“Tanpa musik, hidup adalah kekeliruan”, kata Niestche. Meski Stephen Pinker—sambil berpendapat bahwa bahasa mendahului musik—mengatakan bahwa tanpa musik tak akan banyak yang berubah dalam kehidupan ini. Sebaliknya, Nietsche yakin bahwa musik mendahului bahasa. Kenyataannya bahasa tak mungkin bisa dipahami dengan baik tanpa punktuasi dan irama. Apalagi syair. Irama syair sejatinya adalah musik. Tak ada syair tanpa musik. Irama syair disebut sebagai “meter”. Atau wazn, dalam bahasa Arab.
Mungkin pandangan para ahli fikih ini dekat dengan keyakinan Pinker. Ahli fikih biasanya bersikap kritis, atau setidaknya netral terhadap musik. Sebagian menolak. Ibn Taymiyah, seorang ahli fikih yang strict, terang-terangan menolak musik. Sebagian Muslim memaknai ungkapan lahwul hadits dalam Al-Qur’an (Surat Luqman ayat 6)—yang arti aslinya adalah perkataan yang main-main/serampangan— sebagai juga mencakup musik.
Nah, di tengah berbagai pandangan ini, kaum sufi cenderung mempromosikan musik sebagai salah satu sarana mencapai elevasi/pengungkitan spiritual. Salah satu istilah yang dipakai adalah sama’ atau sema’—yang arti aslinya adalah audisi (mendengarkan). Maknanya mencakup mendengarkan musik, lagu-lagu (kasidah), atau pun syair. Dalam tradisi tertentu, kadang disertai gerakan-gerakan khusus atau tari-tarian. Tari-tarian menonjol dalam tarikat Mawlawiyah, misalnya.
Dalam pemahaman tasawuf ini, sema’ membangkitkan dzauq (cita rasa spiritual), menggerakkan imajinasi ruhaniah menuju Allah, membantu terjadinya tajalli (penyingkapan ilahi), dengan cara mengaktifkan ingatan ruhani terhadap asal-usul Ilahiah manusia.
Ya, bagi kaum sufi, adanya musik di alam semesta merupakan ayat-ayat Ilahiah, yang menunjuk kepada sifat keindahan (jamaliyah) Allah Swt. Maka, mendengarkan musik mengangkat pendengarnya kepada sumber dari pertanda-pertanda itu.
Selain Rumi, al-Ghazali juga memujikan sema’ tapi memastikan agar perbuatan ini tidak menjadi eksesif, sehingga hukumnya menjadi haram. Maka, dalam Ihya’, al-Ghazali menulis khusus tentang adab/etika sema’. Ibn ‘Arabi terasa lebih tegas mendukung musik. Selain—seperti disinggung di atas—dia percaya akan sifat musikal alam semesta, Ibn ‘Arabi juga menyitir hadis yang di dalamnya Nabi diriwayatkan mendengar musik (tamborin) yang dinyanyikan seorang perempuan tua kepadanya.
Selain itu, dikatakan juga dalam sebuah hadis bahwa, kelak, para bidadari akan menyanyi untuk para penghuni surga. Diriwayatkan oleh At-Turmudzi dan An-Nu’man bin Sa’ad, Rasulullah bersabda, “Di dalam surga terdapat kumpulan manusia-manusia suci (hurul ‘ayn) yang mengangkat suara-suara mereka (bernyanyi) dengan melodi dan irama yang paling indah, yang tak pernah didengar oleh manusia di dunia ini...”
Selain itu, Abu Hurairah juga meriwayatkan sebuah hadis sebagai berikut:
“Di surga terdapat sungai yang sepanjang pinggirnya berdiri gadis-gadis yang berhadap-hadapan sambil menyanyi dengan suara-suara merdu yang didengar oleh seluruh isi surga. Dan itulah kelezatan yang tiada taranya.” Mendengar keterangan Abu Hurairah itu para sahabat bertanya,
“Lagu apakah yang mereka nyanyikan, wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah berkata, “Jika dikehendaki Allah lagu mereka (berisi) tasbih (pemurnian), tahmid (pemujian), taqdis (penyucian), dan sanjungan-sanjungan lainnya terhadap Allah Swt.”
Ya, tentu saja, musik spiritual bukanlah musik dekaden, yang memancing syahwat liar. Sebaliknya, musik spiritual melembutkan hati dan memuliakan tingkah laku. Dan justru mentransendensikan kerendahan dunia, seraya mengangkat pendengarnya ke arasy yang lebih luhur.
____
Sejak kecil saya selalu merasa dibawa kepada ilham kebaikan oleh musik—musik-musik yang cultured, tak peduli apa pun genrenya. Tentu termasuk musik-musik sufi seperti musik-musik sema’ Turki, atau Nuba dari Andalusia, dan Qawwali dari anak benua India. Tapi juga dangdut, pop, jazz, country, dll, tak terkecuali juga musik-musik etnis.
Belakangan ini, misalnya, saya suka, antara lain, mendengarkan Mon Rovia. Seorang penyanyi yang mengungsi dari suasana konflik di negerinya di (Liberia) ke AS. Musiknya, yang beraliran folk Afro Appalachian sangat menginspirasi. Syair-syairnya berkisah tentang orang-orang yang tercerabut dari akarnya karena terpaksa mengungsi akibat konflik, selain juga banyak menyentuh problem psikologis manusia modern.
Musik bagi saya, menimbulkan keharuan, mengembangkan kekaguman kepada orang-orang baik, dan meresonansikan empati orang kepada orang-orang susah. Lebih dari itu, musik selalu mampu mengusir kegundahan yang sering menyelimuti hati saya, lalu mengkristalkan rasa syukur akan semua karunia yang kita dapat.
Tanpa banyak harus berteori, musik bagi saya adalah salah satu elemen paling penting dalam hidup. Maka, lebih dari Nietsche, dan didasari beberapa hadis yang biasa dikutip orang di atas, saya akan bilang: “Tanpa musik, bahkan surga pun akan banyak berkurang kenikmatannya.”
WalLaah a'lam
(Saat mengetik baris-baris tulisan ini, saya sedang menikmati Mon Rovia Radio di Spotify, yang juga melantunkan lagu-lagu Hazlett, Thomas LaVine, dan yang sejenisnya)