

James berpandangan bahwa pengalaman beragama dapat memberikan situasi psikologis yang menyenangkan dan membahagiakan. Agama menciptakan pesona ke dalam hidup kita yang tidak dapat kita peroleh secara logis atau rasional dari hal-hal lainnya. Perasaan beragama akan menyelamatkan dunia batin dari kehampaan, dan karena itu bisa membuat terasa lebih hidup.

Baca Juga:  Jangan Putus Harapan dan Teruslah Berdoa

Bagi James, agama pada dasarnya berhubungan dengan sikap penerimaan kita terhadap semesta. James menilai bahwa di dalam kehidupan beragama, kepasrahan dan pengorbanan diterima dengan baik: bahkan jika perlu penyerahan diri terhadap segala sesuatu dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar. Dengan demikian, agama memudahkan dan menyampaikan segala sesuatu yang dianggap perlu. James menambahkan “agama menjadi bagian penting dari organ kehidupan kita, melaksanakan fungsi yang tidak dapat dilaksanakan oleh kemampuan lain kita”.

Agama dan Tatanan Sosial Ideal

Menurut Jhon K. Roth dalam bukunaya Problems of the Philosophy of Religion (1971), bahwa  James sendiri menekankan segi-segi seperti proses, pilihan, resiko, ketidakpastian, dan pencarian kita akan makna sebagai suatu deskripsinya mengenai eksistensi, yang merupakan hal fundamental bagi pengalaman kita.

James memilih sebuah pandangan tentang eksistensi yang memberikan perluasan makna dan tujuan lebih besar di dalam eksistensi itu sendiri. Pada saat yang sama, James mengemukakan bahwa pandangan tersebut melibatkan hubungan antara Tuhan dengan dunia yang dapat dipahami oleh akal, meskipun komitmen keyakinan batin mungkin fundamental untuk membuktikan klaim semacam itu di dalam pengalaman.

James sendiri menyadari, bahwa tidak semua klaim dalam agama dapat diverifikasi oleh akal ataupun publik. Akan tetapi, mengapa agama perlu untuk terus dikembangkan dan orang berhak untuk menentukan pilihan dalam beragama tanpa perlu khawatir dicap irrasional dan sebagainya, karena James sendiri berkesimpulan bahwa agama mempunyai komitmen yang baik bagi kesejahteraan manusia.

Dengan kalimat lain, studi agama James mengenai eksistensi Tuhan, bukan terfokus pada bukti-bukti rasional, melainkan di dalam pengalaman hidup individu. Dengan demikian, yang terpenting, yakni bagaimana pengalaman beragama ataupun hubungan manusia dengan Tuhan mendorong seorang untuk melakukan langkah-langkah konkret ataupun membentuk fenomena yang menunjukkan komitmen yang kuat untuk berbuat kebaikan-kebaikan (jujur, simpati dan sebagainya).

Baca Juga:  Tasawuf: Sebuah Penghayatan untuk Mengenal Diri dan Mengenal Tuhan

Dalam pemahaman saya, pandangan James mengenai agama ini, tidak bisa dilepaskan dari cita-cita ideal mengenai masyarakat yang diabstraksikan olehnya. James menginginkan suatu masyarakat yang mengafirmasikan nilai-nilai yang penuh dengan simpatik, kejujujuran maupun kebebasan. Dalam pengamatan James, ia menganggap bahwa agama dapat membantu kita untuk mencapai tatanan sosial yang diidealisasikan tersebut.

Fenomena Kesucian sebagai yang Autentik dari Agama

Menurut Roth (1971), James di satu sisi memang menyadari bahwa agama terkadang dikaitkan dengan fanatisme, kebencian, perang, dan bentuk destruktif lainnya. Akan tetapi, bagi James, pembuktian yang sesungguhnya bahwa nilai agama dapat berperan positif bagi kehidupan dan bernilai signifiakan, yakni dengan melihat “fenomena kesucian”. Tentunya, setiap agama memiliki orang-orang yang dianggap suci. James meyakini bahwa sifat-sifat sentral kehidupan orang suci itu esensial jika kita ingin membuat kemajuan ke arah keutamaan manusia.

James beranggapan bahwa dalam manifestasinya yang tertinggi, tindakan orang suci yang berupa kedermawanan dan simpati itu dilakukan dengan dedikasi dan refleksi untuk mencapai tatanan komunal ideal di mana kebebasan, kesempatan, kesatuan, dan kerjasama dimaksimalkan untuk semua. Di samping soal kedermawanan dan simpati, kehidupan orang suci pun mengungkapkan hal-hal seperti resistensi, pemberontakan dan sebagainya, ketika dihadapkan pada situasi yang secara jelas bertentangan dengan kepentingan ideal. Dengan kata lain, apa yang autentik dari ajaran agama, bukanlah dengan melihat tindakan destruktif dari penganutnya, melainkan dengan merujuk pada orang-orang yang dianggap suci dalam agama tersebut.

Untuk soal kesucian ini, saya ambil contoh, dalam konteks Islam misalnya, nabi Muhammad Saw jelas adalah orang suci dalam kriteria James. Dan apa yang ditunjukkan oleh Rasulullah, mengenai toleransi, kedermawanan dan sebagainya, serta bagaimana semangat Rasulullah dalam mengkritik ketimpangan sosial-ekonomi dan kecurangan, menjadi manifestasi dari nilai-nilai agama (Islam) itu sendiri. Sebab itu, Islam bisa mendorong terwujudnya tatanan ideal, manakala nilai yang dikembangkan adalah sebagaimana yang ditunjukkan oleh Rasulullah Saw.

Baca Juga:  Mencoba Meraba Makna Batin Ayat Kursi

Roth (versi Bahasa Indonesia terbit 2003) menambahkan bahwa James sendiri melihat bahwa keyakinan pada Tuhan dapat menjadi faktor vital dalam mengembangkan dan mendukung dorongan hati yang kuat. James beranggapan bahwa dorongan hati yang kuat, yang secara jelas dcontohkan di dalam kehidupan orang suci, merupakan sebuah komponen vital dalam keutamaan manusia.

Sebagai penutup, James (2015) berpandangan bahwa kepercayaan pada Tuhan dapat memberikan efek yang nyata. Terlebih lagi, sebagaian besar orang beragama meyakini bahwa tidak hanya mereka yang dilindungi oleh Tuhan, tetapi juga seluruh semesta kehidupan. James pun menjelaskan, bahwa salah satu karakteristik psikologis agama, yakni dapat memunculkan semangat baru bagaikan suatu berkah di dalam kehidupan, dan berbentuk pesona lirik atau daya tarik terhadap kesungguhan dan heroisme.

Previous Article

Mengenal Corak Filsafat Jawa dari Kentut Semar dan Bima Suci

Next Article

Hermeneutika Al-Qur’an Nasr Ḥāmid Abū Zayd: Dari Peradaban Teks ke Komunikasi Wahyu (Part 1)

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *