Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Tentang Makar Allah

Belajar Membangun Rahmah Tanpa Syarat pada Semua Makhluk

Pertemuan terakhir kelas “Hidup Bersama Rumi” yang diadakan oleh Nuralwala berlangsung pada Kamis, 18 Desember 2025. Habib Dr. Haidar Bagir (Bib Haidar) selaku pengasuh Nuralwala mengambil tema “Membangun Empati Bersama Rumi” untuk disampaikan kepada para santri Nuralwala pada kajian malam tersebut. Bib Haidar memulai paparan dengan menjelaskan bahwasanya akar dari empati adalah cinta; dimana pathy berasal dari pathos (bahasa Yunani) yang artinya cinta. Sehingga, empati dapat dimaknai sebagai kemampuan diri untuk dapat terhubung dengan orang lain melalui cinta. Pada puisi dan syair Rumi, karya-karya tersebut didominasi tentang cinta. Dapat dibilang, Rumi adalah penyair cinta, dan cinta adalah inti ajaran Rumi.

Bib Haidar menegaskan, empati berhubungan dengan rahmah. Tentu ada perbedaan antara cinta dalam konteks mawaddah dan dalam konteks rahmah yang biasa ditekankan dalam relasi pernikahan. Perbedaannya adalah: mawaddah adalah konsep cinta yang muncul terhadap kesempurnaan sesuatu yang kita cintai, yang mana kondisi tersebut membuatnya jatuh hati; adapun rahmah adalah kecintaan pada sesuatu yang tidak disebabkan karena sesuatu itu sempurna sehingga kita jatuh hati, melainkan membuat kita menjadi jatuh iba, belas kasih. Hubb/mahabbah ada pada dua konsep cinta ini: mawaddah dan rahmah. Rahmah memiliki tingkatan lebih tinggi daripada mawaddah, karena cinta itu begitu saja muncul sebagai bentuk, ungkapan manusia yang mudah jatuh iba kepada penderitaan orang lain.

Seperti yang diketahui bersama dari pemikiran para sufi, bahwasanya sifat Allah Swt. yang utama adalah kecenderungan untuk jatuh iba kepada makhluknya. Hubb dalam kaitannya dengan Allah Swt. bermakna rahmah. Makhluk Allah jelas tidak sempurna, namun Allah cinta justru karena ketidak sempurnaannya itu. Kalau sesuatu itu tidak sempurna, kita mungkin tidak jatuh iba, melainkan jatuh cinta. Dalam istilah Yunani Kuno, jatuh iba diistilahkan sebagai agape, dan jatuh cinta sebagai eros. Sehingga, saat membahas empati ala Rumi, empati yang dimaksud adalah empati sebagai rahmah, belas kasih.

Rumi mengatakan bahwa belas kasih yang menimbulkan cinta dan empati adalah bagian dari inti keberagamaan/ketuhanan kita. Dalam syair-syairnya, faham Rumi berisikan tentang wahdatul wujud secara implisit. Ya, meskipun disampaikan dengan syair, pemikiran Rumi sangatlah wahdatul wujud, demikian penafsiran Bib Haidar berdasarkan bacaan terhadap karya Rumi. Dalam pandangan Rumi, empati tidak saja tentang kebajikan sosial. Kebajikan sosial adalah hasil dari suatu metafisis tentang kesatuan wujud; dan dalam konsep kesatuan wujud, semua makhluk berhubung dengan Tuhan, dan semua makhluk saling terhubung antara satu dan lainnya. Semua makhluk Tajalli Allah (tidak pernah lepas dari Allah), dan semua makhluk berasal dari Allah yang sama, dan berbeda hanya dalam hal mahiyah-nya (forma luarnya). Dengan kata lain, wujud intinya sama-sama dari Allah dan tidak bisa lepas; sehingga, makhluk yang tidak memiliki rahmah atau empati pada sesama makhluk yang lain, khususnya manusia, maka dia adalah manusia yang terpecah, tidak utuh. Terpecah di sini adalah dia tidak lagi sebagai manusia, karena persoalan persatuan ini tidak saja persatuan etis. Kondisi ini membuat manusia tidak utuh, ada yang hilang dalam dirinya. Bib Haidar mencontohkan sebagaimana kayu yang terlepas dari pokoknya sehingga tidak utuh, dan sebagian dari kayu itu sempal; demikian juga manusia yang tidak memiliki empati kepada sesama makhluk Allah, bukan makhluk lain yang rugi, melainkan diri kita karena kita menjadi diri yang tidak utuh, tidak lengkap.

Bib Haidar kemudian mengutip satu bait syair Rumi yang artinya, “Jika engkau tidak memiliki empati—kemampuan merasakan-penderitaan manusia, maka engkau tidak layak disebut manusia.” oleh karena itu, kaum sufi yang mukasyafah, melihat manusia tidak selalu dalam rupa manusia, tapi juga dalam rupa anjing, monyet. Hal ini karena yang bersangkutan bukanlah manusia dalam konteks empati ini. memiliki empati adalah bagian dari ontologi manusia sebagai unsur dari kebersatuan dengan makhluk Allah yang lain, sekaligus kebersatuan dengan Allah Yang Maha Rahmah. Rahmah akan selalu ada pada setiap manusia, ia tidak akan bisa hilang, namun dapat tertutupi, sehingga ia tidak kelihatan. kondisi jiwa yang tertutup/terhijab oleh nafs/ego ini membuat diri terputus dari rasa kebersamaan eksistensial dengan makhluk lain. Ketidakmampuan berempati bukan sekedar cacat etis, melainkan tanda keterasingan ontologis, jiwa yang lupa akan asal-usulnya. Kondisi seperti inilah yang dimaksud Rumi sebagai manusia yang tidak layak disebut sebagai manusia.

Baca Juga:  Hijrah (16) : Manusia, Kesalahan, dan Pertobatan

Bib Haidar melanjutkan, empati dalam ajaran Rumi itu berakar pada kenyataan bahwa pada tingkat terdalam, jiwa-jiwa manusia tidak sepenuhnya terpisah. Dalam Mathnawi pun Rumi berulang kali menegaskan bahwa perbedaan individual bersifat lahiriah, sementara realitas batin bersumber dari satu ruh/wujud yang sama. Dalam kerangka inilah penderitaan orang lain bisa dirasakan sebagai penderitaan diri sendiri. Sehingga, kita harus berhati-hati, saat ada sesama makhluk yang menderita namun kita tidak terusik, maka kita harus segera bertaubat. Karena kemanusiaan kita yang diwakili oleh sifat walas asih sedang terhijab; jika tidak, kita pasti ikut menderita. Sifat Rasulullah sebagai insan al-kamil adalah kemampuannya untuk merasakan penderitaan orang lain, tidak saja pada kaum mukmin, tapi juga kaum kafir.

Rahmah merupakan pantulan langsung dari sifat Ilahi. Tuhan dalam pandangan Rumi adalah Maha Pengasih yang bukan hanya bersifat abstrak, tetapi juga sebagai realitas yang terus mengalir ke dalam hati manusia. Dalam ghazalnya, Rumi menuliskan, “Cinta dan kasih sayang adalah sifat Tuhan; siapapun yang memilikinya, (maka ia) telah mengambil bagian dari sifat-Nya.” Demikianlah yang dimiliki oleh Rasulullah, karena sifat rahmah Tuhan yang ditanamkan dalam hatinya, beliau menjadi utusan akhir yang berhati lunak, rahmah, santun, selalu menolong, dan tidak pernah diam melihat penderitaan orang lain. Bib Haidar tegaskan, tidak hanya Rasulullah saja, semua manusia memiliki potensi yang sama dalam hal ini, tergantung kemampuan kita dalam mengaktulisasikan sifat tersebut. Seluruh asma Allah jika dikerucutkan maka terangkum pada sifat welas asih-Nya. Syiir-syiir Rumi mencerminkan pola yang konsisten bahwasanya rahmah bukan hasil usaha moral yang kaku, melainkan akibat dari keterbukaan hati terhadap cinta Ilahi. Seseorang menjadi welas asih karena egonya menipis dan ruang batinnya menjadi lebih lapang (kosong dari hal-hal yang membesarkan ego). Hati yang lapang inilah yang membuat manusia merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Hati yang lapang adalah hati yang siap menampung welas asih Allah. Dan welas asih yang dimiliki manusia adalah aliran listrik yang tidak pernah terputus antara kita dengan-Nya, karena kita adalah tajalli-Nya.   

Bib Haidar meneguhkan, bahwa rahmah menurut Ibnu Arabi juga Rumi itu tidak bersyarat pada kelayakan moral dan juga fisik objeknya, juga tidak menunggu orang lain untuk pantas dikasihi. Dengan demikian kita harus mengasihi orang baik-orang jahat, orang muslim-non muslim, orang mukmin-kafir, semuanya harus kita cintai. Cinta, jika masih menuntut kelayakan fisik dan moral, berarti masih cinta pamrih, bukan rahmah. Rahmah-Nya Allah tidak hanya mengasihi pada makhluknya yang mukmin, namun pada semuanya, cintanya bersifat universal. Orang jahat pun perlu kita kasihi, namun bukan berarti kita menyetujui perbuatan jahatnya, itu hal yang berbeda. Orang yang berbuat jahat perlu dihukum. Dan hukuman dari Allah pun adalah tanda dari rahmah-Nya. Semua makhluk harus dapat menjadi objek welas asih/empati kita. Sebagaimana ghazal Rumi yang berbunyi, “Datanglah, datanglah, siapapun engkau; kafir, penyembah berhala, atau pemuja api. Ini bukan karavan keputusasaan.”

Lanjut Bib Haidar, jika kita membenci orang kafir, berarti kita putus asa karena beranggapan tidak mungkin orang kafir jadi baik. Lantas, siapa kita yang menghakimi jika ia kafir maka ia tidak mungkin menjadi mukmin? Siapa kita yang berani memutuskan pemuja api tidak akan menjadi penganut tauhid? Allah saja tidak berputus asa pada makhluk-Nya, Ia selalu membuka pintu taubat dan selalu bersedia mengampuni dosa manusia, lantas mengapa kita ingin mengunci pintu itu, siapa kita? Jika kita betul-betul memiliki rahmah Tuhan yang mengalir dalam diri kita, kita tidak aka pernah mengunci pintu bagi siapapun. Welas asih harus terbuka bagi semua. Jika kita membenci, penyembah berhala akan bertambah banyak, orang kafir akan tetap kafir, mereka akan tak ingin masuk ajaran Islam, karena orang Islamnya pembenci. Dengan welas asih, kita dapat membantu mereka untuk menemukan jalan yang benar dengan berdakwah dengan kebaikan. Ini adalah ajaran untuk bersama memiliki spiritual universal. Ya, kasih sayang tidak berangkat dari klasifikasi identitas atau penilaian moral, melainkan dari pengakuan akan luka dan kerinduan yang sama-sama manusiawi. Mengutip perkataan Dalai Lama, orang jahat itu sama seperti kita semua, sama-sama menginginkan kebahagiaan, namun bedanya cara mereka salah, dan cara kita mungkin saja betul. Oleh karena itu, orang yang memiliki cacat dan keburukan jangan dibenci, melainkan dibantu untuk menjadi lebih baik.

Baca Juga:  Ahlulkitab dalam Islam (4): Keakraban antara Islam dan Kristen

Hal ini sebagaimana ajaran Rumi yang mendefiniskan penderitaan sebagai rahmah Tuhan yang tersamar. Rumi tidak melihat penderitaan sebagai gangguan dalam perjalanan menuju Tuhan, melainkan sebagai bagian dari jalan itu sendiri. Setiap penderitaan itu ada Allah di sana, seperti saat kita sedih, di sana ada asma Allah, Al-Qahhaar. Pun saat kita melihat orang kafir dan orang jahat, jangan kita anggap tidak ada Allah di sana, di sana ada Allah yang sedang beroperasi pada orang itu. Seberapa buruk pun seseorang, seburuk apapun penderitaan yang dialami seseorang, seburuk apapun bencana yang menimpa seseorang, ada hikmah Allah yang harus kita capai di sana. Sehingga dalam salah satu ghazalnya, Rumi menuliskan, “Luka adalah tempat dimana cahaya masuk ke dalam dirimu.” Artinya, penderitaan orang lain bukan saja pertanda, peringatan bagi orang yang menderita, tetapi juga bagi orang lain yang melihat orang lain menderita. Itu adalah rahmahnya Allah Ta’ala. Bib Haidar menegaskan, bahwasanya pernyataan tersebut bukan dimaksudkan untuk meromantisasi penderitaan, melainkan untuk memperteguh bahwa keterbukaan terhadap luka (baik luka sendiri maupun luka orang lain) adalah jalan transformasi batin. Jiwa yang menutup diri dari penderitaan sesama berarti juga menutup diri dari cahaya; meskipun cahaya itu datang melalui orang lain.

Berdasarkan hal tersebut, kritik-kritik Rumi fokus pada keberagamaan yang melahirkan kekerasan hati. Bahkan dalam karya-karyanya, Rumi kerap menyindir mereka yang rajin beribadah namun keras terhadap sesama. Menurut Rumi, ukuran keaslian iman bukan terletak pada intenstas simbol keagamaan, melainkan pada kelembutan hati yang lahir darinya. Saat agama membuat seseorang tertutup akses empatinya, maka yang bekerja bukanlah iman, melainkan ego yang bersembunyi di balik simbol suci. Sehingga, empati dan rahmah dalam perspektif Rumi adalah konsekuensi dari satu keyakinan mendasar: bahwa manusia, pada kedalaman tertentu, saling terhubung. Maka, ketika seseorang mampu merasakan penderitaan orang lain tanpa dorongan untuk menghakimi atau mendominasi, sejatinya ia sedang bergerak mendekati hakikat dirinya sendiri. Sebagaimana bunyi ghazal Rumi, “Di luar gagasan benar dan salah, ada sebuah taman. Aku akan menemuimu di sana.” Bib Haidar menegaskan, sekali lagi, jika kita merasa benar dan ada orang yang kita anggap salah, hendaknya hal itu tidak memisahkan kita. Memisahkan diri kita dari orang yang kita anggap salah, buruk, menderita; itu adalah pukulan yang melukai diri kita sendiri, karena dengan itu kita telah me-nyempal diri kita dari keutuhan kemanusiaan, keutuhan kemakhlukan, dan juga hubungan dengan Allah Swt. Kita boleh menganggap orang salah atau juga buruk, namun ada satu daratan dimana kita bisa bertemu, yakni daratan saling menolong dan berbelas kasih.

Sebagai penutup paparan, Bib Haidar menjelaskan bahwa diksi ‘taman’ dalam ghazal tersebut bukanlah ruang relativisme moral (bukan baik dan buruk sama saja), melainkan ruang empati (tempat ego mereda, identitas yang terfregmentasi melembut, dan manusia berjumpa sebagai manusia. Menurut Rumi, di ruang itulah, cinta, welas asih da pengenalan akan Tuhan tidak terpisahkan lagi.

Merespon pertanyaan seorang santri, “Apakah seseorang harus terlebih dahulu merasakan penderitaan untuk bertemu cahaya?” Bib Haidar mengatakan bahwa tidak ada manusia yang terlepas dari penderitaan. Hal ini sudah disampaikan dalam Alquran, lanabluwannakum bi syai min al-khauf wa al-ju’I wa naqs ….. (Al-Baqarah: 155). Ya, Allah dengan tegas sudah mengatakan bahwa semua hamba-Nya pasti akan diuji dengan kadar ketakutan, kehilangan harta, kehilangan jiwa orang yang kita cintai dan juga penderitaan lainnya. Penderitaan adalah suatu keniscayaan, penderitaan adalah ujian, dan ujian pasti berbentuk kesusahan. Manusia tidak bisa menghindari kehidupan tanpa penderitaan, seperti sakit badan, ditinggal meninggal oleh orang terkasih, uang yang tidak cukup, atau juga dicekam ketakutan karena peperangan dan bencana alam. Apakah penderitaan merupakan sesuatu yang baik/Ujar Bib Haidar, “Iya, karena Rasulullah mengatakan: Jika Allah mencintai suatu kaum/kelompok, Allah akan mengujinya.” Dengan demikian, ujian adalah ungkapan cintanya Allah Swt.

Lantas, apakah penderitaan itu menghasilkan kesengsaraan? Jawabannya tidak mesti. Karena penderitaan itu tidak selalu menghasilkan kesengsaraan. Dalam studi tentang kebahagiaan, ada istilah underlying happiness, yakni garis kebahagiaan yang begitu kuat, sehingga apapun yang terjadi di atasnya dan dapat membuat kita tidak bahagia, itu tidak memiliki pengaruh apapun terhadap kebahagiaan kita. Kondisi ini seperti saat Rasulullah merasakan kesedihan ketika ditinggal meninggal dunia oleh istrinya, pamannya, maupun anaknya; tentu Rasulullah merasakan kesedihan, namun kesedihan yang beliau rasakan tersebut tidak menyebabkan beliau merasakan kesengsaraan, karena ada Allah Swt. di sana. Bib Haidar juga mencontohkan tentang kisah Qais dan Layla. Dimana Qais datang pada jamuan dan sengaja menjatuhkan piringnya sebanyak 3 kali dan membuat Layla marah. Orang-orang heran dengan sikap Qais. Namun, respon Qais diluar dugaan, baginya, kemarahan Layla adalah hal yang ia tunggu. Jadi kemarahan sesuatu yang kita cintai adalah sumber kebahagiaan. Demikian juga atas penderitaan yang Allah berikan pada kita sebagai hamba-Nya; karena pada dasarnya semua itu baik, dan yang menjadikan sesuatu sebagai kesengsaraan adalah kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus merespon segal sesuatu dengan baik dan melihat ada Allah di baliknya, serta bersabar atas ujian yang menimpa kita, dengan begitu kita akan bertemu dengan Cahaya, bukan kegelapan yang menumpuk di hati kita.

Baca Juga:  Tentang Makar Allah

Perihal ruang spiritual universal, seorang santri bertanya bagaimana bersikap pada orang-orang yang bersikap buruk dan merugikan kemanusiaan, seperti kasus Israel pada Palestina? Bib Haidar menjawab dengan mengatakan bahwasanya memerangi juga bagian dari cinta. Dengan pemaknaan demikian, cinta itu tidak selalu berkonotasi pada hal-hal lembek dan acuk tak acuh; memenjarakan, menghukum dan memerangi juga bagian dari cinta, asalkan tidak dengan motif benci. Dalam keburukan, kita perlu mendoakan baik dan juga membantu mereka untuk menuju jalan kebaikan. Ajakan persuasif, berperang, menghukum, juga memenjarakan itu tidak mengapa; yang tidak boleh adalah membenci, mendendam, dan mendoakan keburukan orang lain seburuk apapun dia. Oleh karena itu, saat Allah memberi cobaan yang berat pada manusia, itu adalah tanda cinta-Nya dan ingin hamba-Nya menjadi lebih baik lagi. Itulah mengapa, ujian dan penderitaan yang berat adalah sebuah keniscayaan. Dengan kata lain, dalam cinta itu tidak ada relasi antara sikap welas asih dan kelembekan/permisif terhadap kejahatan dan keburukan.

Pertanyaan ketiga dari santri Nuralwala adalah perihal konsep wahdatul wujud-nya Rumi, karena tidak hanya tentang kesatuan, namun juga ada keterpisahan, apakah terdapat dualitas dalam konsep kesatuan Rumi? Bib Haidar menegaskan, yang demikian bukanlah dualitas, karena Allah Swt. itu ada Dzat-Nya yang disebut ghayb al-ghuyub, dan ada tajalli-Nya yang disebut tanazul, dimana Allah menurunkan diri dalam martabat-martabat berbeda, ahadiyah, nur Muhammad, wahidiyah, penciptaan, khayal, dan syahadah. Semua ciptaan berpartisipasi pada wujud Allah Swt. Semua wujud selain Allah Swt. itu meminjam wujudnya Allah Swt., tentu dengan perbedaan martabatnya. Dan Allah itu tidak sama dengan makhluk-Nya berdasarkan Dzat-Nya, maksudnya Allah itu punya Dzat yang tidak bisa dicapai oleh makhluk-Nya.

Manusia sebagai makhluk-nya adalah ciptaan yang selalu kontinyu terhubung dengan Allah Swt. Jadi tidak ada makhluk kecuali makhluk itu melekat itu pada Khaliqnya. Perlu diketahui, antara makhluk dan Khaliq tentu ada kesamaan dalam sifat tasybih-Nya, namun bukan pada sifat tanzih-Nya/Dzat-Nya. Oleh karena itu, Ibnu Arabi mengatakan bahwa Allah itu adalah huwa la huwa, dia bukan dia. Ronggowarsito juga mengungkap hal serupa, Allah itu suwung sakjatining isi, yakni kosong namun isi, dan isi namun kosong. Allah itu kekosongan karena dia tidak sama dengan makhluk, namun dia juga isi karena memiliki sifat tasybih dengan sifat makhluk-Nya. Dia adalah Al-Wahid Al-Kathir, Dia Satu dalam Dzat-Nya dan banyak dalam tajalli-Nya. Konsep ini harus difahami sebagai paradoks, karena ada dan tiada.

Paparan Bib haidar ini sungguh menjerumuskan saya pada Untaian Mutiara Abah Anom, “Kudu asih ka jalma nu mikangewa ka maneh/harus menyayangi orang yang membenci kepadamu.” Ya, ini adalah ajaran spiritual universal yang dihunjamkan para guru sufi kepada murid-muridnya untuk menjadi pedoman meniti jalan makrifat guna mencapai kebahagiaan yang hakiki. Tugas manusia adalah mencinta, bukan membenci. Semoga kita semua mampu mengikis segala ego dalam ruang hati agar rahmah-Nya tidak pernah terhijab dari diri kita semua. Amiiin.  

Previous Article

Benarkah Hidup yang Tak Direnungkan Tak Layak Dijalani?

Next Article

Membangun Kesadaran Ekoteologis Melalui Penghayatan Makna Shalat ala Ibn ‘Arabī

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *