ARTIKEL

Negeri Tanpa “Jalan”: Krishnamurti Bertemu Tasawuf

Penulis

Haidar Bagir
April 28, 2026
4 menit membaca

Pernah selama hampir seabad (1895–1986), di muka bumi ini hidup Jiddu Krishnamurti. Ia adalah seorang pemikir dan pembicara spiritual asal India yang dikenal karena pendekatannya yang radikal dalam menolak otoritas agama, tradisi, dan bahkan peran guru. Ia awalnya ditemukan dan dibina oleh Theosophical Society yang mempersiapkannya sebagai “World Teacher”, semacam Messiah (Mahdi). Tetapi pada 1929 ia justru membubarkan organisasi tersebut dan menyatakan bahwa “kebenaran adalah negeri tanpa jalan”—menegaskan keyakinannya bahwa pencarian kebenaran tidak harus terikat pada otoritas mana pun.

Sejak itu, ia menghabiskan hidupnya berkeliling dunia—di India, Eropa, dan Amerika—memberikan ceramah tentang kebebasan batin, kesadaran diri, dan pembebasan dari kondisi psikologis manusia. Ia juga mendirikan sejumlah sekolah alternatif di berbagai negara yang menekankan pendidikan tanpa ketakutan dan kompetisi.

Beberapa karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia antara lain adalah Freedom from the Known (Kebebasan dari yang Diketahui), Think on These Things (Berpikir tentang Hal-Hal Ini), dan The First and Last Freedom (Kebebasan yang Pertama dan Terakhir), yang diterbitkan oleh Gramedia dan Kanisius, dan juga disebarkan melalui jaringan Krishnamurti Foundation Indonesia. Hingga wafatnya di Ojai, California, pemikirannya terus memengaruhi kajian kesadaran, pendidikan, dan spiritualitas modern.

Dalam tasawuf/‘irfan, syahadat pertama Muslim Lā ilāha illā Allāh juga sering dipahami sebagai “jalan tanpa jalan.” Ia bukan rute yang bisa dipetakan, melainkan sebuah gerak batin: peneguhan yang lahir dari peniadaan. “Tidak ada tuhan…” lebih dulu, baru “kecuali Allah.”

Dalam struktur kalimat itu sendiri tersimpan disiplin rohani: membersihkan sebelum menetapkan, mengosongkan sebelum mengisi. Di titik ini, gema yang jauh terdengar dari Jiddu Krishnamurti terasa akrab: “Truth is a pathless land.” Kebenaran tidak ditempuh lewat jalan yang ada; malah tanpa “jalan”. Ia hadir ketika segala penopang palsu runtuh. Bukan berarti tidak ada arah, melainkan bahwa arah itu tidak bisa dibekukan menjadi metode yang fixed. Ia menuntut kejernihan yang terus-menerus, bukan kepastian yang beku.

Para arif dalam tradisi tasawuf—seperti Ibn ‘Arabi—membaca kalimat tauhid sebagai proses berlapis: nafy (peniadaan) dan itsbāt (peneguhan). Lā ilāha menafikan berhala-berhala halus dalam diri: ego, kepentingan, klaim kebenaran yang sempit, bahkan bayangan kita sendiri tentang Tuhan. Illā Allāh meneguhkan Yang Esa—yang melampaui semua konsep kita tentang-Nya. Tanpa nafy, itsbāt mudah berubah menjadi klaim, bukan penyaksian.

Di sinilah masalah kerap muncul. Bagian “lā ilāha” dilupakan. Yang dipeluk hanyalah peneguhan—illā Allāh—tanpa kerja peniadaan yang terus menerus. Maka tauhid yang seharusnya membuka, justru bisa menyempit. Ia berubah dari jalan pembebasan menjadi identitas yang dikunci, dari kesaksian yang hidup menjadi slogan yang kaku. Ketika peniadaan absen, yang tersisa adalah kepastian tanpa kerendahan hati—dan dari situ, tidak jauh jaraknya menuju kekerasan.

Dalam pengalaman batin yang lebih dalam, peniadaan ini mencapai satu tahap yang oleh para sufi disebut ayrah—kebingungan suci, keterpanaan yang bukan karena kegelapan, melainkan karena limpahan cahaya. Di sini, semua pengetahuan yang kita kira pasti—konsep, definisi, bahkan bahasa teologis—runtuh satu per satu. Bukan karena tidak berguna, tetapi karena ia tidak lagi memadai. Dalam ayrah, manusia seakan “kehilangan” semua pegangan, dan justru di situlah ia dibebaskan dari ilusi mengetahui.

Para sufi memahami ayrah bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai ambang perjumpaan. Ketika semua jalan habis, ketika semua peta gugur, barulah terbuka kemungkinan untuk berhadapan dengan Yang Ilahi tanpa perantara. Dalam bahasa Ibn ‘Arabi, keterpanaan ini adalah tanda bahwa seseorang telah mendekati keluasan Realitas yang tak terhingga—yang tak bisa ditangkap oleh satu bentuk pengetahuan pun.

Di sinilah lā ilāha menemukan kedalaman penuhnya: bukan sekadar menafikan berhala lahiriah, tetapi meniadakan seluruh klaim pengetahuan yang membatasi Tuhan dalam konsep kita. Dan dari peniadaan total itu, illā Allāh tidak lagi menjadi pernyataan yang kita pegang, melainkan kebenaran yang menyingkap dengan sendirinya.

Maka, tauhid yang utuh selalu bergerak: meniadakan—meneguhkan—lalu tenggelam dalam ayrah—dan kembali meneguhkan dalam kesadaran yang lebih dalam. Ia tidak berhenti pada satu bentuk. Di sanalah ia menjadi “jalan tanpa jalan”: bukan karena tidak ada arah, melainkan karena arah itu selalu dijaga dari pembekuan.

Dan mungkin di situlah semuanya bertemu: bahasa tasawuf, intuisi Krishnamurti, dan pengalaman terdalam manusia. Kebenaran tidak dapat dimonopoli oleh jalan yang kita buat; ia menyingkap ketika kita berani melepaskan. Dalam tauhid, keberanian itu bernama lā ilāha. Tanpanya, illā Allāh mudah berubah dari cahaya yang membebaskan menjadi bendera yang menyempitkan.

Dan tanpa melewati ayrah, kita berisiko berhenti pada pengetahuan—tanpa pernah benar-benar mengalami perjumpaan. Alih-alih menyingkapkan pengetahuan kita justru menjadi tabir yang menutupi.

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Penulis belum menambahkan bio / deskripsi profil pada pengaturan akunnya.

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan