Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Sekadar Corat-Coret tentang Imajinasi

Keikhlasan Rumi

Rumi sedang memberikan penjelasan sesuatu kepada murid-muridnya. Tiba-tiba ada seseorang mendatangi kerumunan tersebut dan lalu mengomentari isi pembicaraan yang ada. Kemudian Rumi mengatakan secara spontan: “Apa yang Bapak ketahui tentang pembicaraan ini sementara tidak mengikuti dari awal.” Sejenak bapak itu terdiam, dan lalu membalas dengan ucapan sebagai berikut: “Buang saja tumpukan buku di atas meja untuk belajar hikmah lagi yang perlu diketahui.” Mendengar perkataan sang bapak, Rumi menjadi sangat kaget. Karena justru ia banyak mendapatkan sejumlah ilmu, pelajaran dengan membaca buku.

Rumi pulang dengan tubuh lunglai dan wajah pucat. Ia berpikir siapakah gerangan bapak tersebut yang memberikan kejutan tersebut. Sambil merenung Rumi menghayati teguran yang menampar dirinya ini.  Setelah itu, ia memutuskan untuk berguru kepada bapak yang membuat dirinya instropeksi sedalam ini. Pada titik ini, Rumi mulai menyadari bahwa ia harus lebih banyak belajar tentang hikmah kehidupan. Yang bisa jadi tidak didapat dari buku atau bangku sekolah. Sosok yang dijadikan guru oleh Rumi ini bernama Syam Tabrizi. Beliau seorang ahli hikmah yang mendalami ajaran tasawuf secara komperehensif. Sangatlah tepat Rumi menjadi murid Syam Tabrizi yang sesuai dengan harapan Rumi sebagai seorang Sufi.

Hari-hari Rumi menghabiskan waktunya bersama Syam. Di mana Rumi sangat mencintai gurunya penuh kasih sayang. Begitu juga Syam sangat menyayangi muridnya. Mereka tenggelam dalam lautan cinta. Dari niat, ucapan dan tindakan semuanya berlandaskan cinta. Dari perjalanan ini, Rumi sangat menemukan kebahagiaan dalam kehidupannya. Pada gilirannya Rumi dan Syam sudah menyatu yang banyak memberikan vibrasi kepada lingkungan sekitar. Masyarakat dengan senang hati kemanfaatan dari kedua sosok ini. Melahirkan karya-karya seperti menghidupkan kajian-kajian, melahirkan puisi-puisi cinta serta pelajaran kehidupan lainnya.

Baca Juga:  Ziarah ke Sebalik Sungai Amu Darya (Bagian 3)

Hubungan antara murid dan guru ini dapat dikatakan tidak akan terpisahkan. Dari apapun halangan yang dihadapi serta rintangan yang menghadang. Namun kedua sosok ini, tetaplah sebagai manusia yang merupakan makhluk dari ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Pada suatu hari di tengah keserasian dan kecocokan dalam memberikan kemanfaatan. Tiba-tiba Syam sang guru menghilang pergi dari kehidupan Rumi. Tanpa ada pesan bahkan pemberitahuan sedikitpun, tidak ada berita kenapa sang guru pergi begitu saja. Rumi berusaha mencari ke seluruh pelosok kota yang ditempati. Tapi hasilnya nihil, semua cara sudah ditempuh. Tetap Syam Tabrizi tidak ditemukan di mana gerangan keberadaannya.

Menghadapi kenyataan ini sangat memukul jiwa Rumi. Semakin lama semakin tidak tertahankan rindu Rumi terhadap sang guru. Namun akhirnya Rumi sadar bahwa masalah ini hanyalah sebuah peristiwa yang akan menjadi hikmah. Kemudian ia menyatakan dalam sebuah bait pusi bahwa luka batin merupakan jendela untuk masuknya cahaya ilahi. Dari kehilangan inilah menuntun Rumi menjadi seorang yang ikhlas. Bahwasanya cinta yang hakiki itu hanyalah bersama kekasih yang abadi yaitu Allah SWT. Sampai Rumi menyadari ia harus ikhlas kehilangan Syam demi menemukan cinta sejati kepada Sang Pencipta.

Previous Article

Penderitaan dan Kesakitan yang Ditimpakan Kekasih Tidak Akan Menyakitkan

Next Article

Semua Orang adalah Orang dengan Special Needs. Karena itu, Selalulah Penuh Pemahaman dan Permaafan

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *