ARTIKEL

Al-Rahman: Inti dari Yang Inti

Maret 12, 2026
7 menit membaca

Ramadhan hari pertama (Kamis, 19 Februari) di tahun 2026 diawali Nuralwala dengan nderes Tafsir Surah Al-Rahman bersama Habib Dr. Haidar Bagir (Bib Haidar). Bib Haidar mengawali kelas dengan mengajak para santri mengucap syukur atas nikmat sehat badan dan akal yang masih dapat dirasakan sampai saat ini.

Bib Haidar membuka kelas dengan memberikan pengantar, bahwasanya surah Al-Rahman memiliki banyak ruang untuk ditakwil seperti halnya ayat-ayat Al-Qur’an yang lain. Terlebih khusus untuk penakwilan tema rohani.

Surah Al-Rahman merupakan salah satu surah pilihan Bib Haidar dalam sebuah kajian lisan dan tulis karena adanya gagasan rahmah/belas kasih, welas asih, yang merupakan poros pemahaman dari semua aspek ajaran agama Islam. Bib Haidar percaya bahwa Al-Qur’an sangat baik dibaca dengan kaca mata rahmah, karena Islam adalah agama cinta dan agama rahmah yang dapat ditemukan di semua ayat Al-Qur’an, dan rahmah merupakan inti sari dari seluruh isi Al-Qur’an.

Banyaknya nama Allah yang Allah gunakan dalam Al-Qur’an, isim jami’-nya adalah Allah, yang terdapat dalam kalam Bismillah, yang disifati dengan rahmah, yakni rahman/rahmah rahmaniyah (bersifat universal) dan rahim/rahmah rahimiyah (rahmah yang hanya bisa diakses dengan cara berjalan di jalannya Allah).

Surat Ar-Rahman adalah surah yang berfokus pada persoalan belas kasih, memperkuat gagasan tentang sebuah perspektif yang dengannya seharusnya Islam, Al-Qur’an, itu dilihat. Bib Haidar menegaskan, rahmah ini memiliki makna yang luar biasa. Sifat jamaliyah dan jalaliyah-nya Allah itu terikat dengan sifat rahmah-Nya Allah. Sebagaimana yang tertulis di bawah arsy, yakni “welas kasih-Ku mendominasi murka-Ku” (Hadis Qudsi). Dan Surah Ar-Rahman adalah uraian pemberian ilustrasi dan penegasan tentang sifat inti Allah sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Itu sebabnya, surat ini dikenal sebagai Arusy Al-Qur’an, pengantin Al-Qur’an. Sebagaimana Hadis riwayat Imam Baihaqi, Rasulullah bersabda, “Segala sesuatu memiliki pengantin, dan pengantinnya Al-Qur’an adalah surah Al-Rahman.” Ungkapan ini juga menegaskan bahwa berbagai ciptaan Allah itu berpasang-pasangan dan berlipat-lipat jumlahnya.

Pemaknaan demikian juga didominasi sifat cinta Ilahi yang ditekankan dalam surah Al-Rahman ini, yang seharusnya menjadi ciri dari setiap pasangan pengantin, sebagaimana cinta Allah kepada makhluk-Nya, dan cinta makhluk pada Allah. Rahmah adalah cirinya perkawinan yang penuh kesetiaan, kerinduan, dan tidak lekang oleh masa yang sudah lampau. Lantas, apa bedanya mawaddah dan rahmah? Dua kata tersebut umumnya dimaknai sebagai cinta dan kasih sayang. Kemudian, apa perbedaan antara dua makna tersebut? Dalam Tafsirnya, Ibn ‘Arabi menyebutkan bahwa mawaddah adalah kecintaan terhadap sesuatu yang sempurna, sedangkan rahmah adalah kecintaan terhadap sesuatu dan sesuatu itu tidak sempurna. Jika pasutri bersandar pada mawaddah, maka ikatan itu akan tidak langgeng, karena ikatan itu dapat berubah menjadi semakin tipis. Sedangkan apabila disandarkan pada rahmah, maka pernikahan dapat disadari sebagai sesuatu amanah yang mitsaqan ghalidan dan semuanya karena Allah Swt. Sehingga, walaupun mawaddah pada pasangan semakin berkurang, namun ikatan selalu terjaga karena lembutnya hati karena sifat rahmah ini. Allah pada makhluknya pasti rahmah, tidak mungkin mawaddah, karena ketidak sempurnaan makhluknya. Rahmah adalah sifat utamanya Allah Swt.

Demikian pula pada kata Al-Qur’an dan Al-Furqan. Tentu ada perbedaan bagi keduanya. Al-Qur’an adalah sesuatu yang menggabungkan, global, dan masih di lauh al-mahfudz;, sedangkan Al-Furqan, Al-Bayan, adalah sesuatu yang terpecah-pecah, telah menjadi analitis dan telah turun pada Rasulullah sebanyak 30 juz. Adapun fokusnya Allah tentang sifat rahmah-Nya dalam surah ini, ditunjukkan pula bahwa siksa neraka pun sesungguhnya adalah wujud karunia-Nya yang memancar lagi-lagi dari khazanah kasih sayang-Nya yang tak terbatas. Yakni, sebagai cara Allah untuk menyucikan makhluk-Nya dari kotoran dosa, agar pada saatnya, hamba tersebut tetap bisa menerima karunia kedekatan dengan-Nya. Selayaknya api di padang pasir, api itu belum tentu sesuatu yang menyiksa jika ia hadir saat malam hari, karena api dapat menjadi penunjuk perjalanan.

Demikian pentingnya surah ini dalam kesatuan isi Al-Qur’an sehingga dikatakan bahwa surah ini merupakan suatu surah—satu-satunya surah—yang secara eksplisit diarahkan juga kepada makhluk jin, selain manusia; seolah seperti ingin menegaskan betapa universalnya sifat belas-kasih atau kasih sayang Allah.

Surah ini juga menyebut tentang hurr ‘iin yang umum dimaknai sebagai yang bermata belok; cemerlang; penyejuk mata; “perempuan-perempuan berdada besar.” Adapun dalam Bahasa Arab, kata ini bermakna perempuan-perempuan yang suci yang menyebabkan kita cinta padanya/haura; ahwar, laki-laki yang suci. Ini adalah simbol kesucian yang menimbulkan kecintaan. Makna-makna perempuan-perempuan berdada besar maksudnya adalah orang suci yang sebaya yang relate dengan kita sehingga bisa menimbulkan ketentraman. Ini adalah kenikmatan yang lebih besar dari kenikmatan seksual. Oleh karena itu, surga itu berlipat-lipat yang di dalamnya terdapat hurr ‘iin yang sopan dan suci. Ini adalah kenikmatan yang timbul dari kesucian, sehingga mereka tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin, seakan-akan mereka seperti batu permata yakut (merah delima) dan marjan (batu koral yang bagus). Dan ini semua untuk ihsan sebagai puncak keberagaman yang sempurna.

Merespon pertanyaan santri perihal rahmahnya istri saat suami memilih poligami, Bib Haidar menjelaskan bahwa sifat rahmah itu tidak ada batasnya, sebagaimana cintanya Allah pada makhluk-Nya. Batasan rahmah adalah keadilan. Bib Haidar mengatakan, “Poligami, saya nggak berani bilang poligami haram, itu adalah pengecualian. Kasus poligami, jika (istri) merasa keadilannya dilanggar, boleh saja merespon. Namun rahmah itu lebih besar dan harus didahulukan. Namun kita harus melihat di sisi lain itu tidak ada penindasan. Dalam kasus ini, rahmah bisa dimajukan (utamakan). Namun kalau ada penindasan, Tuhan pun memiliki sifat keadilan, maka respon yang diberikan (boleh memilih berpisah), dan tidak boleh dibiarkan. Apabila tidak bisa diperbaiki (setelah mencoba memperbaiki), dan orang yang merasa dizalimi harus merasa (lebih baik) berpisah, orang yang dizalimi berhak mengambil respon. Ya, itu juga bagian dari rahmah, asalkan tidak didasari oleh kebencian. Islam adalah agama keadilan dan rahmah.”

Di akhir penjelasannya tentang pertanyaan ini, Bib Haidar juga berbagi pengalaman, bahwasanya pada saat anak-anak laki-lakinya menikah, beliau menasehati anak-anaknya agar tidak memadu sang istri, cukup satu istri. Kalaupun takdir berkata berbeda, maka rahmah harus didahulukan. Bib Haidar menyampaikan, jawaban yang beliau sampaikan bukanlah jawaban umum, karena tiap kasus tentu memiliki respon jawaban yang berbeda-beda. Beliau juga mengatakan, jawaban yang diberikan tentu tidak memuaskan, namun mudah-mudahan kita semua dapat mengambil hikmahnya.

Pertanyaan berikutnya adalah perihal rahimnya Tuhan yang diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki akses jalan dan menempuh akses tersebut pada-Nya. Bagaimana manusia yang penuh keterbatasan ini akhirnya bisa membuka diri terhadap kebenaran dan apakah keterbatasan dan kekurangan itu ada karena suatu dosa? Bib Haidar menyampaikan bahwa sesungguhnya hati manusia itu bening, dan semua manusia punya cahaya untuk menangkap rahman dan rahim Allah. Namun apabila kotak hatinya tertutup kotoran yang datang dari dosa, maka akses rahman dan rahim itu menjadi terhalang. Yang menghalangi bukanlah Allah, melainkan orang yang bersangkutan, yang gagal mengendalikan hawa nafsunya.

Adapun akses menuju Allah Swt. dapat dilakukan dengan 3 tahapan: Mujahadah, riyadah, dan konsistensi; sehingga hamba/salik dapat bergerak dari satu statisun ke stasiun yang lain hingga mencapai Allah Swt. Saat Allah memberi cobaan pada manusia, itu adalah cara untuk merontokkan dosa hamba-Nya, juga sebagai tanda cinta dan rahmat-Nya. Maka dari itu, manusia harus senantiasa sabar saat diberi cobaan, sehingga kotoran hati pun dapat terkikis dan yang bersangkutan mendapat akses rahman rahim-Nya. Karena hal ini, Bib Haidar menegaskan sangat pentingnya seorang hamba berkumpul dengan orang-orang yang baik.

Perihal konsep hurr ‘iin jika tidak difahami dengan baik acap membuat ajaran Islam menjadi bahan ejekan. Meneguhkan hal tersebut, Bib Haidar sekali lagi menegaskan bahwa hurr ‘iin adalah metafor untuk kesucian, ketentraman dan keindahan. Ejekan atas konsep ini disebabkan ketidak tahuan atas makna pada istilah tersebut.

Hurr ‘iin juga acap menjadi kegelisahan awam, mengapa harus bidadari? Mengapa bukan pasangan suami atau istri saat di dunia? Bib Haidar merespon pertanyaan ini dengan kisah humor, di mana ada suami yang enggan bersama istrinya karena sifat istrinya yang kerap menyusahkan di dunia, juga kisah suami yang hanya ingin dengan istrinya. Setelah menceritakan kisah tersebut sebagai penyegar pikiran, Bib Haidar menukil jawaban seorang Kiai saat diberi pertanyaan serupa, “Pokoknya kamu percaya sama Allah. Masuk surga enak dan nikmat, masak masih nanya lagi ketemu suami/istri atau tidak?”

So, teman-teman jangan khawatir lagi akan terpisah dengan soulmate-nya, baik di dunia maupun kelak di akhirat ya, selama kita semua menjadikan rahmah sebagai poros kehidupan, Sang Maha Rahmah akan senantiasa menunjukkan rahmah-Nya melalui mereka yang tersayang tanpa batas ruang dan waktu.

 

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Penikmat Kajian Filsafat dan Tasawuf

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan