Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  BERTEMU AL-GHAZALI DI BASEMENT SEBUAH TOKO BUKU DI HARVARD SQUARE (BAGIAN 2)

Menerima Ambiguitas dan Absurditas sebagai Jalan Menuju Kebebasan

Dalam hidup, kita kerap dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban final: siapa kita, apa yang kita inginkan, mengapa kita berada di sini, dan bagaimana kita seharusnya menjalani kehidupan yang baik. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya menyingkap kegelisahan eksistensial, tetapi juga menyingkap ambiguitas mendasar tentang keberadaan manusia.

Simone de Beauvoir, salah satu pemikir eksistensialis paling berpengaruh, menegaskan bahwa untuk memahami diri kita dan orang lain, kita harus berani berdamai dengan ambiguitas ini. Kita bukan sekadar makhluk yang hidup dalam kepastian, tetapi justru didefinisikan oleh ketidakpastian, kebebasan, dan pilihan-pilihan yang tak pernah sepenuhnya mapan.

De Beauvoir percaya bahwa kebebasan sejati tidak mungkin dicapai tanpa perlawanan terhadap penindasan. Kita hidup dalam dunia di mana norma-norma sosial, struktur kekuasaan, dan tatanan moral sering kali diciptakan untuk mengekang kebebasan individu. Menjalani kehidupan yang etis, menurutnya, berarti berani menantang kekuatan-kekuatan yang mengobjektifikasi dan mengurung manusia dalam kategori-kategori yang kaku.

Di sisi lain, upaya untuk mencapai kebebasan itu juga memunculkan paradoks: bagaimana mungkin kita menjadi benar-benar bebas jika kita senantiasa terikat pada keberadaan orang lain dan dunia yang absurd? Absurditas di sini bukanlah sekadar kekacauan atau kebingungan emosional, melainkan kenyataan bahwa hidup tidak memberikan makna yang melekat.

Albert Camus, yang senada dengan de Beauvoir dalam banyak hal, menyebut absurditas sebagai benturan antara kerinduan manusia akan makna dan ketidakpedulian alam semesta. Kita haus akan jawaban, sementara dunia bersikap diam. De Beauvoir, alih-alih menolak absurditas, justru mengajukan sikap yang berbeda: absurditas harus diterima, bukan dihindari. Sebab, justru melalui penerimaan terhadap absurditas dan ambiguitas itulah kita menemukan kemungkinan untuk menciptakan makna sendiri dan membangun etika kebebasan.

Di dalam kondisi eksistensial ini, kita menemukan dilema mendasar. Apakah ambiguitas merupakan kondisi alami manusia, ataukah kita hanya tersesat karena telah kehilangan struktur mitologis yang selama berabad-abad membimbing kita? Dalam masyarakat tradisional, mitos, agama, dan norma kolektif menjadi jangkar eksistensial yang menenangkan: manusia tahu perannya, tahu bagaimana ia harus hidup, dan tahu kemana ia akan pergi setelah kematian.

Baca Juga:  Menyelam Bersama Bima dalam Perjalanan Bertemu Dewa Ruci

Di dunia modern, jangkar itu tercabut. Kita berada dalam ruang liminal, suatu ruang di mana makna lama runtuh tetapi makna baru belum sepenuhnya ditemukan. Ruang liminal ini memunculkan rasa gamang. Kita tidak lagi hidup dalam struktur mitologis yang mapan, tetapi juga belum memiliki peta moral yang pasti. Dalam kekosongan inilah absurditas menjelma menjadi pengalaman sehari-hari: kegelisahan menghadapi pilihan yang tak terhitung jumlahnya, kecemasan akan masa depan, dan perasaan terasing dalam dunia yang terus berubah.

Kita bertanya pada diri sendiri: apakah kebebasan benar-benar membebaskan, ataukah ia justru membebani? Simone de Beauvoir memberi jawaban yang tajam namun tidak mudah: kebebasan adalah beban sekaligus anugerah. Menjadi bebas berarti mengakui bahwa kita tidak bisa bersandar pada struktur eksternal untuk memutuskan siapa kita dan bagaimana kita harus hidup. Tidak ada lagi mitos yang bisa membebaskan kita dari tanggung jawab pribadi.

Kita sendirilah yang harus menciptakan makna melalui tindakan, keputusan, dan komitmen kita. Dengan kata lain, etika tidak lagi ditemukan, melainkan diciptakan. Kebebasan yang radikal ini bukanlah kebebasan yang egoistik. De Beauvoir menegaskan bahwa eksistensi manusia bersifat intersubjektif: kita hanya dapat menjadi diri kita yang otentik melalui pengakuan terhadap kebebasan orang lain. Artinya, menjalani kehidupan yang etis berarti memelihara ruang kebebasan bersama, melawan semua bentuk penindasan yang merampas kemungkinan orang lain untuk menentukan dirinya sendiri.

Di sinilah ambiguitas eksistensi manusia menjadi jelas. Kita adalah subjek sekaligus objek, bebas sekaligus terikat, unik sekaligus bagian dari komunitas. Kita mendambakan kepastian, tetapi hidup menolak memberikannya. Kita merindukan makna universal, tetapi hanya dapat menciptakan makna personal. Kita ingin hidup dalam tatanan yang stabil, tetapi justru hidup menuntut kita untuk terus melampaui batas-batas yang ada.

Baca Juga:  Ijtihad Modernisasi Muhammad Abduh (1)

Ambiguitas ini bukanlah kelemahan, melainkan esensi dari keberadaan manusia itu sendiri. Masalahnya, banyak orang tidak tahan menghadapi ambiguitas. Mereka memilih untuk kembali ke pelukan struktur mitologis, memeluk dogma atau ideologi yang memberi mereka rasa kepastian. Di satu sisi, ini bisa menjadi bentuk pelarian yang wajar dari kita semua, pada titik tertentu, merindukan kepastian.

Di sisi lain, ketakutan terhadap ambiguitas juga dapat melahirkan penindasan. Ketika seseorang atau kelompok merasa telah menemukan “kebenaran absolut,” mereka cenderung memaksakan kebenaran itu pada orang lain. Penindasan lahir dari ketidakmampuan untuk menerima bahwa orang lain memiliki kebebasan yang sama sahnya dengan kebebasan kita.

Dalam konteks inilah, menjalani kehidupan yang etis berarti mengakui bahwa kebebasan kita tak dapat dipisahkan dari kebebasan orang lain. Kita tidak bisa memaknai diri kita sendiri tanpa membuka ruang bagi orang lain untuk memaknai dirinya. Kita tidak bisa menemukan otentisitas jika kita merampas hak orang lain untuk menentukan kehidupannya. Menurut de Beauvoir, inilah fondasi etika eksistensialis: mengakui ambiguitas manusia sekaligus berkomitmen pada proyek bersama untuk membebaskan eksistensi.

Menerima ambiguitas juga berarti menerima absurditas. Jika kita merangkul ambiguitas diri, kita melepaskan diri dari struktur mitologis yang selama ini memberi kita kepastian. Kita harus berani hidup tanpa jaminan, tanpa pegangan mutlak. Bagi banyak orang, ini menakutkan. Tetapi justru dalam ketakutan itulah kita menemukan kemungkinan kebebasan. Absurditas, bagi de Beauvoir, bukanlah musuh; ia adalah ruang kosong di mana makna dapat diciptakan.

Merangkul absurditas bukan berarti menyerah pada kekacauan, melainkan mengakui keterbatasan kita sekaligus merayakan potensi kita. Ketika kita berhenti mencari makna universal yang diberikan dari luar, kita mulai menciptakan makna yang lahir dari dalam diri. Kita mulai memahami bahwa nilai-nilai etis bukanlah hukum-hukum abadi, melainkan hasil dari dialog, negosiasi, dan tanggung jawab bersama. Inilah yang membedakan kebebasan eksistensialis dengan kebebasan liberal yang murni individualistik.

Baca Juga:  BERTEMU AL-GHAZALI DI BASEMENT SEBUAH TOKO BUKU DI HARVARD SQUARE (BAGIAN 2)

Kita hidup di dunia di mana teknologi, globalisasi, dan perubahan sosial mempercepat krisis makna. Dunia menjadi semakin kompleks, dan ambiguitas semakin terasa. Namun, di tengah kompleksitas ini, pemikiran de Beauvoir memberikan arah: etika bukan tentang mengikuti aturan yang sudah ada, melainkan tentang menciptakan ruang kebebasan bersama, melawan penindasan, dan menerima keterbatasan kita sebagai manusia.

Menjalani kehidupan yang etis berarti berani berada dalam ketidakpastian. Kita tidak lagi menggantungkan diri pada struktur mitologis atau jawaban universal, melainkan terus-menerus menciptakan makna melalui tindakan. Kita tidak lagi lari dari absurditas, melainkan menjadikannya bagian dari eksistensi kita. Kita tidak lagi memisahkan kebebasan pribadi dari kebebasan kolektif, melainkan menyadari bahwa keduanya saling terkait erat.

Simone de Beauvoir mengajarkan bahwa hidup yang etis bukanlah hidup yang mudah. Ia menuntut keberanian untuk menerima ambiguitas, menghadapi absurditas, dan memperjuangkan kebebasan,  baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Hidup etis adalah hidup yang sadar bahwa tidak ada makna yang diberikan, bahwa setiap makna harus diciptakan, dan bahwa dalam proses menciptakan makna itu, kita bertanggung jawab atas dunia bersama.

Dengan demikian, kita sampai pada pemahaman yang mendalam: merangkul ambiguitas berarti merangkul kemanusiaan kita sendiri. Dengan merangkul kemanusiaan itu, kita menemukan kebebasan yang sejati; kebebasan yang tidak dibangun di atas penyangkalan absurditas, melainkan justru lahir dari keberanian untuk menatapnya secara langsung.

Previous Article

Sebelum Ngerti Filsafat, Manusia Sudah Berfilsafat

Next Article

Shalat dan Reka Adegan di Padang Mahsyar

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *