Sesi kedua kelas Ngaji Rasa via Sastra oleh Nuralwala diadakan pada Selasa, 22 Juli 2025. Kelas diampu oleh Dr. Fahrudin Faiz (Yai Faiz) dengan judul materi “Meneguk Tirta Pawitra untuk Luruh dalam Jagat Diri: Ngaji Dewa Ruci Yusadipura I).” Sebelum materi disampaikan, kelas dibuka dahulu oleh Kak Darmawan dengan iftitah untuk kebaikan dan keberkahan atas para pendahulu, juga para pencari ilmu di kelas Nuralwala khususnya. Kak Darmawan memberi pengantar kelas, bahwasanya Lakon Dewa Ruci merupakan karya intelektual dan spiritual yang berasal dari tanah Jawa. Melalui naskah ini, para pembaca akan belajar dari tokoh Bima untuk kenal diri hingga kenal Tuhan. Menulis ajaran melalui sastra seperti yang dilakukan Yusadipura I ini adalah bagian dari corak tentang bagaimana ulama Nusantara terdahulu memberikan pengalaman keagamaan dengan cara yang dekat dengan masyarakat di masa itu.
Pada pembukaan materinya, Yai Faiz merasa bahwa ia mendapat amanah untuk membabat, menarasikan, mengisahkan kisah Dewa Ruci yang memiliki makna sangat luas dan dalam. Lakon Dewa Ruci yang sangat kental dengan sastra Jawa Islam ini lahir di era Wali Songo dan merupakan salah satu media para wali untuk mengenalkan spiritualisme Islam. Yai Faiz menyampaikan, dengan kisah filsafat-sufistik seperti Dewa Ruci, agamawan tidak perlu kesulitan untuk menjelaskan tentang teori-teori Tasawuf yang kerap disalah-fahami, atau dinilai sesat. Dengan narasi sastra, setiap orang dengan tingkatan spiritualnya, bisa mengambil makna rohani sesuai perspektif yang berbeda-beda.
Dalam sastra Jawa Islam, Lakon carangan, tokoh sampingan seperti Bima (dari kisah Mahabarata), kerap digunakan para ulama zaman dulu untuk menyisipkan nilai-nilai keislaman. Salah satunya seperti yang dilakukan Yusadipura I (1729-1802 M) yang tidak lain adalah buyut dari Ronggowarsito. Yai Faiz juga menegaskan bahwa naskah serat Dewa Ruci yang pertama adalah berupa tembang mocopat. Kisah Dewa Ruci sendiri adalah kisahnya Pandawa yang nomor 2, yakni Bima Sena. Suatu ketika ia ditugaskan oleh gurunya, yaitu Bhatara Durna. Durna dalam wayang Jawa tidak memilki karakter sebagus di kisah aslinya, Mahabharata. Dalam Mahabharata, Durna terpaksa memilih Kurawa karena kondisi dan posisinya. Namun dalam pewayangan Jawa, Durna adalah sosok yang sungguh culas. Dalam maksud membunuh Bima, Durna menyuruh Bima mencari air kehidupan dengan alasan untuk menemukan kesempurnaan hidup. Bima tahu bahwa ini adalah siasat untuk menghancurkan dirinya. Namun karena perintah guru, maka ia tidak bisa menolak walaupun saudara-saudaranya dengan tegas melarang.
Pada perjalanan pertamanya, Bima pergi ke gua Gadamana di gunung Reksamuka. Namun air yang dicari tidak ada di sana. Yang ditemuinya justru 2 raksasa yang tinggal di sana, yakni Rukmuka dan Rukmakala. Terjadi perkelahian antar mereka dan akhirnya dimenangkan oleh Bima. Lantas, terdengar suara tanpa sosok yang ternyata berasal dari Batara Indra dan Bayu yang memerintahkan Bima agar kembali ke Astina karena tidak ada air kehidupan di gua tersebut. Setiba di Astina dan melapor pada gurunya, sang guru (Durna) berdalih bahwa ia hanya menguji Bima. Kemudian, Durna memerintahkan Bima mencari air kehidupan di tengah Samudra. Tanpa bertanya, Bima berangkan menuju Samudra. Setibanya di pinggir Samudra, dengan kekuatan yang diperoleh dari Batara Bayu dalam perjalanan sebelumnya, Bima dapat memasuki dasar Samudra dengan caea menyibak air. Bahkan, Bima sanggup bernafas di dalam air. Dari dasar Samudra, seekor naga yang bernama Ambur Nawa kemudian melilit Bima. Setelah bergumul cukup lama, akhirnya Bima menikamkan kukunya (Pancanaka) ke badan naga hingga naga itu tewas.
Pada momen tersebutlah akhirnya Bima bertemu dengan seorang dewa kerdil yang bernama Dewa Ruci yang wajahnya menyerupai Bima. Ukuran tubuh Dewa Ruci ini tidak lebih besar dari ukuran tangan Bima. Dewa Ruci memerintahkan Bima memasuki telinganya. Tentu Bima tertawa mendengar perintah ini, namun akhirnya ia lakukan dan menemukan dunia yang maha luas di dalam telinga Dewa Ruci. Dewa Ruci kemudian menyampaikan bahwasanya air kehidupan tidak akan ditemukan di manapun, karena pada hakikatnya, air kehidupan berada dalam diri setiap manusia.
Yai Faiz menyampaikan, kisah ini memiliki simbolisme dan makna yang dalam, seperti: Tirto, air yang dicari. Ini adalah ilmu yang dicari, hakikatnya hidup. Dalam filsafat Jawa, dikenal dengan istilah Sangkan paraning dumadi. Jika sudah menemukan ini, maka manusia yang bersangkutan sudah menemukan kesejatian, inilah yang dimaksudkan dengan tirto; Yang dilakukan oleh Bima, dalam laku tarekat disebut suluk, yakni kepatuhan total pada guru dengan apapun maksud zahirnya. Tentunya dengan menaiki banyak maqamat dan ahwal. Pola pengalaman bertemu dengan Dewa Ruci ini, sama dengan laku suluk dalam tarekat; Bima ini adalah simbol yang sangat dalam. Masing-masing Pandawa sejatinya memiliki simbol spiritualnya masing-masing. Seperti Yudistira sebagai simbol jimat kalimat sada, Bima adalah simbolnya solat (penegakan diri), Arjuna simbolnya puasa dan suka nyepi ke gunung, Nakula dan Sadewa adalah simbol zakat dan haji. Nakula dan Sadewa keduanya memerlukan kekayaaan dan memiliki efek sosial, ekonomi. Atau dengan kata lain, Nakula dan Sadewa adalah tokoh peruwatan, pembersihan jiwa melalui amal sosial. Adapun kain poleng yang dipakai Bima, memiliki makna al-halal bayyinun wa al-haramu bayiinun, yakni segala sesuatu harus jelas. Sehingga bima dipakaikan baju poleng untuk memperkuat karakternya. Di Mahabarata, simbol baju poleng ini tidak ada, tidak ada pula pancanaka (lima kekuatan) yang mewakili tegaknya ibadah seseorang.
Yai Faiz menggambarkan sosok Bima dalam Lakon Dewa Ruci ini sebagai sosok yang berbicara ngoko. Dia tidak bisa berbicara halus kepada siapapun. Yang Bima gunakan adalah cara bicara ngoko, level kasar. Sejatinya, ini adalah simbol tauhid (egaliter) yang memposisikan semua orang dengan setara. Semua manusia berada di level makhluk. Bima juga dikenal sebagai pelindung keluarga dan masyarakat. Hal ini tampak dari realita bahwasanya seluruh Kurawa dibunuh oleh Bima. Bima adalah simbol seseorang yang tegak atas tauhid dan komitmen mencari kebenaran. Simbol lainnya ada Gunung Reksamuka, sebagai simbol kemampuan mengendalikan diri, membersihkan diri, tazkiyah nafs. Juga Alas Tibrasara sebagai simbol rasa prihatin, tajam seperti pisau, atau ujian yang jenisnya pahit. Ada 2 raksasa, Rukmuka yang berarti kemukten dan Rukmakala kamulyan sebagai simbol karomah, kekayaan, status sosial atau kesuksesan, keberhasilan, atau dengan kata lain ujian yang jenisnya enak. Yai Faiz menegaskan, kadang Tibrasara ataupun 2 raksasa, semuanya harus ditaklukan untuk kesempurnaan yang sejati, yakni Dewa Ruci. Simbol selanjutnya ada ular naga Ambur Nawa sebagai simbol pertarungan melawan sifat jahat dalam hati.
Setelah bertemu dengan Dewa Ruci, betapa kagetnya Werkudoro/Bima. Bima melihat dirinya sendiri dalam bentuk kecil. Dewa Ruci menyapa Bima, “Masuklah dalam perutku!” Terkejut Bima mendengar kata-kata Dewa Ruci sambil terbahak-bahak dan tetap menjawab dengan hormat, “Tuan ini bertubuh kecil, Saya bertubuh tinggi. Badan saya sebesar gunung, kelingkingpun tak akan masuk.” Dewa Ruci berkata lagi, “Manakah yang lebih besar, Kamu atau semseta bersama gunung-gunungnya?” Dewa Ruci mengajak Bima berefleksi, bahwa materi tidak lebih besar dari makrokosmos dan mikrokosmos. Yai Faiz meng-higlight, bahwa kita ini alam semesta versi kecil yang ada dalam kita.
Bima masuk ke dalam perut Dewa Ruci melalui telinga Dewa Ruci. Saat Bima telah tiba di dalamnya, Bima melihat laut yang luas tanpa tepi. Bima pun berjalan sangat jauh hingga tak terlihat. Kemudian Dewa Ruci bertanya tentang apa yang sudah dilihat oleh Bima. Bima pun berkata bahwa ia tidak tampak tentang apapun. Dalam perut Dewa Ruci, Bima juga menjelajah angkasa raya dan kebingungan melihat kosong dan luasnya yang tiada terkira. Dalam kebingungan itu, Dewa Ruci membimbing Bima untuk menenangkan hatinya. Pelajaran dalam perjalanan Bima di dalam perut Dewa Ruci, sebagaimana yang dilihat oleh Bima: Pancamaya, segala hal yang bersifat ilusi, maka abaikan saja! Jangan tergoda dengan duniawi yang tersentuh panca indara; 4 warna simbol dari nafsu. Hitam simbol nafsu lawwamah (menjauh dari kebaikan), merah simbol nafsu amarah (simbol ambisi, agresi, ingin menghancurkan orang), kuning simbol nafsu sufiyah (ini pikiran yang mendukung hal-hal yang negatif), putih simbol tenang, kebahagiaan, ketenangan dan kebijaksanaan; Satu nyala dengan delapan nyawa adalah dimensi ruh yang seluruh jagat terlibat di sana, yang hakikatnya hanya 1 warna, tanpa 1 warna ini maka yang lainnya tak ada makna.
Adapun nasehat Dewa Ruci mengutip penafsiran Kanjeng Sunan Kalijaga adalah: nerimo, lila dan legowo. Dengan makna nerimo adalah kesediaan kita untuk menerima apapun yang ditetapkan Allah atas kita. Lilo adalah kerelaan untuk melepaskan, tidak terikat dengan apapun dan legowo adalah sebagaimana dengan konsep ikhlas dalam Islam sebagai puncak hidup tenang; Anoraga bermakna rendah hati, tidak sombong, tidak merasa besar, tidak merasa sudah hebat, atau juga tidak merasa sudah tinggi; Eling itu dalam tasawuf dekat dengan kesadaran muraqabah, dimana manusia senantiasa sadar bahwa Allah mengawasi semua tindak-tanduk perbuatan manusia dan Allah sangat dekat dengan makhlukNya. Orang yang eling, maka hidupnya terkendali, tidak sembrono karena variabel Allah selalu ada dalam hidup; Santoso, kondisi jiwa yang istiqamah, kukuh, stabil, kuat, nyaman dalam kebaikan; Gembiro, senang, hidup yang senantiasa bersyukur, tidak mengeluh, mensyukuri apapun yang dianugrahkan oleh Allah, baik itu yang menenangkan ataupun menyedihkan, semuanya patut disyukuri; Rahayu itu dekat dengan kata Islam, artinya damai, sejahtera, tentram; Wilujengan bermakna menjaga kesehatan, hidup seimbang, karena setinggi apapun maqam seseorang, setinggi apapun ilmunya, kalau tidak sehat, maka kebermanfaatnntya berkurang, demikian tegas Yai Faiz; Marsudi kaweruh yakni mengejar pengetahuan, karena semuanya perlu ilmu, maka mencari ilmu tidak boleh ditinggalkan; Samadi dan Ngurang-ngurangi makan, tidur, alias tirakat, ini adalah jalan mnuju kemuliaan hidup.
Yai Faiz melanjutkan perihal nasihat Dewa Ruci sebagai simbolnya salat. Simbol-simbol ini dapat digunakan untuk menjelajahi kedalaman salat yang kerap disalah-fahami, karena praktiknya dalam praktik Islam pada umumnya hanya berbentuk sembah rogo saja. Ada tiga simbol salat dalam suratan Dewa Ruci, yakni: Sembah rogo, yakni gerak ragawi, syariat. Salat ini syaratnya lewat mandi, wudlu dan lainnya. Ini adalah manifestasi kita menghamba padan-Nya; Sembah cipto, adalah solat level tarekat. Bersucinya tidak sekedar wudlu dan mandi, tapi dengan memerangi hawa nafsu, jadi batinnya yang disucikan. Manifestasinya, kita menghayati makna apa yang kita kerjakan dan apa yang kita lakukan. Solatnya masih syariat, tapi lebih dimaknai secara mendalam tentang makna ruku dan rukun salat lainnya. Sudahkan benar kita saat membaca inna salati wanusuki wa mahyaya ila akhir. Apa benar sudah begitu juga ketika kita menegaskan iyyakanakbudu waiiyyakanasta’iin? Jangan-jangan kita lupa dengan kalimat ini dalam keseharian, karena level kita masih meminta tolong kepada selain Allah. Sembah cipto tidak sekedar gerak badan, tapi jauh dari itu. Hasilnya inilah yang berupa tanha anil fahsya wal munkar, mencegah perbuatan keji dan munkar; Sembah rasa, adalah salat dalam bentuk setiap waktu measa seperti orang solat terus, fokus pada Ilahi saja. Rasa ini kita bawa ke dalam sehari0hari. Ini adalah solat daim dalam istilah Jawa, atau terus-menerus. Khusyuknya dibawa sehari-hari sampai lerem, bersih dari kesibukan keduniawan. Ini diawali dari zuhud, melepas dari keterikatan duniawi, inilah yang dimaksud dengan sembah rasa.
Yai Faiz mengakhiri paparannya dengan menyampaikan, bahwasanya dalam menyampaikan materi Manunggaling kawula Gusti, dalang harus menyesuaikan audiensnya dengan memiliki kompetensi 3 mode dalang: Mode mistik, jenis ittihad, hulul, melebur dalam kesejatian; Mode kesalehan, rodliayahu anha wa radlu ‘anh, keinginan Allah adalah keinginan kita; Mode kepemimpinan (audiensnya pejabat), antara kawulo dan Gusti memberikan yang terbaik yang mereka mampu (Gusti mempersembahkan kesejahteraan dan kemaslahatan dan abdi mempersembahnkan kepatuhan dan kesetiaan.
Paparan Yai Faiz sejak awal hingga akhir mampu mengaduk-aduk perasaan saya pribadi. Banyak kalimat yang membuat jiwa harus berkaca kembali sampai menitikkan air mata. Alangkah malunya diri ini, jangankan dapat melakukan perjalanan sampai bertemu Dewa Ruci, bahkan membuka pintu pun belum sepenuhnya. Mencintai guru tanpa alasan dan pertanyaan sebagai pintu perjalanan awal, setiap salik memiliki ujiannya masing-masing. Ujian itu kadarnya tidaklah sama. Dan di setiap langkahnya, kesetiaan dan kepatuhan pada guru akan selalu diuji. Sebagai pengembara, Yai Faiz menjelaskan bahwa pengembara dapat memilih, apakah akan mufaraqah kepada guru, apakah akan bertanya dengan terbuka atas perintah-perintah guru yang rasanya ingin ditolak, atau berkomitmen penuh untuk setia dan patuh layaknya Bima. Diri kembali bertanya pada diri, jika sejak awal sudah memutuskan setia, mengapa harus ada opsi berpisah atau mencari yang lain? Bukan ajaran guru yang tidak tepat, melainkan ini adalah salah satu media agar ajaran guru itu semakin kokoh. Sebagaimana bunyi QS. Al-Ahzab ayat 4, “Tuhan tidak menjadikan pada dada seeorang itu dua hati.” Teks ayat ini tidak saja berlaku pada konsep relasi ketauhidan dari makhluk pada Khaliknya, tetapi juga dalam relasi suami-istri, juga murid-guru dalam ranah spiritual. Nyatanya, mengaji Dewa Ruci malam ini menjadi wasilah karamah guruku untuk membuka pintu itu lebih lebar untuk mengembara di gua maupun samudra yang hakiki. Wallahu ‘alam bi al-shawwaab.