Ketika kita berbicara tentang “mitos,” bayangan kita pasti akan tertuju pada cerita takhayul, dongeng masa kecil, atau kebohongan yang dibuat oleh nenek moyang kita untuk maksud tertentu. Memang tidak ada salahnya memiliki persepsi demikian, karena mitos sering dinarasikan oleh buku-buku sejarah seperti itu. Namun, apakah mitos hanya sebatas keyakinan primitif yang di era digital ini layak untuk dijadikan bahan lelucon?
Jika kita mau untuk agak bijak membaca mitos, sebenarnya mitos adalah konsekuensi logis dari relasi antara manusia dan alam. Manusia, sebagaimana dikatakan Aristoteles, secara tabiat memiliki kecenderungan untuk mempertanyakan segala hal, termasuk fenomena alam. Sehingga, demi ketentraman batin, mereka harus mencari jawaban dari semua pertanyaan itu, betapapun jawaban itu irasional.
Setiap zaman memiliki caranya masing-masing dalam usaha memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kosmis, seperti banjir, gempa bumi, gerhana, dan fenomena-fenomena alam lainnya. Mereka berlomba-lomba menciptakan penjelasan masing-masing dan membangunnya di atas asumsi-asumsi yang berbeda-beda.
Sehingga, hampir setiap wilayah, negara, suku, dan ras, memiliki jawabannya masing-masing. Sungguh tidak masuk akal jika satu suku, dengan penjelasan yang mereka peroleh dengan cara dan asumsi tertentu, merasa punya hak untuk mengklaim bahwa penjelasan mereka paling benar, dan yang lain sesat.
Ketika kita menengok ke masa lalu, tepatnya sebelum logos hadir, mitos bisa dipahami sebagai “rasionalitas kosmis” manusia. Kepercayaan tentang dewa-dewi sebagai entitas yang menggerakkan sistem kosmis adalah hal yang masuk akal pada saat itu.
Namun, Sokrates, dan filsuf-filsuf Yunani lainnya, merasa tidak puas dengan penjelasan dan jawaban dari mitos-mitos tersebut hingga mereka mencoba mempertanyakan dan menciptakan metode baru demi mencapai penjelasan yang dirasa lebih bertanggung jawab. Atas dedikasi dan kontribusinya inilah, Sokrates dan filsuf-filsuf Yunani lainnya, diproyeksikan sebagai katalisator dari proses transmisi cara berpikir manusia dari mitos menuju cara berpikir yang baru: Logos.
Sebagaimana dikatakan Aristoteles, manusia secara bawaan memiliki kecenderungan untuk mempertanyakan segala hal, termasuk mempertanyakan eksistensinya sendiri. Namun, orang-orang seperti dia, tak puas dengan jawaban yang disediakan oleh status quo saat itu yang berbasis pada mitos. Ia menolak jawaban itu, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang irasional.
Contoh kecil, ketika ia mencoba mencari penjelasan tentang fenomena gerhana, jawaban yang ia peroleh hanya sebuah mitos bahwa gerhana adalah manifestasi dari peperangan antara dewa bulan dan dewa matahari. Pada masa itu, seluruh fenomena alam dipahami sebagai manifestasi dari tangisan, amarah, dan kasih sayang dewa-dewi. Tak lebih.
Aristoteles menganggap yang demikian ini sangat tidak masuk akal. Ditambah lagi, ada semacam upaya menjadikan mitos-mitos itu sebagai alat untuk mencapai kepentingan pribadi, seperti melanggengkan kekuasaan, yang membuatnya geram dan pada akhirnya mendorongnya untuk mendedikasikan diri pada sebuah misi: menelanjangi mitos-mitos yang digunakan status quo demi kepentingan sepihak di depan umum.
Kontribusi Aristoteles ini—Aristoteles di sini saya pakai sebagai representasi dari para pemikir Yunani lainnya—pada akhirnya sangat revolusioner—bahkan bisa dikatakan sebagai revolusi paling berarti dalam sejarah manusia. Ia telah berhasil membuat banyak orang skeptis dengan jawaban-jawaban yang diberikan oleh status quo pada saat itu dan mulai mencari jawaban lain yang dirasa lebih masuk akal atas segala pertanyaan dan rasa penasaran yang telah menjadi atribut bawaan manusia. Di masa inilah logos hadir dan menggeser cara berpikir lama manusia, mitos.
Di era digital saat ini, nampaknya hanya satu dari seribu orang yang masih mempercayai mitos sebagai jawaban dan penjelas dari sebuah fenomena. Mitos tak memiliki harga diri. Sama sekali. Ia menjadi bahan tertawaan anak-anak muda di tempat tongkrongan. Apalagi jika disajikan di depan para mahasiswa, sudah pasti tak ada harganya. Bahkan, mitos kerap kali disebut-sebut oleh mereka sebagai bahan penghambat kemajuan sebuah peradaban. Singkatnya, sebuah komunitas yang masih mempercayai mitos, sulit untuk berkembang dan berinovasi.
Namun, apakah mitos benar-benar menjadi penghambat kreativitas dan progresivitas suatu komunitas? Nampaknya tidak selamanya demikian.
Justru, beberapa mitos sangat berguna dan menjadi mendesak dalam sebuah komunitas manusia. Ambil contoh eksploitasi alam yang sudah menjadi karakteristik zaman ini, dan bandingkan dengan nenek moyang kita, yang untuk menebang satu pohon saja, atau masuk hutan saja, merupakan sebuah pantangan karena hutan diyakini memiliki aspek sakral yang tidak bisa tidak harus dijaga.
Maka, sudah jelas bahwa menanggapi mitos hanya dengan tawa adalah bentuk simplifikasi sejarah yang ceroboh. Mitos adalah fase evolusioner nalar manusia, sebuah respons tulus terhadap kosmos, dan sekaligus sebuah sistem kontrol sosial yang efektif—terutama dalam hubungannya dengan alam.
Revolusi Logos oleh Sokrates dan rekan-rekannya memang telah melahirkan sains dan peradaban maju yang kita nikmati hari ini. Namun, ia juga melahirkan bahaya baru: narasi dominasi yang melegitimasi penaklukan alam. Tantangan kita hari ini bukan lagi antara Mitos vs Logos, melainkan bagaimana Mitos—dalam esensi etikanya—dapat berdialog dengan Logos—dalam esensi teknologinya. Hanya dengan cara inilah kita bisa mewarisi bukan hanya kemajuan, tetapi juga kearifan kolektif yang mendesak, demi kelangsungan peradaban, bahkan kehidupan, di masa depan.