Spiritualitas adalah lawan kata dari budaya digital. Khususnya dalam hal manifestasi meditatif dan mindful-nya. Jika, di luar berbagai eksesnya yang lain, digital age merupakan kecepatan (baca: keterburuan) dan multitasking yang distraktif, maka spiritualitas mengajarkan kelambatan (bukan keterlambatan) dan fokus. Jika budaya digital digesa oleh kekhawatiran tentang keburukan masa depan yang harus dihindari, maka spiritualitas adalah ajakan untuk hidup atau selalu hadir di masa sekarang (being at present, now). Jika budaya digital menyebabkan kita diserbu info yang melimpah ruah, yang sebagian besarnya merupakan informasi junk (sampah, atau setidaknya tidak kita perlukan), maka spiritualitas diarahkan oleh kebijaksanaan (wisdom) dan hanya berfokus pada informasi-informasi yang benar, baik, dan bermanfaat. Akibatnya, budaya digital membuka ruang bagi stress yang lebih besar, dan berbagai masalah kesehatan mental lainnya, seperti depresi, anxiety, dan sebaiknya.
Di sinilah spiritualitas memiliki jalan untuk masuk, dan membantu manusia mengatasi persoalan kemanusiaan ini. Tapi, sebelum itu, spiritualitas seperti apa? Bukan saja ada juga bentuk-bentuk spiritualitas yang dekade, seperti model kelompok-kelompok apocalipse, kultus, dan sebagainya. Sebagiannya—yakni sebagian dari spiritualitas dekade ini justru sedikit banyak dibentuk oleh budaya digital itu sendiri.
Di sini mekanisme algoritmik banyak berperan dalam mengarahkan orang ke suatu bentuk spiritualitas tertentu, yang biasanya tertutup. Berkat ulah algoritme ini, orang seperti memakai kacamata kuda dalam melihat realitas ini. Oleh sebab yang sama, keterlibatan dalam kelompok spiritualitas, yang seharusnya membuka ruang tanpa batas bagi akomodasi dan penyalingkayaan, justru menjadikan spiritualitas bahan bagi mengerasnya gejala pasca kebenaran (post truth) dan politik identitas.
Lalu, digital spirituality juga bisa melahirkan pseudo spirituality akibat kelemahan dan ketiadaan resiliensi psikologis untuk tak mau begitu saja tunduk pada ketidakmasukakalan dan delusi. Bahkan, budaya digital bisa menjadi musuh spiritualitas dan bergerak ke arah pada musnahkannya. Dengan cara menguatkan budaya bantal—dangkal dan materialistik—yang merupakan antitesis langsung spiritualitas.
Bersama dengan itu berkembang pula apa yang biasa disebut sebagai digital spirituality atau digital religion, yang melibatkan teknologi digital, seperti AI, musik, aplikasi, dll untuk mengembangkan spiritualitas. Termasuk dengan mengembangkan “hari kemudian” (after life) digital yang dapat memperpanjang kehidupan melampaui kematian fisik. Sehingga lahirlah gagasan tentang transhumanisme. Suatu pengembangan dari digital religion/spiritual yang, tak pelak, bernuansa eugenics—yakni, gagasan tentang penyeleksian (apa yang dianggap) manusia unggul dan pemusnahan manusia lemah—juga.
Tentu bukan jenis spiritualitas seperti ini—transhumanisme, bahkan tidak juga digital spirituality—yang kita maksud bisa memberikan panacea bagi ekses budaya digital. Bukan!
Ya. Kita tentu tak bisa dengan serta menolak mentah-mentah fenomena digital religion atau spirituality ini. Toh di dalamnya bisa saja teknologi dipakai sebagai alat (tool) untuk mengembangkan spiritualitas yang positif di dunia virtual.
Tapi menggunakan tools digital atau tidak, tetap saja kita harus punya gagasan yang benar tentang bentuk spiritualitas apa yang harus dikembangkan khususnya di era (budaya) digital ini. Sebuah spiritualitas yang tetap menjadikan manusia dengan kelembutan ruhani (dan kerentanan darah daging) sebagai concern-nya.