ARTIKEL

Remaja dan Persoalan Bunuh Diri

Mei 22, 2026
4 menit membaca

Riset yang ditulis Yuval Noah Harari dalam bukunya, Homo Deus, menyatakan bahwa peradaban di abad ke-21 telah mencapai prestasi yang luar biasa karena mereka telah berhasil menemukan solusi dari penyebab terbesar kematian nenek moyangnya: kemiskinan, penyakit, dan perang.

Hari ini, angka kematian yang disebabkan kelaparan turun derastis. Justru sebaliknya, banyak orang mati karena obesitas––untuk tidak menyebut “kerakusan”. Hari ini, orang mati karena penyakit alamiah juga turun derastis. Sebaliknya, banyak orang mati karena pola hidup yang tidak sehat. Hari ini, orang mati karena perang hampir jarang, karena kita telah berhasil menciptkaan kesadaran kolektif akan hak hidup bersama. Justru sebaliknya, angka bunuh diri dibanyak negara mengalami eskalasi yang serius, berbarengan dengan terciptanya perdamaian antar suku, agama, dan negara.

Di Indonesia sendiri, dilansir dari data Pusiknas Bareskrim Polri, tercatat ada 1.270 kasus bunuh diri sejak 7 November 2025, dengan rata-rata lebih dari 100 kasus per bulan. Puncaknya terjadi pada bulan Oktober 2025 dengan jumlah mencapai 142 kasus. Mirisnya lagi, kasus bunuh diri ini paling banyak dialami oleh mereka yang masih remaja. Penyebab utamnya adalah depresi, asmara, konflik internal, hingga ketidakpastian hidup.

Paradoks serius terjadi di sini: di satu sisi, dengan perkembangan teknologi, era modern menawarkan banyak sekali kemudahan dalam hidup. Namun di sisi yang lain, banyak orang mengalami persoalan internal yang acap kali membawanya pada pilihan untuk mengakhiri hidup. Dari sudut pandang filosofis, khususnya dalam diskursus kontemporer, apa yang hari ini dialami oleh banyak remaja adalah satu kekosongan akan makna dan tujuan hidup.

Banyak dari kalangan remaja yang merasa hidup begitu datar. Apalagi dengan lahirnya budaya scrolling,  yang di mana informasi––entah yang fakual maupun tidak––begitu cepat diakses, banyak dari mereka yang diombang-ambingkan oleh algoritma.

Hanya perlu satu sentuhan dan sedikti gerakan jempol, mereka sudah bisa melihat remaja sebayanya yang sedang pamer rumah dan mobil mewahnya. Bersamaan dengan itu, dengan cara yang sama, mereka melihat “kekejaman” segerombolan remaja yang membuli teman sebayanya.

Hanya dengan beberapa menit mata mereka melihat layar HP, sudah belasan bahkan puluhan informasi yang masuk ke dalam otak mereka. Dan tanpa meraka sadari, informasi itu mengintervensi, merubah, dan mengontrol––secara gradual––cara mereka melihat dan memahami kehidupan.

Bayak dari mereka yang merasa dibohongi oleh kehidupan. Ketika mereka merasa sudah mempraktikkan tutorial “kaya” secara instan dari para infuencer, mereka tidak mendapatkannya.

Ketika mereka sangat terobsesi dengan satu sosok “daring”, mereka akan meniru bukan hanya cara berbusana, tetapi juga cara mereka memahami diri mereka dan kehidupan secara umum. Namun, tetap saja, lambat laut, hanya kekosongan yang mereka rasakan. Ketika mereka melihat kebejatan para pejabat negara dan tokoh agama, mereka merasa hidup ini benar-benar kejam dan tidak ada otoritas yang bisa dipercayai. Ketika mereka mencoba mencari kedamian hidup dengan berpacaran, bukan kedamaian yang mereka dapat, tetapi penghianatan yang berujung pada depresi akut. Semua persoalan ini memiliki akar yang kuat pada hilangnya makna dan tujuan hidup mereka.

Hari ini––ketika ribuan informasi yang mereka peroleh dari scrolling mengaburkan identitas dan paradigma hidup yang telah dibentuk oleh orang tua, guru, dan lingkungan mereka––mereka yang berusia remaja benar-benar tidak memahmi apa arti hidup yang sebenarnya. Narasi-narasi yang sedari kecil mereka peroleh, entah itu berasal dari agama, suku, budaya, maupun negara, hilang seketika ketika mereka melihat konten-konten di media sosial. Padahal, kisah-kisah itulah yang meberi makna dan identitas pada diri mereka. Mereka tidak mengerti apa arti menjadi seorang Muslim, Jawa, dan Indonesia?

Ketika kredibilitas suatu kisah mulai pudar, orang akan kehilangan pegangan hidup. Dan ketika orang hidup tanpa kepastian, hanya kekosongan yang mereka rasakan. Pengukuhan akan doktrin agama dan nasionalisme adalah kunci dari krisis identitas-eksistensial yang menjangkit banyak remaja hari ini. Fokus negara tidak boleh hanya tertuju pada pembentukan kompetensi teknis belaka, tetapi juga memenuhi kebutuhan terdalam (batin) dari individu.

Para pemuka agama tidak boleh hanya berfokus pada penciptaan kader kelompoknya masing-masing dan menutup mata pada persoalan ini. Aspek terdalam pada manusia, spiritualitas, harus menadi fokus utama para pemuka agama. Lingkungan keluarga, sebagai bangku sekolah pertama, harus secara intensif menanamkan nilai-nilai luhur agama dan budaya. Dan tidak hanya mendorong anak agar memperoleh prestasi akademik belaka.

Peradaban modern memang sebuah keniscayaan yang harus dihadapi. Namun, tunduk pada arus zaman, tanpa mengukuhkan orientasi, makna, dan identitas hidup adalah akar dari hilangnya nyawa calon generasi kita.

Musuh terbesar remaja hari ini bukanlah virus, kelaparan, atau perang, tetapi algoritma yang mencoba mendestruksi makna dan identitas yang sedari kecil telah ditanamkan oleh leluhur mereka.

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Mahasiswa UIN Raden Mas Said, Surakarta.

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan