ARTIKEL

Menakwil Cinta Zulaikha yang Tak Selamanya Dosa

Agustus 11, 2025
12 menit membaca

Ammar Fauzi, Ph.D (Yai Ammar) terjadwalkan menjadi pemateri kelas “Ngaji Sastra via Sastra” pada sesi ketiga yang diadakan oleh Nuralwala. Yai Ammar, memberi pengantar yang cukup menarik tentang seluk-beluk Sastra Persia sebagai kasus dari tema kelas pada Kamis, 31 Juli 2025 ini. Dengan mengambil judul paparan “Mabok Cinta Ilahi dalam Yusuf dan Zulaikha Karya Abdurrahman Jami,” Yai Ammar mengajak para peserta menguliti berbagai definisi cinta yang manusia rasakan guna meluruskan ulang makna cinta yang mungkin tidak tepat sasaran.

Judul yang Yai Ammar bawakan diakuinya bercermin pada karya sufi abad ke-6/7 Hijriyah, yakni Abdurrahman Jami. Menurutnya, nama sufi yang sangat populer (khususnya di tanah kelahirannya yakni di Persia, juga Timur-Tengah, Afghanistan dan Pakistan) ini kurang dikenal dalam kajian tradisi keislaman di Indonesia. Dengan demikian, secara tidak langsung, ngaji Nuralwala pada kesempatan kali ini merupakan ruang untuk memperkenalkan sosok sufi tersebut. Sosok sufi yang memiliki kompetensi di banyak bidang keilmuan. Ibn ‘Arabi pernah mengungkapkan bahwa banyak sufi yang menggeluti berbagai bidang keilmuan yang menjadi kehendak-Nya. Maka dapat kita bersama iyakan dengan hadirnya Abdurrahman Jami dengan magnum opus-nya yang berjudul Yusef wa Zulaikha.

Sastra Persia adalah salah satu tradisi sastra tertua dan terkaya di dunia. Kendati bahasa Arab menjadi bahasa administratif dan keilmuan pada awalnya, bahasa Persia bangkit kembali sebagai bahasa sastra yang dominan sejak abad ke-9 dan seterusnya. Sangat jarang budaya yang masih tersambung dengan tradisi leluhur; di antara yang masih tersambung itu adalah sastra Persia dengan kelembutan dan keagungan sastranya, kedalaman filosofis dan bahasa yang indah dan fleksibel, serta narasi epik dan romantis. Karya Jami memiliki kekhasan puitisnya dan juga berpadu dengan mistisisme.

Kedudukan sastra Persia dalam khazanah sastra Islam ada 5: jembatan budaya dan intelektual, guna membantu membentuk identitas Islam yang lebih luas melampaui batas-batas Arab; penyebaran Tasawuf; pengaruh global; model estetika; dan penjaga warisan intelektual. Walaupun sudah didominasi bahasa Arab, para penyair Persia dan akademisi Persia tetap menggunakan syair, bait-bait dan sajak berbahasa Persia. Pun dalam budaya kesehariannya, Yai Ammar menyaksikan bagaimana anak-anak di sana juga terbiasa menghafalkan bait-bait puisi dengan bahasa Persia. Anak-anak mahasiswa juga terbiasa bertanya dengan bait-bait puisi. Realita yang demikian menggambarkan begitu dekatnya mereka dengan syair puisi, layaknya masyarakat Indonesia yang memilih mencairkan suasana dengan menggunakan pantun berbalas.

Abdurrahman Jami (1414-1492 M) memiliki nama asli Nurudin Abdurahman Jami. Ia adalah orang asli Persia dan penerjemah karya agung dari Ibnu arabi. Ia adalah penyair sufi terbesar dalam tradisi Persia.  Karyanya yang bersifat sufistik romantik ada 7 karya. 3 di antaranya adalah Yusef  wa Zulaikha, Salman wa Absal, dan Haft Awrang (7 Singgasana). Keindahan bahasa dan gaya yang digunakan oleh Jami dalam karya-karyanya memberikan pengaruh intelektualitas dan spiritualitas yang luas, dari Barat Islam, dan Timur Islam. Jami adalah pengikut tarekat Naqsyabandiyah; sintetis tradisi dan inovasi. Ia adalah maestro terbesar yang tidak tergantikan dalam tradisi sastra Persia. Demikian ungkap Yai Ammar.

Siginfikansi kisah Yusuf dan Zulaikha terdapat dalam: Alquran, Taurat dan Bible. Kisah cinta Zulaikah dan Yusuf bisa dilihat lebih detail pada 3 kitab suci tersebut. Dalam adaptasi sastrawi, ada beberapa versi yang lainnya, juga ada simbolisme sufi yang harus dimaknai secara hati-hati; karena dalam simbolisme sufi kerap menggunakan makna metafora, yang penuh dengan tamsil, isyarah, dan konotatif karena beberapa alasan. Salah satu alasannya adalah karena keterancaman para sufi penyair ini oleh pihak-pihak lain, termasuk para agamawan yang semasa dengan mereka, karena ajaran para sufi tersebut tidak populer, sehingga ditakutkan menyebabkan kegaduhan. Oleh karena itu, para sufi dalam menyampaikan ajarannya kerap menggunakan modus eksklusif dan menuangkannya dengan puisi alegori. Ini adalah salah satu cara yang menyelamatkan.

Kisah Yusuf dan Zulaikha dalam Haft Awrang memiliki karakteristik, gaya bahasa dan retorika, dan tema-tema utama yang khas. Karakter-karakter pendukung dalam kisah versi Jami tidak ditemukan dalam literatur kitab suci terdahulu. Tema-tema utama di sana sebagaimana yang berlaku pada Yusuf dan Zulaikha yakni seperti keindahan dan manifestasi ilahi; cinta berikut jenis, tahapan dan dampaknya; kesabaran dan takdir; cobaan dan penderitaan sebagai jalan menuju kesempurnaan; tobat dan penebusan; kekuasaan dan kebijaksanaan Ilahi . Yai Ammar menegaskan, hal yang kurang digali dalam tema Tasawuf adalah tentang kekuasaan dan kebijaksanaan Ilahi, dan Jami menyampaikan itu dalam kisah ini.

Yusuf dan Zulaikha karya Abdurahman Jami adalah sebagai alegori spiritual, konsep cinta dan simbolisme. Oleh karena itu, judul dengan diksi ‘mabuk’ diganti menjadi ‘mabok’ oleh Yai Ammar. Dengan alasan, karena apabila dibandingkan dengan mabuk, maka diksi tersebut terdengar lebih sopan, sedangkan mabok digunakan pada orang-orang yang melakukan tidak terpuji. Kendati demikian, perlu diketahui pula, bahwasanya para sufi, banyak juga yang melakukan hal-hal di luar kewajaran, termasuk di laur syariat maupun ‘urf/pandangan masyarakat dan publik. Tentunya maboknya para sufi berbeda dengan orang awam. Dalam kisah Yusuf dan Zulaikha, mabok di sana adalah tentang bagaimana mabok cintanya Zulaikha yang ia objektifikasi agar sungguh-sungguh rasional, yakni dengan menghadirkan istri-istri para pejabat yang mem-bully dan menyinyirnya yang menggunakan anak angkatnya untuk memenuhi perasaan/hasratnya.

Yusef wa Zulaikha merupakan satu dari 7 kitab Singgasana. Banyak para peneliti yang membandingkan kisah ini dengan 2 karya lainnya, yakni Salaman wa Absal dan Layla Majnun. Jika kita bersama tengok ke belakang, Salaman wa Absal dimulai dari tradisi yang dilakukan oleh Ibnu Sina; sementara Layla-Majnun menjadi medan tarik-menarik antara sastra sufi Arab dan Persia. Untuk Layla- Majnun merujuk pada karya Nizamin Kanjavi yang hidup pada abad ke-5 Hijriyah, terpaut 2 abad dari Abdurrahman Jami. Sehingga bisa dikatakan, karya Abdurahmn Jami juga merujuk pada karya Nizamin ini. Adapun kisah Yusuf dan Zulaikha dalam karya sufi tidak sebanyak Layla-Majnun yang terdapat pula dalam karya Rumi, Fariddudin Atthar maupun Ibnu Arabi.

Untuk memahami ‘mabok cinta’, ada 5 pertanyaan pokok yang standar dalam Tasawuf: Apakah cinta? Manakah Cinta? Bagaimana Cinta? Kenapa Cinta? dan untuk apa Cinta? Pertanyaan apakah cinta adalah mempertanyakan hakikat cinta. Yai Ammar menegaskan, banyak yang tidak berdaya menjawab pertanyaan ini, bahkan Yai Ammar tak juga menemukannya dalam karya Jami. Oleh karena itu, Yai Ammar merujuk pada pemaknaan yang disampaikan oleh Ibnu Arabi yang menyatakan bahwa cinta adalah ketiadaan, atau tercinta adalah tiada. Artinya, seseorang akan menyadari cinta, terlelap dalam cinta, ketika dia tahu sesuatu saat tiada. Cinta akan tumbuh saat dia mengalami ketiadaan. Sehingga cinta menjadi sirna ketika ada. Itu adalah cinta di dunia. Dan yang dialami oleh bani Adam, mereka akan mengejar cinta yang tiada. Seperti anak kecil yang menangis saat terpisah dengan ibunya yang memiliki ASI. Tangisnya mulai reda ketika bertemu dan diberi ASI oleh ibunya. Tangisnya yang meronta-ronta adalah ungkapannya dalam mencari cinta. Saat sudah mendapat ASI, ia tidak lagi menangis, walaupun sudah dilepas oleh ibunya. Lantas bagaimana agar cinta kita tetap segar dan ada? Para sufi begitu mencintai kematian, karena kematian tidak lagi menjadi tembok antara yang dicinta dan pecinta. Seperti tragedi Karbala, saat Qasim bin Hasan didengarkan bahwa mati itu lebih indah. Juga sebagaimana kondisi di Gaza saat ini, kematan adalah hal yang dicintai para pejuang kemerdekaan di sana.

Apa saja derajat cinta? Sebagaimana disampaikan Ibnu Arabi ketika membicarakan Zulaikha, Ibnu Arabi menguraikan, cinta itu kadarnya bisa 360 derajat dengan tiap kadarnya memiliki kadar yang berbeda-beda. Hawa berbeda dengan wud, hub, isyq, wala’, hala’, dan sebagainya. Setidaknya ada 4 kata berbeda dan diwakili dengan budaya bahasa kita, seperti: suka, sayang, mau/ingin. Ada ungkapan yang ada dibahasa Indonesia namun tidak ada dalam bahasa Arab, seperti cinta yang belum kokoh, dan berganti-ganti, layaknya cinta monyet yang berpindah dari satu dahan ke dahan yang lain. Yang demikian dalam bahasa Arab disebut hawa. Uniknya hawa digunakan pada 2 level berbeda, oleh para sufi juga digunakan dalam posisi yang tinggi, Al-Hallaj lebih suka menggunakan kata ini; dan sufi Persia lebih memilih diksi isyq. Kedua, ketika cinta sudah kokoh, seperti pokok pohon, saking kokoh, kuatnya, kemudian poho tumbuh rindang, dan berakar dari bawah dan juga atas, bahkan membelit pohonnya sampai tak tampak batang pohonnya. Maka kita tak bisa melihat lagi batang kokohnya, ini sudah isyq, cinta buta. Saking lebatnya, sampai menutupu dirinya sendiri. Mata kita tidak bisa lagi menilai mana baik dan mana buruk, baginya semuanya sudah indah.

Selanjutnya, cinta gila. Cinta gila tidak dengan mata lagi, tapi sudah ke pemikiran, lebih tidak bisa diterka, gharam, yang ada hanya pengorbanan. Tandanya, orang tersebut tidak lagi punya rasa malu, dihinakan bagaimanapun ia tidak malu, bahkan ia menyombongkan kegilaannya. Dan yang terakhir adalah cinta mati sebagai puncak dari cinta hakiki, cinta ketiadaan ruhnya, hidupnya, apapun, dan memilih tiada (hayaman). Ini ditemukan dalam diri para syahid. Mabuk cinta ada pada tingkatan mana? Yai Ammar juga mengatakan bahwa letaknya tidak jelas. Mabok cinta adalah orang yang mengalami cinta yang buka cinta mmonyet, dengan demikian, dalam 3 cinta lainnya ada derajat mabok cintanya masing-masing.

Hukum cinta? Pertama, bertemu dan bersatu jika benar-benar cinta, seseorang akan mencari cara dan kesempatan/peluang-peluang untuk bertemu dan bersatu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Keadaan yang paling buruk, yaitu bertemu dalam hayalan. Kondisi ini dikuatkan oleh para sufi, “Jangan pernah meremehkan hayalan, karena hayalan akan mewujud kemudian hari.” Dan hayalan kita akan mewujud termasuk saat setelah kematian. Setelah kematian, cinta akan mempertemukan dua hal, Al-mar’u ma’a man ahabb. Kalau tidak di dunia pasti di akhirat, ini adalah hukum dan logika cinta; yang hilang di dunia akan dipertemukan kembali di akhirat. Cinta adalah bahagia dan derita. Derita karena dalam kehilangan, ketiadaan ada merana, nyeri; sehingga dia mencintai diri sendiri untuk menghilangkan penderitaan tersebut. Pada saat yang sama, cinta akan bahagia sekaligus derita.

Nilai cinta, memberi nilai penuh pada cinta itu mengapa? Karena hipotesis ketiadaan, artinya kita menempatkan cinta pada ketiadaaan. Seandainya cinta tidak ada, apa yang akan kita lakukan? Mencintai ilmu, dengan mencarinya, saat sudah diperoleh, akhirnya ingin yang lebih sempurna lagi. Kita sadar masih ada yang belum kita peroleh. Ilmu itu menajdi penting karena kita cinta dengan ilmu, kekuasaan itu penting karena kita mencntai kekuasaan, dan seterusnya. Pada akhirnya, segala sesuatu tidak akan ada artinya. Nilai cinta adalah mengisi segala sesuatu.

Instrumentalitas cinta, untuk apa cinta: pertama, antara alat dan tujuan. Saat sampai pada tujuan, alat sudah tidak digunakan lagi; untuk itu perlu mendefinisikan tujuan. Kedua, antara derita dan bahagia. Ketiga, bahagia dalam derita, tentang bagaimana pecinta sejati ia akan tetap bahagia, bahkan dalam keadaan tidak beruntung sekalipun. Dia bisa menikmati penderitaannya sebagai kebahagiaannya. Hal ini dapat dialami oleh orang yang beribadah dengan level yang berbeda.

Kaidah cinta sama seperti kaidah ‘irfan, akhir adalah kembali ke awal, al-nihayah al-ruju ilal bidayah. Ini adalah gerak turun dan gerak naik. Memulai dari ketiadaan dan berakhir dengan ketiadaan; memulai dengan derita dan berakhir juga dengan derita. Salah satu tokoh utama dalam cinta, Ali bin Abi Talib sebagai murid terbaik Nabi saw. bermunajat dalam doa Kumail, “ilahi sobartu ala nihari narik (Tuhanku aku pasti sabar berada di panasnya nerakamu), fakayfa ashbaru ‘ala firaqi (bagaimana mungkin aku akan sabar berpisah denganmu).” Ungakapan cinta ini seseorang mau dalam derita, asal tetap bersatu, agar tetap bersambung, melihat yang dicinta.

Naskah cinta Abdurrahman Jami, Yusef wa Zulaikha berisikan kidung cinta yang penuh penderitaan. “Hati yang hampa cinta bukanlah hati, laksana tubuh hanyalah air dan lumpur tanpa derita hati.” Maka jangan berharap cinta di dunia ini yang hanya bahagia, karena cinta bagi para sufi, bukanlah yang seperti itu. “Derita cinta janganlah sirna dari setiap hati, karena tanpa cinta di dunia, tiada hati sejati; Langit bingung dan berputar karena cinta, semesta ini memang serba kacau dan gaduh cinta; Jadilah tawanan cinta hingga kamu merdeka, jangan pendam deritanya di dada, bahagialah!”

Di antara pemabok cinta yang menuangkan mabok cintanya dalam bait-bait puisi adalah: Jalaludin Rumi, Fariduddin Attar, Hafez Shirazi, Jami Yusuf va Zulaekha (dan Surat Yusuf, tafsir sufi, ini pengecualian karena terdapat dalam Alquran). 4 tokoh ini sama-sama menulis bait cintanya dengan penderitaan. Bahkan Fariddudin Attar dalam Musibat Nameh, menulis kumpulan puisi cinta itu sebagai bencana dalam 1 karya khusus. Menutup paparannya, Yai Ammar membacakan pernyataan Al-Hallaj: “Dua rakaat dalam cinta (mi’rajul mukmin yaitu dengan solat, untuk bisa solat dan sah, maka perlu wudlu, dan wudlu harus sah), yang tidak sah wudlunya kecuali dengan pengorbanan, dengan penderitaan dan dengan darah.”

Merespon beragam pertanyaan peserta, Yai Ammar menegaskan bahwa cinta gila apakah berbahaya atau tidak itu tergantung objeknya. Kalau yang dicintai adalah Tuhan dengan bimbingan agama, maka cintanya baik. Namun apabila dunia, selain Tuhan, maka sudah jelas cintanya pasti berbahaya. Ini adalah kaidah yang digunakan para sufi untuk membagi cinta. Cinta bagaimana yang merusak dan berbahaya? Indikatornya secara agama, untuk kehidupan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, peran agama itu penting, untuk membimbing cinta. Bukankah agama tidak lain adalah cinta, karena dengan agama cinta terbimbing.

Alat menyelamatkan diri dari cinta gila yang objeknya bukan Tuhan adalah agama. Agama yang rasional dan bisa difahami, bukan doktrin. Apakah seluruh ajaran agama rasional? Ujar Yai Ammar, tidak ada dalam agama yang irasional. Kalau agama dirasa tidak rasional, berarti melampaui akal, bukan berarti tidak rasional. Yang kurang dalam pengajaran agama kita adalah tentang kehidupan setelah kematian, demikian tegas Yai Ammar.

Yai Ammar juga menyanpaikan agar berbicara dengan publik sesuai kadar pengetahuan/pemahaman mereka. Oleh karena itu, para sufi menggunakan bahasa puisi, bahasa selingkung. Masing-masing kelompok mempunyai segmen dan kebutuhannya masing-masing, sehingga perlu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Sehingga, dalam konteks relasi rakyat-pemimpin, maka tidak bijak menggunakan bahas puisi, karena akan menimbulkan kesalah-fahaman.

Pun perlu diketahui bersama, cinta itu menuntut berlebihan. Hanya ada satu hal yang diizinkan untuk berlebihan, yaitu cinta. Kalau cinta dibatas-batasi, maka itu bukan cinta. Cinta itu serakah, itu kaidahnya. Keserakahan yang tidak ada batasnya. Cinta itu absolut, mutlak. Egoisme cinta itu mutlak sekaligus liberal. Cinta juga ingin berkuasa, punya otoritas, juga hedonis atas nama cinta. Tuhan itu tidak bisa dijangkau dengan apapun dan ilmu apapun. Apakah kita boleh ingin menjangkau Tuhan? kata Ibnu Arabi, tidak apa-apa. Kalaupun tidak bisa menjangkau realitas Tuhan, dan hanya menjangkau manifestasi Tuhan, tetap saja kita ingin melampaui jangkauan kita. Kata Ibnu Arabi, jangan dihilangkan keinginan itu, walaupun itu tidak mungkin. Ibnu Arabi mengatakan, batasan atas cinta tidak ada penutup, karena tidak ada batasnya sebagaimana mencapai Tuhan. Ibnu Arabi memetakan perjalanan ruhani secara ringkas menjadi 4, kemudian menjadi 40, 100, 10000 hingga tidak terbatas.

Nyatanya, manusia beragama masih terperangkap dalam memahami cinta Zulaikha sebagai cinta duniawi yang tidak lain menjadi cerminan diri sendiri, termasuk saya; padahal kitab suci mengisahkannya dan ditafsirkan para sufi sebagai kisah cinta yang bertransformasi menjadi cinta yang suci kepada Yang Maha Suci. Alih-alih sibuk memberikan label cinta milik orang lain, sudahkah diri ini mengidentifikasi cinta mana yang kita miliki pada Ilahi? Walaahu ‘alam bi al-shawwaab.

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Penikmat Kajian Filsafat dan Tasawuf

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan