Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Rasulullah: Tugasku Memperbaiki Akhlak Umat Manusia

Syekh Abu Sa’id bin Abu al-Khair: Kalau Berdoa Jangan Egois!

Di dalam buku Riwayat Auliya’ karya Muhammad Khalid Tsabit ada kisah menarik. Suatu ketika Syekh Abu Sa’id berkumpul di Nisabur dengan sejumlah syekh besar masa itu, antara lain: Imam al-Haramain Abu Muhammad al-Juwaini, Syekh Isma’il al-Shabuni, dan Syekh Abu al-Qasim al-Qusyairi. Mulailah mereka saling bertanya mengenai wirid yang dibaca oleh masing-masing di setiap malam. Ketika tiba giliran Syekh Abu Sa’id, mereka bertanya kepadanya, “Apakah wiridmu?”

Sang syekh menjawab, “Sesungguhnya aku setiap malam membaca: ‘Wahai Tuhan, berilah para murid sesuatu yang dapat mereka makan di esok hari’.”

Mereka pun memandang satu sama lain lalu berkata, “Wahai syekh, wirid apakah ini?”

Sang syekh menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda: ‘Sesungguhnya Allah menolong hamba-Nya selama sang hamba menolong saudaranya’.”

Mereka semua pun mengakui bahwa wirid sang syekh lebih sempurna daripada wirid mereka.

Kisah di atas sangat singkat, namun memiliki makna yang dalam dan menawan. Syekh Abu Sa’id memberikan contoh kongkret, saat kita sedang berdoa jangan fokus pada keperluan pribadi semata, melainkan kita harus peka pada hajat/kebutuhan orang lain—saudara, sahabat, teman, tetangga, guru, murid dan sebagainya. Inilah bentuk perwujudan rahmatan lil ‘alamin saat kita berdoa. Artinya, kita diajarkan agar dalam beribadah tidak individualistik.

Bukankah dalam setiap shalat—baik berjamaah maupun sendirian—kita diwajibkan membaca doa, “(Ya Allah) tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS. Al-Fatihah [1]: 6)? Lihatlah, betapa indahnya Allah mengajarkan kita melalui satu ayat ini. Meskipun kita sedang menghadap langsung kepada-Nya dalam shalat, kita tetap diajarkan untuk tidak melupakan orang lain. Perhatikan penggunaan kata “kami” dalam doa tersebut, bukan “aku”.

Hal ini menunjukkan bahwa ketika kita memohon petunjuk kepada Allah, kita tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga mendoakan keluarga, saudara, sahabat, bahkan orang-orang yang mungkin membenci kita. Doa “tunjukilah kami jalan yang lurus” mencerminkan nilai kebersamaan, kasih sayang, dan kepedulian yang luas, sebagaimana yang diajarkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Baca Juga:  Tiga Rintangan Bagi Pasutri yang Perlu Diwaspadai Menurut Imam al-Ghazali

Alhasil penjelasan ini menepis tuduhan bahwa ajaran tasawuf itu bukan ajaran asyik dengan dirinya sendiri, tetapi memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Kalau kita merujuk pada hadis Nabi, salah satu cara agar doa kita cepat dikabulkan ialah dengan mendoakan orang lain, terlebih orang yang membenci dan memusuhi kita.

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidak ada seorang muslim yang berkenan mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan itu kecuali malaikat mendoakan orang yang berdoa tersebut dengan kalimat ‘Kamu juga mendapat sama persis sebagaimana doa yang kamu ucapkan.” (HR. Muslim.)

Previous Article

Hakikat Relasi Laki-Laki dan Perempuan dalam Tafsir Sufistik: Perjalanan Bertemu Sang Maha Cinta

Next Article

Menapaki Tangga Spiritualitas: Belajar dari Kisah Zulaikha

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *