Serial kelas “Isu-isu Feminin dalam Tradisi Spiritual Islam” Nuralwala yang ketiga (Kamis, 22 Mei 2025) mengambil tema “Sufi-sufi Perempuan” dengan pemateri Muhammad Nur Jabir, M.A (Yai Jabir). Kelas berlangsung selama satu jam setengah dengan dipandu oleh Darmawan Nuralwala. Yai Jabir membuka kelas dengan memberikan pengantar perihal tema ini dari perspektif ontologi Tasawuf. Secara ontologi Tasawuf, isu sufi-sufi perempuan bisa dimasukkan dalam kontestasi gagasan isu perempuan era kontemporer saat ini. Isu perempuan memiliki landasan filosofi yang kuat dalam dunia sufisme. Dalam kerangka dunia sufisme, ada yang namanya wahdatul wujud—realitas wujud—di mana semua hal dinisbahkan pada Tuhan; semuanya Tajalli Tuhan. Jalal dan Jamal, Awal dan Akhir, Zahir dan Batin, merupakan bagian dari konsep nama-nama Allah Swt. yang tidak terpisahkan.
Dimensi Jalal (keanggunan) dan Jamal (keindahan) adalah dua dimensi di mana nama-nama Allah Swt. yang lainnya pasti akan kembali pada dua dimensi tersebut. Setiap Jalal pasti Jamal, dan setiap Jamal pasti Jalal. Dua dimensi ini ada dalam diri semua manusia. Manusia, pada hakikatnya ia adalah roh. Saat turun ke dunia, maka ia memiliki tubuh. Tubuh inilah yang kemudian memiliki identitas laki-laki dan perempuan, sedangkan roh tidak memiliki identitas ini. Dengan kata lain, hakikat roh tidak dibatasi oleh dimensi jenis kelamin dan gender. Menilik dalam ayat-ayat Alquran, ketika ada pendapat yang dilontarkan para sahabat bahwa malaikat adalah perempuan, Nabi saw. menepis dugaan tersebut dan meminta agar sahabat tidak berpikiran demikian; karena malaikat dan mansia itu hakikatnya sama dalam dimensi roh. Lebih lanjut, dimensi Jalal dan Jamal sangat berimplikasi pada berbagai macam tafsir, Alquran maupun Hadis dalam konteks laki-laki dan perempuan.
Yai Jabir menyampakan, dalam sufisme, terdapat konsep Insan Kamil; baik laki-laki maupun perempuan, keduanya bisa menjadi sosok insan kamil ini. Jika tidak demikian, tentu tidak ada sufi perempuan. Seseorang bisa menjadi sufi apabila sudah masuk dalam maqam wilayah yang diraih dari 4 perjalanan rohaniyah. Perjalanan pertama, adalah perjalanan dari makhluk menuju Tuhan. Perjalanan ini adalah perjalanan menghilangkan hijab-hijab kegelapan. Ketika sudah tersibat tirainya, maka makhluk sudah sampai pada Tuhan. Perjalanan kedua, adalah perjalanan mengarungi asma dan sifat Allah Swt. seluas hakikat dengan dirinya. Perjalanan ketiga, adalah perjalanan dari Tuhan menuju tuhan kepada makhluk. Pada perjalanan ketika ini, sang salik biasanya diberikan bonus oleh Allah swt, seperti kitab, maupun karamah. Perjalanan keempat, adalah perjalanan di mana Tuhan perintahkan kepada salik agar kitab yang ia miliki disampaikan kepada umat.
Perjalanan atau maqam keempat ini disebut maqam Tabligh. Maqam di mana Tuhan memerintahkan kepada orang-orang pilihannya agar orang-orang tersebut menyampaikan apa-apa yang telah diterima dari tiga perjalanan sebelumnya. Ini adalah maqam para rasul yang umumnya didominasi oleh laki-laki. Perbedaan hanya pada tahapan Tabligh ini, karena adanya uzur yang dimiliki perempuan. Uzur di sini bukan dalam pengertian tubuh, akan tetapi, bagaimanapun perempuan memiliki batasnya dalam teks syariat. Kendati demikian, perempuan yang mencapai maqam wilayah ini tetap bisa memberikan apa yang menjadi bonusnya kepada murid-muridnya. Tentunya tabligh yang dimaksudkan bukanlah tabligh dalah konteks sekarang ini, tetapi apa-apa yang diraih dalam perjalanan ketiga sebelumnya. Hanya saja perempuan tidak diperintahkan memberikan apa yang diraihnya dalam perjalanan sebelumnya tersebut kepada publik secara luas, biasanya bersifat khusus/khawash kepada murid-muridnya. Perbedaan dalam hal ini konteksnya lebih kepada kemaslahatan secara syariat, tanpa menafikan hakikat yang menjadi kesamaan antar keduanya.
Banyak perempuan yang mencapai maqam Tablgih ini. Mereka diberikan maqam wilayah dan diberikan kitab pada mereka sebagai tanda maqam yang ia raih. Seperti yang didapatkan oleh Maryam ibunda Nabi Isa as. (QS. Al-Maryam ayat 16). Maryam adalah nabi yang membawa berita langit (anbaa’i) yang tidak diperuntukkan untuk umat, melainkan untuk dirinya sendiri (bukan nabi yang membawa syariat untuk diberikan kepada umatnya).
Yai Jabir melanjutkan, dalam realita sufi kontemporer, terdapat mursyid-mursyid perempuan, seperti yang ada di Turki, Prancis, Amerika (dan lainnya). Kehadiran mereka ini merupakan bagian dari eksistensi perempuan dalam sufisme, walaupun tetap banyak yang menentang karena mereka perempuan. Adapun dalam catatan sejarah, banyak nama sufi perempuan. Nama Rabiah dalam sejarah Tasawuf bahkan merujuk pada 4 orang berbeda, dan semuanya sufi. Di antara 4 nama tersebut, yang paling terkenal adalah Rabiah Al-Adawiyah, yang terkadang narasi karamahnya sering tertukar dengan Rabiah Al-Syamiyah.
Membahas sufi perempuan dan roh, ketika roh masuk pada tubuh perempuan, maka yang dominan adalah dimensi jamal tanpa menghilangkan dimensi jalalnya; demikian pula yang terjadi ketika masuk pada tubuh laki-laki, maka yang dominan adalah dimensi jalalnya tanpa menghilangkan dimensi jamalnya. Ini yang membuat tubuh perempuan didominasi dengan rasa. Akan tetapi, dalam tasawuf, jalal dan jamal tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, semua sufi berbicara dengan dan tentang cinta, karena cinta adalah kendaraan paling cepat dan terdekat menuju Allah Swt. Dalam term lain ada yang namanya zuhud yang menjadikan rasa khauf sebagai kendaraannya.
Merujuk pada definisi tobat yang dimiliki Rabiah Al-Adawiyah, tobat adalah hasil dari tawajjuh khusus Ilahi kepada hamba. Tobat akan sempurna dengan karunia Ilahi, bukan dari usaha seorang hamba. Seorang laki-laki ada yang bertanya pada Rabiah Al-Adawiyah, “Betapa banyak dosaku, andai aku bertobat, apa Tuhan menerimanya?” Jawab Rabiah, “Tidak, tetapi jika Tuhan memberimu tobat, maka kau akan bertobat.” Yai Jabir menegaskan, yang perlu kita sadari saat masuk dalam dunia sufi adalah haal. Haal adalah kondisi tiba-tiba yang ada dalam diri seseorang; sesuatu yang menggerakkan seseorang untuk melakukan yang baik; pemberian Allah Swt. yang menunjukkan bahwa Dia sedang menarik hamba-Nya. adapu tobat, ia hadir dalam setiap maqam yang ada dan senantiasa berlangsung secara terus-menerus dan bersifat dinamis. Sehingga, semakin dalam kita menuju Ilahi, maka semakin halus jiwa kita, semakin sensitif akan rasa. Kendati ada dalam setiap maqamnya, tobat dalam setiap pintu maqam tentu berbeda.
Yai Jabir melanjutkan membahas tentang derita dan luka. Dalam sufisme, derita dan luka akan menguatkan jiwa dalam mengarungi perjalanan menuju Tuhan, dan tak ada seorang pun yang bebas dari hal ini (derita eksistensial). Bagi Rumi, ada dua macam jenis derita, ada derita hitam dan derita hijau. Derita hitam membawa pada penyesalan menjauhkan kita kepada Ilahi. Dan derita hijau adalah derita yang membawa kita kepada Ilahi. Inilah yang membuat banyak orang takut masuk pada dunia sufi, seolah-olah ada jarak antara manusia dengan materi. Padahal ini bukan tentang memiliki materi, melainkan melepas kemelekatan dan melepas diri dari rasa memiliki tersebut. Jadi, hidup adalah tentant bagaimana dengan derita menjadikan manusia dekat dengan Tuhannya.
Rabiah dan para sufi lainnya memiliki munajat-munajat yang menjadi karakter perjalanannya. Munajat yang mereka lantunkan bukan lahir dari pikiran, melainan dari rasa yang hadir dalam dirinya. Kita akan akrab apabila kita masuk dalam munajat-munajat para sufi ini. Rabiah mengalami perjalanan spiritual dalam ibadah haji sebanyak tiga tahap. Haji tahap pertama, perjalanan spiritualnya masih dominan atas dimensi zuhud, ia masih bermunajat tentang pahala. Haji tahap kedua, perjalanan spiritualnya lebih dalam lagi, ia sudah masuk pada dimensi haal, ia sudah merasakan asma dan sifat-sifat Allah Swt. Haji tahap ketiga, hatinya sudah taalluq pada Allah Swt., bukan pada yang lain. Ini hanya tentang satu tokoh sufi perempuan, karena setiap sufi perempuan mempunyai berbagai karakter khusus. Setiap sufi laki-laki dan perempuan memiliki kaidah-kaidah yang menjadikan mereka layak sebagai seorang sufi.
Kemudian, dalam sesi akhir penulis bertanya, mungkinkan seseorang yang identitas agamanya bukan pengikut ajaran Nabi Muhammad saw. dapat menapaki maqam spiritual yang umumnya dilalui para sufi? Yai Jabir menyebutkan nama seorang teolog Nasrani yang bernama Meister Eckhart. Ia adalah teolog Jerman yang mengatakan bahwa Yesus adalah manifestasi Tuhan (Tajalli) (pandangannya ini menunjukkan bahwa tidak semua trinitas memiliki gagasan yang sama). Penjelasan Eckhart ini serupa dengan Ibnu Arabi. Eckhart, telah sampai pada maqam tertentu, sampai ia ditampakkan bahwa Yesus itu Tajalli. Ini dapat terjadi pada Eckhart (dan juga umat agama lainnya) karena rahmat Tuhan, karena ketulusan dan keikhlasan, sebagaimana perkataan Nabi saw, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta benda kalian, tetapi Dia hanya memandang amal dan hati kalian,” yang senada dengan QS. Al-Syuara ayat 88-89, “(yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak. Kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (qalbun salim).” Ringkasnya, apapun agamanya, apapun jenis kelaminnya, apabila dia datang dengan qalbun salim, maka dia bersama Tuhannya. Ya, apapun agamanya, dia bisa sampai pada maqam tersebut.
Perihal memiliki guru rohani bagi seorang pejalan rohani, Yai Jabir mengutip beberapa kaidah dalam Tasawuf, “Binasalah yang tidak memiliki mursyid; Siapa yang punya mursyid, seolah-olah sudah setengah perjalan sudah dia lalui; Perjalanan tanpa mursyid itu tertatih-tatih; Jangan berjalan tanpa Khidir (Mursyid), ketahuilah jalan ini gelap penuh bahaya (Rumi).” Oleh karena itu, pejalan perlu seorang guru untuk sampai pada Tuhannya. Hanya hitungan jari seorang sufi yang bisa sampai pada Tuhan tanpa mursyid. Mursyid itu di awal perjalanan saja, tidak sampai akhir, karena tugaa guru hanya membuka saja, selebihnya kita berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan dengan kondisi kita yang berbeda-beda. Mursyid itu pun cocok-cocokkan, karena ada stylenya, karena ini tentang jiwa, sehingga sesuai kebutuhan. Maka, alangkah lebih bagus berjalan dengan mursyid. Ibnu Arabi menurut penuturan Yai Jabir merupakan sosok yang tidak fanatik dengan satu tarekat tertentu; kalau masuk desa A ada tarekat, maka dia masuk dan berbaiat pada tarekat tsb, dst).
Merespon pertanyaan atas kesibukan zaman yang berbeda dengan zaman terdahulu, sehingga membuat salik tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan suluk, Yai Jabir menyampaikan, bahwa suluk-suluk klasik bisa ditransformasikan dengan suluk-suluk modern, asalkan tidak menghilangkan esensinya. Penjelasan Yai Jabir ini mengingatkan pada satu teknis suluk yang sudah ditransformasikan Abah Anom perihal khalwat. Abah Anom mengatakan pada murid-muridnya (pria maupun wanita), “Harus bisa merasa ramai di tempat yang sepi, dan merasa sepi di tempat yang ramai.” Ya, esensi khalwat tetap ada dalam hati, dengan senantiasa menyibukkan hati dalam mengingat-Nya dalam keadaan apapun secara lahirnya.
Paparan Yai Jabir dalam sesi ini, tidak saja membuat diri membuka sedikit tabir untuk mengenal diri lebih dalam lagi, tetapi juga membuka sekat-sekat yang selama ini memagari kita dengan mereka yang berbeda; baik itu secara berbeda jenis kelamin, gender, maupun keyakinan agama. Semuanya perbedaan itu adalah adalah tentang materi luar belaka, karena pada hakikatnya, semuanya sama dan hanya tentang-Nya.