Cinta membius manusia. Hingga rasa sakit tak terasa. Apalagi jika yang menimpakannya adalah sang kekasih. Dikisahkan bahwa sebagian orang yang sedang jatuh cinta pernah melakukan suatu pelanggaran. Lalu penguasa menghukumnya dengan seratus cambukan. Ia tidak merasakan sembilan puluh sembilan di antaranya dan tidak meminta pertolongan sedikit pun. Namun ketika cambukan yang menyempurnakan jumlah seratus dijatuhkan, barulah ia berteriak minta tolong. Ketika ditanya tentang hal itu, ia menjawab: “Mata yang karenanya aku dihukum sedang memandang kepadaku. Aku menikmati pandangan itu, sehingga aku tidak merasakan jatuhnya cambukan di punggungku. Ketika cambukan yang genap seratus dijatuhkan, pandangan itu menghilang dariku. Barulah aku merasakan jatuhnya cambukan, dan aku pun berteriak meminta tolong.”
Syekh Akbar Ibn ‘Arabi berkata: “Aku pernah melihat seorang perempuan salehah di Makkah, Faṭimah binti al-Taj. Ayahnya memukulnya dengan pukulan keras padahal dia tak melakukan pelanggaran apa-apa. Tapi ia tidak merasakan pukulan itu. Ia merasakan adanya sesuatu yang menjadi penghalang antara punggungnya dan jatuhnya cambukan, sehingga cambukan itu mengenai penghalang tersebut. Ia mendengar bunyi cambukan dengan telinganya dan merasa heran karena tidak merasakannya. Hal serupa juga pernah kami (Ibn ‘Arabi) alami pada masa awal perjalanan kami, dalam sebuah kisah yang panjang.”
Ini juga yang terjadi dengan Allah, Sang Kekasih. Allah dapat senantiasa menganugerahkan kenikmatan dalam segala keadaan, bahkan kesulitan dan penderitaan. Sebab, kenikmatan bukanlah suatu tambahan di luar hakikat kelezatan yang berdiri pada diri seseorang; sebagaimana cobaan bukanlah sesuatu yang tambahan di luar keberadaan hakikat rasa sakit. (Dikutip dari Al-Hubb wal Mahabbah Ilahiyah, kompilasi tulisan Ibn ‘Arabi tentang cinta dan cinta Ilahi, suntingan Muhammad Mahmud Ghurab).
Kisah Layla-Majnun di bawah ini juga menggambarkan sikap seorang kekasih terhadap kesusahan yang datang dari yang dikasihinya.
Suatu kali Qays (Majnun) mengantri makanan di pesta yang diadakan Layla. Layla sendiri yang melayani mengambilkan makanan. Setelah menunggu dan sampai antrian terdepan, sehingga dekat dengan Layla, Qays menjatuhkan piringnya. Akibatnya dia harus mengantri lagi dari awal. Sampai ke hadapan Layla untuk kedua kalinya, Qays menjatuhkan piringnya lagi. Begitu terjadi sampai 3 kali. Di kali ketiga itu Layla dengan kesal menegur: “Kenapa selalu kau jatuhkan piringmu setiap aku akan mengambilkan makanan buatmu?!”
Ketika orang menegur Majnun karena ulahnya itu, Majnun menjawab: “Kekesalan Layla itulah yang kutunggu.” Karena, bagi Majnun, bahkan teguran kekasih terdengar menyenangkan dan menjadi dambaan orang yang mencinta. Itulah ridha.
Konon beginilah keadaan orang-orang mukmin di akhirat nantinya jika harus disiksa oleh Allah Swt.
Bagi mereka yang menjadikan Allah sebagai kekasih—sesembahannya, pandangan cinta kepada Sang Kekasih akan menghalanginya dari merasakan kesakitan karena siksaannya. Kemarahan Sang Kekasih, bahkan, adalah sesuatu yang didambanya. Karena kemarahannya adalah kesempatan kita bertemu dan memandangnya.