Kamis, 26 Februari 2026, kelas Tadarrus Al-Qur’an di Nuralwala dimoderatori oleh Kak Darmawan. Surah Al-Ikhlas dipilih dalam kajian hari ini. Kak Darmawan membuka kelas dengan menyampaikan bahwa dalam surah Al-Ikhlas tidak terdapat kata ‘ikhlas’ pada keempat ayatnya. Mungkin ini adalah isyarat bahwa keikhlasan memang tak perlu disebut-sebut, ia tidak butuh label, tidak perlu diwartakan; karena keikhlasan sejati bukan pada kata, melainkan pada laku. Ikhlas menyatu dalam tindakan, dan diam-diam bekerja tanpa perlu pengakuan. Kendati tidak ada kata ‘ikhlas’ dalam surah Al-Ikhlas, namun seluruh pesan dalam surah tersebut adalah tentang kemurnian Tauhid. Demikianlah ikhlas, terdengar namanya, dan terasa maknanya.
Masuk pada ngaji inti, Dr. Wawan Kurniawan (Gus Wawan) membuka kelas dengan memberi takzim pada pendiri, direktur, juga para staf Nuralwala yang menjadi wasilah terselenggaranya ngaji tafsir ini. Tak lupa juga Gus Wawan membaca doa majelis ilmu sebelum memulai paparan. Adapun judul yang dibawakannya adalah “Belajar Tauhid dari Ibn Sina.” Setidaknya ada dua alasan mengapa kita perlu belajar Tauhid dari Ibn Sina: pertama, Ibn Sina memberikan penjelasan filosofis paling jelas dan ketat tentang surah Al-Ikhlas; kedua, penjelasan Ibn Sina berpengaruh kepada para ulama setelahnya, seperti Imam Al-Razi.
Tiap agama memiliki starting point yang berbeda-beda. Budha, starting point-nya adalah dunia merupakan tempat penderitaan, sehingga Budha mengajak umatnya melampaui penderitaan itu; adanya refleksi dan upaya untuk melampaui penderitaanan. Kristiani, starting point-nya adalah manusia merupakan fallen man, manusia yang jatuh; sehingga untuk naik lagi perlu penebusan melalui Yesus. Islam itu juga memiliki keunikan, dengan starting point bukan soal manusia, makanya dalam syahadat itu titik tolaknya adalah abstrak namun merupakan yang paling konkret, yakni lailahaillah. Islam bukan hendak mengajak kita merenungkan penderitaan dan dosa, namun merenungkan Tuhan Yang Esa, dan ajaran ini bertebaran dalam Al-Qur’an, dan yang paling eksplisitnya adalah di dalam surah Al-Ikhlash.
Di dalam tafsirnya, Ibn sina serupa dengan Imam al-Ghazali, bahwa agama bisa dijelaskan dalam 3 kerangka pokok: pengetahuan mengenai Tuhan/teologi; pemahaman bagaimana kita berelasi denga Tuhan melalui ibadah, etika, riyadhah, dan lain-lain; tentang eskatologi, nasib manusia setelah kematian. Al-Ikhlas adalah ajaran paling ringkas tentang teori tentang Tuhan, sehingga Al-Ikhlas dirasiokan tsuluts Al-Qur’an, dalam taksonomi ajarannya sepertiga, namun bukan secara kuantitas ayat. Dan tafsiran Ibn Sina ini mempengaruhi penafsiran ulama setelahnya, termasuk Imam Al-Razi.
Sebelum menjelaskan lebih lanjut, Gus Wawan memberikan profil dari Ibn Sina yang merupakan seorang Persia yang lahir di Bukhara (Uzbekistan saat ini), dan meninggal (pada usia 57/58 tahun) dan dimakamkan di Isfahan, Iran. Pada umur 10 tahun, ia telah menghafalan Al-Qur’an dan belajar sastra Arab. Hal ini ia tulis dalam otobiografinya. Tentunya kesaksiannya ini diragukan banyak orang. Namun bagi seorang Persia saat itu, hal tersebut adalah sesuatu yang wajar. Ia juga belajar Fiqh dan Ushul Fiqh Hanafi, juga belajar filsafat dan kedokteran. Karya pertama Ibn Sina adalah tentang filsafat jiwa yang ia tulis untuk sang raja di tempatnya tinggal, Bukhara.
Ibn Sina tidak bisa membaca bahasa Yunani, hingga ia bertemu bukunya Abu Nashr Al-Farabi, sehingga ia menemukan pemahaman metafisika Aristoteles, salah satunya tentang teologi. Dengan demikian, kita pun perlu mempelajari metafisika agar memahami teologi. Pada umur 33-34, Ibn Sina menulis karya agungnya yang berjudul Al-Qanun fi al-Thib yang menjadi pegangan pada universitas Eropa pada masa keemasan dataran tersebut. Pada usia 40-47 tahun, Ibn Sina menulis Al-Syifa, karya besarnya dalam filsafat yang terdiri dari matematika, filsafat alam, filsafat matematika, dan metafisika. Ini adalah proyek panjang, dimana ia menulis bagian ilahiyaat saat menjadi tahanan rumah yang merujuk murni dari ingatan tanpa referensi tulis.
Adapun basis filosofis Ibn Sina dalam menafsir Al-Ikhlash:
- Setiap sesuatu (spesies) punya esensi, segala sesuatu memiliki identitasnya sendiri.
- Ada 2 kategori esensi: kompleks, jenus, efek kesamaan; dan diferensia, efek pembeda. Manusia dan kucing, dengan akal sebagai diferensianya. Sederhana, tidak terdiri dari jenus dan diferensi, yakni Tuhan itu sendiri.
- Setiap esensi punya sifat lazim yang merupakan akibat dari esensi yang tidak pernah terpisah dari esensi.
Tafsir Qul huwa Allah Ahad
Huwa merupakan dlamir mudakkar yang bermakna dia, namun Ibn Sina menafsirakan secara serius, tidak sekedar kata ganti, namun dimaknai sebagai huwiyah, kediaan; eksistensi yang spesifik untuk Tuhan, eksistensi yang absolut. Maksudnya adalah: Tuhan adalah eksistensi murni, Dia adalah eksistensi murni. Secara sederhana, apapun yang ada di sekeliling kita, termasuk kita sendiri, bisa dibedakan tentang aspek apa/ esensi dan aspek ada/eksistensi. Dalam diri kita sendiri, aspek apa berbeda dengan aspek ada. Contoh, es buah di hadapan kita, ini tentunya berbeda di dalam aspek apa dan adanya. Karena perbedaan itu, yang ada ada di sekeliling kita, tidak mesti ada. Sedangkan Tuhan, adalah eksistensi absolut, karena ada aspek dan ada. Tuhan adalah yang murni tanpa embel-embel apapun. Implikasi dari eksistensi yang murni ini disebut al-ilahiyah, Allah,
Allah, nama untuk sifat lazim dari eksistensi absolut. Lalu, apa makna yang dirujuk dari lafadz Allah? Eksistensinya niscaya, apanya Tuhan itu identik dengan adanya. Dia tidak bergantung pada yang lain agar ada, itulah niscaya; dan eksistensi lainnya bergantung pada-Nya. Bagi sudut pandang filsafat Ibn Sina, kita butuh Tuhan dari aspek rejeki, al-razak, penyembuhan, dan lain-lain. Bukan karena miskin, sakit dan lainnya, namun kita butuh Tuhan karena keberadaan; yang berarti adalah keberadaan kita, bukan sekedar rejeki, kesehatan, dan serupanya. Di tahap lebih mendasar lagi, sekedar adanya kita, kita butuh pada Tuhan.
Seorang Sufi muda yag sedang rajinnya riyadah dan khalwat dan berkata pada Rabiah, “Alhamdulillah, nampaknya saya sudah suci, sudah lama tidak melakukan dosa.” Namun ia lupa, eksistensinya adalah meminjam. Dan kemudian Rabiah berkata, “Kamu merasa ada sedemikian rupa dan mandiri dalam ada itu, tidak bergantung, itu adalah dosa yang dalam, dan tidak ada dosa yang mendekati itu.”
Kalau kita tidak ada, rejeki dan lainnya juga tidak ada. Demkian pula sebaliknya. Menurut Ibn Sina, Allah adalah kenyataan sejauh eksistensinya niscaya, dan Dia tidak bergantung, kita yang bergantung padanya.
Ahadun, esensinya tunggal secara absolut, dia tidak terdiri dari bagian-bagian, dan tidak ada yang serupa dengan-Nya. Manusia terdiri dari banyak bagian, baik itu jiwanya (dengan beragam dayanya) ataupun fisiknya, namun Tuhan itu tunggal. Atas hal ini, Ibn Sina menyampaikan, “Kita perlu memahami keesaan sebagai bentuk kesederhanaan, karena kalau Tuhan bergantung pada ke-jamak-an, maka Dia butuh untuk terdiri dari bagian-bagian. Ajaran kesederhanaan ini dikritik Imam Al-Ghazali, walaupun dalam Ihya’, konsep ini juga beliau afirmasi.
Allahu Samad, Al-Shamad memiliki dua arti: pertama, Yang tidak berongga, la jaufa lahu, esensi apapun selain Tuhan itu berongga untuk diisi agar dia itu bisa menjadi ada. Ia memerlukan limpahan wujud dari Tuhan, demikianlah esensi manusia dan makhluk lainnya. Sesuatu yang penuh itu adalah al-shamad, Ia tidak berongga karena penuh, karena Ia penuh maka Ia memenuhi yang lain. Kedua, Al-sayyid, junjungan. Al-sayyid dalam penafsiran Ibn sina bermakna sebab dari eksistensi segala sesuatu. Bagi Ibn sina, dua makna ini bisa dikehendaki dari makna al-shamad. Tuhan itu tidak berongga karena penuh dan menjadi sebab bagi eksistensi segalanya.
Tuhan itu adalah wujud murni yang full, karena penuh Dia beremanasi, fayyadl, bahwa Tuhan itu sedemikan penuhnya sampai eksistensinya melimpah. Kalau dalam bahasa lain secara teknis, Tuhan itu tidak saja sempurna, namun juga melampaui kesempurnaan, sehingga kesempurnaan itu tumpah ruah.
Lam yalid wa lam yuulad. Lam yalid, dia tidak melahirkan (mengeluarkan sesuatu dari dirinya seseuatu yang lain), dan yang dikeluarkan dan yang mengeluarkan itu memiliki esensi dan memiliki materi yang sama. Sang eksistensi absolut itu unik dan tidak bermateri, maka Dia tidah melahirkan. Dia tidak membutuhkan apapun, sehingga dia tidak lahir dari apapun dan tidak melahirkan apapun.
Kalau menurut Ibn Sina, susunan logisnya adalah lam yulad dulu baru lam yalid. Adapun korelsi dua kata ini adalah Tuhan tidak melahirkan persis karena dia sendiri tidak dilahirkan. Penjelasan ayat ini adalah agar orang tidak salah faham bahwa menciptakan itu bukan melahirkan. Dalam metafisika Ibn Sina jelas, sebab selalu lebih kuat daripada akibat, sehingga tidak mungkin serupa. Dia menciptakan alam, bukan melahirkan.
Wa lam yakun lahu kufuwan ahad. Kufuw, bermakna yang setara. Sang eksistensi absolut itu niscaya ada melalui diri-Nya. segala selain-Nya mungkin ada pada dirinya. Jadi, sang Niscaya ada itu hanya satu. Andai terdapat dua entitas yang niscaya ada, maka keduanya pasti memiliki keunikan sekaligus kesamaan. Jadi, keduanya kompleks. Yang kompleks itu dilahirkan oleh bagian-bagiannya. Padahal ayat sebelumnya menegaskan sang eksistensi absolut tidak dilahirkan. Ayat pertama juga sudah menyatakan Dia sepenuhnya sederhana. Jadi, sang Niscaya ada hanya Satu.
Bagi Ibn Sina, batas atas akal adalah saat kita merenungkan eksistensi ketuhanan sampai akal kita tidak mampu. Karena, keesaan-Nya sedemikian luhur dan kesederhanaan-Nya sedemikian sempurna, sehingga akal tidak mampu mengetahui esensi-Nya dan berdiri di hadapan permulaan iluminasi cahaya-Nya.
Sebagai penutup, Gus Wawan menuturkan bahwa tidak semua orang siap untuk bahagia. Yang siap adalah dia yang mencoba terus memahami dan mengingat. Ajaran agama adalah ajaran yang mengandung aspek mengingat. Melalui praktik zikir itu, pada dasarnya manusia sedang mendalami tauhid. Melalui ingatan yang terus menerus itu, maka manusia makin siap untuk bahagia. Dan manusia tidak bisa bebas dari alam dan kelekatan-kelekatannya.
Merespon pertanyaan para peserta, Gus Wawan menjawab perihal konsep Trinitas. Menurutnya, topik ini sangat berat. Masalah yang bikin sulit dialog: tradisi Kristen pakai istilah ‘dilahirkan,’ tapi jelas dalam pemahaman Ibn Sina, syarat agar sesuatu disebut melahirkan adalah materi, sedangkan Trinitas, bukan dalam ranah materi. Apakah esensinya menjadi terbagi? Ini juga masalah, karena ada antara ibu dan anak yg sama-sama manusia esensinya terbagi. Rumusan Trinitas dalam konsilia, sejauh yang Gus Wawan ketahui, ialah satu substansi dengan 3 pribadi, 1 homoosios tapi 3 persona. Namun ada perdebatan antar teolog Kristen tentang apa itu homoosios dan persona. Romo Magnis dalam bukunya yang berjudul Apa itu Katolik menjelaskan kasus Hindu ada Trimurti dan dewa-dewa, itu adalah politeisme, walaupun orang Hindu mungkin tidak setuju dengan ini. Sedang dalam Islam ada 99 nama, yang tidak mungkin merujuk pada yang beda-beda, nama adalah manifestasi saja. Romo Magnis mengatakan, Trinitas mirip degan 99 nama. Memang Romo Magnis menafsirnya begitu, namun banyak perdebatan tentang Trinitas, dan mereka manafsir Tuhan itu sederhana.
Lantas, bagaimana kita yang serba bergantung ini bisa mencintai dengan cinta yang selaras dengan surah Al-Ikhlas ini? Gus Wawan menjelaskan bahwasanya Ibn Sina mengartikan cinta sebagai mailu, kecenderungan yg bersifat inheren, ini dibahas Ibn Sina di dalam risalahnya khusus tentang cinta. Apa artinya mencintai Tuhan bagi kita adalah agar kita cenderung pada Tuhan dari pada yang bukan Tuhan. Caranya adalah kita perlu gambaran yang clear dulu tentang Tuhan, sejauh yang bisa kita tangkap. Demikian ujar Ibn Sina. Dan penjeleasan Ibn Sina masih terlalu dalam untuk ukuran manusia, namun untuk ukuran Tuhan tentu tidak ada apa-apanya. Kendati demikian, ujar Ibn Sina, rahmat Allah itu luas, kita semampunya dulu untuk menapaki tahapan cinta.
Apakah manusia selalu mengalami kegalalan dalam pengetahuan dan melibatkan perasaan dalam berpikir? Kalau menurut Ibn Sina, tidak selalu manusia dalam kegagalan, jika demkian ia tidak akan ada menulis buku. Akal adalah qanun, menjaga akal agar terhindar dari kekeliruan berpikir, untuk menghindari dari perasaan-persaan yang didasari oleh suka dan tidak suka, marah, atau suka yang syahwat; bahwa nantinya ada rasa yang lebih tinggi lagi, itu yang disebut Ibn Sina sebagai isyqun fi aqli, cinta karena intelektual, filsafat; yang ide awalnya adalah filosofia, cinta pada kebijaksanaan. Plato dalam Symposium, cinta kepada kebijaksanaan adalah cinta yang tidak kalah bergairahnya dengan cinta indrawi yang dipenuhi hasrat. Dan jangan lupa, Tuhan dalam pengertian iIbn Sina memiliki 3 sifat utama: Tuhan adalah bahwa dia niscaya ada/eksistensi, Dia adalah akal/intelek, Dia adalah cinta. Tidak lengkap orang berfilsafat namun selalu rasional, namun harus juga berfilsafat yang erotik dan eros yang filosofis, makin ilahi, makin ada cirri-ciri ketuhanan disitu.
Bagaimana bisa Ibn Sina memiliki pemahaman tentang Tuhan sedemikian rupa, perangkat apa yang ia gunakan? Ujar Gus Wawan, istilah akal dalam perspektif Ibn Sina maksudnya: jadi jiwa manusia itu disebut nafs natiqah, jiwa rasional. Dia menjadi jiwa apabila dihubungkan dengan badan, jiwa adalah jiwanya badan. Kita tidak lihat dulu kaitannya dengan badan, saat dipisahkan jiwa itu namanya akal, sebagaimana Tuhan dimaknai akal dalam makna ini. Manusia memiliki akal untuk kemampuan berpikir, juga dalam kelepasannya dia juga merupakan akal sebagai substansi. Akal juga disebut ruh, qalb, al-amr al-ilahi. Jadi, ada 2 level akal dalam perspektif Ibn Sina, akal sebagai daya dan akal sebagai manusia itu sendiri. Imam Ghazali juga menakrif demikian, qalbu, akal, ruh, nafs, realitasnya identik sama namun namanya berbeda.
Jika ditanya, apakah ada pengetahuan supraintelektual bagi Ibn Sina? Ibn sina akan bilang tidak ada, karena Tuhan adalah akal, dan kita sendiri adalah akal, maka tidak ada yang lebih tinggi dari itu. Namun kekuatannya yang berbeda-beda, seperti nabi, sekaan-akan akal nabi itu sedemikan terang bahkan tanpa malaikat pun dia menyala, tansashunnar, namun dalam relaitas tentu dia menyambung dengan malaikat. Namun, kata Ibn Sina, secara realitas, manusia yang berfilsafat juga menyambung dengan malaikat, namun dengan tingkatan berbeda. Jika kita 4G, Nabi mungkin berteriliyun-terilun Giga. Tentang dimensi rasa tentu ada yang membedakan kita dengan Ibn Sina, dengan menjalankan itu, ia membedakan hikmah bahsiyah dan dauqiyah. Bahsiyah, kebijaksanaan yg diskursif, seperti sekolah dan serupanya agar punya gelar dan bisa bicara. Namun untuk merasakan dzauq maka kita harus menjadi itu. Perihal praktik tasawuf Ibn Sina, Gus Wawan menyampaikan bawah tidak ada riwayat yang banyak mengisahkan apakah Ibn Sina mempraktikkan tasawuf atau tidak, juga riwayat tentang kepada siapa dia berguru tasawuf, itu tidak diketahui; yang diketahui justru kesan-kesan yang negatif tentang Ibn Sina: pagi hari ia bersama raja untuk mendapat sesuatu, sore hari berfilsafat dan menulis dgn murid-muridnya, setelah itu ia menyanyi dan seterusnya. Yang terkenal darinya adalah aspek yang demikian. Namun, kita juga tidak tahu, seberapa intens Ibn Sina bermeditasi, khalwah, kita tidak tahu; juga dari ajarannya, ada yang menyerempet membahas tasawuf, ya itu ada. Bahkan, tulisannya tentang tasawuf menjadi ringkasan tasawuf terbaik menurut Syekh Razi. Dan bagi sebagian ulama, tasawuf Ibn sina terpengaruh oleh Al-Kalabadzi.
Walaupun belum mampu seperti Ibn Sina dalam berfilsafat, namun buah pemikirannya dapat menuntun kita untuk mengenal Tuhan sejauh kemampuan yang kita miliki.