Shalat adalah ibadah harian yang rutin dilakukan, dimulai dari takbiratul ihram hingga salam. Kita terbiasa menunaikannya lima kali sehari, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari ritme hidup seorang muslim. Namun, saat kita menyelami lebih dalam ayat-ayat Al-Qur’an, kita akan menemukan fakta, ternyata, shalat bukan hanya aktivitas manusia. Allah, para malaikat, bahkan alam semesta pun ikut “shalat”.
Ayat yang me-mention, Allah melaksanakan shalat, berbunyi:
هُوَ الَّذِيْ يُصَلِّيْ عَلَيْكُمْ وَمَلٰۤىِٕكَتُهٗ لِيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا
“Dialah (Allah) yang senantiasa shalat atas kalian dan juga para malaikat-Nya, agar Dia mengeluarkan kamu dari berbagai kegelapan menuju cahaya. Dia Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin.” (QS. Al-Azhab [33]: 43)
Ibn ‘Arabi dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah menjelaskan bahwa “shalat” yang disandarkan kepada Allah bermakna pemberian rahmat. Allah melimpahkan kasih sayang-Nya terus-menerus. Sifat rahmat/kasih sayang adalah sifat dasar dan dominan Allah, sampai-sampai, dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yusuf [12]: 64). “Tuhanmu (Allah) telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya” (QS. Al-An’am [6]: 54). Dalam hadis qudsi pun disebutkan, “Rahmat-Ku taklukkan murka-Ku”. Dan masih banyak lagi redaksi ayat dan hadis yang menunjukkan bahwa Allah itu Maha Penyayang.
Lanjutan ayat di atas “...agar Dia mengeluarkan kamu dari berbagai kegelapan menuju cahaya.” Ayat ini menegaskan bahwa shalat atau kucuran rahmat dari Allah adalah media penyembuh jiwa. Ia membebaskan manusia dari duka, mengangkat dari penderitaan menuju kebahagiaan, menyingkap kegelapan hingga terang benderang. Maka tak berlebihan jika dikatakan: shalat adalah terapi yang diajarkan Tuhan untuk kesempurnaan jiwa manusia.
Masih di ayat yang sama, selain Allah yang melakukan shalat (mengucurkan rahmat-Nya), shalat juga salah satu aktivitas para malaikat. Para ulama—termasuk Ibn ‘Arabi—menafsirkan shalat yang disandaran kepada para malaikat bermakna permohonan ampunan dan doa untuk orang yang beriman. Artinya saat kita shalat itu malaikat meminta kepada Allah agar dosa-dosa atau energi negatif yang merasuki dan menguasai kita dihilangkan (diampuni), diganti dengan rahmat atau energi positif.
Membaca ayat itu betapa bahagianya kita yang bermandi dosa ini mendapatkan doa dari makhluk Tuhan yang amat taat dan suci, malaikat. Doa dari malaikat kepada orang yang shalat itu semacam dukungan psikologis agar jiwa kita tetap suci tanpa noda, sehingga saat kita sedang dan setelah shalat selalu dalam kondisi bahagia. Inilah doa malaikat yang di-mention dalam Al-Qur’an:
اَلَّذِيْنَ يَحْمِلُوْنَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهٗ يُسَبِّحُوْنَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُوْنَ بِهٖ وَيَسْتَغْفِرُوْنَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۚ رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَّعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِيْنَ تَابُوْا وَاتَّبَعُوْا سَبِيْلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيْمِ. رَبَّنَا وَاَدْخِلْهُمْ جَنّٰتِ عَدْنِ ِۨالَّتِيْ وَعَدْتَّهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ ۗاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُۙ. وَقِهِمُ السَّيِّاٰتِۗ وَمَنْ تَقِ السَّيِّاٰتِ يَوْمَىِٕذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهٗ ۗوَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ.
“(Para malaikat) yang memikul ʻArasy dan yang berada di sekelilingnya selalu bertasbih dengan memuji Tuhannya, beriman kepada-Nya, dan memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman. (Mereka berkata,) “Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu. Maka, berikanlah ampunan kepada orang-orang yang bertobat serta mengikuti jalan-Mu dan lindungilah mereka dari azab (neraka) Jahim. Wahai Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka serta orang yang saleh di antara nenek moyang, istri, dan keturunan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Lindungilah mereka dari keburukan. Siapa yang Engkau lindungi dari keburukan pada hari itu, sungguh, Engkau telah menganugerahkan rahmat kepadanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. Ghafir [40]:7-9)
Selain Allah dan malaikat, kata shalat juga dijadikan aktifitas semesta sebagaimana firman Allah;
اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يُسَبِّحُ لَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالطَّيْرُ صٰۤفّٰتٍۗ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهٗ وَتَسْبِيْحَهٗۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِمَا يَفْعَلُوْنَ
“Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) tahu bahwa sesungguhnya kepada Allahlah apa yang di langit dan di bumi dan burung-burung yang merentangkan sayapnya senantiasa bertasbih. Masing-masing sungguh telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka lakukan.’ (QS. An-Nur [24]: 41).
Dari perenungan ayat-ayat di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa shalat adalah media penghubung antara jiwa kita dengan Allah, malaikat, dan alam semesta. Ia bukan hanya ritual, tapi terapi yang membawa kita kepada kesadaran untuk hidup seirama dengan Allah, dengan menyebarkan rahmat dan kasih di muka bumi ini sebanyak mungkin; Hidup yang sejalan dengan para malaikat, dengan mendoakan dan mendorong kebaikan; dan hidup yang harmonis dengan alam, dengan tidak merusaknya, melainkan menjaganya dalam keseimbangan. Shalat adalah panggilan untuk hidup dengan kesadaran penuh (mindfulness) dalam kasih dan kebijaksanaan. Dan karena itulah, Allah memerintahkan dengan tegas: “Dirikanlah shalat!” (QS. Al-Baqarah [2]: 43)
Bahkan lebih dari itu, seorang muslim idealnya senantiasa shalat secara ruhani, yaitu menjaga koneksi jiwanya dengan Allah, malaikat, dan semesta setiap saat. Bukan hanya lima kali sehari, tapi dalam seluruh tarikan napas kehidupan. Sebagai bunyi ayat: “...yang selalu setiap saat mengerjakan salatnya” (QS. Al-Ma’arij [70]: 23)
Atau seperti puisi sang bijak bestari Maulana Jalaluddin Rumi:
Ada lima waktu shalat yang ditentukan
Namun, pencinta selalu dalam keadaan sembahyang
Ia tak puas dengan lima pertemuan
Atau bahkan mungkin ribuan pertemuan
Kaidah, "Kunjungilah temanmu jika kau rindu"
Tak lagi berguna
Karena pencinta selalu rindu kekasihnya
Seperti ikan yang selalu merindukan lautan
Karena lautan adalah kekasih sejatinya.