Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Menjadi Hamba, Menjadi Mulia

Doakan Orang yang Membencimu!

Dalam buku Wasiat Auliya karya Muhammad Khalid Tsabit ada kisah menarik dan menyentuh relung jiwa. Disebutkan di tengah hamparan pasir gurun Sahara yang sunyi dan tandus, seorang bijak bestari, arif, dan guru sufi, Syekh Ibrahim bin Adham, tengah menyendiri. Di tengah keheningan itu, sebuah pertemuan tak terduga terjadi.

Seorang tentara yang tengah menempuh perjalanan menemui Ibrahim dan bertanya dengan nada tergesa, “Di manakah pemukiman penduduk?”

Tanpa ragu, Ibrahim menunjuk ke arah pemakaman yang terbentang di kejauhan. Sang tentara merasa dipermainkan. Bagaimana mungkin pemakaman dianggap sebagai pemukiman? Merasa tersinggung, ia pun memukul Ibrahim.

Beberapa langkah setelah berlalu, seseorang memberitahu sang tentara, “Kau tahu siapa yang kau pukul tadi? Dia adalah Syekh  Ibrahim bin Adham!”

Terkejut dan menyesal, sang tentara segera kembali, memohon maaf atas tindakannya. Namun jawaban Ibrahim mengejutkannya.

“Sesungguhnya, ketika engkau memukulku tadi, aku memohon kepada Allah Swt agar Dia memberimu surga,” ujar Ibrahim dengan ketenangan yang dalam.

“Kenapa?” tanya sang tentara heran, tak percaya mendengar kebaikan yang sedemikian besar dari seseorang yang baru saja disakitinya.

Ibrahim menjawab, “Karena aku tahu bahwa aku akan mendapatkan pahala dari pukulanmu. Tetapi aku tidak ingin mendapatkan kebaikan darimu, sementara engkau justru mendapatkan keburukan dariku.”

Setelah membaca kisah ini, saya langsung menutup buku itu dan sedikit termenung bagaimana seandainya kalau hal ini terjadi padaku, apakah bisa tetap menampilkan akhlak Islam di tengah hal yang tidak mengenakkan terjadi, atau malah menjawab pukulan dengan pukulan pula, sehingga yang muncul ialah orkestrasi pertarungan duel satu lawan satu. Tapi, itulah yang ditampilkan oleh para bijak bestari, Islam mengajarkan kesabaran, pemaafan, dan doa dalam setiap keadaan. Kisah di atas bukan hanya tentang kesabaran luar biasa atau pemaafan yang tulus. Ibrahim mengajarkan sesuatu yang lebih dalam yaitu ketulusan dalam memberi maaf, tanpa meninggalkan luka dalam diam. Ibrahim bin Adham tidak sekadar memaafkan, ia bahkan mendoakan pelakunya dengan surga, karena ia tidak ingin pahala datang dari kesalahan orang lain.  

Baca Juga:  Menjadi Hamba, Menjadi Mulia

Kisah di atas adalah pelajaran moral yang sangat penting. Bahwa kebaikan sejati bukan hanya tentang menerima ujian dengan sabar, tapi juga tentang tidak menjadikan orang lain sebagai kendaraan menuju pahala (kemikmatan/kenyamanan), apalagi jika itu menyakiti mereka. Di era sekarang ini, di mana ego sering kali lebih tinggi dari hati, kisah Ibrahim bin Adham menjadi cermin untuk kita semua. Apakah kita mampu mendoakan seseorang yang menyakiti kita, bukan karena kita lemah, tetapi karena kita ingin menutup pintu keburukan untuknya?

Kisah ini mengingatkan saya pada kisah Nabi Muhammad saw saat berdakwah ke penduduk Thaif, bukan sambutan meriah yang didapat, tetapi hinaan dan lemparan batu yang mengenai pipi Nabi, dalam kondisi seperti itu Nabi malah mendoakan, “Ya Allah ampunikah mereka.”

Di kesempatan lain dikisahkan, Nabi pun memberikan ampunan dan doa kepada orang yang secara jelas akan membunuhnya yaitu ‘Umair bin Wahb al-Jumhi. Sikap Nabi yang seperti ini membuat hati pembencinya lunak dan siap untuk menerima cahaya Islam dengan penuh kesadaran dan kesiapan.

وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚفَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ

“Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS. Asy-Syura [42]: 40)

Yang paling menarik dari ayat ini ialah tidak menjelaskan secara rinci kebaikan/pahala yang akan diterima oleh orang yang menaafkan sekaligus berbuat baik kepada orang yang menyakitinya, ayat ini hanya menyebutkan pahalanya dari Allah. Ini isyarat bahwa kebaikan dan pahala yang akan diterima oleh orang yang memiliki karakter di atas ialah tak terhingga dasyatnya, sampai-sampai Allah merahasiakannya. Semoga Allah mendidik jiwa dan badan kita dengan akhlak yang mulia sehingga kita tergolong hamba-hamba-Nya yang selalu menyebarkan rahmat/kasih sayang dalam kondisi apapun. Amin

Baca Juga:  Mengulik Nasionalisme dalam Islam (1)
Previous Article

Berfilsafatlah

Next Article

Spirituality in The Digital Age

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *