Malam itu, Syaikh Yusuf al-Makassari seakan hadir dan hidup di hadapan saya. Tempatnya di Masjid Agung Banten—sebuah masjid yang didirikan pada 1566 M, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin, sultan pertama Banten. Di Plaza dan ruang-ruangnya yang sarat sejarah, masa lalu seperti menyingkap dirinya sendiri.
Tokoh sufi-pejuang itu seakan menjelma dalam berbagai medium: dalam ritme tubuh yang bergerak harmonis para penari Saman Aceh, diiringi syair riwayat hidupnya yang dilantunkan dengan khidmat, dalam puisi Tanjung karya Taufik Ismail yang dibawakan dengan amat memesona oleh penyair Banten Peri Sandi Huizche, dan dalam uraian ilmiah yang jernih dari Oman Fathurahman—filolog yang meneliti naskah-naskah karya al-Makassari.
Siapa Syaikh Yusuf al-Makassari? Ia lahir di tengah desir angin laut Makassar abad ke-17. Kelak sang jabang bayi akan menyeberangi batas-batas dunia—bukan hanya sebagai pengembara, melainkan sebagai cahaya. Ia adalah Yusuf al-Makassari—seorang pencari Tuhan yang tak pernah puas pada pengetahuan yang dangkal.
Sejak muda, Yusuf meninggalkan tanah kelahirannya, menempuh perjalanan panjang untuk belajar ke pusat-pusat ilmu Islam—Aceh, Yaman, hingga Hijaz. Dari seorang murid, ia menjelma menjadi seorang arif—yang melihat Tuhan bukan hanya dalam kitab, tetapi dalam denyut kehidupan. Ia kembali bukan sekadar sebagai ulama, melainkan sebagai seorang syaikh, pembimbing jiwa-jiwa.
Karena Gowa tanah kelahirannya sedang tak baik-baik saja, takdir membawanya ke Kesultanan Banten—pusat kekuasaan yang sedang bergejolak pada masa itu. Di sana, ia menjadi penasihat spiritual sekaligus menantu Sultan Ageng Tirtayasa. Namun, sejarah tidak memberinya ruang untuk tinggal dalam ketenangan.
Ketika konflik internal mengoyak istana, dan bayang-bayang penaklukan VOC semakin menghantui, Yusuf melangkah keluar dari mihrab—menuju medan perang. Ia bukan sekadar ulama yang berbicara tentang Tuhan—ia adalah seorang yang berdiri di garis depan, memimpin perlawanan, menghidupkan semangat jihad dalam makna terdalam: mempertahankan martabat, iman, dan kebebasan.
Di tengah dentum meriam dan pengkhianatan yang memecah kekuatan Banten, Yusuf tetap tegak—hingga akhirnya ia ditangkap. Namun, penangkapan itu bukan akhir. Ia dibuang ke Serendib (Sri Lanka), tepatnya di pinggiran Colombo—mungkin di kawasan yang kini dikenal sebagai Slave Island (Kompanna Veediya), tempat komunitas Muslim dan para buangan pada masa VOC ditempatkan.
Di tanah asing itu, ia justru menjadi magnet ruhani. Para pelancong—terutama jamaah haji dari Nusantara—singgah untuk menemuinya. Dalam pengasingan, pengaruhnya meluas. Ia menjadi simpul, menghubungkan dunia-dunia yang jauh dengan cahaya yang sama.
Kolonial sadar: orang seperti ini tak bisa dibiarkan “dekat” dengan dunia Islam. Maka ia diasingkan lebih jauh lagi—ke Cape Town, di ujung dunia yang hampir tak terjangkau. Di sana, dalam sunyi yang nyaris total, Yusuf melakukan apa yang selalu ia lakukan: menyalakan cahaya. Ia membangun komunitas, mengajarkan Islam, membimbing para buangan, dan mengubah keterasingan menjadi taman spiritual. Dari tangannya lahir generasi—anak keturunannya, para pengikutnya—yang kelak menjadi bagian dari akar komunitas Muslim Afrika Selatan.
Di akhir hayatnya, Yusuf tidak kembali ke tanah kelahirannya. Ia wafat di tanah asing. Namun justru di situlah makna hidupnya mencapai puncak: bahwa seorang wali tidak pernah benar-benar “terbuang”. Di mana pun ia berada, ia adalah pusat.
Keluarbiasannya tampil dalam sedikitnya dua fakta. Seperti digarisbawahi Menteri Fadli Zon, Syaikh Yusuf menerima dua anugerah Pahlawan Nasional dari dua negeri sekaligus. Indonesia dan Afrika Selatan. Kuburannya, karena kecintaan orang padanya, diyakini ada di setidaknya 3 tempat: di Cape Tiwn, Frika Selatan, di Gowa, Sulawesi, dan bahkan di Sumenep, Madura. Gowa kemungkinan besar adalah tempat terakhir pasareannya. Tapi, akurasi di sini tak terlalu penting. Yang pasti banyak orang, di banyak negeri, ingin memeluk ruh sang sufi-pejuang.
Malam itu, saya beruntung “berjumpa” dengan Syaikh Yusuf. Berkeliling melihat pameran tentang dirinya, menyaksikan replika sebagian karyanya, dan mendengar semangat menggebu Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam menghidupkan kembali legacy Syaikh Yusuf: rencana pembangunan museum, dukungan pemfileman kisah hidupnya, hingga penerbitan karya-karyanya—yang sejauh ini baru sebagian kecil tersentuh.
Malam itu juga dimeriahkan dengan Tari Katurang, sebuah warisan budaya Banten yang menggambarkan semangat keprajuritan dan kehormatan, dengan gerak yang tegas, ritmis, dan penuh energi—seakan merepresentasikan jiwa perlawanan yang dahulu menghidupi tanah ini. Lalu dibacakan satu lagi puisi Taufik Ismail tentang Syaikh Yusuf—oleh penyair asal Madura, Mahwi Air Tawar menambah syahdu suasana. Sebagai penutup, tampil kelompok musik sufi Debu—membawakan lantunan yang menembus batas antara bunyi dan keheningan, antara dunia dan yang tak kasatmata.
Saya sampai kembali di rumah saya di Depok hampir pukul dua dinihari. Tubuh lelah, tentu. Tapi hati terasa lapang dan terang—dalam keharuan yang yang tak biasa. Berjumpa Syaikh Yusuf, Sang Tuanta Salamaka ri Gowa. Tuanku Penyelamat dari Gowa.