Pada periode Juli-Agustus, Nuralwala membuka kelas dengan tema Nyufi: Ngaji Rasa via Sastra. Kelas yang menguak dimensi Tasawuf dalam karya Sastra dan Filsafat para sufi Timur-Tengah dan Nusantara di masa silam; yang tentunya masih relevan terhadap kondisi ‘rasa’ manusia di berbagai ruang dan waktu. Menjadi kelas sesi pertama dari empat sesi yang ada, Dr. Kholid Al Walid, M. Ag/Yai Kholid (Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) mengangkat kisah Salaman wa Absal versi/konteks Ibn Sina dengan judul pembahasan Persahabatan dan Cinta dalam Meniti Jalan Ruhani (Ngaji Salaman wa Absal Ibnu Sina).
Yai Kholid membuka kelas dengan mendoakan keberkahan dan kasih sayang dari Yang Kuasa untuk para peserta. Sungguh sebuah pengantar yang berisikan afirmasi positif bagi banyak jiwa. Yai Kholid memberi profiling dari Ibn Sina yang merupakan Syaikh Rais dalam dunia Filsafat. Ibn Sina adalah sosok yang populer dalam tradisi intelektual Timur dan juga Barat. Adapun Salaman wa Absal, adalah salah satu dari karya filsafat berbalut alur romansa yang ditulis oleh Ibn Sina. Banyak versi kisah dari cerita Salaman wa Absal ini. Khusus dalam karya Ibn Sina, ia mengisyaratkan kisah ini dalam karyanya yang berjudul Al-Isyaraat wa Al-Tanbihaat. Pada jilid keempat pada karya yang merupakan kitab daras filsafat milik Ibn Sina inilah kisah Salaman wa Absal dikisahkan olehnya. Selain kitab ini, kitab filsafat Ibn Sina lainnya adalah Al-Syifa yang menjadi karya masterpiece miliknya. Kitab ini bukanlah kitab ilmu kedokteran, melainkan kitab filasafat juga. Diberi nama demikian karena Ibn Sina bertujuan untuk mengobati pikiran manusia, karena yang banyak keliru adalah cara berpkir manusia. Di sinilah peran lahirnya pemikiran para filsuf pada umumnya. Sedangkan karya Ibn Sina yang khusus menjelaskan tentang kedokteran adalah Al-Qanun fii Al-Tibb. Yai Khalid menyampaikan, masih banyak mahasiswa yang tidak tepat dalam mengkategorikan spesifikasi keilmuan pada kitab-kitab karya Ibn Sina.
Masa hidup Ibn Sina sekitar 54 tahun dan dimakamkan di Hamadan, Iran. Jika dirata-ratakan dengan usianya, perharinya Ibn Sina bisa menulis rata-rata 300 halaman setiap harinya dengan tulisan tangan. Seluruh karyanya merupakan karya yang fenomenal serta menjadi rujukan berbagai sarjananawan lintas keilmuan. Mulla Shadra juga menggambarkan Ibn Sina sebagai sosok pemikir yang sangat cerdas. Namun, banyaknya waktu yang digunakan Ibn Sina untuk melakukan eksperimen di bidang kedokteran dinilai kurang tepat oleh Mulla Shadra; karena harapan Mulla Shadra atas kecerdasan akal Ibn Sina, ia dapat menyelesaikan 700 persoalan filsafat yang belum terselesaikan. Pernyataan ini Mulla Shadra kemukakan karena baginya dalam ilmu kedokteran, untuk menyelesaikan perkara-perkara yang menjadi eksperimen Ibn Sina, seharusnya bisa terselesaikan tanpa harus dilakukan oleh orang secerdas Ibn Sina. Ini adalah gambaran singkat tentang citra Ibn Sina dalam tradisi intelektual Islam.
Pada case kisah Salaman wa Absal, Ibn Sina sedang berbicara tentang sesuatu yang bersifat spiritual/Tasawuf. Ibn Sina menyebutkan bahwa, “Sesungguhnya bagi orang-orang arif itu ada maqamaat/tingkatan-tingkatan dan derajat yang dikhususkan dalam kehidupan mereka di dunia bukan selainnya meliputi diri mereka. Dan kalau kemudian membaca, mendengarkan apa yang kau baca, kemudian ada kisah tentang Salaman dan Absal; ketahuilah! sesungguhnya Salaman itu bagaikan contoh yang ditampilkan padamu, dan Absal dicontohkan sebagai tingkatan dalam ‘irfan., apabila Anda adalah orang yang menekuni bidang ini.” Ibn Sina adalah filsuf yang sangat rasional, “Tidak akan kamu dapati dari apa yang saya sampaikan (filsafat) tanpa argumentasi rasional.” Pun dalam kitab Al-Isyarat wa Al-Tanbihaat di bagian akhir yang membahas tentang Tasawuf, maqamnya para arif, dinilai para cendekiawan sebagai karya akhir Ibn Sina. Di mana menjelang akhir hayatnya, Ibn Sina lebih suka membahas hal-hal yang bersifat ruhaniah, dan dinilai sebagai masa mulai ‘malas berpikir.’ Kendati demikian, dalam perspektif arif, sejatinya tidak ada masa akhir kehidupan; karena ketika seseorang meninggal, maka itu adalah saatnya ia hidup. Sebagaimana perkataan Nabi Muhammad saw yang tarjamahnya, “Manusia itu tidur, kalau dia mati baru dia berjaga.” Suatu hal yang menarik menurut Yai Kholid adalah, Ibn Sina yang dikenal sangat rasional dalam filsafat justru berbicara tentang hal-hal yang bersifat spiritual/sufistik.
Kisah Salaman wa Absal merupakan kisah ‘cinta’ yang memiliki rumus, simbol, dan makna mistis yang muncul untuk dipahami dalam perspektif spiritual Ibnu Sina menjelang ajalnya. Bahmanyar (murid Ibn Sina yang paling setia) dipanggil oleh Ibn Sina dan diminta untuk mendekatkan telinganya di bibir Ibn Sina saat sang guru sedang sakaratul maut. Ibn Sina berkata pada Bahmanyar, “Menurut kamu, berapa hukum segitiga itu?” Bahmanyar tentu terkejut dengan pertanyaan sang guru. Dan sang guru merespon, “Mana yang lebih baik bagiku, meninggal dalam keadaan tidak mengetahui atau meninggal dengan pengetahuan?” Ibn Sina adalah sosok yang berhasil memformulasikan rumus segitiga sebanyak kurang lebih 30-40 hukum.
Yai Kholid kemudian kembali pada pembahasan Salaman wa Absal. Ia menyampaikan, setidaknya ada tiga versi/pola berbeda perihal syarah kisah ini:
- Abdurrahman Jami’, seorang arif, adib (seseorang yang memiliki kemampuan ilmu bahasa yang baik) sufi dan penyarah besar Fushushul Hikam milik Ibn Arabi. Ia menggubah kisah ini dari sumber versi awalnya (versi Yunani) dalam bentuk syair dengan menonjolkan aspek filosofis dan etis.
- Imam Fakhruddin Ar-Razi, tokoh yang mengkritisi Salaman wa Absal Ibn Sina. Menurut Yai Kholid, tokoh ini adalah tokoh yang karya-karyanya dominan mengkritisi karya tokoh lainnya, termasuk karya-karya Ibn Sina. ‘Walaupun terkadang kritiknya tidak nyambung,’ namun menjadi berarti dalam kajian filsafat, karena menghasilkan proses berpikir yang baru.
- Abbas Ahmad, intelektual Mesir yang menafsirkan Salaman wa Absal dengan perspektif filosofis. Juga ada Henry Corbin, pengkaji era modern yang memiliki pandangan bahwa kisah ini adalah tahapan-tahapan pengajaran rahasia mistik melalui transformasi batin dan tingkatan perubahan seorang arif; dan masih banyak lagi.
Kisah Salaman wa Absal ini menjadi perdebatan dalam dunia intelektual Islam, tentang sumber asalnya (Yunani, Arab Kuno), juga nama para tokohnya. Menurut Nashirudin Tusi, kisah ini adalah kisah nyata yang mengalami penggubahan-penggubahan. Ada dua versi sumber asal kisah Salaman wa Absal ini. Versi pertama adalah kisah yang terjadi di masa Yunani, Mesir dan Romawi yang diyakini ditemukan oleh Aristoteles atas perintah Plato (naskah tersebut diduga disimpan oleh Raja dan penasehatnya (dalam versi pertama) untuk diletakkan pada dua piramida yang berbeda). Dan kemudian diterjemahkan ke bahasa Arab oleh Hunayn bin Ishaq. Dalam versi ini, terdapat seorang raja yang memiliki kekuasaan di wilayah Yunani sampai ke Mesir dan berkuasa selama 1.000 tahun dengan kekuatan yang luar biasa. Ia memiliki penasehat/hakim/filsuf yang sangat dipercaya karena memiliki kecerdasan yang luar biasa. Raja sangat menginginkan anak, namun ia tidak menginginkan perempuan. Kemudian ia memerintahkan penasehatnya untuk menemukan solusi dari permintaannya ini. Sang penasehat berpikir, bagaimana nutfah dapat diproses tanpa perlu proses melalui organ reproduksi perempuan. Bagi Yai Kholid, ini adalah sesuatu yang sangat “wah” untuk saat itu, karena mereka telah memiliki konsep bayi tabung tanpa laki-laki dan perempuan tidak harus saling berhubungan untuk memiliki anak.
Akhirnya, lahirlah seorang anak, dan Raja memberi nama anaknya Salaman. Untuk menyusui anaknya, Raja mencarikan ibu susu untuk anaknya dari perempuan muda yang cantik. Perempuan itu bernama Absal. Ketika bersama dengan Absal, Salaman merasakan kenyamanan, ketenangan, sebagaimana relasi anak kepada ibunya. Namun, saat Raja akan mengambil Salaman untuk dibawa kembali ke kerajaan, Absal yang sudah memiliki bounding dengan Salaman merasa keberatan. Kemudian kembalinya Salaman ke kerajaan ditangguhkan sampai usia baligh. Peran Absal sangat besar dalam membuat ikatan dengan Salaman, hingga keduanya saling menyimpan rasa. Sampai ketika Raja mendatangi Absal kembali untuk mengambil anaknya, Raja mendapati sesuatu yang berbeda. Salaman dan Absal tampak layaknya sepasang kekasih yang saling mencintai dan terikat. Raja kemudian memerintahkan agar Salaman meninggalkan Absal. Raja juga memberikan nasihat pada anaknya, “Kamu harus melepaskan cahaya yang rendah untuk sampai pada cahaya yang tinggi/agung/luar biasa.” Namun, Salaman tidak mau, bahkan Salaman merespon nasihat ayahnya dengan mengajak Absal pergi berdua dengan meninggalkan segala kehidupan mereka sebelumnya menuju sebuah pulau kecil di Barat. Saat Raja mengetahui di mana mereka melarikan diri dan tinggal dan tidak terpisahkan, Raja semakin marah. Dengan kemampuan sihir juga ilmu perbintangan (Falak), Raja membuat laut menenggelamkan Absal. Hingga tinggallah Salaman sendiri yang hidup dan kemudian kembali kepada sang Raja dengan keadaan yang hampir gila, karena yang ada dalam pikirannya hanyalah tentang Absal.
Mengetahui kondisi jiwa sang anak, Raja memerintahkan penasehatnya untuk mengobati Salaman. Sang penasehat mengajak Salaman bermeditasi sambil berpuasa selama 40 hari di gua bersama dirinya. Namun selama itu, bayangan, perkataan, kerinduan, bayangan dan segala hal yang dialami Salaman hanyalah tentang Absal. Sang penasehat kemudian menggambarkan keindahan dari sebuah rupa, yakni Zuhrah (Bintang Venus), pada hari-hari terakhir dalam masa meditasi 40 hari tersebut. Hingga akhirnya, apapun tentang Absal perlahan sirna dan terganti dengan keindahan Zuhrah. Saat masa meditasi berakhir, dalam kondisi yang sudah berbeda, Salaman akhirnya kembali ke istana dan kemudian menjadi pengganti atas kepemimpinan sang ayahanda.
Adapun versi kedua, adalah versi yang diyakini Nashirudin Tusi sebagai sumber yang digunakan oleh Ibn Sina dalam karyanya. Pada versi kedua, Salaman dan Absal adalah kakak-beradik berbeda ibu. Absal, sang adik, berwajah tampan dan menguasai satra. Hingga pada suatu saat, ketika Salaman memiliki istri, sang itri jatuh cinta pada Absal. Istri Salaman sampai meminta sang suami meminta adiknya untuk tinggal bersama mereka. Tidak sekali dua kali sang istri menggoda Absal, namun Absal tak bergeming. Tidak menyerah, istri Salaman meminta Salaman untuk menikahkan Absal dengan adiknya. Pernikahan pun terjadi. Siapa menyana, istri Salaman memberi ultimatum pada sang adik dengan berkata, “Aku tidak menikahkanmu dengan Absal agar ia menjadi milikmu seorang, demi kerugianku; niatku adalah berbagi Absal denganmu.”
Malam pertama pengantin tiba, baru saja Absal merebahkan diri di ranjangnya, ia terkejut dengan sikap perempuan di ranjangnya yang sangat agresif. Absal menilai, tidak mungkin ini perempuan yang baik, seperti citra istrinya baginya, dan Absal pun melepaskan diri. Dalam kondisi yang gelap, cahaya kilat mengungkap siapa perempuan tersebut yang tidak lain adalah kakak iparnya. Absal pun berlari. Absal pergi dari kediaman sang kakak dengan memberi alasan, “Aku ingin menaklukan seluruh negeri untukmu. Aku memiliki kekuatan untuk melakukannya.” Dan benar, Absal menaklukan wilayah di Timur dan Barat jauh sebelum periode Alexander yang agung. Setelah mendapat banyak kemenangan, Absal memposisikan sang kakak, Salaman, menjadi raja di wilayah-wilayah yang ditaklukannya. Absal berpikir, selama ia pergi menaklukan banyak negeri, kakak ipar pun akan berubah. Namun, dugaannya keliru. Kakak ipar tetap agresif dengan berusaha untuk memeluk dan mendekati Absal. Hingga pada suatu masa, datanglah seorang musuh. Salaman memerintahkan Absal untuk menghadapi musuh. Dalam kondisi tersebut, istri Salaman membagi-bagikan sejumlah uang yang besar kepada pemimpin-pemimpin pasukan untuk kemudian meninggalkan Absal seorang diri di medan perang. Istri Salaman mengira Absal telah tiada karena kondisinya yang kritis setelah berperang. Namun realitanya tidak demikian, Absal tersembuhkan atas pertolongan domba yang memberikan air susunya dalam masa penyembuhan dan pemulihan pasca perang.
Mengetahui Absal masih hidup, istri Salaman bersekongkol dengan kepala dapur kerajaan dan juru masak untuk meracuni Absal. Maut tidak terhindari, Absal pun tiada karena dahsyatnya racun yang masuk dalam tubuhnya. Kematian sang adik membuat Salaman sangat bersedih hati. Ia keluar dari kerajaannya dan menitipkan singasananya pada orang yang ia percaya. Salaman melakukan meditasi/uzlah dalam masa dukanya. Dalam masa tersebut, Salaman mendapat petunjuk dari Ilahi bahwasanya sang adik meninggal karena racun yang diberikan oleh sang istri. Akhirnya Salaman menghukum sang istri dan dua sosok lainnya yang terlibat dalam peristiwa kematian sang adik dengan memerintahkan mereka bertiga untuk meneguk racun serupa dengan yang diberikan pada Absal; dan ketiganya pun akhirnya meninggal dunia.
Yai Kholid melanjutkan, kisah ini mengingatkan pada kisah Ken Dedes dan Ken Arok. Di mana karena cinta, membuat seseorang terbunuh. Nashirudin Tusi meyakini, kisah versi kedua inilah yang kemudian digunakan oleh Ibn Sina, dengan catatan bahwa kisah cinta ini bukanlah kisah cinta biasa. Melainkan kisah yang penuh dengan rumus, simbol dan makna mistis. Adapun simbol yang dimaksudkan Nashirudin Tusi adalah: Salaman sebagai simbol nafs al-natiqah, jiwa yang rasional; Absal sebagai simbol aql al-nazhari, akal teoritis yang selalu melakukan proses berpikir untuk bersambung dengan proses kebenaran; istri Salaman sebagai simbol nafs al-amarah, yang senantiasa mengajak pada keburukan, layaknya Zulaikha dalam masa menggoda Yusuf dalam suratan Al-Qur’an; istri Absal adalah simbol nafs al-muthmainnah, ia hanya memberikan ketenangan dan ketentraman tanpa mendapat pengaruh dari keburukan; rayuan dan penipuan adalah simbol dari dominasi nafsu atas akal; pembunuhan Absal adalah simbol sirnanya akal karena tarikan material, sebagaimana yang dikhawatirkan Nabi saw., “Aku khawatir dari umatku itu atas dua hal, tarikan akan dunia dan panjangnya angan-angan.”; dan penyesalan Salaman adalah simbol kembalinya jiwa pada kesempurnaan.
Jika kisah ini dibaca dengan rumus demikian, Nasirudin Tusi mengatakan bahwa diri manusia itu selalu berada dalam pertarungan Salaman dan Absal. Setiap saat diri manusia, selalu berada dalam tarikan dalam berbagai nafsu dan akal yang ada, tentang bagaimana hawa nafsu selalu mendominasi akal. Di mana saat seseorang dikuasasi hawa nafsunya, maka ia akan kehilangan kesadaran dirinya. Seperti saat dikuasai nafsu amarah, maka yang ada hanya keburukan. Oleh karena itu, manusia untuk sampai pada perjalanan ruhaniah, manusia harus dapat menaklukan akal nazhari-nya juga melepaskan kemelekatan material hingga tiba pada kesadaran yang bersifat ruhaniah pada dirinya.
Yai Kholid melanjutkan, dalam kisah versi pertama, Zuhrah sesungguhnya adalah hakikat dari Al-Haqq. Transformasi cinta Salaman adalah proses kesadaran cinta manusia dari kesadaran cinta yang paling biologis: cinta pertama sang anak adalah ibunya. Ibu adalah pengikat hati sang anak yang membuatnya tenang. Namun perkembangan cinta itu pada perkembangan yang lebih lanjut, bersifat syahwati, ada dorongan hawa nafsunya. Penasehat Raja kemudian mengajarkan Salaman bahwa ada fase cinta selanjutnya, yakni ada kualitas cinta hakiki yang bersifat ruhaniah. Seseorang yang sudah sampai pada tahapan ini, akan melihat segala hal yang bersifat material ini fana, sirna. Seseorang tersebut tidak akan terganggu dengan apapun yang dapat mengganggu kesadaran dirinya. Setan tak akan pernah menggelincirkannya. Ini adalah proses kesadaran manusia dalam perjalanan ruhani.
Rumi dalam awal syairnya di Matsnawi mengatakan gugatan tentang kesadaran saat terjatuh dalam alam material dan kembali pada Yang Hakikat; serupa dengan kisah Salaman dan Absal tentang bagaimana penyesalan Salaman untuk mengembalikan jiwanya pada Yang Hakikat dengan membunuh seluruh pengikat syahwatnya. Alquran mengatakan, “Tuhan tidak menjadikan pada dada seseorang itu ada dua hati,” baik itu apakah kondisi hati ini terikat pada alam amterial sehingga dipenuhi dengan nafsu amarah, atau dipenuhi dengan tarikan material, akan tetapi ketika manusia memutuskan semua itu, maka ia akan sampai pada kesadaran yang tinggi, kesadaran Ilahiyah. Tingkatan-tingkatan ini dalam teori Mulla Shadra terdiri dari tingkatan: tingkatan pertama, insane basyari, insan yang masih sangat bilogis; tingkatan kedua, kesadaran intelektual untuk mencapai pengetahuan, insan aqli; tingkatan ketiga, kesadaran ruhaniah, manusia sampai pada kesadaran insan ilahi.
Yai Kholid menutup paparannya dengan mengatakan bahwa kisah Salaman wa Absal ini adalah kisah yang menyaratkan bahwa kecintaan karena dorongan hawa nafsu itu akan menghancurkan kehidupan manusia, namun kecintaan ruhani akan mengantarkan manusia pada kebahagiaan Yang Hakiki.
Menyimak Ngaji Rasa bersama Yai Kholid ini sunggguh membuat diri berkaca, dimanakah letak cinta diri, apakah masih dalam tahapan cinta biologis, atau sudah mulai masuk pada cinta intelektual, atau apakah masih jauh diri dari cinta Yang Hakiki? Namun yang pasti, dalam diri ini masih ada simbol dari Salaman, Absal, Raja, atau juga istri Salaman dan lainnya; entah mana yang seringnya mendominasi. Semoga notulasi ngaji rasa pada 18 Juli 2025 ini dapat membawa siapapun untuk bertransformasi menakar kadar cinta diri sendiri, tanpa terganggu dengan proses cinta yang sedang dijalani oleh diri manusia yang lain.