ARTIKEL

Mensyukuri Hidup Setelah Sakaratul Maut

Penulis

Haidar Bagir
Mei 13, 2026
5 menit membaca

da seorang teman yang hari ini mengajarkan kepada saya sesuatu yang tak pernah bisa diajarkan oleh buku mana pun. Ia adalah penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik—PPOK. Sebuah penyakit yang, bagi kebanyakan orang, kalau pun dia paham, mungkin hanya terdengar sebagai istilah medis yang dingin. Tapi bagi dia, itu adalah pengalaman hidup yang begitu nyata, begitu menggerogoti—setidaknya mungkin begitu kesan orang—sekaligus terkadang begitu sunyi.

Dia menunjuki saya rekaman videonya ketika serangan itu datang. Tidak ada drama besar yang menunjukkan kekacauan atau keramaian. Tidak ada teriakan. Yang ada hanya suara orang tersengal-sengal, akibat napas yang tiba-tiba menjadi sesuatu yang mahal. Sangat mahal. Ia berdiri dengan kedua tangan bertelekan sandaran kursi, sedikit membungkuk. Tidak meronta-ronta, malah seperti berusaha berdamai dengan udara yang tak lagi mau bersahabat. Padahal memang tak ada lagi daya dan upaya yang bisa dilakukan.  Setiap upaya hanya menghasilkan suara seperti orang mengejan ringan, tanpa hembusan nafas, maka bagaimana bisa menghasilkan udara yang dibutuhkan?

Ketika saya mengatakan tak ada kekacauan dan kebisingan, itu sama sekali bukan karena keluarganya tidak peduli. Orang-orang di sekitarnya—istri dan anak-anaknya—mungkin menanggung beban yang hampir sama beratnya. Mereka harus menyaksikan orang yang mereka cintai berjuang di ambang napas, tanpa punya daya sedikit pun untuk menolong. Hanya bisa membiarkannya sendirian berjuang antara hidup dan mati. Karena hanya membiarkan itu saja yang bisa mereka lakukan. Berusaha menolongnya, dengan menepuk punggung, atau melakukan gerak heimlich, justru akan menambah penderitaannya. Mereka hanya bisa berdiri di dekatnya, menunggu, berharap dan, dalam diam, mungkin berkomat-kamit memanjatkan doa, menanggung ketidakberdayaan yang begitu menyiksa.

Jika sedang begitu, merogoh obat semprot dari kantong celana pun pun tak bisa dia lakukan. Semua otot tubuhnya teregang ke sana kemari tanpa bisa dia kontrol. Pada titik tertentu, malah bukan hanya napas yang sulit dipertahankan, melainkan juga kendali atas tubuh sendiri. Dia sendiri yang bercerita, bahkan secara tak terkendali kotoran keluar dari saluran pembuangannya, begitu saja. “Persis seperti orang yang sedang meregang maut,” katanya.

Serangan itu kadang hanya berlangsung dua menit. Kadang bisa sampai sepuluh menit. Tapi dalam pengalaman seperti itu, waktu kehilangan maknanya. Dua menit terasa panjang. Sepuluh menit? hampir tak terbayangkan. Bayangkan sepuluh menit tanpa oksigen—atau lebih tepatnya, sepuluh menit berjuang mati-matian hanya untuk bisa mendapatkan sesuatu yang tadinya begitu saja kita dapatkan tanpa usaha.

Begitu lama dan besar penderitaan itu dia alami, hingga bahkan dokternya—yang sudah delapan tahun merawatnya—sudah seperti merasa si pasien adalah anggota keluarga sendiri. Pernah suatu kali, ketika teman saya memperlihatkan kepadanya video saat ia mengalami gagal napas, dokter itu tidak mampu melihat ganbar-gambar yang bergerak dalam ponsel si pasien, malah kemudian meneteskan air mata karena iba yang luar biasa.

Tapi, di tengah-tengah ceritanya kepada saya, ia juga menambahkan sesuatu yang membuat saya merenung. Ia berkata bahwa penderitaannya itu mungkin seperti yang dirasakan seorang ibu ketika melahirkan. Rasa sakit yang memuncak, yang seakan tak tertahankan—lalu tiba-tiba mereda. Dan setelah itu, datang rasa lega yang dalam, kelegaan yang hampir seperti mengalami hidup kembali setelah mengalami sakaratul maut.

Saya tidak tahu seberapa tepat perbandingan itu. Tapi saya bisa merasakan, bahwa—sadar atau tidak—dia bermaksud mengatakan: Ada semacam transisi dari penderitaan menuju kelegaan yang begitu kontras, sehingga kelegaan itu sendiri bisa terasa sebagai nikmat yang luar biasa.

Ya, dari ceritanya, saya melihat sesuatu yang sulit saya jelaskan: dalam antara horor dan kepayahan, saya melihat kepasrahan. Teman-temannya bercerita, bahwa setelah mengalami sakit PPOK ini, dia—yang sejak sebelumnya sudah dikenal sebagai orang baik—menjadi lebih khusyuk lagi dalam hubungan dengan Tuhannya.

Dan di situlah, saya teringat sabda Nabi, bahwa tidaklah seorang mukmin tertimpa kelelahan, sakit, kesedihan, bahkan hingga tertusuk duri, melainkan Allah menggugurkan dosa-dosanya karenanya. Jika tertusuk duri saja demikian nilainya, lalu bagaimana dengan napas yang harus diperjuangkan seperti ini?

Bahkan, jika kita merujuk Al-Qur’an, cobaan akan dibalas busyra (kabar gembira) yang, oleh (sebagian dari) para penafsir dipahami sebagai pencerahan spiritual. Memang harga yang harus dibayar untuk suatu pencerahan spiritual adalah kesabaran menerima cobaan. Tak mustahil suatu cobaan yang berat.

Saya tidak berani mengatakan bahwa saya memahami sepenuhnya penderitaannya. Tapi saya tahu, setiap detik yang ia lalui dalam sesak itu bukan sekadar rasa sakit fisik. Ia adalah proses pemurnian. Sebuah jalan sunyi yang mungkin, justru karena beratnya, menjadi jalan yang sangat dekat dengan rahmat Allah.

Maka, saya pun mengatakan kepadanya—dengan hati-hati, sedapat mungkin tanpa berpretensi untuk tampak bijak—bahwa saya percaya kesabarannya dalam menanggung penyakit yang ia alami ini, adalah jalan pembersihan dan penyempurnaan diri dari dosa-dosa, dan dari kekurangan-kekurangan yang menempel dalam kemanusiaannya. Yang kita semua, sebagai sesama manusia, pasti juga memilikinya. Ia hanya mengangguk dan mengaminkan.  

Yang membuat saya semakin terharu adalah bahwa di sela-sela semua itu, ia masih selalu tampil bersemangat, bahkan ceria.

Dari dia, saya belajar bahwa kesehatan bukan sekadar kondisi tubuh, melainkan sebuah nikmat yang hampir tak pernah kita syukuri dengan sungguh-sungguh. Saya juga belajar bahwa penderitaan, betapapun beratnya, tidak identik dengan absurditas hidup belaka. Sebaliknya, di dalamnya terkandung ruang spiritual yang menyodorkan makna yang membebaskan.

Kepasrahan, rasa syukur terhadap hidup, terhadap keluarga dan sahabat, serta pencerahan spiritual yang mengambil jalan lain untuk hadir dalam kehidupan.

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Penulis belum menambahkan bio / deskripsi profil pada pengaturan akunnya.

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan