Doa bukan sekadar permohonan, melainkan cerminan paling dalam dari pengakuan seorang hamba atas keterbatasannya di hadapan Allah SWT. Saat berdoa, seharusnya hati kita dipenuhi kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui segala kebutuhan kita. Bukan hanya mengetahui, Dia juga menetapkan segala sesuatu dalam hidup kita sebagai yang terbaik, meski tak selalu kita pahami dengan segera. Bukankah kita pernah mendengar ayat:
وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ
“...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)
Karena itu, saat kita menengadahkan tangan, tak seharusnya terbersit dalam hati bahwa Allah tidak tahu apa yang sedang kita butuhkan. Kita tidak sedang memberitahu sesuatu yang belum Dia ketahui. Sebaliknya, kita sedang menunjukkan bahwa kita adalah seorang hamba, yang tak bisa hidup tanpa bergantung pada-Nya, “Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. Fathir [35]: 15). Maka, adanya anjuran untuk berdoa bukanlah karena Allah butuh diberi tahu, melainkan karena kita yang perlu belajar rendah hati, menundukkan ego, dan terus terhubung pada-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan)’.” (QS. Ghafir [40]: 60)
Perintah berdoa adalah pendidikan spiritual agar manusia sadar: dirinya tak punya daya upaya apa pun tanpa izin dan pertolongan-Nya. Doa adalah penjelmaan paling jujur dari sifat kehambaan, dari pengakuan akan kelemahan dan ketidakberdayaan kita.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Barang siapa yang terlalu sibuk mengingat-Ku (berzikir) hingga ia tidak sempat meminta sesuatu pun kepada-Ku, maka Aku akan memberinya lebih dari apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta.”
Hadis ini bukan menyuruh kita berhenti berdoa, tetapi mengajarkan bahwa hakikat doa adalah penghambaan total. Zikir, doa, sujud, dan segala bentuk ibadah lainnya adalah cara kita menunjukkan bahwa kita ini lemah, dan hanya Allah-lah tempat bersandar.
Contoh yang paling indah dari makna doa ini adalah kisah Nabi Zakaria as. Beliau adalah seorang nabi, kekasih Allah, yang dekat dengan-Nya. Namun, ia tetap memohon dengan penuh harap agar diberikan keturunan:
وَزَكَرِيَّآ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ رَبِّ لَا تَذَرْنِيْ فَرْدًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْوٰرِثِيْنَ
“(Ingatlah) Zakaria as ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan), sedang Engkau adalah sebaik-baik waris’.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 89)
Doa yang dipanjatkan oleh Zakaria secara lahiriah, hal itu tampak mustahil: istrinya divonis mandul dan usia mereka berdua sudah sangat sepuh. Namun karena ketekunan dan ketulusan doanya, Allah berfirman:
فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ ۖوَوَهَبْنَا لَهٗ يَحْيٰى وَاَصْلَحْنَا لَهٗ زَوْجَهٗۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا يُسٰرِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَيَدْعُوْنَنَا رَغَبًا وَّرَهَبًاۗ وَكَانُوْا لَنَا خٰشِعِيْنَ
“Maka, Kami mengabulkan (doa)-nya, menganugerahkan Yahya kepadanya, dan menjadikan istrinya (dapat mengandung). Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.”(QS. Al-Anbiya’ [21]: 90)
Kisah ini memberi pelajaran bahwa doa bukan soal pantas atau tidak pantas meminta, bukan soal kemungkinan atau kemustahilan. Doa adalah pengakuan jujur: bahwa kita tak bisa apa-apa tanpa kehendak-Nya. Dengan demikian, semakin sering dan semakin tulus kita berdoa, semakin dalam pula kita menyadari jati diri kita sebagai hamba.