Begitu besar kerusakan akhlak sebelum masa dakwah Rasulullah SAW. Sebut saja antara lain adalah membunuh bayi perempuan, perzinaan di mana-mana dan sampai memuja berhala di sekitar ka’bah. Oleh karena itu, Nabi Muhammad diutus Allah SWT dalam rangka memperbaiki mental, kebejatan manusia pada era tersebut.
Bagi penduduk Mekkah, setiap malam selalu memgerjakan maksiat yang berada di pinggiran kota. Semua jenis maksiat dilakukan mulai berjudi, minum minuman keras, prostitusi sampai saling membunuh. Semua lapisan masyarakat melakukannya, para pemuka suku seperti Abu Sofyan juga kaya raya sering mengadakan pesta sambil mabuk-mabukan. Lalu penduduk yang dalam kekurangan turut serta meramaikan pesta tersebut masuk dalam pusaran kemaksiatan juga. Serta tidak terbatas pada usia, mulai remaja, dewasa dan orang tua gemar melakukan kemaksiatan.
Dalam budaya mereka, justru aneh bila ada orang yang tidak suka maksiat seperti yang ada pada diri Muhammad (sewaktu itu belum diangkat menjadi Rasul). Kemaksiatan mereka digambarkan dalam surah Al-Lahab, yang mendeskripsikan Abu Lahab yang gemar maksiat mendapat azab di akhirat bersama istrinya. Allah menunjukkan bahwa seorang ahli maksiat akan mendapat hukuman yang berat yang akan menjadi beban ruhnya dihadapan Allah SWT.
Maka Rasulullah pun datang untuk memperbaiki akhlak mereka semua. Agar terhindar dari segala bentuk kemaksiatan yang menghancurkan diri di alam keabadian. Beliau memulai dakwah dengan mengajarkan ketauhidan. Suatu bentuk akhlak yang paling tinggi di antara kebaikan lainnya. Jika manusia dapat berakhlak kepada Tuhan yang patut disembah, maka ia tentunya akan otomatis kepada sesama makhluk juga berakhlak baik.
Demikianlah Rasulullah menjalankan misinya yaitu 13 tahun di Mekkah sebagai periode Makiyah. Lalu lanjut 10 tahun di Madinah dengan sebutan periode Madaniyah. Syukur Alhamdulillah, Rasulullah berhasil menyingkirkan berhala dari daerah tawaf sekitar ka’bah. Tapi Rasulullah juga berpesan agar umatnya juga menghilangkan semua berhala yang bersemayam di hati. Sehingga umatnya mendapatkan akhlak mulia dihadapan sang pencipta. Begitu juga, Rasulullah dapat menciptakan masyarakat yang madani di Madinah. Di mana saling menjaga kehormatan satu sama lainnya, sehingga mempunyai akhlak yang baik dengan sesamanya. Dengan demikian Rasulullah secara umum dapat melahirkan fondasi bagaimana kehidupan berakhlak yang baik di muka bumi.