Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Menghidupkan Ilmu Agama: Etika Tasawuf dalam Iḥyā’‘Ulūm al-Dīn

Semiotika di Balik Film “Lebih Dari Selamanya”

Semiotika? Halaaah...! Saya memang sedang lebay saja. Tapi, yang ingin saya sampaikan sesungguhnya adalah tentang pelajaran yang bisa diambil dari kisah dalam film “horor syar’i”—sudah tentu saya sedang becanda dengan membuat ungkapan ini—yang berjudul “Lebih dari Selamanya”.

Bagi yang sempat membaca coret-moret saya sebelumnya, saya di situ menulis: “Ini bukan sebuah film yang rumit, dengan plot yang mendakik-dakik, atau pengambilan gambar yang eksperimental, sebagaimana film-film festival. Sebaliknya, film ini hanya memiliki satu plot tunggal. Yang bergerak lurus dari awal hingga akhir...” Sederhana dan tidak “neko-neko”.

Ceritanya tentang ketulusan cinta seorang suami yang ditinggal mati istrinya. Yang memilih untuk menanggung kesepian dan kerinduan sambil merawat anak semata wayangnya dengan penuh kasih-sayang. Dia bahkan tidak berpikir kawin lagi. Yang diharapkannya hanyalah bisa bertemu kembali dengan istrinya yang telah meninggal dunia itu. Pokoknya ideal seorang suami yang setia dan penuh cinta.

Di antara penonton yang hadir dalam screening pertama untuk umum Jumat, 15 Agustus kemarin, ada yang saya dengar mengatakan: “Saya pengin punya suami seperti Pak Salim”.  Perempuan siapa yang tidak mau?

Yang mungkin bisa terlewatkan dalam benak para penonton—perempuan, khususnya—adalah bahwa sikap Pak Salim itu terbentuk juga oleh kebaikan hati dan kelembutan istrinya. Perkawinan is a two way traffic. Ada mawaddah, di samping rahmah. Rahmah adalah kebaikan hati puncak berupa rasa welas asih kepada pasangan, meskipun pasangannya tidak sempurna. Inilah, sekali lagi, puncak kebaikan hati dalam perkawinan. Tapi Allah Swt tidak hanya menyebut rahmah sebagai modal perkawiman. Disebut-Nya juga mawaddah. Seperti rahmah, mawaddah adalah sebentuk cinta juga. Hanya saja, mawaddah adalah kecintaan kepada obyek yang mengandung kesempurnaan-kesempurnaan. Kemudaan, kesehatan, daya tarik fisik, dan kebaikan karakter.

Baca Juga:  Kritik Ibnu Bajjah Terhadap Konsep Makrifat Al-Ghazali

Mencintai dengan rahmah adalah sifat Tuhan, yang tak akan bisa ditiru sepenuhnya oleh manusia. Manusia perlu dibantu dengan mawaddah, setidaknya di paruh awal perkawinan, agar rahmah bisa bersemi dan mencapai kematangan. Yakni, pada saat tuntutan akan, setidaknya, sebatas tertentu kesempurnaan masih bekerja dalam diri suami atau istri.

Tidak harus dalam bentuk kecantikan fisik. Karena bukankah kecantikan adalah hanya sedalam lapisan kulit (beauty is skin deep)? Yang lebih banyak menghasilkan daya tarik yang sementara dan tidak hakiki? Tak banyak orang yang akan tidak setuju jika katakan bahwa yang lebih menentukan adalah justru kebaikan hati. Atau, dalam hal ini, biasa disebut sebagai “inner beauty”.

Maka, ibu-ibu, jika ingin punya suami seperti Pak Salim yang begitu mencintai istrinya, hendaknya dia menjadi seperti Rifa yang baik hati dan begitu tulus mencintai suaminya. Dalam suka cita dan derita. Atau, suami-suami, jika ingin begitu dicintai oleh istrinya, hendaknya dia menjadi seperti Pak Salim.

Hanya dengan cara itu, pasangan hidup kita akan mencintai kita selama-lamanya. Bahkan, “lebih dari selamanya”. Sampai ke surga. Yang di dalamnya, seperti kata Imam Ja’far ash-Shadiq: “Bidadari-bidadari (haura’) itu adalah perempuan-perepuan (istri-istri) yang salihah”. Demikian pula, saya menambahkan, bidadara-bidadara/ahwar—yang akan diperoleh perempuan-perempuan ahli surga—itu adalah laki-laki yang shalih.

Mudah-mudahan film “Lebih Dari Selamanya” bisa menjadikan kita lebih mencintai pasangan hidup kita. Yakni, setelah kita saling merasakan kebahagiaan memiliki orang yang mencintai kita, tanpa syarat. Dalam suka cita dan derita.

Previous Article

Spirituality in The Digital Age

Next Article

Krisis Ekologis: Dampak Kemajuan Teknologi atau Ledakan Populasi Manusia?

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *