Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Refleksi Pendidikan ala Pesantren (2): Pendidikan Model Asrama

Ramadhan dalam Bingkai Dualitas Struktur

Sejarah kompleks mengenai diturunkannya syariat puasa Ramadhan 14 abad yang lalu, memahamkan kita pada hubungan yang erat antara tindakan individu dan struktur masyarakat. Singkat cerita, masyarakat Arab pra-Islam menyebut istilah ramadh untuk sebuah musim paceklik yang hebat. Rentang waktu tersebut tidak hanya berdampak pada krisis pangan, akan tetapi juga mengakibatkan krisis kemanusiaan seperti tindak kriminal (pencurian, penjarahan, dan sebagainya) hingga perang antar kafilah.

Kondisi demikian disebut oleh masyarakat sebagai bulan Ramadhan. Tahun kedua Hijriyah (624 Masehi), Al-Qur’an membawa kabar tentang diwajibkannya kaum muslimin menahan diri dari makan, minum, serta hawa nafsu yang berapi-api seiring musim paceklik di tanah Arab. Dalam konteks tersebut, syariat (puasa Ramadhan) adalah manifestasi perubahan struktur sosial di masyarakat melalui perbaikan perilaku individu.

Tiga belas abad berselang lamanya, entah kebetulan atau tidak, seorang pakar sosial kelas dunia bernama Anthony Giddens (1987) mengenalkan konsep duality of structure (dualitas struktur). Dosen sosiologi University of Cambridge itu menyebut terdapat korelasi yang tak terpisahkan antara individu dan struktut sosial. Dengan kata lain, tindakan individu dipengaruhi oleh struktur sosial yang ada. Termasuk individu itu sendiri berkontribusi dalam terciptanya struktur sosial melalui tindakan mereka.

Konsep Dualitas Struktur

Lebih lanjut dalam konsep ini, individu diposisikan sebagai subjek aktif atau berfungsi sebagai agen. Giddens (1987) menyebut seorang individu yang menjadi agen, harus memiliki reflextive action (tindakan reflektif), yaitu pemahaman akan konsekuensi atau akibat sosial dari suatu tindakan. Artinya ia memiliki kemampuan analisa terhadap setiap tindakan yang dilakukannya akan berdampak sedemikian rupa di masyarakat.

Tindakan reflektif memungkinkan seorang individu menjadi agen struktur sosial. Dalam mengemban misi sebagai agen, ia juga dituntut untuk selalu dinamis serta kritis. Sehingga kontribusinya bertujuan menciptakan, mempertahankan, atau mengubah struktur sosial. Misalnya pada konteks sejarah puasa Ramadhan di atas, syariat menuntun agar individu menciptakan stabilitas sosial dengan cara menahan diri. Sebab kekacauan yang terjadi adalah akibat individu yang mempertahankan sifat bengis di saat masyarakat sedang krisis.

Baca Juga:  Makrifat Taubat

Dengan begitu sumber daya yang serba terbatas tidak menjadi persoalan berarti. Setiap individu mampu membatasi keinginan masing-masing dan tidak membahayakan individu lainnya. Tidak ada lagi pencurian dan penjarahan karena lumbung pangan menipis, perang akibat keserakahan menguasai wilayah ‘potensial’ pun berhenti, setiap individu saling memahami konsekuensi tindakan. Individu bangsa Arab yang dituntut menjadi agen oleh syariat, telah menjadi kekuatan transformasional.

Praktik yang diulang-ulang secara refletkif itulah cikal bakal perubahan sosial. Nilai, norma, aturan, dan institusi yang menjadi bagian integral struktur sosial turut menciptakan stabilitas sosial di bulan-bulan selain Ramadhan. Oleh karena itu, interaksi yang kompleks antara individu dengan struktur sosial juga menjadi catatan penting. Sebagaimana yang diidealkan oleh Giddens, individu dan struktur sosial adalah seperangkat instrumen yang saling berkaitan.

Menjadi Agen Ramadhan

Tindakan reflektif memungkinkan seorang agen berperan dalam perubahan sosial. Dari sana Giddens (1991) sangat tidak merekomendasikan agen untuk pasif dan hanya mengikuti struktur sosial yang telah berjalan. Begitu pula pada bulan Ramadhan, seorang muslim tidak ditempatkan sebagai produk. Nabi Muhammad SAW ketika naik ke atas mimbar mengamini sentimen negatif terhadap individu yang membiarkan Ramadhan berlalu begitu saja.

Sebagaimana dikutip Ibnu Hibban dari Abu Hurairah:

Sesungguhnya tadi Jibril tadi datang kepadaku, ia berkata: ‘Barangsiapa yang menjumpai bulan Ramadhan namun ia tidak mendapatkan ampunan, maka ia masuk ke dalam neraka dan Allah menjauhkannya. Katakanlah: ‘Amin’. Maka aku pun mengucap ‘Amin’.” (‏Sahih Ibnu Hibban: 907)

Tentu seorang muslim harus bertindak layaknya agen seperti yang dijelaskan dalam konsep dualitas struktur. Bulan Ramadhan dengan struktur sosial sekarang telah jauh berbeda dengan pertama kali syariat puasa diturunkan. Upaya untuk melakukan tindakan reflektif lebih terbuka dengan struktur sosial yang mendukung. Datangnya Ramadhan pun  disambut dengan hangat oleh masyarakat terutama yang berada di tempat mayoritas muslim.

Baca Juga:  Berdramaturgi dengan Uzlahnya Imam Al-Ghazali

Institusi tertentu bahkan merancang kegiatan selama berbulan-bulan sebelumnya untuk menghidupkan Ramadhan. Spirit ibadah dan sedekah naik pesat dibanding saat bulan-bulan lain. Dengan struktur sosial seperti itu, seorang muslim mendapatkan momentum yang tepat guna melakukan tindakan reflektif. Interaksi antara individu dan struktur sosial ketika Ramadhan, idealnya berjalan secara intensif. Apakah individu kita akan menjadi agen Ramadhan tahun ini? Mari bertindak reflektif.

Previous Article

Whirling Dervishes: Dari Rindu Jadi Obat

Next Article

Keutamaan Republik dalam Gagasan Politik Cicero

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *