Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Ramadan: Sarana Berbisnis dengan Allah

Panji Sakti, Musik dan Neosufisme Masyarakat Urban

Lagu-lagu yang digubah dan dinyanyikan Panji Sakti tak hanya menggemakan keteduhan. Tapi juga memunculkan resonansi neosufisme di kalangan masyarakat urban. Mendengar lagu-lagunya memang akan membawa nuansa sublim yang memantik permenungan. Coba dengarkan Sang Guru, Tafsir Cinta, Kepada Noor, Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja, Tanpa Aku, atau Sembuhlah Sembuh. Judul-judul lagu di itu, menjadi semacam oase di tengah panas gersang gurun musik Indonesia.

Puisikalisasi Musik, begitu saya memaknai mekanisme wujud lagu-lagu yang dinyanyikan Panji Sakti ini. Sebab, mayoritas lirik-liriknya tak hanya terasa puitis, namun memang berbentuk puisi. Dan yang lebih menarik dari puisikalitas lagu-lagu Panji, adalah kehadiran nyawa berupa keindahan nada: sederhana tapi elegan.

Kedalaman lirik dan keteduhan nada, seperti menghadirkan nuansa zikir di dalam ramai-sibuknya perkotaan. Mengajak pendengar untuk sejenak mengingat entitas yang tak asing, namun mulai menjauh dari mobilitas kemajuan: Tuhan. Tak heran lagu-lagu Panji Sakti kerap dikaitkan dengan karakteristik yang sufistik.

Munculnya Panji Sakti dari Kota Bandung, menjadi catatan yang penuh keistimewaan. Serupa pengaruh Hazrat Inayat Khan (1882-1927) yang mampu menyejukan dampak Revolusi Industri di Kota London, lagu Panji Sakti bagi Kota Bandung juga memberi kesejukan alternatif yang seolah berdiri tegak di antara teriakan musik penuh kecemasan, dan gerakan hijrah-tekstual-kaku kaum perkotaan. Di Bandung, lagu-lagu Panji Sakti mampu membangun kanal kesejukan sufistik di antara gersangnya dua kutub tersebut.

Kian populernya lagu-lagu Panji Sakti di kalangan masyarakat perkotaan, tentu punya nilai istimewa. Sebab, dalam konteks Indonesia, sejauh ini tasawuf selau identik pertarekatan dalam dimensi ritus kampungan. Lagu-lagu Panji Sakti mampu membawa nilai-nilai tasawuf ke ranah perkotaan—sufisme kontemporer kaum urban.

Neosufisme Kaum Urban

Baca Juga:  Karunia dan Cobaan

Entah disadari atau tidak, lagu-lagu gubahan Panji Sakti berusaha menunjukan bahwa esensi dan nilai-nilai tasawuf bisa tetap kontekstual terhadap kemajuan zaman. Bahwa pandangan sufistik masih menjadi penyeimbang bagi dunia yang kian mengokohkan industrialisasi kapitalistik. Nilai sufisme di tengah modernitas ini, disebut sebagai Neosufisme.

Neosufisme merupakan bentuk revitalisasi ajaran dan praktik tasawuf agar tetap relevan dengan kehidupan modern, tanpa kehilangan esensi spiritualnya. Ia muncul sebagai gerakan spiritual kontemporer yang menjembatani mistik Islam klasik dengan kebutuhan masyarakat kontemporer—rasionalitas, keadilan sosial, dan kesadaran global. Neosufisme berusaha menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual Islam, tetapi tetap rasional dan relevan dengan tantangan sosial modern.

‎Istilah Neosufisme mulai populer pada abad ke-20 M, untuk menggambarkan arus pembaharuan sufistik di dunia Islam. Fazlur Rahman (1919-1988) dan Sayyed Hossein Nasr disebut-sebut sebagai para pemuka Neosufisme abad 20 M. Fazlur Rahman mengaitkan tasawuf dengan moral sosial dalam kehidupan global. Sedangkan Sayyed Hossein Nasr menghidupkan spiritualitas Islam klasik di tengah krisis modernitas.

Dalam konteks Indonesia, ada dua tokoh intelektual yang kerap mengibarkan bendera Neosufisme. Keduanya adalah Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dua tokoh ini dikenal sebagai figur yang kerap menafsirkan kembali nilai-nilai sufistik ke dalam ranah kebangsaan dan kemanusiaan.

‎Neosufisme lahir atas reaksi terhadap materialisme dan kekosongan spiritual di dunia modern. Neosufisme menjadi upaya untuk mengembalikan nilai-nilai etika dan spiritual dalam Islam yang sempat dianggap tertinggal oleh modernisasi. Karena itu, Neosufisme menekankan spiritualitas universal, bukan sekadar ritual tarekat.

Ini alasan ‎Neosufisme cenderung rasional dan terbuka terhadap sains dan modernitas. Ia fokus pada etika dan kesadaran diri, bukan hanya pengalaman mistik. Karena itu, Neosufisme tidak selalu berbentuk tarekat formal, melainkan bisa hadir dalam komunitas, karya seni, musik, ataupun gerakan sosial.

Baca Juga:  Menapaki Tangga Spiritualitas: Belajar dari Kisah Zulaikha

Lagu-lagu Panji Sakti, dalam konteks yang lebih luas, mengabarkan spirit Neosufisme sebagai metode penyembuhan bagi masyarakat perkotaan. Hal ini terlihat, misalnya, dalam lirik: engkau yang pergi, atau aku, yang penting Dia menggenggam kita (Sembuhlah Sembuh). Industrialisasi pengobatan dan ritus-ritus kesehatan modern, diakui atau tidak, merupakan perihal penting bagi masyarakat perkotaan. Lagu Sembuhlah Sembuh berupaya memunculkan kembali sikap tawakal dan kepasrahan yang elegan, sebagai sebuah metode pengobatan (menghadapi rasa sakit).

Kemajuan sains dan tingginya mobilitas kerja, faktanya menyisakan residu kegersangan spiritual dalam hidup masyarakat perkotaan. Karena itu, keteduhan spiritual harus bisa kembali dimunculkan, dengan beragam cara yang memungkinkan bisa diterima masyarakat urban secara universal. Dalam konteks lagu Panji Sakti, hal ini terlihat, misalnya, dalam lirik: bantu aku mencintai jalan pulang, demi bertemu dengan-Mu, Lumbung Keabadian (Tanpa Aku).

Previous Article

Perlawanan Palestina: Jeda yang Niscaya, di Tengah Jalan yang Masih Amat Panjang

Next Article

Mengenal Corak Filsafat Jawa dari Kentut Semar dan Bima Suci

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *